NovelToon NovelToon
Ingfah & Nara Si Indigo

Ingfah & Nara Si Indigo

Status: tamat
Genre:Mata Batin / Misteri / Anak Yatim Piatu / CEO / Pusaka Ajaib / Tamat
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Princss Halu

SINOPSIS
​Nara dan Ingfah bukan sekadar putri pewaris takhta Cankimha Corp, salah satu konglomerat terbesar di Asia. Di balik kehidupan mewah dan rutinitas korporasi mereka yang sempurna, tersimpan masa lalu berdarah yang dimulai di puncak Gunung Meru.
​Tujuh belas tahun lalu, mereka adalah balita yang melarikan diri dari pembantaian seorang gubernur haus kuasa, Luang Wicint. Dengan perlindungan alam dan kekuatan mustika kuno keluarga Khon Khaw, mereka bertahan hidup di hutan belantara hingga diadopsi oleh Arun Cankimha, sang raja bisnis yang memiliki rahasianya sendiri.
​Kini, Nara telah tumbuh menjadi wanita tangguh dengan wibawa mematikan. Di siang hari, ia adalah eksekutif jenius yang membungkam dewan direksi korup dengan kecerdasannya. Di malam hari, ia adalah ksatria tak terkalahkan yang bersenjatakan Busur Sakti Prema-Vana dan teknologi gravitasi mutakhir.


Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Princss Halu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Strategi Penyamaran Baru

Perpustakaan sekolah yang sunyi dan sejuk menjadi tempat pelarian yang sempurna bagi mereka. Aroma buku-buku tua dan rak kayu yang tinggi mengingatkan mereka sedikit pada ketenangan di Kuil Emas, meski suasana di sini jauh lebih modern.

Janji dan Perlindungan

Ingfah menarik napas panjang, mencoba menenangkan detak jantungnya yang masih tidak beraturan. Ia masih menggenggam erat lengan jaket Nara, seolah takut kakaknya akan kembali meledak jika ia lepaskan.

"Pi Nara, jangan seperti itu lagi. Kita sudah janji pada Daddy dan Kakek Biksu untuk sabar dan tidak menarik perhatian," bisik Ingfah dengan nada khawatir.

"Fah tidak apa-apa, Pi. Fah bisa menahannya."

Nara meletakkan botol air satunya yang masih utuh di atas meja kayu dengan perlahan. Matanya yang tajam menatap Ingfah, namun kali ini dengan tatapan yang penuh kasih sayang dan penyesalan.

"Pi minta maaf jika membuatmu takut, Nong. Tapi Pi tidak bisa menahannya lagi saat mereka meremehkan kita, apalagi mengataimu anak pungut," kata Nara dengan suara rendah namun tegas.

"Itu hanya peringatan kecil. Pi ingin mereka tahu bahwa keluarga Cankimha bukan orang yang bisa mereka injak-injak. Jika Pi diam saja, mereka akan semakin melunjak padamu."

Ingfah menghela napas, ia tahu bahwa sifat pelindung kakaknya adalah bagian dari jati diri Nara yang tidak bisa diubah. Ia melepaskan pegangan tangannya dan tersenyum tipis.

"Terima kasih, Pi. Tapi lain kali, jangan sampai meledak begitu ya? Fah takut kepala sekolah memanggil Daddy."

Nara hanya mengangguk kecil, meski di dalam hati ia tetap akan melakukan hal yang sama jika Ingfah disakiti lagi. Ia kemudian berdiri dan mengambil sebuah buku tebal tentang literatur dunia dari rak terdekat.

"Sudah, lupakan si Cindy itu. Mari kita belajar. Kita harus membuktikan pada Daddy bahwa kita tidak hanya kuat secara fisik, tapi juga otak," ajak Nara.

Dua Gadis di Tengah Keheningan

Selama sisa jam istirahat, mereka duduk berdampingan di sudut perpustakaan yang paling tersembunyi.

Nara membaca dengan sangat cepat, menyerap informasi tentang dunia modern dengan rasa lapar akan ilmu.

Ingfah sesekali berlatih menulis aksara baru sambil membolak-balik kamus bahasa Inggris, mencoba mengingat kata-kata yang diajarkan Arun semalam.

Beberapa murid lain yang lewat hanya berani melirik dari kejauhan. Kabar tentang "insiden kantin" rupanya sudah menyebar lewat grup pesan singkat sekolah. Nara menyadarinya, namun ia tetap tenang, seolah tidak terjadi apa-apa.

Saat lonceng jam pelajaran kedua berbunyi, Nara merapikan buku-bukunya. "Ayo, Nong. Pelajaran berikutnya akan dimulai. Jangan jauh-jauh dari Pi."

Lonceng berbunyi, menandakan dimulainya pelajaran matematika. Bagi sebagian besar murid di kelas 10-A, ini adalah pelajaran yang paling menakutkan, tetapi bagi Nara, ini hanyalah sekadar permainan angka yang sederhana.

Guru matematika, Mr. Smith, masuk dengan wajah serius dan langsung menuliskan beberapa persamaan kalkulus yang cukup rumit di papan tulis. Suasana kelas mendadak berat; beberapa murid mulai mengeluh pelan, termasuk kelompok Cindy yang tampak pusing hanya dengan melihat angka-angka itu.

Nara menatap papan tulis dengan ekspresi datar. Di Kuil Emas, ia harus mempelajari astronomi kuno, menghitung posisi bintang untuk menentukan waktu meditasi, dan memahami geometri suci dalam arsitektur kuil yang melibatkan perhitungan fraktal yang sangat rumit tanpa alat bantu apa pun. Pelajaran dari para Biksu jauh lebih menyiksa logika daripada sekadar mencari variabel x dan y.

"Ada yang bisa menyelesaikan persamaan ini?" tanya Mr. Smith sambil mengedarkan pandangan.

Keheningan melanda kelas. Cindy pura-pura sibuk memperbaiki riasan wajahnya agar tidak ditunjuk.

"Nara Cankimha, silakan ke depan," tunjuk Mr.

Smith, penasaran dengan kemampuan murid baru yang kabarnya "bermasalah" di kantin tadi.

Nara berdiri dengan tenang, melangkah ke depan dengan ritme yang teratur. Tanpa ragu, ia mengambil kapur dan mulai menuliskan langkah-langkah penyelesaian dengan sangat cepat.

Tangannya bergerak stabil, seolah angka-angka itu sudah menari di kepalanya sebelum dituliskan.

Hanya dalam waktu kurang dari dua menit, Nara meletakkan kapur itu kembali.

"Selesai," ucapnya singkat.

Mr. Smith memeriksa jawaban itu dengan teliti, matanya membelalak. "Jawaban ini benar... bahkan langkah yang kamu gunakan jauh lebih efisien daripada yang ada di buku teks. Dari mana kamu mempelajari metode ini?"

"Logika dasar," jawab Nara datar sebelum kembali ke tempat duduknya.

Ingfah menoleh ke arah kakaknya dan berbisik, "Pi, kenapa cepat sekali? Aku baru saja mau menulis soalnya."

Nara tersenyum tipis, hanya untuk Ingfah. "Anggap saja ini seperti menghitung kecepatan anak panah saat tertiup angin kencang, Nong. Fokus saja pada intinya."

Sepanjang sisa jam pelajaran, Nara menghabiskan waktunya dengan membantu Ingfah secara diam-diam. Sementara itu, Cindy dan gengnya hanya bisa melongo. Mereka tidak hanya kalah secara fisik di kantin, tetapi sekarang mereka terlihat sangat bodoh di depan Nara.

Saat lonceng terakhir berbunyi, mobil perak Daddy Arun sudah terlihat menunggu di depan gerbang. Namun, sebelum mereka mencapai mobil, Andrew (Kepala Sekolah) berdiri di koridor utama, menatap Nara dengan tatapan yang sulit diartikan.

"Nara, Ingfah... bisa bicara sebentar?" panggil Andrew.

Nara menegang. Ia tahu ini pasti soal botol air yang meledak di kantin.

Nara dan Ingfah mengikuti Andrew masuk ke sudut koridor yang lebih sepi. Andrew melipat tangan di dada, menatap Nara dengan binar kagum di matanya yang tak bisa ia sembunyikan sepenuhnya.

"Nara," Andrew memulai pembicaraan dengan nada rendah.

"Tindakanmu di kantin tadi... terus terang, aku terkesan. Kau memberikan peringatan keras kepada Cindy tanpa membuat satu goresan pun di kulitnya. Tekanan tanganmu itu benar-benar di luar nalar manusia biasa."

Nara hanya diam, namun ia sedikit menurunkan kewaspadaannya.

"Tapi," lanjut Andrew, wajahnya berubah sangat serius. "Kau harus menahan diri. Aku ingin kalian bersikap normal. Di dunia ini, jika kau terlihat terlalu kuat, kau akan menarik perhatian orang-orang yang salah."

Andrew mendekat, suaranya kini hampir berupa bisikan. "Jangan terlihat kuat. Terlihatlah rentan, tapi tetap mematikan di saat yang tepat. Waspadalah. Jika kejadian 'ajaib' atau unjuk kekuatan fisik seperti tadi terjadi lagi, identitas kalian bisa terbongkar. Dan jika itu terjadi, kalian dalam bahaya besar. Pemburu mustika punya telinga di mana-mana."

Andrew kemudian menatap Ingfah. "Dan kau, Ingfah. Kecantikanmu sudah cukup menarik perhatian. Tetaplah berada di dekat kakakmu dan jangan tunjukkan aura apa pun. Biarkan orang-orang mengira kalian hanya anak orang kaya biasa yang sombong."

Nara mengangguk pelan, memahami maksud Andrew. Ia harus belajar seni "menghilang di depan mata" tanpa harus bersembunyi.

"Terima kasih, Paman Andrew. Saya akan lebih berhati-hati," ucap Nara formal.

***

Mereka akhirnya keluar menuju mobil. Di dalam mobil, suasana terasa sunyi. Nara memandangi tangannya yang tadi meremukkan botol. Ia menyadari bahwa di kota ini, kekuatannya bisa menjadi pelindung sekaligus bumerang.

Sesampainya di rumah, Daddy Arun sudah menunggu di ruang kerja. Ia sepertinya sudah mendapat laporan singkat dari Andrew lewat ponsel.

"Bagaimana hari pertama kalian, Putri-putriku?" tanya Arun sambil menyesap kopinya. Ia menatap Nara dengan tatapan yang seolah berkata, 'Aku tahu apa yang kau lakukan di kantin'.

Arun menyesap tehnya perlahan, matanya menatap Nara dengan penuh pengertian. Ia tahu, meskipun Nara telah dididik dengan tenang di kuil, nalurinya tetaplah seorang pelindung yang tak akan membiarkan adiknya dihina.

"Duduklah, kalian berdua," ujar Arun tenang. "Daddy sudah mendengar kejadian di kantin. Andrew sudah bercerita semuanya."

Nara menunduk sedikit, bersiap menerima teguran. Namun, Arun justru tersenyum tipis.

"Nara, Daddy tidak marah. Aku tahu itu adalah caramu melindungi Ingfah. Tapi, kekuatan yang tidak memiliki 'alasan logis' akan dianggap sebagai sihir atau keanehan. Di dunia modern, kita harus punya penjelasan untuk segala hal."

Arun meletakkan cangkirnya. "Besok, aku akan menyebarkan kabar di sekolah bahwa kamu adalah pemegang sabuk hitam Taekwondo dan telah berlatih Muay Thai sejak kecil. Jadi, jika orang bertanya kenapa tanganmu bisa meremukkan botol, mereka akan mengira itu hasil latihan fisik profesional, bukan kekuatan mistis."

Nara mendongak, sedikit lega namun juga menyadari konsekuensinya.

"Tapi ada satu syarat," lanjut Arun tegas. "Kamu benar-benar harus mempelajari kedua bela diri itu secara formal mulai besok malam. Aku sudah memanggil pelatih terbaik. Kamu harus bisa melakukan gerakan teknisnya agar kabar angin yang aku edarkan punya bukti nyata. Kamu harus terlihat seperti atlet, bukan penyihir."

Nara mengangguk mantap. "Aku mengerti, Daddy. Aku akan mempelajari gerakan mereka agar penyamaranku sempurna."

Arun beralih ke Ingfah yang tampak lelah. "Dan untukmu, Ingfah. Kamu akan tetap fokus pada pendidikan bahasamu. Di mata teman-temanmu, kamu adalah 'adik kecil yang lemah lembut' yang dilindungi oleh kakakmu yang jago bela diri. Gunakan citra itu untuk menutupi aura mustikamu."

Ingfah menghela napas lega.

"Jadi aku boleh pura-pura takut kalau ada keributan, Daddy?"

"Tepat sekali. Jadilah aktris yang baik," jawab Arun sambil terkekeh.

Setelah makan malam, Arun membawa Nara ke ruang bawah tanah rumah Cankimha yang telah disulap menjadi tempat latihan pribadi yang sangat lengkap (Gym & Dojo). Di sana, sudah menunggu seorang pria tegap dengan tatapan dingin.

"Ini adalah Guru Chai," perkenalkan Arun. "Dia akan melatihmu Muay Thai. Nara, ingat, jangan gunakan energi batinmu. Gunakan otot dan teknik murni."

Nara melepas jaket denimnya, menyisakan kaos hitam yang memperlihatkan otot lengannya yang kencang. Ia berdiri di depan samsak besar, bersiap untuk memulai perjalanan barunya sebagai "atlet bela diri" keluarga Cankimha.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!