Follow IG @Lala_Syalala13
Anya, seorang gadis miskin yang bekerja sebagai pelayan, tak sengaja menyelamatkan Marco Valerius, bos mafia kejam yang sedang sekarat akibat pengkhianatan.
Terpikat oleh kemurnian Anya yang tulus, Marco yang posesif memutuskan untuk "membeli" hidup gadis itu.
Ia menghancurkan dunia lama Anya dan mengurungnya dalam kemewahan sebagai bentuk perlindungan sekaligus kepemilikan.
Di tengah ancaman maut dari musuh-musuh Marco, Anya terjebak dalam sangkar emas, berjuang antara rasa takut dan ketertarikan pada pria yang terobsesi menjadikannya milik selamanya.
Bagaimana kelanjutan ceritanya???
Yukkkk kepoin
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lala_syalala, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
OSRM BAB 20_Rahaja di Balik Cahaya
Sarapan pagi itu disajikan di meja kayu di teras luar yang menghadap langsung ke arah samudra Hindia yang biru jernih.
Angin laut bertiup pelan, membawa kesegaran yang seharusnya bisa menyembuhkan duka, namun bagi Anya, pemandangan indah ini hanyalah lukisan di dinding penjara.
Setelah sarapan Marco harus menerima panggilan telepon penting dari Bram mengenai situasi di Jakarta.
Ia meninggalkan Anya di teras dengan peringatan agar tidak pergi terlalu jauh.
"Jangan masuk ke hutan di sisi barat pulau sendirian Anya, penjagaku ada di sana dan ada beberapa area yang belum sepenuhnya aman," pesan Marco sebelum masuk ke ruang kerjanya.
Anya mengangguk patuh, namun begitu pintu ruang kerja Marco tertutup, matanya mulai menyisir sekeliling vila.
Ia tidak ingin ke hutan, ia ingin tahu lebih banyak tentang pria yang mengurungnya ini.
Ia yakin di rumah yang sangat privat ini, Marco pasti menyimpan sesuatu yang menunjukkan siapa dia sebenarnya.
Anya berjalan masuk ke dalam vila, melewati ruang tengah yang luas.
Ia menuju ke sayap timur bangunan, sebuah area yang jarang ia datangi karena Marco selalu mengajaknya ke sisi barat.
Di sana terdapat sebuah lorong panjang dengan dinding yang dipenuhi lukisan-lukisan abstrak yang tampak sangat mahal.
Di ujung lorong, ada sebuah pintu kayu jati yang terukir indah, Anya mencoba memutar gagang pintunya. Terkunci.
Ia mencari ke sekeliling, dan matanya tertuju pada sebuah vas bunga besar di samping pintu.
Dengan tangan gemetar, ia merogoh ke dalam bagian bawah vas tersebut dan kosong, ia hampir menyerah saat ia melihat sebuah laci kecil yang tersembunyi di balik meja pajangan, di dalamnya terdapat sebuah kunci perak kuno.
Klik.
Pintu terbuka dengan suara gesekan halus, Anya masuk ke dalam dan langsung disambut oleh aroma debu dan melati kering.
Ruangan itu bukan kamar tidur, melainkan semacam galeri pribadi yang sangat gelap karena gordennya tertutup rapat.
Anya membuka sedikit gorden untuk membiarkan cahaya masuk.
Matanya terbelalak melihat apa yang ada di depannya, ruangan itu penuh dengan foto-foto lama dan barang-barang pribadi yang tampak sangat tidak cocok dengan citra "raja mafia" milik Marco.
Ada foto seorang wanita cantik dengan mata yang sangat mirip dengan Marco yaitu lembut namun penuh kesedihan.
Di foto itu wanita tersebut sedang memeluk seorang anak laki-laki kecil yang sedang tersenyum lebar, itu pasti Marco saat masih kecil.
Anya melangkah lebih dalam dan menemukan sebuah meja kecil berisi surat-surat lama yang sudah menguning.
Ia mengambil satu surat yang terbuka, isinya adalah tulisan tangan yang sangat rapi.
"Marco-ku sayang suatu saat kamu akan mengerti kenapa ibu harus pergi, jangan biarkan ayahmu mengubahmu menjadi monster seperti dia. Tetaplah menjadi cahaya Marco, jangan biarkan kegelapan dunia ini menelan hatimu yang baik."
Anya merasakan dadanya sesak, jadi inilah alasan Marco menamai pulau ini Isola di Luce yaitu Pulau Cahaya.
Ini adalah penghormatan terakhirnya untuk ibunya yang pergi meninggalkannya dalam kegelapan.
Marco tidak pernah menjadi "cahaya" seperti yang ibunya inginkan tapi dia justru menjadi raja kegelapan agar tidak ada lagi yang bisa menyakitinya.
Namun, yang paling mengejutkan Anya adalah sebuah lemari kaca di sudut ruangan, di dalamnya terdapat sebuah benda yang sangat ia kenali.
Seragam pelayan kedai kopi miliknya.
Seragam yang ia pakai saat pertama kali menolong Marco, bahkan di sana masih ada noda darah kering milik Marco.
Di samping seragam itu, ada foto Anya yang diambil secara diam-diam saat ia sedang bekerja, tertawa bersama Maya.
Anya mundur selangkah, napasnya memburu, Marco tidak hanya menyelamatkannya tapi dia telah mengamatinya sejak lama.
Obsesi ini bukan muncul secara tiba-tiba karena rasa terima kasih.
Marco telah mengincar "cahaya" milik Anya untuk menggantikan cahaya ibunya yang hilang.
"Indah, bukan?" seru Marco.
Suara berat itu membuat Anya nyaris melompat karena terkejut, ia berbalik dan menemukan Marco berdiri di ambang pintu.
Marco tidak terlihat marah, namun matanya memancarkan kesedihan yang sangat dalam dan posesif.
"Marco... aku..." Anya terbata-bata, tangannya masih memegang surat ibu Marco.
Marco berjalan mendekat, langkahnya pelan dan tidak mengancam.
Dia mengambil surat itu dari tangan Anya dan meletakkannya kembali ke meja dengan sangat hati-hati.
"Ini adalah satu-satunya tempat di dunia ini di mana aku tidak perlu menjadi monster Anya." ucap Marco lembut.
Dia menatap foto ibunya, lalu beralih menatap Anya. "Ibu selalu bilang aku harus tetap menjadi cahaya, tapi dunia ini terlalu gelap dan aku harus menjadi lebih gelap untuk bertahan hidup." lanjutnya.
Marco memegang tangan Anya dan membawanya berdiri di depan lemari kaca berisi seragamnya.
"Lalu aku menemukanmu di tengah badai, di tengah darah, kamu menolongku tanpa rasa takut. Saat itu aku sadar... kamu adalah cahaya yang ibu maksud. Dan aku bersumpah, aku tidak akan membiarkan cahaya ini hilang seperti ibu hilang dariku." ucapnya.
Anya menatap mata Marco yang kini tampak basah. "Marco kamu tidak bisa menggantikan ibumu denganku, aku adalah orang yang berbeda. kamu tidak bisa mengurung cahaya agar ia tetap menyala. Cahaya akan redup kalau tidak diberi ruang untuk bersinar."
Marco membelai pipi Anya, ibu jarinya mengusap bibir Anya dengan gerakan yang menghipnotis.
"Mungkin kamu benar, tapi aku terlalu takut Anya, aku lebih baik mengurungmu di sini, di tempat yang paling indah di dunia, daripada membiarkanmu padam di luar sana oleh orang-orang seperti Antonio."
Anya menyadari satu hal yang sangat penting yaitu Marco tidak akan pernah melepaskannya dengan sukarela.
Baginya, Anya bukan sekadar manusia, melainkan jimat keberuntungan dan penebusan atas masa lalunya yang hancur.
"Marco," Anya berbisik, mencoba menggunakan pengaruhnya.
"Kalau kamu memang sayang padaku, bisakah kamu berjanji satu hal?"
"Apa pun, Anya."
"Beri aku sedikit kebebasan di pulau ini. Jangan biarkan penjagamu mengikutiku setiap meter. Biarkan aku merasa bahwa ini adalah rumah, bukan penjara."
Marco terdiam cukup lama, ia tampak sedang berperang dengan logikanya sendiri.
Namun, melihat sorot mata Anya yang seolah-olah mulai menerimanya, ia akhirnya mengangguk.
"Baiklah. Penjagaku hanya akan berada di perimeter luar pantai dan hutan, di dalam vila dan taman depan, kamu bebas bergerak tanpa pengawasan langsung. Tapi tolong... jangan coba-coba pergi ke dermaga sendirian."
"Terima kasih, Marco," jawab Anya sambil memeluk Marco.
Dalam pelukan itu, mata Anya menatap ke arah jendela yang menghadap ke laut.
Di sana, di cakrawala yang jauh, ia melihat sebuah titik hitam kecil yang perlahan mendekat.
Itu bukan kapal pengiriman rutin milik Marco. Itu adalah sesuatu yang lain.
Anya tidak tahu bahwa saat ia sedang mencoba melunakkan hati Marco, Antonio telah berhasil melacak sinyal satelit yang digunakan Marco untuk menelepon pagi tadi.
Pulau Cahaya yang selama ini dianggap sebagai tempat paling aman di dunia, kini sedang berada dalam bidikan teropong musuh yang haus darah.
Marco membalas pelukan Anya dengan sangat erat, tidak menyadari bahwa kedamaian yang baru saja ia rasakan adalah awal dari badai yang akan menghancurkan segalanya.
.
.
Cerita Belum Selesai.....
tapi di sini yg bikin aku kesel Anya ngk mau dengerin omongan Marco
ceritanyabagus
ibu kasih bunga wes Thor 🌹lanjut lg seru nih salam👍💪