andi dikejar waktu mengungkapkan siapa pelaku teror yang menyebabkan kematian di berbgai tempat...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SOPYAN KAMALGrab, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 30
"Saya mau kencing dulu" ucapku. Berjam-jam duduk terikat di dalam mobil van membuat perut bagian bawahku terasa seperti akan meledak. Setiap guncangan jalan menambah tekanan di kandung kemihku. Keringat dingin mengalir di pelipis, bukan hanya karena rasa ingin buang air, tetapi juga karena ketegangan yang tidak pernah benar-benar pergi sejak aku diculik.
Pria kecil, pendek, dan gemuk yang duduk di kursi depan mengeluarkan sebuah remote.
"Klik."
Pengunci rantai di tangan dan kakiku terbuka. Suara logam itu terdengar terlalu mudah. Ceroboh sekali mereka, pikirku. Apa mereka tidak takut aku lari?
Namun justru di situlah harapanku muncul. Ini kesempatanku. Aku sudah tahu siapa pelaku teror sesungguhnya. Pola kerjanya sudah kupahami. Jika aku bisa lolos, aku bisa membersihkan namaku dan menghentikan teror selanjutnya sebelum lebih banyak korban jatuh.
"Minuman anda mengandung racun. Hanya saya yang punya penawarnya..jadi jangan coba coba lari" ucap si master.
Aku hanya menganggukkan kepala. Dia pikir aku percaya. Tentu saja tidak. Ini pasti hanya ancaman murahan untuk membuatku tetap patuh.
Aku turun dari mobil, dan memang tidak ada satu pun dari mereka yang mengikutiku. Kakiku melangkah cepat menuju toilet umum di pinggir jalan. Begitu buang air kecil, rasa lega menyebar ke seluruh tubuhku, hampir membuat lututku lemas.
Selesai itu, aku mengendap-endap mengintip dari balik dinding. Mobil van itu masih terparkir. Tidak ada pintu yang terbuka. Tidak ada bayangan orang bergerak. Jantungku berdegup kencang.
Aku mengeluarkan ponselku. Ah, sialan, baterainya habis. Situasinya memburuk dengan cepat. Teror ini jelas melibatkan pembunuh bayaran kelas dunia dari berbagai media dan negara. Aku tidak punya waktu.
Aku berlari sekencang mungkin, napasku terengah, paru-paruku terasa terbakar. Namun setelah lebih dari lima ratus meter, kepalaku mendadak sakit seperti ditusuk ribuan jarum. Dunia berputar.
Dan sebuah bisikan terdengar, penuh perintah.
"Kembali lah"
"Kembali lah"
Aku mencoba melawan, tapi rasa sakit itu semakin menjadi, seolah ada tangan tak terlihat yang menarik kesadaranku. Tubuhku bergerak sendiri. Aku membalikkan badan dan melangkah kembali menuju mobil van.
Ini gila, pikirku. Mereka bisa mengendalikanku dari jarak jauh.
Di depan van, pria tinggi besar itu sudah menunggu. Tubuhnya menjulang hampir dua setengah meter, bahunya selebar lemari. Aku bergidik ngeri. Andaikan dia meremas tubuhku, mungkin tulang-tulangku akan remuk dalam sekali gengga
Pria raksasa yang disebut Bigwan itu membuka pintu mobil. Tatapannya dingin, tanpa emosi, seperti mesin yang hanya menunggu perintah. Ia sedikit menyingkir dan mempersilahkanku masuk dengan gerakan kepala. Tidak ada paksaan secara fisik, tetapi tekanan di udara membuatku paham aku tidak punya pilihan. Aku pun masuk ke dalam mobil van dan duduk di kursi tengah.
"Anda dalam kendali kami tuan..pada saatnya anda akan kami lepaskan..anda harus hidup agar kami mendapatkan bayaran..jika anda mati maka saya akan incar keluarga anda"
Perkataan pria kecil itu terdengar datar, nyaris seperti suara anak kecil yang sedang membaca kalimat hafalan. Namun justru di situlah letak terornya. Ancaman itu nyata, dingin, dan tanpa keraguan. Aku menelan ludah. Dadaku terasa sesak. Aku duduk diam, menyadari memang tidak ada pilihan lain selain patuh.
Pria besar itu kemudian masuk melalui pintu belakang. Bobot tubuhnya membuat suspensi mobil sedikit turun, tetapi tetap stabil.
"Jalan" perintah si master.
Sekarang aku hanya bisa diam. Mobil melaju cepat, arahnya jelas kembali ke kota. Sebagai polisi, aku terbiasa mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi, tetapi cara pria berpakaian hitam itu menyetir membuatku iri sekaligus ngeri. Di jalan tol, mobil melesat zigzag, menyalip satu per satu kendaraan dengan mulus. Tidak ada hentakan, tidak ada suara mesin meraung. Semuanya stabil, terkontrol.
Dari luar, mobil ini terlihat seperti van murahan. Namun aku yakin bagian dalamnya sudah disetel khusus untuk kecepatan tinggi. Perjalanan yang seharusnya ditempuh selama tiga jam hanya menjadi satu jam.
Begitu masuk ke dalam kota, mobil melaju perlahan. Kami berhenti di sebuah kawasan perumahan mewah. Entah sejak kapan, si master sudah berganti pakaian. Sekarang ia tampak seperti anak sekolah, lengkap dengan seragam. Tubuhnya kecil, wajahnya polos, sama sekali tidak mencerminkan sosok yang memegang kendali hidupku.
Ia turun dari mobil, diikuti Bigwan yang tubuhnya sangat mencolok. Dari dalam mobil, aku melihat si master menghampiri pos keamanan. Terjadi percakapan singkat yang tidak bisa kudengar. Tiba-tiba Bigwan menepuk pundak petugas keamanan. Tubuh petugas itu langsung ambruk tak sadarkan diri. Gila memang, pikirku.
Bigwan berjaga di pos. Dua petugas yang pingsan dibawa seperti membawa anak kucing, ringan dan tanpa usaha. Mobil kemudian kembali melaju.
"Bisu kendalikan" cctv.
Aku mendengar ketukan jari dari pria bisu di belakangku. Dari langit-langit kabin depan, sebuah layar keluar. Aku bisa melihat situasi perumahan dari berbagai sudut. Kamera-kamera tampak aktif, ada kedipan lampu, tetapi gambar yang ditampilkan jelas bukan kondisi sebenarnya. Rekaman itu palsu, dimanipulasi.
Ini gila, pikirku.
"Sudah aman" ucap pria kecil itu.
Hanya gumaman pelan terdengar dari pria bisu. Rupanya dia bisa mendengar, hanya tidak bisa bicara. Kalimat itu membuat tengkukku meremang, seolah keamanan hanyalah ilusi yang bisa mereka ciptakan kapan saja.
Si master turun dari mobil. Aku mengintip ke arah rumah besar yang dijaga ketat oleh aparat bersenjata. Lampu sorot menyala terang, bayangan petugas tampak bergerak di halaman. Namun pria kecil itu melompati pagar, memanjat pohon, lalu masuk ke halaman rumah. Gerakannya cepat dan ringan, seperti bayangan yang tidak tersentuh gravitasi. Dalam hitungan detik, ia menghilang dari pandanganku.
Yang jelas, pria kecil itu sudah masuk ke rumah besar tersebut. Mobil berputar balik tanpa menunggunya. Jantungku berdegup semakin kencang.
Mobil berjalan dengan mulus, nyaris tanpa suara. Ketukan jari si bisu terus terdengar, ritmis, seolah ia sedang mengendalikan sesuatu yang jauh lebih besar dari kendaraan ini. Mobil keluar dari perumahan elit itu tanpa hambatan. Tidak ada palang terbuka, tidak ada petugas mendekat. Benar-benar operasi sunyi, pikirku.
Sekarang hanya ada tiga orang di dalam mobil. Aku, si Black, dan si bisu. Si Black tampak santai, bahkan bersiul pelan seperti sedang menikmati perjalanan sore. Kontras dengan pikiranku yang dipenuhi ketakutan.
Mobil tiba-tiba berhenti. Dari layar yang turun di kabin depan, tampak sebuah kamar mewah. Seorang anak perempuan tertidur pulas di ranjang besar. Napasku tercekat. Di layar itu, tubuh remaja tersebut disuntik. Aku ingin berpaling, tetapi mataku terkunci. Kemudian di telinga anak itu diukir sebuah kode.
172next.
Layar mati begitu saja.
Astaga, malam ini aku melihat proses teror itu dengan begitu nyata. Mereka melakukannya dengan senyap, di tengah pengamanan ketat, tanpa meninggalkan jejak. Para teroris sudah begitu mahir membunuh, sementara para petugas justru sibuk mencari pembenaran dan laporan aman.
Si Black masih bersiul seolah tidak terjadi apa-apa.
Sekitar sepuluh menit berlalu. Pintu depan mobil terbuka. Pria kecil itu masuk dengan tenang. Tak lama kemudian, pintu belakang berderit keras, jelas itu pria besar yang masuk.
"Kendalikan listrik" perintah pria kecil.
Si bisu langsung sibuk mengetik. Lampu-lampu penerang jalan tampak mati lalu hidup, mati lalu hidup lagi, menciptakan suasana horor yang membuat dadaku terasa semakin sesak.