NovelToon NovelToon
My Dangerous Assistant

My Dangerous Assistant

Status: sedang berlangsung
Genre:Wanita perkasa / Menyembunyikan Identitas / Gangster
Popularitas:4.9k
Nilai: 5
Nama Author: muliyana setia reza

"Tugasmu sederhana: seduh kopi hitamku tepat pukul tujuh pagi, dan pastikan aku tidak mati hari ini."

Bagi Adinda Elizabeth (23), William Bagaskara adalah tiket keluar dari kemiskinan. Pria itu arogan, dingin, dan menyebalkan. Namun, Adinda tahu bagaimana cara mematahkan leher lawan secepat ia menyeduh kopi.

Bagi William (28), Adinda adalah anomali. Seorang gadis kecil yang berani menatap matanya tanpa rasa takut, sekaligus satu-satunya orang yang rela berdarah demi melindunginya.

Di tengah intrik bisnis yang kejam dan teror yang mengintai, sebuah kontrak kerja berubah menjadi pertaruhan hati. Bisakah sang CEO angkuh luluh pada gadis yang dibayarnya untuk terluka?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon muliyana setia reza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Peta Luka di Kulit Porselen

Apartemen penthouse William di kawasan Senopati sunyi senyap, kontras dengan kekacauan yang baru saja terjadi di Hotel Imperial. Satu-satunya suara yang terdengar adalah denting alat medis logam yang beradu dengan nampan stainless steel.

Di ruang tamu yang luas itu, Dokter Johan—dokter pribadi keluarga Bagaskara—sedang sibuk dengan jarum dan benang bedah.

Adinda duduk di tepi sofa kulit Italia berwarna krem. Gaun merah mewahnya yang sudah robek telah diturunkan sebatas dada, memperlihatkan bahu kiri dan lengan atasnya yang terluka parah. Darah kering masih menempel di kulit putihnya, menciptakan kontras yang mengerikan namun entah mengapa, indah di mata William.

William berdiri di dekat jendela, segelas air mineral di tangannya. Ia tidak meminumnya. Matanya terpaku pada Adinda.

"Lukanya cukup dalam, Nona," gumam Dokter Johan sambil membersihkan sobekan daging akibat pecahan kaca itu dengan alkohol. "Ini akan perih sekali. Saya sarankan bius lokal dosis tinggi, atau mungkin sedikit sedatif agar Anda bisa tidur."

"Bius lokal saja, Dok. Dosis standar," jawab Adinda datar. Suaranya tenang, seolah sedang memesan nasi goreng, bukan mendiskusikan prosedur bedah pada tubuhnya sendiri. "Saya tidak mau sedatif. Saya harus tetap sadar penuh. Protokol keamanan belum dicabut sepenuhnya."

"Tapi Nona, rasa sakitnya..."

"Lakukan saja, Dok," potong Adinda halus namun tegas.

William mengamati interaksi itu dengan rasa takjub yang bercampur ngeri.

Ingatannya melayang pada mantan kekasihnya, seorang model papan atas bernama Laura. Bulan lalu, Laura menangis histeris selama satu jam hanya karena kukunya patah tersangkut pintu mobil, menuntut William memecat sopirnya saat itu juga. Atau Bella, putri rekan bisnisnya, yang pingsan saat melihat jarum suntik vitamin C.

Dunia William dipenuhi wanita yang terbuat dari kaca dan sutra. Rapuh, manja, dan minta dilayani.

Tapi Adinda? Dia terbuat dari baja dan kawat berduri.

Dokter Johan mulai menjahit. Jarum melengkung itu menembus kulit. William yang melihatnya saja merasa ngilu hingga ke tulang. Ia menunggu Adinda berteriak, menangis, atau setidaknya meremas bantal sofa.

Adinda tidak melakukan semua itu.

Gadis itu hanya menarik napas panjang lewat hidung, lalu menghembuskannya perlahan lewat mulut. Matanya terpejam, keningnya berkerut sedikit, dan ada butiran keringat dingin yang muncul di pelipisnya. Rahangnya mengeras, menahan erangan yang tertahan di tenggorokan.

Tangan kanannya yang sehat mencengkeram lututnya sendiri dengan kuat, hingga buku-buku jarinya memutih. Itu satu-satunya tanda bahwa ia kesakitan luar biasa.

William meletakkan gelasnya dan berjalan mendekat. Tanpa permisi, ia duduk di samping Adinda.

"Sakit?" tanya William bodoh.

Adinda membuka matanya, menatap William. Ada kabut kesakitan di sana, tapi sorot matanya tetap jernih. "Seperti digigit semut api raksasa, Pak. Tapi saya pernah mengalami yang lebih buruk."

William meraih tangan kanan Adinda yang sedang mencengkeram lutut. Ia membuka paksa kepalan tangan gadis itu, lalu menggenggamnya dengan tangannya yang besar dan hangat.

"Remas tangan saya," perintah William. "Jangan remas lututmu, nanti memar."

Adinda tertegun sejenak. Ia ingin menarik tangannya, merasa tidak pantas. Namun, saat Dokter Johan menarik benang jahitan kedua, rasa sakit yang menyengat memaksanya meremas tangan William dengan kuat. Sangat kuat.

William tidak meringis, meski kuku Adinda mungkin menancap di telapak tangannya. Ia justru membiarkannya. Ia ingin berbagi rasa sakit itu, walau sedikit.

"Selesai lima jahitan," lapor Dokter Johan sepuluh menit kemudian yang terasa seperti satu jam. "Sekarang saya perban. Jangan kena air selama tiga hari."

Saat Dokter Johan membalut lengan Adinda, mata William menangkap sesuatu yang lain. Karena gaun Adinda turun sebatas dada, punggung bagian atasnya terekspos.

Di sana, di kulit punggung yang mulus itu, terdapat bekas luka lama. Sebuah garis putih memanjang di dekat tulang belikat—bekas sayatan pisau yang sudah sembuh bertahun-tahun lalu. Dan ada bekas luka bakar bundar kecil di bahu kanan, seperti bekas sundutan rokok.

Hati William mencelos. Peta luka di kulit porselen, pikirnya.

"Adinda," panggil William pelan saat Dokter Johan sedang membereskan peralatannya.

"Ya, Pak?"

"Punggungmu..."

Adinda segera sadar. Dengan gerakan canggung karena sakit, ia menarik sisa kain gaunnya ke atas menutupi tubuhnya. Wajahnya yang tadi pucat menahan sakit kini merona merah karena malu.

"Itu... hanya kenang-kenangan masa lalu, Pak. Hidup di panti asuhan ilegal tidak selalu menyenangkan," jawab Adinda singkat, menutup topik itu rapat-rapat.

Dokter Johan pamit undur diri setelah memberikan resep antibiotik. Kini, hanya tinggal mereka berdua di apartemen mewah yang menghadap langit Jakarta malam.

William masuk ke kamarnya, mengambil kemeja flanel kotak-kotak miliknya yang paling lembut, lalu kembali ke ruang tamu dan menyerahkannya pada Adinda. "Pakai ini. Gaunmu sudah hancur dan penuh darah. Kau tidak mungkin pulang dengan baju itu."

"Terima kasih, Pak." Adinda menerima kemeja itu. Ia berjalan ke kamar mandi tamu, tertatih sedikit karena kakinya yang lecet akibat lari tanpa sepatu tadi.

Saat Adinda keluar, ia terlihat tenggelam dalam kemeja William yang kebesaran. Lengan kemeja itu kepanjangan hingga menutupi perban di tangannya. Rambutnya yang tadi digelung rapi kini terurai jatuh di bahu, membuatnya terlihat jauh lebih muda dan lebih "manusia" dari sosok bodyguard dingin yang biasa William lihat.

William sedang duduk di meja bar, menuang dua gelas teh hangat. Bukan whisky, tapi teh camomile.

"Duduklah," William menepuk kursi di sebelahnya.

Kali ini Adinda menurut. Ia duduk, menyesap teh hangat itu. Uap panasnya sedikit menenangkan saraf-sarafnya yang tegang.

"Kenapa kau melakukan itu tadi?" tanya William tiba-tiba, memecah keheningan.

"Melakukan apa, Pak?"

"Melompat ke arah tembakan. Menjadikan dirimu umpan," William menatapnya tajam, mencari kebohongan di mata gadis itu. "Gajimu memang besar, Adinda, tapi tidak sebesar nyawamu."

Adinda meletakkan gelasnya. Ia menatap pantulan dirinya di permukaan teh. "Bapak pernah kelaparan? Bukan lapar karena telat makan siang karena meeting, tapi lapar karena sudah tiga hari tidak makan nasi?"

William menggeleng pelan. "Tidak."

"Saya pernah," kata Adinda pelan. "Bapak pernah tidur sambil memegang pisau lipat karena takut ada preman yang masuk ke gubuk kardus Bapak?"

William terdiam, menatap gadis di sampingnya dengan pandangan baru.

"Saya melakukan pekerjaan ini bukan karena saya ingin jadi pahlawan, Pak. Saya melakukannya karena Bapak adalah satu-satunya orang yang memberi saya kesempatan untuk tidur di kasur yang layak dan makan tiga kali sehari," Adinda menoleh, menatap mata William lurus-lurus. "Saya menjaga Bapak, karena Bapak menjaga hidup saya. Itu timbal balik yang adil bagi orang seperti saya."

Jawaban itu begitu pragmatis, namun begitu jujur. Tidak ada bumbu romansa yang dibuat-buat, tidak ada kepalsuan.

William tersenyum tipis, senyum yang mengandung rasa sedih sekaligus kekaguman. "Kau berbeda, Adinda."

"Berbeda karena saya miskin dan banyak bekas luka?"

"Bukan," William menggeser duduknya, menghadap sepenuhnya ke Adinda. "Wanita-wanita yang saya kenal... Laura, Bella, dan teman-teman sosialita mereka... mereka akan pingsan melihat darahmu tadi. Mereka memuja saya karena nama belakang saya, 'Bagaskara'. Mereka mencintai kartu kredit saya, bukan manusianya."

William mencondongkan tubuh sedikit, suaranya merendah. "Tapi kau... kau melihat pistol di depan mata dan kau justru berlari mendekat. Kau dijahit hidup-hidup dan kau tidak mengeluarkan air mata. Kau tangguh. Dan itu... itu hal paling seksi yang pernah saya lihat seumur hidup saya."

Mata Adinda membelalak. Jantungnya, yang tadi sudah tenang, kini berpacu lagi. Bukan karena adrenalin bahaya, tapi karena kalimat terakhir itu.

"Bapak... Bapak mabuk teh?" tanya Adinda gugup, mencoba mencairkan suasana yang tiba-tiba memanas.

William tertawa kecil. Ia mengulurkan tangan, menyentuh pipi Adinda yang bersih dari makeup. Ibu jarinya mengusap lembut noda debu kecil di sana.

"Saya serius, Adinda," bisik William intim. "Mulai sekarang, kau bukan cuma pelindung saya. Tapi saya juga akan melindungimu. Tidak boleh ada lagi luka baru di tubuhmu. Itu perintah CEO."

Sentuhan tangan William di pipinya terasa panas. Adinda merasa tembok pertahanannya yang kokoh perlahan runtuh. Di depannya bukan lagi bos yang arogan, tapi seorang pria yang menatapnya dengan kekaguman tulus yang belum pernah ia terima dari siapa pun.

"Itu... perintah yang sulit dilaksanakan, Pak, mengingat jumlah musuh Bapak," cicit Adinda, suaranya hampir hilang.

"Kita hadapi bersama," jawab William mantap.

Tiba-tiba, ponsel Adinda di meja bergetar, memecahkan momen magis itu.

Pesan masuk dari Harto: Pelaku penembakan tertangkap. Situasi aman. Saya kirim mobil jemputan untuk Adinda 15 menit lagi.

Adinda menarik napas, menarik diri dari sentuhan William dengan berat hati. Ia kembali menegakkan punggung, memasang topeng profesionalismenya, meski hatinya masih bergetar hebat.

"Jemputan saya datang 15 menit lagi, Pak. Saya harus siap-siap," kata Adinda, turun dari kursi.

William tampak kecewa, tangannya yang tadi menyentuh pipi Adinda kini menggantung di udara. Namun, ia mengangguk paham. "Baiklah. Istirahatlah besok. Jangan datang ke kantor."

"Saya akan datang, Pak. Tangan kiri saya sakit, tapi tangan kanan dan kaki saya masih berfungsi untuk menendang orang," tolak Adinda keras kepala.

William tersenyum lagi, menggelengkan kepala melihat kekeraskepalaan gadis itu. "Terserah kau saja, Nona Bodyguard."

Saat Adinda berjalan menuju pintu, mengenakan kemeja kebesaran William yang menyentuh pahanya, sang CEO menatap punggungnya. Punggung kecil yang menanggung beban hidup begitu berat, namun tetap tegak menantang dunia.

Malam itu, William Bagaskara tidur dengan perasaan yang aneh. Ia merasa lebih aman bukan karena sistem keamanan canggih di apartemennya, tapi karena ia tahu ada seorang wanita tangguh bernama Adinda Elizabeth di dunia ini.

Bersambung...

1
Dede Dedeh
lanjutttt......
Nurhartiningsih
lanjuuut...dikit amat up nya
gina altira
jd sedihhh,, cinta yang tulus dan berbesar hati
gina altira
galak tapi ngangenin ya,🤭
Nurhartiningsih
lanjuuut....mkin penasaran
Nurhartiningsih
kereeeennn aku suka.. aku suka
Nurhartiningsih
ah knp banyak bawang disini??
Nurhartiningsih
ya ampun... sesulit apa hidupmu dindaa
Nurhartiningsih
ah suka deh sama cerita yg ceweknya badas
Nurhartiningsih
kereeeen....ah knp baru Nemu nih novel
Raditya Gibran
aku menanti episode selanjutnya bestii
terimakasih
Fenti Fe
Ceritanya mulai menarik, gaya bahasa dan tulisannya rapi. Semangat Author...
PENULIS ISTIMEWA: Terima kasih qha qha.. 😍
total 1 replies
Kavina
Kalo novel ini di bwt movie nya pasti seru abiss, thank ya Thor dh UP byk 😘😘💪💪
PENULIS ISTIMEWA: 😍😍 Kak Kavina bisa aja deh.. 🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!