NovelToon NovelToon
SILENCE OF JUSTICE

SILENCE OF JUSTICE

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Karir / Duniahiburan / Bullying di Tempat Kerja / Cinta Murni / Balas Dendam
Popularitas:87
Nilai: 5
Nama Author: Black _Pen2024

"Ketika kebenaran dibungkam paksa, ketika keadilan dipaksa untuk diam, beberapa orang terpaksa beraksi. "

Cinta rahasia Xiao Fei dengan Yu, aktor papan atas yang dipuja, berakhir dengan tragis. Publik meratapi "kematian karena overdosis" yang menyayat hati, namun duka Fei berubah menjadi teror murni saat sebuah kiriman video anonim tiba. Di dalamnya, Yu bukan hanya dibunuh—ia disiksa, dilecehkan secara keji, dan dikorbankan dalam sebuah ritual mengerikan oleh sekelompok individu bertopeng. Kematian Yu bukanlah akhir, melainkan awal dari neraka yang nyata.

Didorong oleh cinta dan dahaga akan kebenaran, Fei harus meninggalkan identitasnya yang aman dan menyusup ke dalam dunia glamor industri hiburan yang beracun. Akhirnya Xiao Fei dengan beberapa orang yang bertemu secara tak sengaja mengambil peran utama sebagai penegak keadilan. Mampukah aksi mereka menunjukkan keadilan yang kini berubah menjadi Keheningan Keadilan. Silence of Justice akan menuntun kita pada aksi mereka. Berhasilkah?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Black _Pen2024, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 8 Aura di balik kepalsuan

Kilauan kristal dari lampu gantung raksasa memantul di lantai marmer galeri seni 'Aurora', menciptakan tarian cahaya yang menipu. Suara tawa hampa, dengungan percakapan dangkal, dan alunan musik klasik yang terlalu keras bercampur menjadi satu simfoni kepalsuan. Malam itu, di tengah keramaian para elit kota yang mengenakan pakaian mahal dan senyum palsu, Xiao Fei melangkah masuk. Bukan sebagai dirinya yang lama, yang berduka, melainkan sebagai Meylie—investor seni yang dingin, karismatik, dan baru kembali dari Paris.

Gaun hitam sederhana namun berpotongan sempurna membalut tubuh Meylie, menonjolkan siluetnya tanpa menarik perhatian yang berlebihan. Rambut cokelat gelapnya ditata rapi, dan riasan minimalisnya menonjolkan mata tajam yang kini memancarkan ketenangan yang mengerikan. Di tangannya, ia memegang segelas sampanye, gelembung-gelembung kecilnya menari-nari seperti janji-janji kosong yang melayang di udara. Setiap langkahnya mantap, setiap tatapannya dingin, mencerminkan persona yang telah ia bangun dengan susah payah.

Namun, di balik fasad yang sempurna itu, jantung Xiao Fei berdenyut dengan campuran amarah dan kecemasan. Setiap wajah yang ia lihat, setiap tawa yang ia dengar, terasa seperti ejekan. Ini adalah dunia Yu, dunia yang memuja kekayaan dan kekuasaan, dan di sinilah, di antara mereka, bersembunyi para pembunuh kekasihnya. Ia bisa merasakan aura kepalsuan yang melingkupi setiap individu, seperti kabut tebal yang menyembunyikan rahasia gelap.

Meylie bergerak perlahan, matanya memindai ruangan. Ia mengamati lukisan-lukisan abstrak yang tergantung di dinding, patung-patung modern yang aneh, dan tentu saja, orang-orang. Ia berpura-pura tertarik pada sebuah instalasi seni minimalis, namun sejatinya, ia mencari satu wajah: Tuan Chen. Mantan manajer Yu, yang kini menjadi target pertamanya.

Setelah beberapa menit, ia menemukannya. Tuan Chen berdiri di dekat bar, dikelilingi oleh beberapa pria berjas yang tampak seperti pengusaha. Chen, dengan rambutnya yang disisir rapi dan senyum yang terlalu lebar, tampak bersemangat, tertawa riang, dan bersulang dengan gelas sampanyenya. Tidak ada jejak duka, tidak ada bayangan kesedihan. Ia tampak terlalu cepat melupakan Yu, terlalu cepat beradaptasi dengan ketiadaan bintangnya. Meylie merasakan gelombang jijik merayap dalam dirinya. Ini adalah orang yang seharusnya berduka atas kematian aktor yang ia kelola selama bertahun-tahun.

"Betapa munafiknya," pikir Meylie, menekan amarahnya. "Kau akan membayar untuk ini, Chen."

Meylie melatih senyum tipis di bibirnya, lalu dengan langkah anggun, ia bergerak mendekati kelompok Chen. Ia sengaja melewati dekat mereka, berpura-pura sedang menuju ke arah lain, namun memberikan kesempatan bagi Chen untuk memperhatikannya.

Sesuai dugaannya, Tuan Chen meliriknya. Matanya yang licik menyapu Meylie dari kepala hingga kaki, menilai penampilannya. Meylie membiarkan kontak mata singkat itu, lalu dengan sengaja memperlambat langkahnya di dekat sebuah patung marmer, berpura-pura mengaguminya.

"Patung yang menarik, bukan?" suara Chen terdengar di sampingnya. Meylie berbalik, menampilkan senyum sopan yang telah ia latih.

"Memang. Ada kekuatan yang tersembunyi di balik kesederhanaannya," jawab Meylie, suaranya halus, dengan sedikit aksen Eropa yang samar. "Anda Tuan Chen, bukan? Saya sering mendengar nama Anda di kalangan industri hiburan."

Chen tersenyum lebar, tampak bangga. "Betul sekali, Nona...?"

"Meylie. Meylie Ling," ia memperkenalkan diri, mengulurkan tangan. Jabat tangan Chen terasa hangat dan sedikit basah, sebuah indikasi kegugupan atau keserakahan yang tersembunyi. "Saya baru kembali dari Paris. Mencari peluang investasi di pasar seni Asia."

"Oh, seorang investor seni! Menarik sekali," Chen mengangguk-angguk, matanya berkilat dengan minat. "Industri seni di sini sedang berkembang pesat. Anda datang di waktu yang tepat." Ia melirik ke sekeliling, seolah ingin memastikan tidak ada yang mendengar percakapan mereka. "Apakah Anda... uhm... pernah berinvestasi di industri hiburan juga?"

Meylie menghela napas, berpura-pura berpikir. "Sesekali. Saya punya beberapa teman di industri itu. Salah satunya... seorang aktor muda yang sangat berbakat, Yu."

Ia sengaja menyebut nama Yu dengan nada kasual, mengamati setiap perubahan ekspresi di wajah Chen. Senyum Chen sedikit memudar, namun dengan cepat kembali.

"Ah, Yu," Chen berdehem, mengibaskan tangannya dengan gestur meremehkan. "Kasihan sekali. Bakatnya memang besar, tapi... ya, Anda tahu sendiri. Tekanan industri. Saya sudah sering memperingatkannya."

"Saya dengar dia meninggal karena overdosis," Meylie berkata, mempertahankan nada netralnya. "Tragis sekali. Saya sangat menyayangkan. Dia punya potensi besar."

"Memang. Tapi ya, apa mau dikata," Chen mengangkat bahu, seolah kematian Yu hanyalah berita harian. "Hidup memang begitu. Cepat atau lambat, semua orang akan digantikan." Ia tersenyum lagi, senyum yang terlalu cepat, terlalu bersemangat.

Meylie merasakan amarahnya mendidih. "Digantikan?" Yu adalah kekasihnya. Yu adalah seorang manusia. Bukan sebuah produk yang bisa diganti. Ia harus menekan keinginan untuk menampar wajah munafik Chen.

"Saya dengar Yu sangat menyukai lukisan abstrak yang gelap," Meylie melanjutkan, mencoba menjebak Chen dengan informasi kecil yang hanya Yu dan ia yang tahu. Yu memang punya ketertarikan aneh pada seni gelap yang jarang ia tunjukkan pada siapa pun. "Terutama karya-karya dari seniman anonim yang menggunakan warna merah darah. Dia pernah bilang, 'Ada kejujuran dalam kegelapan itu.'"

Chen mengerutkan kening, tampak berpikir keras. Sebuah keraguan kecil terlihat di matanya, seolah ia mencoba mengingat sesuatu yang tidak pernah ia ketahui. "Ah, ya, Yu... dia memang punya selera yang unik. Saya tidak begitu mengerti seni, tapi saya selalu mendukungnya. Dia bilang itu bagus untuk 'citra artis yang mendalam', Anda tahu?"

Sebuah kebohongan. Meylie bisa melihatnya. Chen tidak tahu apa-apa tentang selera seni Yu yang sebenarnya. Ia hanya merangkai alasan yang terdengar masuk akal.

"Jadi, Anda tidak pernah melihat koleksi pribadinya?" Meylie menekan, tatapannya sedikit lebih tajam.

Chen tertawa canggung. "Koleksi pribadinya? Yu itu seperti angin, Nona Meylie. Tidak pernah menetap. Dia selalu bilang, 'Aku ini aktor, bukan kolektor.' Dia lebih suka menghabiskan uangnya untuk... pengalaman."

Meylie hampir yakin Chen akan mencium bau kebohongan darinya. Ada kilatan curiga di mata Chen, seolah ia menyadari ada sesuatu yang tidak pas. Fei harus cepat mengalihkan fokus.

"Saya mengerti," Meylie mengangguk, lalu menunjuk ke sebuah lukisan di dinding yang menampilkan goresan-goresan abstrak berwarna emas dan hitam. "Bagaimana menurut Anda tentang karya ini? Saya dengar ini adalah salah satu karya yang paling dinanti di lelang malam ini. Potensi investasinya luar biasa."

Chen, yang merasa sedikit terpojok, segera mengalihkan perhatiannya ke lukisan itu. "Ah, ya, karya ini! Luar biasa! Saya mendengar harganya akan melonjak. Saya sendiri sedang mempertimbangkan untuk berinvestasi." Ia kembali ke mode pengusaha yang bersemangat. "Anda tahu, Yu juga sempat tertarik pada investasi. Dia punya persaingan ketat dengan beberapa aktor lain, dan dia selalu ingin menunjukkan bahwa dia lebih dari sekadar wajah tampan. Dia ingin menjadi 'pemain besar' di balik layar."

Meylie mengamati Chen dengan cermat, melihat bagaimana pria itu dengan mudah beralih dari topik kematian Yu ke investasi dan persaingan. Ini adalah dunia mereka: semua tentang uang, kekuasaan, dan citra. Duka hanyalah sebuah gangguan.

"Persaingan?" Meylie mengulang, memberikan Chen celah untuk berbicara lebih banyak.

"Tentu saja! Ada beberapa aktor yang iri padanya. Yu itu kan cepat naik daun. Banyak yang nggak suka," Chen menggerutu, lalu meneguk sampanyenya. "Dia selalu bilang ada yang ingin menjatuhkannya. Jujur saja, menjelang akhir-akhir ini, dia jadi... sangat paranoid."

Kata "paranoid" itu membuat Meylie tersentak, namun ia berhasil mempertahankan ekspresinya. Ini adalah kata kunci yang Yu sering gunakan.

"Paranoid?" Meylie bertanya, berpura-pura penasaran. "Tentang apa?"

"Ya, tentang banyak hal. Dia selalu merasa diawasi. Dia sering menyimpan barang-barang di 'tempat yang aneh', katanya. Dokumen-dokumen penting, atau semacamnya. Dia bilang itu untuk 'jaga-jaga'. Aneh sekali, kan? Padahal saya sudah bilang, 'Yu, kamu itu cuma aktor. Apa yang perlu kamu simpan sampai segitunya?'" Chen tertawa kecil, seolah mengingat keanehan Yu.

"Tempat yang aneh?" Meylie mengulang, otaknya berputar cepat. Ini adalah petunjuk yang sangat penting. Ini mengonfirmasi bahwa Yu memang memiliki sesuatu yang berharga, sesuatu yang ia sembunyikan.

"Ya, tempat yang aneh. Kadang di apartemennya yang kecil itu, kadang di loker gym, kadang di... ah, entahlah. Dia kan suka aneh-aneh," Chen mengibaskan tangannya lagi, mencoba mengabaikan topik itu. "Tapi ya sudahlah. Dia sudah tenang sekarang. Kita harus fokus pada masa depan, bukan?"

Meylie tersenyum tipis. "Tentu saja, Tuan Chen. Masa depan selalu lebih menarik." Ia tahu bahwa Chen telah memberikan lebih banyak informasi daripada yang ia sadari. Yu memiliki rahasia, dan dia menyimpannya di "tempat yang aneh."

"Senang bertemu dengan Anda, Nona Meylie. Saya harap kita bisa bekerja sama di masa depan," Chen berkata, menatapnya dengan pandangan penuh harap, kemungkinan besar membayangkan potensi investasi yang bisa ia dapatkan dari investor seni misterius ini.

"Saya juga, Tuan Chen," Meylie membalas, jabat tangan mereka kembali bersentuhan. Kali ini, Meylie merasakan aura kemenangan kecil dalam dirinya. Ia telah berhasil menyusup, mengamati, dan menginterogasi secara halus. Ia telah melihat kepura-puraan di balik senyum palsu industri hiburan, dan ia telah mendapatkan petunjuk pertama.

Meylie menjauh dari Chen, bergerak ke sudut ruangan, mengamati keramaian dengan mata yang kini lebih tajam. Ia telah menembus lapisan pertama. Tuan Chen hanyalah sebuah pion, tetapi pion itu telah memberikan petunjuk berharga. "Tempat yang aneh." Ini adalah kepingan puzzle yang harus ia cari selanjutnya.

Ia tahu, permainannya baru saja dimulai. Dan ia akan terus menggali, terus menyusup, sampai ia menemukan "tempat yang aneh" itu dan semua rahasia yang Yu sembunyikan di dalamnya. Dan pada akhirnya, Tuan Chen, dan semua yang terlibat, akan membayar.

1
Ita Xiaomi
Menegangkan. Kasihan Yu😢
Ita Xiaomi: Berharap keadilan bs ditegakkan.
total 2 replies
Ita Xiaomi
Saat ini hanya Fei sendirian yg menolak utk percaya pd berita yg tersebar.
Ita Xiaomi: Sama-sama kk. Semangat berkarya. Berkah&Sukses selalu.
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!