Satu surat pemecatan. Satu undangan pernikahan mantan. Dan satu warung makan yang hampir mati.
Hidup Maya di Jakarta hancur dalam semalam. Jabatan manajer yang ia kejar mati-matian hilang begitu saja, tepat saat ia memergoki tunangannya berselingkuh dengan teman lama sekaligus rekan sekantornya. Tidak ada pilihan lain selain pulang ke kampung halaman—sebuah langkah yang dianggap "kekalahan total" oleh orang-orang di kampungnya.
Di kampung, ia tidak disambut pelukan hangat, melainkan tumpukan utang dan warung makan ibunya yang sepi pelanggan. Maya diremehkan, dianggap sebagai "produk gagal" yang hanya bisa menghabiskan nasi.
Namun, Maya tidak pulang untuk menyerah.
Berbekal pisau dapur dan insting bisnisnya, Maya memutuskan untuk mengubah warung kumuh itu menjadi katering kelas atas.
Hingga suatu hari, sebuah pesanan besar datang. Pesanan katering untuk acara pernikahan paling megah di kota itu. Pernikahan mantan tunangannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Savana Liora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34: Bukti Digital Sang Predator
"Turunkan semua daging itu sekarang atau saya sendiri yang akan memastikan tangan halusmu itu diborgol, Neng Maya!"
Suara Burhan menggelegar di pelataran gudang jagal yang lembap itu. Dia berdiri berkacak pinggang, sementara pengacaranya yang bernama Hermawan terus-menerus mengibas-ngibaskan map cokelat di depan wajah Maya.
Bau amis daging di sekeliling mereka seolah kalah menyengat dibanding busuknya seringai di wajah Burhan.
Maya terdiam, jemarinya yang memegang dokumen kontrak sedikit gemetar. Dia menatap tumpukan karkas sapi yang sudah separuh termuat di truk pendingin milik Arlan. Kalau dia dipaksa menurunkan daging itu sekarang, restorannya tamat sebelum dibuka.
"Pak Hermawan, Bapak yakin mau menuduh saya memalsukan tanda tangan?" suara Maya sedikit bergetar, meski ia berusaha keras menstabilkan napasnya.
"Lho, bukan saya yang menuduh, tapi faktanya begitu! Supplier sudah bicara. Kamu jangan main-main ya, hukum itu tajam!" Hermawan menyahut dengan nada meremehkan, membetulkan letak kacamatanya yang melorot.
"Gimana, Maya? Masih mau sok jagoan?" Haji Burhan tertawa mengejek. "Turunin dagingnya! Garong, kalau kamu nggak mau ikut masuk sel, suruh anak buahmu bongkar lagi muatannya!"
Si Garong yang sedang berdiri di atas bak truk mendengus kasar. Dia menatap Maya, menunggu aba-aba. Tangannya sudah mengepal kuat, siap menghajar siapa pun yang berani mendekat ke truknya.
"Tahan dulu, Pak. Kok buru-buru sekali?"
Arlan melangkah maju dengan santai. Dia baru saja menutup pintu mobil mewahnya dan berjalan perlahan menuju pusat keributan. Wajahnya sangat tenang, tipe ketenangan yang biasanya menandakan badai besar akan segera datang.
"Arlan, jangan ikut campur! Ini urusan hukum! Wanitamu ini sudah melakukan pemalsuan!" bentak Burhan.
"Hukum ya? Menarik," Arlan berhenti tepat di samping Maya, memberikan rasa aman yang seketika membuat debar jantung Maya sedikit melambat. "Pak Hermawan, sebagai pengacara, Anda pasti tahu kalau di zaman sekarang, selembar kertas pernyataan tertulis itu nilainya kecil kalau dibanding bukti digital yang tidak bisa dimanipulasi."
Arlan mengangkat pergelangan tangan kirinya, memamerkan sebuah jam tangan pintar (smartwatch) yang layarnya tampak menyala redup. "Budi, tolong kemari sebentar."
Budi, remaja yang kemarin ikut Maya bertemu supplier, maju dengan wajah tegang. Dia masih mengenakan kemeja seragam katering yang kancingnya tampak agak aneh—sedikit lebih besar dan menonjol.
"Kemarin, saat Maya menemui supplier itu, saya minta Budi memakai kamera kancing ini sebagai bentuk proteksi bisnis. Karena saya sudah menduga, ada anjing tua yang hobi main kotor di pasar ini," Arlan melirik tajam ke arah Burhan.
Arlan menekan tombol di jam tangannya. Seketika, sebuah proyektor mini dari perangkat canggih itu memancarkan gambar ke dinding putih gudang jagal yang agak kusam.
Semua orang di sana melongo. Di video berkualitas tinggi itu, terlihat jelas wajah supplier daging sedang tertawa sambil menandatangani kontrak di atas meja kayu warung Maya. Terlihat juga tangannya menerima amplop uang muka dengan suka cita. Tidak ada paksaan. Tidak ada pemalsuan.
Wajah Hermawan mendadak pucat. Burhan mulai berkeringat dingin, kumisnya bergetar hebat.
"Tapi itu... itu bisa saja diedit!" Hermawan mencoba berkilah dengan suara yang mulai mencicit.
"Oh, masih belum cukup?" Arlan tersenyum dingin. Dia menyentuh layar jam tangannya lagi. "Kalau begitu, mari dengar ini. Rekaman audio dari ponsel supplier yang sudah saya 'titipkan' alat perekam kecil melalui Budi juga."
Suara Burhan terdengar jelas melalui loudspeaker: "Kamu denger ya, kalau kamu nggak ngaku tanda tangan itu palsu, lapakmu di pasar induk besok pagi jadi abu! Istri sama anakmu mau selamat nggak? Bilang aja si koki ingusan itu yang malsuin!"
Suasana gudang mendadak hening mencekam. Suara Haji Burhan yang penuh ancaman itu bergema di antara karkas-karkas sapi yang digantung.
"Pak... Pak Burhan? Itu suara Bapak?" Maya menatap Burhan dengan pandangan tak percaya.
Tiba-tiba, pintu kantor kecil di pojok gudang jagal terbuka. Supplier daging itu keluar dengan langkah gontai, wajahnya sembab karena menangis. Dia langsung berlari ke arah Maya dan berlutut di tanah yang kotor.
"Mbak Maya! Ampun, Mbak! Saya terpaksa! Pak Burhan ancam mau bakar lapak saya kalau saya nggak nurutin maunya! Saya takut, Mbak!" ratap pria itu sambil memegang ujung celana Maya.
Maya menarik napas dalam, rasa muak membanjiri dadanya. Dia menoleh ke arah Arlan yang kini sedang melirik ke arah pintu gerbang gudang.
Suara sirine polisi yang sejak tadi samar-samar terdengar kini memekik keras di depan gerbang. Dua mobil patroli merangsek masuk, memblokir jalan keluar mobil sedan perak milik Burhan. Beberapa petugas turun dengan langkah cepat, dipimpin oleh seorang perwira yang sudah sangat akrab dengan Arlan.
"Selamat siang, Pak Arlan. Kami sudah menerima kiriman datanya secara real-time tadi," ujar perwira itu.
Arlan mengangguk. "Silakan, Pak. Orang-orang ini sepertinya sangat merindukan udara dingin di balik jeruji besi."
"Apa-apaan ini?! Saya punya koneksi! Saya ini pemain lama di sini!" Burhan mencoba memberontak saat dua polisi memegangi lengannya.
Hermawan, sang pengacara, mencoba menyelinap pergi ke arah mobil, tapi si Garong sudah lebih dulu melompat turun dari bak truk dan mencegatnya.
"Mau ke mana, Pak Pengacara Pinter? Tasnya ketinggalan nih!" Garong menarik kerah baju Hermawan dengan satu tangan, sementara tangan satunya merapikan kerah seragam kateringnya sendiri yang baru dan necis.
Garong tertawa mengejek tepat di depan wajah Hermawan. "Gimana rasanya ditangkap polisi? Ternyata preman kayak saya jauh lebih jujur daripada orang sekolahan kayak kamu ya? Malu nggak?"
Maya melangkah mendekati Burhan yang sedang dipasangkan borgol. Dia menatap pria tua itu dengan tenang, tanpa amarah yang meledak-ledak.
"Garong, ambilkan kertas nota kita," perintah Maya.
Garong dengan sigap memberikan selembar kertas nota tanda terima Dapur Rempah Maya. Maya menuliskan sesuatu di sana, lalu menyelipkannya di saku baju hijau zamrud milik Burhan.
"Itu nota tanda terima dagingnya, Pak Haji. Saya ambil semua barangnya sesuai kontrak yang sah," bisik Maya dengan nada pedas. "Daging Bapak ini memang bagus, tidak busuk. Tapi sayang, hati Bapak yang bau. Bau busuk keserakahan."
Burhan meludah ke samping, wajahnya mengeras. Saat dia mulai diseret menuju mobil polisi, dia tiba-tiba berhenti dan menoleh ke arah Maya dengan mata merah penuh dendam.
"Kamu pikir ini selesai, Maya?! Hah?! Kamu pikir CEO ingusan ini bisa jagain kamu selamanya?!" teriak Burhan sambil meronta. "Siska akan bebas bersyarat di Jakarta! Pengacaranya pasti akan memenangkan banding! Dia punya koneksi yang jauh lebih besar dari yang bisa kamu bayangkan! Dia bakal balik ke sini buat hancurin kamu sampai ke akar-akarnya!"
Maya membeku di tempat. Nama Siska seperti petir yang menyambar di siang bolong. Napasnya mendadak terasa sesak. Akan bebas? Apakah mungkin dia bisa bebas secepat itu?
Arlan yang melihat perubahan wajah Maya langsung melangkah mendekat. Dia berdiri di depan Maya, menghalangi pandangan gadis itu dari sosok Burhan yang terus berteriak-teriak gila.
"Abaikan dia, Maya. Itu cuma gonggongan anjing yang terjepit. Akan bebas belum tentu pasti bebas," ujar Arlan pelan.
Arlan berbalik ke arah si Garong dan anak buahnya. "Garong! Selesaikan muatannya sekarang! Kita harus sampai di resto sebelum matahari terlalu tinggi. Daging ini harus segera masuk ruang pendingin!"
"Siap, Pak Arlan! Ayo semuanya, gerak cepat! Jangan biarkan daging Mbak Bos layu gara-gara denger teriakan orang stres!" seru Garong memberikan komando.
Arlan menuntun Maya menuju mobilnya. Dia membukakan pintu untuk Maya dengan sangat lembut. Sebelum menutup pintu, Arlan menatap mata Maya yang masih tampak cemas.
"Siska memang punya koneksi, Maya. Tapi dia lupa satu hal," Arlan berhenti sejenak, senyum dinginnya kembali muncul. "Dia sudah bukan lagi lawan di level yang sama denganmu. Kamu sekarang punya saya."
Arlan menutup pintu mobil dengan bunyi dentum yang solid, seolah menegaskan bahwa pelindung Maya tidak akan pernah goyah. Dia berjalan memutari mobil, lalu melaju pergi meninggalkan gudang jagal yang kini menjadi saksi bisu runtuhnya martabat Burhan.
Maya menyandarkan punggungnya di kursi kulit yang empuk. Dia menatap tangannya yang masih memegang salinan kontrak. Meski hatinya masih berdesir karena ancaman soal Siska, dia tahu satu hal pasti: hari ini, dia baru saja memenangkan satu pertempuran besar.
"Lan," panggil Maya lirih saat mobil mereka sudah di jalan raya.
"Ya?"
"Makasih ya. Untuk semuanya. Termasuk kamera kancing Budi yang... agak absurd itu."
Arlan terkekeh pelan tanpa melepaskan pandangannya dari jalan. "Sama-sama. Dalam bisnis, kancing baju bisa lebih mematikan daripada senjata api, Maya. Ingat itu."
vote untuk mu👍