Real cerita asli
No Jiplak!!!!
Yang jiplak gue gaplak
Ivana, wanita berusia 26 tahun harus merasakan pahit yang lebih dalam setelah kakaknya meninggal. Ia di haruskan menggantikan sang kakak untuk menikahi Saga, calon kakak iparnya setelah Olivia meninggal. Namun rupanya, Saga pun tak melepaskan Ivana, karena tahu bahwa jantung yang ada di dalam dirinya adalah milik Olivia.
"Tolong, izinkan aku pergi!" Rintihan itu terus Ivana ucapkan dari balik pintu kamar berinterior mewah.
Di depan kamar itu, terdapat beberapa orang yang mengawasinya.
"Kau mau kemana Ivana? Kau harus tetap di sini, Olivia tidak akan pernah membangkang padaku. Kau harus menurut, atau aku akan mengambil jantungmu dan memberikannya pada wanita lain sebagai Olivia" ucap Saga dari balik pintu kamar Ivana.
"Kau sudah gila Saga, lepaskan aku! Aku tidak ingin di sini! Aku ingin pergi! "
Ivana, apakah kamu benar-benar akan bertahan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon An_cin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34
Seorang pelayan, kini berjalan dengan membawa nampan berisikan kue serta secangkir teh hangat.
Ia pergi ke sebuah ruangan, di mana itu adalah perpustakaan di Villa itu. "Nyonya, ini minuman dan kue kering yang Anda minta." Ucap pelayan itu, dan kini Nyonya Ivana berbalik badan.
Dalam diam dan sangat-sangat tersembunyi, ia menyandang gelas Howard. Benar-benar seperti istri simpanan.
"Terima kasih, dan bisakah kau beri tahu aku, bagaimana kondisi kedua temanku?"
"Mereka stabil nyonya, untuk nona Jane, dia sudah jauh lebih membaik. Jika semua sudah beres, maka saya izin pamit undur diri."
Pelayan itu pun langsung pergi, meninggalkan Ivana dengan sebuah buku di tangannya.
"Jadi pada akhir cerita, gadis ini màsih tetap harus menderita ya. Kisahnya benar-benar sangat mirip denganku." Nada suaranya sudah tidak selemah saat ia pertama kali berada di sini.
Bagi Ivana, hidupnya sudah tak penting lagi, tak ada hal yang bisa membuatnya senang atau merasa sesuatu untuk hidup. Ia hanya perlu membawa keduanya pergi dari sini, dan meninggalkan Villa ini.
Tidak peduli akan marga, atau nama yang tertera di belakangnya. Ia, bahkan jauh lebih suka nama wingston dari pada Howard.
Ivana kini menghela napas, meratapi nasibnya yang buruk.
"Ini benar-benar membuatku bertanya, mengapa sebelum lahir aku memilih hidup seperti ini."
Ivana tahu, tak akan ada ruang baginya, pada hati Saga. Dan ia juga tak akan memaksanya, untuk suka atau menganggapnya sebagai istri.
Ivana lalu berjalan ke arah jendela ruangan itu, menatap pekarangan Villa. Di sana, ada Danuel dengan bersama dengan rekan-rekannya yang tengah melakukan panahan.
Tampak dari bawah sana, Ivana mengamati mereka. "Aku hanya perlu diam, jangan sampai gentar, meski aku tahu selemah apa tubuhku ini. Namun aku tak boleh lemah sekarang, aku harus bisa membawa Jane dan Rei keluar dari sini."
Ivana kini berjalan pergi, ia tahu, bahwa setiap gerakan yang ia buat selalu di awasi oleh sang suami.
Semua CCTV di Villa ini menyala, Ivana tahu akan hal itu, ia tahu bahwa setiap gerak geriknya telah di awasi oleh Saga.
Ivana kini pergi ke kamar Jane, di sana ia melihat Jane tengah melakukan peregangan otot. Kakinya masih belum sembuh total. Namun gadis itu dengan tekatnya yang kuat, ia akan kembali seperti semula.
"Kau ini benar-benar wonder women ya, aku benar-benar suka gayamu."
Jane senang dengan perubahan Ivana, ia sudah tak kaku. Meski ia masih tampak cukup menyedihkan untuk ukuran seorang nyonya.
"Bagaimana menurutmu, apa aku bisa bisa kembali berkelahi." Jane sedikit mempraktikkan ilmu bela dirinya.
"Ayolah Jane, kau baru saja siuman, tolong jangan buat dirimu terlalu capek. Aku takut kau akan sakit lagi."
"Ya, baiklah nyonya Howard, setelah aku susah payah membawamu pergi, pada akhirnya kau pun tetap berakhir di penjara ini."
Ivana tertawa, nada ucapan Jane terdengar lucu baginya.
"Tok tok tok." Seorang pelayan mengetuk pintu, dan Jane pun memberikan izin untuk masuk.
"Masuk!"
Pelayan itu membuka pintu, ia lalu masuk dan menemui Ivana. "Nyonya, Tuan sudah datang, dia ingin menemui Anda segera."
Ivana tak mau dengar, ia menutup kedua telinganya. "Nyonya, tolong jangan seperti ini, atau tuan benar-benar akan marah pada kami jika dia tahu."
"Lalu aku harus apa? Aku bahkan sangat malas menemuinya. Sudahlah, kau saja yang temui dia. Aku malas menemuinya." Pelayan itu kini keluar dari kamar Jane.
Ia berjalan dengan gemetar dan ketakutan menuju anak tangga. Di lantai bawah, rupanya Saga sudah menunggu Ivana.
Saga mengendurkan dasinya, dua kancing kemeja dari bagian atas ia lepaskan. "Di mana istri payahku itu? Kau tak berhasil membawanya keluar dari persembunyian?"
Dengan gemetar pelayan itu pun menggelengkan kepalanya, "maaf tuan Saga. Nyonya tidak mau turun dan malah menyuruh saya menemui Anda tuan."
Saga menyeringai, ia benar-benar marah kini. "Di mana bocah payah itu? Aku mau bertemu dia."
"Di-dia ada di ruang kamar Jane tuan."
"Di ruang kamar ya? Ivana, ivana, dasar bodoh." Saga berjalan melewati pelayan itu, ia kini naik ke lantai dua, pergi ke arah kamar Jane.
"Brakkkkkkk" Saga membuka pintu kamar itu dengan keras, membuat orang yang berada di dalam kamar itu pun tersentak kaget.
"Astaga, tidak bisa kah kau." Ucapan Jane menggantung, ia menghentikan ucapannya saat ia lihat di depan matanya. Saat orang yang masuk itu adalah Saga.
"Kau mencoba lari dari dariku?" Saga mendekati Ivana, namun wanita itu mundur ketakutan. Hingga akhirnya ia tersudut ke tembok.
"Jadi kau benar-benar tak mau mendengarkan aku ya Ivana?" Saga mendekati Ivana. Wajahnya kini hanya terpaut beberapa cm dari wanita itu.
Ia kini memegang dagu Ivana, melihat wajahnya ke kanan dan kiri. "Ternyata kau benar-benar jauh lebih cantik dari pada yang aku duga. Kau memakai parfum apa hari ini, wanginya sangat enak sekali."
Ivana seketika memalingkan wajahnya dari Saga, ia benar-benar muak dengan pria kasar ini. Melihat Ivana yang begitu enggan menatap ya membuat Saga semakin menggila.
"Lihat aku Ivana! Lihat aku!"
Saga memaksa Ivana menatapnya, dan wanita itu pada akhirnya mau menatap suaminya.
Namun Saga tak puas akan hal itu, ia kini menampar Ivana dengan begitu kasar. "Plakkkkkk"
Membuat Ivana bahkan Jane sangat terkejut, "mengapa kau jadi lebih cantik di bandingkan Olivia sialan. Kau tak boleh lebih cantik dari dia, Olivia harus selalu yang tercantik. Dan mengapa sekarang aku melihat kalian sangat mirip. Namun kau jauh lebih cantik Ivana."
"Kau gila Saga, aku dan kakakku. Kami lahir dari orang yang sama, jelas wajah kami mirip." Saga yang mendengar hal itu langsung marah. Ia benar-benar tidak suka, Olivia di samakan dengan Ivana.
"Jangan kau pikir kau bisa menggantikan Olivia, kau pakai lipstik apa hari ini hah. Hapus lipstik itu!."
Jane tak membiarkan hal ini terjadi, ia mencoba menyelamatkan Ivana, meski sangat sulit, lantaran kakinya yang belum sepenuhnya pulih.
"Menjauhlah dari Ivana, kau tak boleh sakiti dia." Saga tak suka ada orang yang ikut campur masuk, pada urusannya. Ia pun kemudian mendorong Jane, membuat gadis itu tersingkir dan terdorong cukup jauh hingga terpentok pada sebuah tembok.
"Jane....." Ucap Ivana, saat melihat temannya yang telah terkapar tidak berdaya dan luruh di lantai.
Saga kembali mengeluarkan pistol, "jika kau berani ikut campur urusan kami. Bukan hanya kakimu yang akan cacat, nyawamu juga akan melayang, jadi lebih baik kau diam saja. Dan jangan buat hal yang membuat aku kesal!"
Jane tak menjawab, ia justru malah meledek Saga. Jane benar-benar berhasil untuk membuat orang marah, dialah juaranya.
"Jane, tolong jaga wajahmu, kau jangan meledeknya seperti itu." Jane terkejut mendengar Ivana yang tiba-tiba membela Saga. Bahkan Saga sendiri pun sangat terkejut.
"Ivana, apa yang kau lakukan, mengapa kau membelanya."
"Sudahlah Jane, jangan buat masalah ini makin macau. Aku tidak apa-apa." Ivana kini menatap Saga dan tersenyum, seolah sudah siap dengan semua pukulan yang akan di layangkan oleh pria itu.
"Aku sudah terbiasa dengan semua hukuman ataupun pukulan, jadi jangan khawatirkan aku Jane." Ivana tersenyum, namun Jane tahu, itu bukan senyum bahagia, melainkan senyuman keterpaksaan.
Saga kini menarik lengan tangan Ivana, membawanya pergi dari kamar Jane. "Maaf Jane, sejak awal memang inilah aku, tak pernah bisa melawan mereka yang telah menindasku. Aku tak tahu cara membalasnya dan aku terlalu lemah sebagai perempuan."
Bersambung.......
HIATUS, AUTHOR PINDAH KE PF SEBELAH, TERIMA KASIH UNTUK YANG SUDAH BACA. DAN MAAF KARENA MENDADAK HARUS PAMIT
tokoh utama nya lemah amat...😏😏
lawan dong goblok...👊
Thor