Queenora kehilangan bayinya sebelum sempat menimangnya, dia difitnah, dan dihancurkan oleh keluarga yang seharusnya melindungi.
Namun di ruang rumah sakit, tangisan bayi yang kehilangan ibunya menjadi panggilan hidup baru.
Saat bayi itu tenang di pelukannya, Queenora tahu, cinta tak selalu lahir dari darah yang sama, tapi dari luka yang memilih untuk mencinta.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Realrf, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Konferensi pers
Kata itu melompat dari halaman, sebuah cap membara yang dicap langsung ke jiwanya.
JALANG.
Waktu seolah berhenti. Suara napas Darian yang tercekat, gemerisik kertas di tangannya yang bergetar, dengung samar pendingin ruangan semuanya lenyap, ditelan oleh satu kata yang bergema di dalam kepala Queenora.
Kata itu bukan sekadar tinta di atas kertas. Itu adalah suara ayahnya yang mabuk, tawa mengejek kakaknya, bisikan kotor para pria di gudang belakang. Itu adalah ringkasan dari seluruh penderitaan dan rasa malunya.
“Brengsek!” Geraman Darian merobek keheningan, suaranya serak dan penuh kekerasan.
Ia meremas kertas itu dengan satu gerakan brutal, mengubah pratinjau mengilap itu menjadi bola kusut yang tak berbentuk. Amarahnya begitu pekat, begitu nyata, hingga udara di sekitar mereka terasa bergetar.
Dengan kasar ia melempar bola kertas itu ke lantai seolah benda itu adalah ular berbisa.
Queenora tidak bereaksi. Tubuhnya kaku, matanya masih terpaku pada titik di mana judul itu berada, seolah kata-kata itu masih tercetak di udara. Telinganya berdenging. Ia merasakan dingin yang menusuk menjalari tulang punggungnya, lalu menyebar ke seluruh tubuhnya, membekukan darah di pembuluh nadinya.
“Queenora?” Suara Darian melembut, panik.
Laki-laki itu berlutut di depan gadis itu, mencoba menangkap tatapannya yang kosong.
“Queenora, lihat aku. Jangan dengarkan mereka. Jangan dengarkan omong kosong ini.”
Queenora berkedip pelan. Pandangannya berguling pelan beralih ke wajah Darian. Ia melihat rahang pria itu yang mengeras, mata yang berkilat karena amarah, dan kerutan khawatir di dahinya.
Tapi yang Quuenora lihat bukanlah pelindung. Yang ia lihat adalah korban lain dari kesialan yang ia bawa.
“Ini… ini semua salah saya,” bisiknya, suaranya nyaris tak terdengar, serapuh kaca retak.
“Saya… saya seharusnya pergi dari awal.”
“Apa yang kamu bicarakan?” Darian menangkup wajah Queenora, memaksa gadis itu untuk menatapnya.
“Ini bukan salahmu! Ini perbuatan Estrel. Dia bekerja sama dengan keluargamu untuk menghancurkanmu. Menghancurkan kita.”
Air mata mulai menggenang di pelupuk mata Queenora, panas dan perih, bulir bening itu mewakili sakit yang tak pernah bisa Queenora ucapkan.
“Tapi… mereka benar, Tuan. Saya… saya memang…”
Gadis itu menunduk tidak sanggup menyelesaikan kalimat itu. Kata itu terlalu kotor untuk diucapkan.
“Tidak! Jangan pernah katakan itu!” bentak Darian, suaranya meninggi, bukan karena marah pada Queenora, melainkan pada kebohongan yang telah meracuni pikiran gadis itu.
“Kamu adalah korban, Queenora. Korban! Kamu Bukan… bukan seperti yang mereka katakan itu.”
Isak tangis Queenora akhirnya pecah. Ia menepis tangan Darian dan memeluk dirinya sendiri, tubuhnya gemetar hebat.
“Saya sudah menghancurkan Anda. Saya sudah membawa nama buruk untuk Elios. Lihat apa yang terjadi. Semua orang akan membenci Anda karena saya.”
Tubuh gadis malang itu bergetar hebat.Rasa bersalah itu meluap, menenggelamkannya. Semua yang dikatakan keluarganya terasa benar sekarang. Ia adalah pembawa sial. Ia adalah aib. Kehadirannya hanya membawa kehancuran bagi orang-orang di sekitarnya. Dulu bayinya, sekarang Darian dan Elios.
“Aku tidak peduli apa kata orang!” Darian berkata dengan frustrasi, meraih bahu Queenora dengan lembut.
“Aku hanya peduli padamu dan Elios. Dengar, aku akan membereskan ini. Aku janji.” Ia bangkit, mondar-mandir di teras dengan gelisah seperti singa dalam sangkar.
Tangannya meraih ponsel di sakunya, jarinya bergerak cepat di atas layar.
“Halo, Handoko? Siapkan konferensi pers. Segera. Satu jam dari sekarang. Ya, aku tahu ini mendadak. Lakukan saja! Lakukan dengan baik!”
Darian menutup telepon, lalu menelepon orang lain.
“Tim PR? Aku mau kalian semua siap di kantor sekarang. Aku akan ke sana. Isunya… kalian akan segera tahu.”
Queenora menatapnya dengan pandangan nanar.
“Konferensi pers? Untuk apa?” Queenora menatap Darian penuh tanya.
“Untuk membersihkan namamu,” jawab Darian, tatapannya tajam dan penuh tekad. Ia kembali berlutut di depan Queenora.
“Aku akan memberitahu dunia siapa kamu sebenarnya. Seorang wanita kuat yang selamat dari neraka. Bukan seperti yang mereka tulis.”
Queenora menggeleng cepat.
“Jangan, Tuan,” isak Queenora, menggelengkan kepalanya dengan putus asa.
“Jangan lakukan itu. Itu hanya akan membuat semuanya lebih buruk. Mereka akan menggali lebih dalam. Mereka akan…”
“Biarkan saja,” potong Darian, suaranya kini lebih tenang, tetapi tegas.
“Aku tidak akan membiarkanmu bersembunyi lagi, Queenora. Sudah cukup. Kau tidak akan menghadapi ini sendirian.” Ia mengusap air mata di pipi Queenora dengan ibu jarinya.
“Aku harus pergi sekarang. Tetaplah di sini bersama Ibuku. Jangan tonton berita, jangan buka internet. Kunci dirimu di kamar kalau perlu. Mengerti?” Queenora hanya bisa mengangguk pasrah, terlalu hancur untuk berdebat. Darian menatapnya sekali lagi, sorot matanya melembut.
“Aku akan kembali,” janjinya, sebelum berbalik dan melangkah cepat masuk ke dalam rumah, suaranya yang memerintah para asisten rumah tangga terdengar menggema.
***
Queenora tidak mengunci diri di kamar. Ia duduk membeku di sofa ruang keluarga, di samping Nyonya Adreine yang menggenggam tangannya erat-erat, menyalurkan kekuatan dalam diam. Di hadapan mereka, layar televisi raksasa menyala, menampilkan puluhan wartawan yang berdesakan di sebuah ruangan, kilatan lampu kamera menyambar-nyambar tanpa henti.
“Kau yakin mau melihat ini, Nak?” tanya Adreine lembut, matanya penuh kekhawatiran.
“Saya harus melihatnya Nyonya,” jawab Queenora, suaranya serak.
Ya, dia harus melihatnya. Ia harus melihat bagaimana Darian akan memperbaikinya, atau justru memperburuknya.
Di layar, Darian melangkah ke podium. Ia tampak tenang dan berwibawa dalam setelan jas gelapnya, tetapi Queenora bisa melihat ketegangan di garis rahangnya. Ia berdiri di sana, menghadapi serigala-serigala media, sendirian.
“Selamat siang,” Darian memulai, suaranya yang dalam dan mantap langsung membungkam keributan di ruangan itu.
“Saya mengadakan konferensi pers ini untuk menanggapi artikel fitnah yang baru terbit, yang ditujukan untuk menyerang kehormatan seorang wanita pribadi dan membahayakan kesejahteraan putra saya.”
Kilatan kamera semakin menjadi-jadi. Para wartawan mulai melontarkan pertanyaan, tetapi Darian mengangkat tangannya, meminta ketenangan.
“Wanita yang mereka sebut dengan julukan keji dalam artikel itu,” lanjut Darian, matanya menatap lurus ke kamera, seolah sedang berbicara langsung pada Queenora.
“amWdalah Nona Queenora. Dia adalah ibu susu dari putra saya, Elios. Tapi dia lebih dari itu. Dia adalah orang yang menyelamatkan nyawa putra saya ketika para dokter sudah menyerah. Dia adalah pahlawan.”
Hati Queenora berdesir.
Pahlawan.
“Artikel itu menuduhnya memiliki masa lalu yang kelam, menyiratkan bahwa dia adalah wanita tidak bermoral,” kata Darian, nadanya berubah dingin.
“Saya di sini untuk meluruskannya. Masa lalu Nona Queenora memang kelam, tapi bukan karena kesalahannya. Dia adalah korban. Korban dari kekerasan dalam rumah tangga yang brutal. Korban dari kejahatan keji yang merenggut bayinya.”
Queenora terkesiap, tangannya menutup mulutnya. Darian membongkar semuanya. Di depan seluruh dunia.
“Dia datang ke kehidupan kami dalam keadaan hancur, tetapi alih-alih menyerah pada dukanya, dia memilih untuk memberikan kehidupannya kepada putra saya. Dia memberikan air susunya, cintanya, dan seluruh hatinya untuk bayi yang bahkan bukan miliknya. Jadi, jika kalian ingin menulis sebuah cerita, tulislah cerita tentang keberaniannya. Tulislah tentang ketahanannya. Jangan menulis kebohongan yang dirancang oleh orang-orang pengecut untuk menghancurkan seorang penyintas.”
Ruangan itu hening sesaat, sebelum rentetan pertanyaan meledak seperti senapan mesin.
“Tuan Darian, apakah Anda bisa mengonfirmasi identitas para pelaku kekerasan itu?”
“Apakah Anda akan menempuh jalur hukum?”
“Apakah benar Nona Queenora menyembunyikan masa lalunya dari Anda?”
Darian menjawab beberapa pertanyaan dengan singkat dan terkontrol, dilindungi oleh pengacaranya yang berdiri di sampingnya. Lalu, seorang wartawan wanita di barisan depan mengajukan pertanyaan yang membuat seluruh ruangan kembali senyap.
“Tuan Darian, publik melihat Anda dan Nona Queenora berciuman di taman. Artikel itu menyebutnya sebagai pengganti almarhum istri Anda. Bisakah Anda menjelaskan status hubungan Anda yang sebenarnya dengan ibu susu putra Anda?”
Jantung Queenora berhenti berdetak. Ini dia. Pertanyaan yang paling ia takuti. Ia menahan napas, matanya terpaku pada wajah Darian di layar, menunggu jawaban yang akan menentukan segalanya. Darian terdiam sejenak. Ekspresinya menjadi kaku. Ia melirik pengacaranya, yang memberinya anggukan kecil.
“Hari ini,” Darian berkata dengan hati-hati, suaranya kembali datar dan profesional.
“Fokus saya adalah untuk membela kehormatan Nona Queenora sebagai individu yang telah difitnah secara kejam dan sebagai sosok ibu yang luar biasa bagi putra saya. Kehidupan pribadi saya tidak relevan dengan masalah ini.”
Seorang wartawan lain mencoba menekan.
“Jadi, Anda tidak menyangkal atau mengonfirmasi adanya hubungan romantis?”
Pengacara Darian melangkah maju.
“Tuan Darian tidak akan menjawab pertanyaan lebih lanjut mengenai kehidupan pribadinya. Konferensi pers selesai.”
Darian segera berbalik dan berjalan meninggalkan podium, di tengah serbuan pertanyaan yang diabaikannya. Di ruang keluarga, Queenora merasakan sesuatu di dalam dirinya patah.
Tidak relevan
Kata-kata itu bergema lebih keras daripada kata.
JALANG
Darian telah membelanya. Ya, ia membelanya sebagai korban. Ia memujinya sebagai pahlawan bagi Elios. Ia melindunginya sebagai seorang penyintas.
Tapi saat ditanya tentang status mereka, tentang hubungan mereka, Darian menghindar. Ia membangun dinding di antara mereka. Ia memisahkannya dari kehidupan pribadinya. Dia bisa mengakuinya sebagai ibu susu.
Dia bisa mengakuinya sebagai pahlawan. Tapi dia tidak bisa mengakuinya sebagai miliknya. Sebuah isak kecil lolos dari bibirnya, isak yang dipenuhi rasa sakit yang baru dan lebih tajam. Adreine memeluknya lebih erat.
“Dia hanya mencoba melindungimu, Nak. Dari sorotan media yang kejam.”
Queenora menggeleng lemah, air mata mengalir tanpa suara di pipinya. Ia tahu logika di baliknya. Ia mengerti strateginya. Tapi hatinya tidak mengerti. Hatinya hanya merasakan satu hal. Dia malu. Di depan seluruh dunia, Darian malu untuk mengakuinya.
Di layar televisi, wajah Darian yang menjauh dari kamera tampak dingin dan tak terjangkau. Sama seperti saat pertama kali mereka bertemu.
Tiba-tiba, Queenora merasa lebih sendirian daripada sebelumnya. Ia telah diselamatkan di depan umum, hanya untuk ditinggalkan dalam keheningan yang memilukan di dalam hatinya. Ia menatap kosong ke layar yang kini menampilkan para analis berita yang mulai membedah setiap kata Darian, dan sebuah kesadaran yang mengerikan merayap masuk.
Mungkin ia memang tidak akan pernah pantas. Mungkin ia memang hanya seorang ibu susu. Seorang korban yang menyedihkan. Seorang pahlawan sementara. Tapi bukan seorang wanita yang bisa dicintai tanpa rasa malu.
“Queenora?” Suara Adreine terdengar cemas, menyadari perubahan di wajah gadis itu.
“Apa yang kamu pikirkan, Nak?”
Queenora tidak menjawab. Pikirannya berpacu, sebuah keputusan yang menyakitkan mulai terbentuk di benaknya, sebuah pelarian yang terasa seperti satu-satunya jalan keluar yang terhormat. Jika kehadirannya adalah sebuah aib yang harus disembunyikan Darian, maka ia tahu apa yang harus ia lakukan. Ia harus…