Sequel Menaklukkan Bos Killer
Jhon Louis , pria berdarah Australia yang lahir di Singapura dan memegang perusahaan di Jakarta, terlibat skandal dengan sekretarisnya. Tiga tahun mereka tinggal bersama layaknya suami istri.
Namun karena keadaan, mereka pun berpisah. Hingga satu waktu Jhon kembali mencari sang kekasih. Tapi sayang, sang kekasih sudah sangat berubah. Dia menjadi wanita yang tak pernah Jhon bayangkan sama sekali.
Hingga akhirnya, Jhon pun mulai mengikuti perubahan itu, demi memantaskan diri.
Mampu kah Jhon merebut kembali kepercayaan Tina dan mengambil hati kedua orang tuanya yang ternyata pemilik pesantren terbesar di kampung itu?
Mampukah ia memantaskan diri dan bersaing dengan santri kesayangan yang sang ayah jodohkan untuk putrinya?
Cekidot
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elis Kurniasih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bertanggungjawab dengan sepenuh hati
Sayang, kira – kira syarat apa yang diajukan Abi?”
Jhon memberikan pesan pada Tina usai melaksanakan sholat subuh dan kembali ke kamar.
Tina yang juga sedang berada di kamar dan memegang ponselnya itu pun langsung membaca pesan Jhon. Sebelum pesan itu sampai lebih dulu di ponsel Tina. Ia juga sedang merangkai kata untuk mengirimkan pesan pada kekasih berdarah Australia itu.
“Aku juga tidak tahu.”
Dret … Dret … Dret …
Jhon langsung menelepon Tina, ketika melihat pesannya di balas.
“Halo.”
“Sayang.”
Keduanya tediam usai saling menyapa dengan singkat. Padahal ini adalah komunikasi pertama yang mereka lakukan melalui telepon sejak terakhir Tina memilih pergi. Biasanya, mereka hanya berkabar lewat pesan, karena Tina hampir tidak pernah mau mengangkat telepon dari Jhon. Namun, ia masih mau menjawab pesannya.
“Ah.”
Tiba – tiba suara lenguhan terdengar dari balik ponsel Jhon.
“Sayang, jangan mend*sah seperti itu. Aku jadi rindu,” ucap Jhon yang tiba – tiba aliran darahnya mengalir hanya mendengar suara lenguhan itu.
“Siapa yang mend*sah? Tanganku tertusuk jarum pentul.”
“Apa? Jarum? Lalu bagaimana, apa sakit? Apa darahnya banyak?”
“Jhon … Please, jangan terlalu lebay!” ketus Tina.
“Aku tidak berlebihan, Sayang. tapi aku khawatir.”
Tina tidak menjawab. Jika melihat wajahnya, saat ini Tina sedang cemberut dengan bibir dan wajah yang di tekuk.
“Boleh aku video call?” tanya Jhon.
“Untuk apa?” Tina balik bertanya.
“Unuk melihat wajahmu. Pasti saat ini kamu sedang cemberut dengan wajah dan bibir yang ditekuk. Aku rindu ekspresi itu, Sayang. Ekspresi itu menggairahkan.”
“Jhooon, please! Kalau kamu masih berkata mesum, aku tutup teleponnya.” Tina semakin kesal. Bukan tanpa sebab, ia pun tidak ingin goyah.
Tina akui, Jhon bukan player dan playboy, tapi pria bule itu cukup mahir menggoda wanita. menggoda dengan caranya yang seolah sedang tidak menggoda. Menggoda dengan caranya yang terlihat cool dan lucu. Dan sayangnya, Tina menyukai itu. Jika diteruskan, mungkin ia akan goyah dan tergoda lagi, ditambah sentuhan yang pernah ia rasakan.
“Jangan … jangan! Iya, iya. Aku minta maaf.”
“Astafghfirullah.” Jhon mendengar Tina yang mengucap istighfar.
“Maaf, Sayang. Aku benar – benar tidak bisa mengendalikan diri jika bersamamu.”
“Kalau begitu jangn mendekatiku, hingga Abi merestui.”
“Tidak, tidak. Sayang, aku tidak bisa.” Jhon menggeleng.
“Harus bisa, aku pun belajar untuk bisa, Jhon.”
Jhon terdiam. Ia memejamkan matanya sejenak, mencoba mengikuti apa yang kekasihnya inginkan.
Jhon pun menarik nafasnya kasar. “Baiklah. Setelah ini, aku akan berusaha untuk menjaga jarak padamu.”
Kepala Tina mengangguk dengan tangan yang tetap memegang ponsel yang ia tempelkan di telinga kanannya. “Ya.”
“Tapi boleh aku minta sesuatu darimu. Satu saja,” kata Jhon sebelum mengakhiri percakapan melalui telepon itu.
“Apa?”
“Panggil aku, Mas.”
Tina pun terdiam dan cukup lama, hingga Jhon kembali bersuara.
“Sayang.”
“Iya, Mas.”
Hati Jhon langsung berbunga. Entah mengapa suara Tina yang memanggilnya dengan sebutan Mas terdengar lebih merdu. Ah, ingin rasanya ia menarik sang kekasih ke dalam pelukan dan mengungkungnya di atas ranjang. Demi Tuhan, jika misinya berhasil dan menikahi sang wanita pujaan, maka Tina tak akan ia biarkan turun dari ranjang, ia akan menggempurnya habis – habisan.
Jhon pun nyengir sendiri, membayangkan hal itu akan terjadi.
“Mas,” panggil Tina karena lawannya tak lagi terdengar bicara.
“Mas.”
“Iya, Sayang.”
“Ck. Kamu pasti lagi ngelamunin yang jorok,” kata Tina kesal.
“Iya, aku lagi melamun saat malam pertama kita nanti.”
“Dasar, bule gila.”
Tut … Tut … Tut …
Tina pun mematikan sambungan telepon itu sepihak. Baru saja disuruh untuk menjaga jarak, menahan pandangan, dan tidak bertemu dalam beberapa waktu hingga waktu itu tiba, nyatanya prai bule itu masih saja membayangkan hal – hal aneh dirinya.
Tina menatap layar ponsel itu dan menggelengkan kepala. Ia juga heran mengapa bisa terjebak dalam cinta pria bule itu.
“Ji, panggil Jhon ke sini,” ucap Utsman semabri menarik kursi di ruang makan.
Pagi ini, Hasna, Munah, dan Tina sudah menyiapkan sarapan dan tersaji lengkap di meja makan itu. Pagi ini Arafah dan Alif sudah tidak ada, mereka sudah berada di kotanya. Tinggalah Hasna, Utsman, dan Tina, juga dua orang pekerja yang ada di rumah. Namun, Aji dan Munah tidak makan satu meja di sini. mereka memilih makan berdua di pekarangan belakang.
Tak lama kemudian, Jhon pun datang.
“Assalamualaikum. Pagi Abi, Pagi Ummi.” Jhon menyapa Utsman dan Hasna.
Kedua orang tuan Tina pun menoleh dan mengucapkan salam itu. “Waalaikumsalam.”
Tina yang baru saja menaruh air putih hangat di depan Utsman pun sedikit menoleh ke arah Jhon.
“Ayo, Nak Jhon. Kita sarapan bersama. Tapi makannya seadanya yo.”
Jhon mengangguk tersenyum menanggapi ucapan Hasna. “Iya, Ummi. Terima kasih.”
Hasna sangat menyukai kesantunan Jhon. Ternyata walau memiliki budaya berbeda, nyatanya Jhon juga bisa menghargai budaya. Itu yang Hasna sukai.
Jhon menarik kursinya tepat di samping Utsman. Sementara, Tina terlihat sedang menuangkan air putih dan hendak diberikan padanya, karena hanya jhon yang belum disiapkan minum.
“Terima kasih,” ucap Jhon tersenyum pada Tina setelah wanita itu meletakkan gelas untunya.
“Sama – sama.” Tina membalas senyum itu.
“Bi, botoknya mau?” Hasna menoleh ke arah sang suami.
“Tentu saja. itu makanan kesukan Abi.”
Hasna tersenyum dan mengambil nasi serta lauk kesukaan suaminya. sedangkan, Jhon hanya melihat interaksi kedua orang tua Tina yang begitu harmonis. Ia pun membayangkan dirinya dan Tina akan seperti itu.
“Mas, mau apa?”
Lamunan Jhon buyar, saat Tina pun melakukan hal yang sama untuknya.
“Apa?” tanya Jhon sengaja ingin Tina mengulang pertanyaanya.
“Mas, mau yang mana?” Tina melihat ke arah makanan yang tersaji.
Jhon pun tersenyum pada Tina. “Apa saja, Sayang.”
“Uhuk … Uhuk … Uhuk …” Utsman yang baru saja menyesap air putih pun tersedak.
“Abi, minumnya pelan – pelan,” ucap Hasna pada suaminya.
Utsman masih batuk, hingga Hasna mendekat dan mengelus punggng belakang suaminya. “Bi, pelan – pelan!”
“Sudah, sudah, Mi. Abi sudah tidak apa – apa,” ucap Utsman dengan memindahkan tangan istrinya dari punggungnya.
Lalu, Hasna duduk kembali ke kursinya. Dan, Utsman menatap ke arah Jhon dan Tina.
“Tadinya, Abi hanya ingin mengajukan satu syarat padamu, Jhon. Tapi melihat interaksi kalian yang tak lazim, maka Abi akan memberi dua syarat.”
Kepala Jhon yang semula menunduk langsung terangkat dan melihat ke arah Utsman dengan tatapan memohon.
“Pertama, jaga jarak kalian! Jika dulu kalian pernah berpacaran atau melakukan sesuatu yang hanya kalian dan Allah yang tahu. Mulai sekarang, hentikan.”
Sontak, Tina terkejut dan menatap ke arah sang ayah. Benaknya bertanya, apa sang ayah sudah mengetahui kelakuannya? Sungguh, Tina khawatir, tapi sepertinya tidak. Sepertinya, Utsman hanya menebak dan tidak berpikir sejauh itu.
“Apa kamu bisa mematuhi syarat ini?" Utsman menatap ke arah Jhon.
Jhon mengangguk. “Bisa, Abi.”
“Baik. Setelah sarapan, kita akan bicarakan syarat yang kedua di ruang tamu.”
Kemudian, Utsman menatap ke arah putrinya. “Kamu juga harus bisa menahan dirimu, Nduk. Pria akan menghormati wanita, jika wanita itu mau dihormati.”
Jleb
Kata – kata sang ayah seolah menusuk relung hati Tina yang paling dalam.
Beruntung Jhon adalah pria bertanggung jawab, yang tetap mengejar Tina dan ingin menjadikannya istri, walau madu itu telah ia rasakan lebih dulu. Karena di luaran sana, banyak laki - laki yang tpergi begitu saja, setelah mendapatkan kehormatan itu. Dan ironisnya, para wanita itu mau memberikan kehormatannya tanpa sebuah ikatan suci untuk menjaminnya nanti.
Beruntung, Jhon memang dengan sepenuh hati menyesap madu itu atas nama cinta. Cinta yang benar – benar tulus karena ketulusan cinta yang ia rasakan dari Tina. Sementara, diluaran sana, banyak para lelaki yang menyesap madu itu hanya dengan mengatasnamakan cinta semu dan janji palsu.
Tina menunduk. Ia baru menyadari bahwa wanita begitu dijaga dan dihormati, hingga tertera dalam Al – Quran yang ada di surat An – Nisa. Dinamakan An – Nisa karena dalam surah ini banyak dibicarakan hal – hal yang berhubungan dengan wanita.
Jika sudah sedemikan rupa wanita dihormati, lalu mengapa wanita itu sendiri tidak menghormati dirinya?
Jhon menatap ke arah Tina yang terlihat menyesal. Sungguh, ia pun sangat menyesal dan akan sepenuh hati untuk mempertanggungjawabkan semua yang telah ia lakukan.
dasar cwo suka janji2 tapi gk bisa setia.
Alhamdulillah Jhon dan Tina jadinya nikah.
aku mendoakan Rendy dan Al bakal dapet balesan setimpal dg niat GK baiknya aamiin
mgkn krn John lebih badboy 😊