Pertemuannya dengan seorang gadis bernama Kanaya, membuat Ray bersumpah akan membuat gadis itu menyesal karena telah mengganggunya.
Namun ternyata sumpah itu berbalik padanya, dan membuat dunianya berubah. Bagaimana kisah mereka berlanjut?
Kisah ini bukan hanya sekedar tentang cinta, kalian akan menemukan badai yang besar di setiap kisahnya.
Maka siapkan hati untuk menerima setiap sentuhan yang Ray berikan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Single elit, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
chapter 21
Edo menghentikan mobilnya di perempatan jalan setelah melihat mobil hitam milik Ray melewatinya dengan kecepatan penuh begitu saja dari arah berlawan. Merasa ada yang aneh dengan Ray, lantas Edo dengan gerakan cepat memutar stir mobilnya menyusul Ray.
Edo langsung tancap gas untuk mengimbangi kecepatan mobil Ray. Tapi, baru saja Edo menuyusul beberapa kilo meter, mobilnya kehabisan bensin" T**! Gue lupa ngisi bensin. "
Edo memukul stir mobilnya dengan keras. Sesaat Edo berfikir sebenarnya apa yang membuat Ray seperti itu, karena Edo mengenal betul siapa Ray, atau mungkin ada sesuatu yang Ray sebunyikan. Edo mengambil benda pipih di saku celananya untuk menghubungi seseorang.
" Bro "
Kenapa
Terdengar nada dingin dari sebrang line telepon.
" Gue liat Ray pergi ke jalur puncak, mending Lo kesini. Gue yakin ada yang ga beres sama tuh anak " jelas Edo pada Raka dengan wajah seriusnya.
" Lo dimana? "
" Oke, gue share location "
Edo mematikan panggilannya, lalu mengirim lokasi keberadaan dirinya pada Raka. Selama menunggu kedatangan Raka Edo mencoba menghubungi Ray. Tapi hasilnya Edo hanya bisa mengumpat, karena Ray sama sekali tidak mengangkat panggilannya.
Setelah menunggu hampir 1 jam mobil sport dominan warna putih mengahampiri mobil Edo. Edo langsung menurunkan kaca mobilnya untuk menjangkau pandangannya pada si pemilik mobil yang sudah menurunkan kaca mobilnya lebih dulu.
" Gue udah lacak GPS ponsel Ray. "
" Okeh gue ikutin mobil lo dari belakang.
Raka dan Edo bergegas mencari keberadaan Ray, mungkin saja saat ini Ray sedang dalam bahaya. Walaupun Raka akui Ray ahli dalam ilmu beladiri. Tapi, jika keadaannya berbeda dengan bermain cara licik mungkin Ray akan kalah.
🍁🍁🍁
Di tempat lain,
Ray berjalan perlahan sembari memperhatikan sekitar, mencari sumber suara Isak tangis yang terdengar olehnya. Menyusuri setiap ruangan yang ia lewati. Tapi, langkahnya terhenti tepat d depan pintu berwarna biru. Ray memegang gagang pintu itu dan membukanya, tapi sayangnya pintu itu terkunci. Ray bergerak mundur dan mendobrak pintu itu hingga pintu itu terbuka lebar.
Ray meningkatkan kewaspadaannya ketika memasuki ruangan itu. Sebuah kamar yang minim pencahayaan membuat Ray berhati-hati mungkin saja Nino sudah menyiapkan sesuatu di dalam sana.
" Kanaya "
Panggilnya lirih seraya berjalan mendekat, setelah melihat seseorang tengah terduduk di atas ranjang besar.
" Ayrin? "
Ray terkejut mendapati kenyataan bahwa gadis itu bukanlah Kanaya melainkan Ayrin.
Ayrin tersenyum lebar dan langsung memeluk Ray erat. " Gue takut Ray " ucapnya dengan isak tangis di dada bidang Ray.
Ray menghela napas pelan, jika saja gadis ini tidak sedang ketakutan ia akan mendorong tubuh gadis ini agar menjauh darinya. Ray melepaskan pelukan Ayrin perlahan dan terlihat olehnya sudut bibir gadis itu yang berdarah, dan pipinya yang terlihat memar. " Kenapa Lo bisa ada disini ? Mana Kanaya? " Tanya Ray dengan menatap tajam mata Ayrin.
" Gue mergokin Nino waktu maksa Kanaya masuk ke mobilnya, gue teriak. Nino nampar gue sampe pingsan dan pas gue ke bangun tiba tiba gue udah disini. "
" Brengs*k!! "
Ray mengepalkan tangannya dan beranjak pergi untuk mencari baji***n itu.
" Gue ikut Ray "
Ayrin mengikuti langkah lebar Ray dari belakang seraya mengedarkan pandangannya, jujur saja Ayrin sangat takut berada di dalam rumah itu. Ayrin sangat bersyukur karena Ray menemukan dirinya lebih dulu.
Sayup sayup terdengar keributan di lantai atas, Ray langsung menaiki anak tangga perlahan berharap tidak ada banci berkedok preman lagi yang muncul tiba-tiba.
Benar saja, baru saja Ray melangkahkan kakinya di anak tangga ke tiga dari lantai atas pria bertubuh kekar menghadangnya dengan membawa stik baseball di tangannya dan bersiap mengayunkan ke arah Ray.
" Awas Ray " pekik Ayrin.
Ray terkejut karena mendapat serangan mendadak. Spontan Ray menghindar dan menangkis serangan itu dengan tangan kosong. Tapi sayangnya Ayrin terkena benda keras itu di bagian perutnya hingga jatuh tersungkur ke bawah.
" Bang***! "
Melihat Ayrin tergeketak di lantai membuat Ray emosi dan langsung menyerang pria bertubuh kekar itu di bagian lengan, rahang dan bagian kepalanya. Hingga pria kekar itu tidak bergerak lagi.
" Ay Ayrin ! "
Ray menepuk-nepuk pipi Ayrin berharap gadis itu sadar. Tapi sepertinya pukulan itu terlalu keras hingga membuat Ayrin pingsan. dengan cepat Ray mengangkat tubuh Ayrin dan menaruhnya di sofa panjang di bawah tangga.
" Sorry Ay, gue tinggal dulu, gue mau cari Kanaya. "
Ray berjalan cepat menaiki anak tangga dengan membawa stik baseball itu di tangannya. Ray menyusuri setiap kamar di lantas atas. Hingga di ruangan paling ujung menarik perhatiannya.
Ray mendekat ke arah pintu berwarna cokelat itu, terdengar suara Kanaya sedang memohon pada seseorang dengan isak tangis yang begitu memilukan.
Ray mendobrak pintu kayu itu dengan keras dan langsung terbuka lebar. Terlihat oleh manik hitamnya, Kanaya tengah ketakutan di atas ranjang dengan penampilan yang sangat kacau.
Dress yang Kanaya pakai terlihat robek di bagian lengan hingga ke bagian depan. Sangat jelas memperlihatkan pakaian dalam dan kulit putih Kanaya. Dengan Nino yang merangkak tepat depan Kanaya yang terpojok di punggung ranjang.
" Anj*ng !! "
Ray bergerak cepat melompat ke atas ranjang sembari mengayunkan stik baseball itu ke arah Nino.
Seketika itu juga Nino tersungkur di lantai setelah berusaha menangkis serangan itu dengan tangannya. Nino tidak bisa menghindari karena Ray menyerangnya secara mendadak ke arahnya.
" Arghh, bang***!! "
Nino bangkit berdiri sembari megusap lengannya yang sakit. Mata tajam Nino meneliti Ray dari wajah hingga tubuhnya. Ia terheran melihat keadaan Ray yang terlihat baik baik saja. Bahkan wajahnya masih mulus tanpa luka sedikitpun, hanya lengan kirinya saja yang terluka. Sialan, preman yang sudah dia sewa ternyata hanya seorang banci berwajah seram.
Sementara Kanaya menangis di sudut ranjang seraya memeluk selimut untuk menutupi bajunya yang robek akibat perbuatan Nino yang berusaha melecehkan dirinya.
Ray mengeram kesal melihat keadaan Kanaya yang kacau. Sontak membuat Ray merasa sesak seperti ada yang menghimpit rongga pernafasannya. Beraninya bajing*n itu menyentuh gadisnya dengan tangan kotornya.
" Jangan nagis, gue ada disini "
Ray mengusap lembut pipi gadis itu seraya melilitkan selimut itu ke tubuh Kanaya, agar tertutup sempurna.
" Hiks..a-aku ta-takut banget Ray "
Ucap Kanaya terbata dengan tubuhnya yang bergetar hebat akibat rasa takut yang berlebihan.
detik kemudian Ray menoleh ke arah Nino yang sedang kesakitan sembari mengusap bagian lengannya akibat pukulan Ray yang begitu bernafsu. Mungkin saja tulangnya retak.
Nino merogoh saku celananya mengeluarkan pisau lipat untuk menyerang Ray dari belakang.
" Mati Lo ! " Seru Nino seraya berjalan cepat ke arah Ray yang sedang lengah.
Ray melihat pergerakan Nino dari ekor matanya. Dengan gerakan cepat Ray berbalik dan mengambil bantal sebagai tameng kemudian menendang tepat di perutnya hingga membuat Nino terpental menghantam tembok.
Nino memuntahkan cairan merah dari mulutnya akibat tendangan Ray yang begitu keras di bagian perutnya. Nino terbatuk sembari memegangi perutnya yang terasa begitu sakit seperti akan mati.
Nino sangat muak dengan keadaan ini. Bibirnya tersenyum menyeringai setelah melihat Ray lengah. Ia memang kalah jika adu fisik tapi jika dengan senjata api sudah pasti dirinya akan menang. Dengan gerakan lambat Ray mengambil senjata api dari balik jaket Levisnya dan mengarahkan tepat di kepala Ray.
Dorrr
Timah panas meluncur dengan bebas dari tempatnya.
" Arrkk "
Kanaya menjerit kesakitan di bagian pundaknya.
" Kanaya " seru Ray sembari memeluk erat tubuh lemah Kanaya .
Peluru yang di arahkan untuk Ray meleset dari sasaran. Justru bersarang di bagian pundak Kanaya.
Baru saja Ray ingin bangkit dan menghajar baji**** itu. Dari arah pintu masuk terdengar suara tembakan bertubi mengenai Nino hingga membuat Nino mengembuskan nafas terakhirnya.
" Ray " Raka berjalan cepat mendekati Ray. " Lo gak papa? " Tanya Raka dengan wajah seriusnya meneliti tubuh adiknya.
" Kanaya bang " ucap Ray dengan Suara seraknya sembari melepaskan pelukannya.
" Kanaya? "
🍁🍁🍁
aku milikmu malam ini
kan memelukmu sampai pagi
tapi nanti bilaku pergi
tunggu aku disini.
pake lagu pengiring 😂
semoga suka dengan chapter ini, dan bisa mengobati rindu keran kelamaan up dari kemaren😂
jangan lupa tinggalin jejaknya kak.
sampai jumpa di next chapter 😉