NovelToon NovelToon
Gigoloku Bossku

Gigoloku Bossku

Status: tamat
Genre:Suami Tak Berguna / Selingkuh / Cinta Terlarang / Menikah dengan Kerabat Mantan / Tamat
Popularitas:2.2M
Nilai: 4.9
Nama Author: mama reni

“Satu malam, satu kesalahan … tapi justru mengikat takdir yang tak bisa dihindari.”

Elena yang sakit hati akibat pengkhianat suaminya. Mencoba membalas dendam dengan mencari pelampiasan ke klub malam.

Dia menghabiskan waktu bersama pria yang dia anggap gigolo. Hanya untuk kesenangan dan dilupakan dalam satu malam.

Tapi bagaimana jadinya jika pria itu muncul lagi dalam hidup Elena bukan sebagai teman tidur tapi sebagai bos barunya di kantor. Dan yang lebih mengejutkan bagi Elena, ternyata Axel adalah sepupu dari suaminya Aldy.

Axel tahu betul siapa Elena dan malam yang telah mereka habiskan bersama. Elena yang ingin melupakan semua tak bisa menghindari pertemuan yang tak terduga ini.

Axel lalu berusaha menarik Elena dalam permainan yang lebih berbahaya, bukan hanya sekedar teman tidur berstatus gigolo.

Apakah Elena akan menerima permainan Axel sebagai media balas dendam pada suaminya ataukah akan ada harapan yang lain dalam hubungan mereka?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mama reni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab Dua

Dentuman musik langsung menghantam telinga Elena begitu ia melangkah masuk ke dalam klub. Lampu-lampu neon warna-warni menari di langit-langit, berganti-ganti antara biru, ungu, dan merah, seolah ikut mengiringi hentakan beat musik yang keras. Ruangan itu penuh dengan orang-orang. Ada yang menari di lantai dansa, ada yang duduk di sofa panjang sambil tertawa keras, ada pula yang asyik berdua di sudut gelap.

Elena berhenti sejenak di dekat pintu masuk. Ia merasa seperti orang asing. Ini pertama kalinya ia datang ke tempat seperti itu. Tangannya meremas clutch kecil yang ia bawa. Jantungnya berdegup kencang, bukan karena musik, tapi karena rasa gugup yang tak bisa ia kendalikan.

Seorang pelayan perempuan berseragam hitam mendekat, tersenyum sopan. “Selamat malam, Mbak. Mau duduk di area bar, lounge, atau langsung ke VIP room?” tanyanya ramah, meski matanya menilai Elena dari ujung kepala hingga kaki.

Elena menelan ludah. Ia melirik sekilas ke arah bar yang ramai, lalu menggeleng pelan. “Saya … saya cuma mau duduk. Di mana saja yang agak sepi.”

Pelayan itu mengangguk, lalu mengantarnya ke sofa di sisi agak pinggir. Suasananya memang sedikit lebih tenang dibanding tengah ruangan. Dari sana Elena bisa melihat keramaian, tapi tidak terlalu jadi pusat perhatian.

“Minum apa, Mbak?” tanya pelayan itu sambil menyiapkan tablet kecil untuk mencatat pesanan.

Elena ragu sebentar. Ia jarang sekali minum alkohol, bahkan hampir tidak pernah. Tapi malam ini berbeda. Malam ini, ia butuh sesuatu yang bisa membuat kepalanya berhenti berpikir. “Apa saja … yang agak manis. Biar nggak terlalu pahit,” jawab Elena canggung.

Pelayan itu tersenyum paham. “Baik. Saya bawakan cocktail, ya. Tunggu sebentar.”

Elena mengangguk pelan, lalu menyandarkan tubuhnya ke sofa. Ia menghela napas panjang, menatap kosong ke arah kerumunan orang-orang yang tampak bahagia. Seandainya saja hidupnya juga bisa semudah itu.

Tak lama kemudian, minumannya datang. Segelas cocktail berwarna merah muda dengan hiasan potongan jeruk di pinggir gelas. Elena menatapnya sebentar, lalu meneguknya tanpa banyak pikir. Rasanya manis bercampur pahit, hangatnya langsung mengalir ke tenggorokannya.

Gelombang kecil keberanian mulai muncul. Kepalanya sedikit ringan. Ia meneguk lagi, kali ini lebih banyak.

Pelayan tadi masih berdiri tak jauh darinya. Entah dorongan dari mana, tiba-tiba Elena memanggilnya. “Mbak .…”

Pelayan itu mendekat, tersenyum sopan. “Iya, Mbak?”

Elena menunduk sebentar, lalu memberanikan diri. “Di sini … apa ada … maksud saya pria yang bisa nemenin?” tanya Elena dengan suara pelan, nyaris tak terdengar.

Pelayan itu sempat terdiam, lalu menatapnya penuh arti. Senyum tipis muncul di bibirnya. “Maksud Mbak … teman minum? Atau teman ngobrol?”

Elena menghela napas, lalu memalingkan wajah. Pipinya memanas. “Ya … semacam itulah.”

Pelayan itu mengangguk paham. “Ada, Mbak. Tapi biasanya harus booking dulu. Kalau Mbak mau, saya bisa coba tanyakan. Tunggu sebentar, ya.”

Elena hanya mengangguk. Ia meneguk lagi minumannya. Rasa malu bercampur dengan rasa penasaran. Ia sendiri tidak tahu apa yang sedang ia lakukan. Ia hanya ingin melupakan rasa sakit di dadanya.

Waktu berjalan. Gelas cocktail pertama habis, pelayan membawakan lagi. Elena meneguk tanpa pikir. Musik semakin keras, lampu semakin redup, dan kepalanya mulai terasa berat.

Sekitar setengah jam kemudian, seorang pria masuk ke area lounge. Tubuhnya tinggi, tegap, mengenakan kemeja hitam dengan kancing bagian atas terbuka. Rambutnya sedikit berantakan tapi justru membuatnya tampak kasual. Wajahnya tegas, tatapannya tajam tapi santai. Ia duduk di kursi tak jauh dari Elena, lalu memanggil bartender untuk memesan minuman.

Elena yang sudah agak mabuk menatapnya. Pandangannya kabur, tapi ia masih bisa melihat garis wajah pria itu yang tampak menonjol di bawah cahaya lampu. “Oh … ini pasti dia…,” gumam Elena dalam hati.

Ia mengira pria itu adalah orang yang dikirimkan pelayan tadi. Seorang gigolo yang siap menemaninya malam itu.

Pria itu, Axel, baru saja menerima minumannya ketika Elena dengan langkah agak goyah mendekat. Ia tersenyum genit, duduk di kursi sebelah tanpa diundang.

“Hai .…” Suara Elena sedikit serak. “Kamu pasti … ya? Yang dikirim buat aku?”

Axel menoleh, alisnya berkerut. “Apa maksudmu?”

Elena tertawa kecil, lalu menyentuh lengannya. “Nggak usah pura-pura. Aku tahu kamu … kamu kan yang dikirim sama pelayan tadi buat nemenin aku malam ini.”

Axel menatapnya heran, lalu tertawa kecil. “Mbak, saya rasa kamu salah orang. Saya cuma lagi mau minum di sini, nggak lebih.”

Elena menggeleng keras. “Nggak, kamu jangan bohong. Aku … aku tahu. Kamu ganteng banget. Cocok. Pas banget sama yang aku butuhin malam ini.”

Axel menaruh gelasnya, lalu menatap Elena serius. “Kamu udah minum berapa banyak?”

Elena mengangkat gelasnya yang hampir kosong. “Baru dua. Tapi aku masih bisa kok. Jangan khawatir.”

Axel menghela napas. “Kamu salah paham. Aku bukan kayak yang kamu pikir. Aku cuma ....”

Sebelum Axel melanjutkan, Elena menyandarkan tubuhnya ke bahunya. “Aku capek … capek banget. Kamu nggak usah ngomong apa-apa. Temenin aku aja malam ini. Boleh kan?” suaranya bergetar, ada kesedihan yang tersembunyi di balik candaan mabuknya.

Axel terdiam. Ia bisa merasakan kalau wanita di sebelahnya ini sedang tidak baik-baik saja. Tapi, ia juga tahu ini situasi yang salah.

“Elena, ya?” Axel menebak setelah melihat kartu karyawan yang tergantung di tas kecil Elena.

Elena mendongak, matanya berbinar samar. “Iya … kok kamu tahu namaku? Wah, profesional sekali. Memang harusnya begitu kan? Tahu siapa klienmu.” Ia terkekeh kecil, lalu menatap Axel dengan senyum genit. “Jadi, kamu mau temenin aku kan?”

Axel menahan tawa getir. “Kamu bener-bener salah paham, Mbak. Tapi ….” Ia terdiam, tidak tahu harus berkata apa.

Elena meneguk sisa minumannya, lalu bangkit. Ia menarik tangan Axel dengan spontan. “Ayo … kita ke atas. Ada hotel di lantai atas kan? Aku tahu. Aku pernah dengar. Kita ke sana.”

Axel menatap tangannya yang ditarik, lalu menatap wajah Elena yang setengah mabuk. Ia bisa saja menolak, tapi ada sesuatu di sorot mata wanita itu yang membuatnya tidak tega.

Elena menoleh, tersenyum lebar meski matanya berkaca-kaca. “Ayo dong … jangan bikin aku nunggu. Malam ini aku pengen lupa semuanya.”

Dan dengan langkah goyah namun yakin, Elena menarik Axel menuju lift yang mengarah ke lantai atas.

Pintu lift terbuka. Musik dari bawah terdengar semakin jauh. Hanya suara detak jantung Elena yang makin kencang, bercampur dengan suara napas Axel yang terdengar berat.

1
dwie 2025
mami Reni ak suka cerita km yakin bikin penasaran suka klo lihat Aldi cowok ga setia semakin panas krn cemburu 👍semoga Axel beneran cinta mati sama Elena😄
dwie 2025
makin kesini makin seruuu😍😍😍
dwie 2025
otor ak suka cerita km👍 bikin penasaran senyum2 sndri ak bacanya...
Mama Reni: 😘😘😘😘😘
total 1 replies
dwie 2025
cerita seru thor....👍
dwie 2025
kayanya ceritany bakalan seru 👍 baru x ini baca novel perselingkuhan tp yg diselingkuhi tdk lemah 😄
Lies Atikah
mun enya na teh uyuhan teu era si surya geus bebeakan ngahina ngarendah keun ari pek teh anak nyaneh nyah 😄😄🤭
Lies Atikah
orang tua nya meleu lemot
Lies Atikah
dasar si Axel Oon bukan nya di omongin semuanya nanggung banget enak si aldi dah lah semoga si lena udah jauh pergi dasar iki gak guna plitat plitut
Lies Atikah
pasti hamidun selamat untuk kalian berdua
Lies Atikah
bego lemah katanya pengen pisah tapi mepet si Aldi mulu gak ada ketegasan kaya ngulur 2
Sudarti Mahmud
hamidun si Lena
Sindy Sintia
ada yg bilang nikah sesama sepupu gpp, ada yg bilang ga boleh ntar anak nya cacat, kalau adat istiadat India boleh tp ga semua benar, misal nya : ibu ku punya 2 orang Abang(kakak laki2)nah aku yg perempuan ini boleh nikah ke anak laki2 dr ABG ibu ku td yg artinya kita sepupu, tapi ga boleh nikah aku dgn anak laki2 yg dr adik ayah atau ABG ayah gtu, sama juga dgn ibu sih dgn anak dr adik cewek atau kakak cwek juga ga boleh, harus silang gtu,, buat yg paham aja yaa
Mama Reni: yuup emang begitu
total 1 replies
Sunarmi Narmi
Harusnya itu sdh kmu pertimbangkan dri awal Elen..kan Aldi nolak cerai..ambil baju pas rumah kondisi kosong..ini mah kamu bikin ribet sendiri....kayak anak " padahal dah dewasa...tak patut dicontoh cara eksekusi sebuah masalah model ini..jangan ya nak jgan ditiru..Authornya mungkin masih muda...jdi alurnya gedein ego
Sunarmi Narmi
Kalo Aldi oergi di rumah Lisa kamu pkng..berbenah surat" pntg dn aset" kamu...lalu cari kos" san yg aman..baru stlah cerai gas dgn Exel..
Sunarmi Narmi
Saran jelek Axel..lebih baik kamu cerai dulu dadi suamimu baru tunjukin kamu bahagia tanpa dia..itu baru terhormat dn elegant..klo ngikutin cara Exel mah macam anak abg...
Sunarmi Narmi
Kalo aku pilih mundur teratur..toh aku bisa cari duet sendiri...urus perceraian klo dah selesai baru main ". dosa jg butuh perhitungan..klo msih istri orang jujur aja kayak beban bikin dosa.
Maulana Sejati
prettt....sdh ketebak alur indosiar nya
Sri Peni
cerita yg bagus , logika tetap ada dlm cerita ini
Mama Reni: 😘😘😘😘😘😘
total 1 replies
Sindy Sintia
pas banget, tusuk lagi Axel, emng nya atas dasar apa kamu tanya itu anak ku atau bukan?? trus koq kamu tahu knpa baru skrg elena hamil sedangkan 2 tahun nikah ga hamil2? trus bukti elena janda apa? biar terkuak semua Aldi mntan suami elena
Anonymous
Chen si 😍😍😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!