Kehilangan istri dan juga calon buah hatinya secara tragis membuat Leonel menjadi sosok pria yang dingin, dia hanya fokus dalam bekerja saja tanpa memikirkan hal yang lainnya.
Namun, semuanya terasa berubah setelah dia bertemu dengan gadis berseragam putih abu yang sangat nakal dan membuat dia selalu merasa kesal.
"Apa yang sedang kamu lakukan, hah?" tanya Leonel dengan sangat marah ketika dia melihat gadis berseragam putih abu sedang mencorat-coret bodi mobilnya dengan pilok.
"Eh? Maaf, Pak. Jangan marah ya, aku hanya sedang uji nyali." Gadis berseragam putih abu itu langsung berlari setelah aksinya ketahuan.
Apa yang akan terjadi selanjutnya?
Skuy pantengin kisah Babang Leonel.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon cucu@suliani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21
Leandra benar-benar tidak menyangka jika Leonel akan melakukan hal itu di depan dirinya, seharusnya Leonel berpikir jika dirinya itu adalah seorang gadis.
Rasanya tidak pantas jika Leonel melakukan hal tersebut di depan gadis seperti dirinya, setidaknya Leonel datang dengan memakai handuk dan berendam setelah dia keluar dari dalam kamar mandi, pikirnya.
"Dasar pria gila!" umpat Leandra seraya berlari dari dalam kamar mandi meninggalkan Leonel yang nampak tersenyum senang karena sudah berhasil membuat Leandra kesal.
Leandra terlihat mendengkus sebal, napasnya bahkan terlihat naik turun karena masih merasa begitu kesal terhadap Leonel.
Untuk menenangkan hatinya yang teramat kesal, gadis itu pada akhirnya memilih untuk duduk di atas sofa. Dia sedang berusaha untuk menenangkan hati dan pikirannya yang kini terasa begitu kesal terhadap pria dewasa itu.
Jika saja tujuannya bukan untuk merawat pria itu, sudah dapat dipastikan jika Leandra pasti akan mengerjai kembali lelaki itu.
"Awas saja kamu, tuan yang menyebalkan. Suatu saat nanti aku pasti akan mengerjai kamu kembali, tunggulah pembalasan dariku. Aku pastikan lain kali kamu akan menangis," kesal Leandra.
Setelah mengatakan hal itu Leandra nampak mengedarkan pandangannya, dia mencari tasnya karena ingin mengambil ponselnya dan menghubungi ibunya.
Dia ingin memberikan kabar jika dirinya sudah sampai di rumah Leonel dengan selamat, dia sudah siap menjalankan tugasnya untuk merawat pria dewasa yang lebih mirip bayi besar, bagi Leandra.
Dia juga ingin mengadu kepada ibunya, jika Leonel adalah pria yang tidak berakhlak baik. Leonel hanya bisa membuat dirinya kesal dan juga marah.
"Ya Tuhan, di mana tasku?" tanya Leandra.
Dia terlihat bangun, lalu mencari tas ransel yang tadi dia simpan di atas sofa. Matanya terus saja mencari-cari tas miliknya, sayangnya dia tidak menemukan tas ransel miliknya tersebut.
Leandra terlihat panik, dia merasa takut jika Leonel sudah menyembunyikan tas miliknya. Jika itu terjadi, bagaimana dia mengganti pakaiannya atau berkomunikasi dengan ayah dan ibunya, pikirnya.
"Oh Tuhan, di mana tasku? Kenapa tidak ada? Padahal tadi aku simpan di sini," keluh Leandra.
Kembali Dia melangkahkan kakinya untuk mengitari kamar Leonel, tapi tetap saja dia tidak menemukan tasnya.
Justru dia malah melihat banyaknya foto kebersamaan antara Leonel dan juga Leana, dia juga melihat foto pernikahan Leonel dengan Leana.
Pernikahan yang memang sengaja diselenggarakan secara besar-besaran, karena saat itu Leonel ingin membuat Lyra menyesal karena Lyra sudah memaksa untuk pergi dan meninggalkan dirinya.
Leandra bisa melihat jika di dalam foto itu Leana memandang Leonel dengan penuh cinta, berbeda dengan Leonel yang nampak memandang Leana dengan tatapan biasa saja.
"Apakah ini artinya tuan Leonel yang menyebalkan itu sudah menikah?" tanya Leandra seraya mengusap foto pernikahan Leonel dan juga Leana.
Tanpa terasa bibir Leandra tersenyum kala dia melihat ada satu sisi di mana pada tembok kamar tersebut terdapat foto Leonel dan Leana, mereka terlihat saling mencintai dan takut kehilangan.
Melihat akan hal itu, Leandra bisa menyimpulkan. Jika pada saat Leonel menikah dengan Leana, pria itu tidak memiliki rasa cinta.
Namun, rasa cinta itu hadir seiring berjalannya waktu. Cinta itu tumbuh karena Leonel dan Leana setiap hari hidup bersama.
"Tas kamu ada di kamar sebelah, kamu tidur di sana. Tapi kalau mau tidur satu kamar sama aku juga boleh," ucap Leonel yang baru saja keluar dari dalam kamar mandi dengan hanya menggunakan handuk kecil yang melilit di pinggangnya.
"Hastaga! Kenapa anda begitu suka sekali mengagetkan orang lain?" tanya Leandra seraya memalingkan wajahnya ke arah Leonel.
Saat melihat penampilan Leonel yang hanya menggunakan handuk kecil yang menutupi area pribadinya saja, Leandra langsung berteriak seraya menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.
''Aaah! Dasar pria gila," teriak Leandra seraya berlari menuju pintu kamar.
Brugh!
Aduh!"
Leandra terlihat mengerang kesakitan, karena wajahnya terbentur pintu. Jidatnya yang masih berdenyut nyeri semakin terasa sakit.
Melihat akan hal itu Leonel langsung mengatupkan mulutnya menahan, dia takut jika tawanya akan pecah saat itu juga
Jika hal itu terjadi, dia takut jika Leandra akan marah dan menyalahkan dirinya karena kejadian tersebut.
"Woow! Seharusnya kamu jangan menutup mata saat berjalan," ucap Leonel seraya melangkahkan kakinya untuk mengambil kotak obat dari dalam lemari.
"Sialan! Ini semua juga gara-gara anda, anda sangat keterlaluan!" kesal Leandra yang kini mulai menangis karena tidak kuat menahan sakit.
"Cengeng!" ucap Leonel seraya menghampiri Leandra dan memberikan obat anti nyeri kepada gadis itu.
"Apa ini? Bukan racun, kan?" tanya Leandra.
"Berisik!" keluh Leonel seraya menarik lembut lengan Leandra dan menuntun gadis itu untuk pergi ke dapur.
Leonel nampak mendudukan Leandra di salah satu kursi yang ada di sana, lalu dia mengambil air putih dan memberikannya kepada Leandra.
"Minumlah obatnya, biar tidak terlalu sakit," ucap Leonel dengan nada penuh perintah.
"Ini obat anti nyeri?" tanya Leandra memastikan.
Dia tidak mau mati konyol karena diberikan racun oleh Leonel, maka dari itu Leandra ingin memastikan apakah obat yang diberikan oleh Leonel aman atau memang racun yang bisa menyebabkan dirinya mati jika dia meminumnya.
"Ck! Aku tidak akan memberikan kamu racun," jawab Leonel dengan kesal. "Mana mungkin aku membiarkan kamu mati di rumahku, kalau memang aku berniat untuk membunuhmu, aku akan melemparkan kamu ke jurang," imbuhnya.
"Hastaga! Anda kejam sekali," keluh Leandra.
Setelah mengatakan hal itu Leandra nampak meminum obat anti nyeri yang diberikan oleh Leonel, sedangkan Leonel langsung mengambil es batu dan memberikannya kepada Leandra.
"Lukamu tambah memar, sebaiknya kamu kompres kembali."
Leonel merasa kasihan saat melihat wajah Leandra yang kini dihiasi benjolan di keningnya, benjolan yang terlihat memerah dan rasanya pasti sakit, pikirnya.
"Ck! Ini semua gara-gara anda, kenapa anda begitu suka mengagetkan orang lain?" ucap Leandra tanpa berani menatap ke arah Leonel.
"Jangan salahkan aku, ini semua karena pikiran di otak kamu yang kotor. Makanya kamu berpikir yang tidak-tidak saat melihat dada bidangku ini," ucap Leonel seraya mengusap dadanya yang terlihat berbulu tipis itu.
Leandra terlihat memutarkan bola matanya dengan malas, menurut gadis itu Leonel terlalu percaya diri dengan memuji bentuk tubuhnya.
Walaupun pada kenyataannya Leandra mengakui jika tubuh Leonel terlihat begitu atletis, terlihat begitu seksi dan begitu perfect di matanya.
Sayangnya, Leandra tidak mau mengakui hal itu. Dia takut jika Leonel akan besar kepala dan merasa dirinya begitu sempurna.
"Mana ada yang seperti itu? Aku hanya kaget," jawab Leandra seraya mengambil es batu dan mulai mengompres keningnya yang kini semakin memerah.
"Terserah apa kata kamu, aku mau memakai baju dulu. Jangan ngintip," canda Leonel.
"Cih! Pede sekali, siapa juga yang mau ngintip tubuh anda yang jelek itu! Tubuh anda itu jauh dari kata seksi," ledek Leandra tanpa sadar.
Mendengar apa yang dikatakan oleh Leandra, Leonel merasa tidak terima. Setiap hari selepas bangun tidur dia akan langsung berolahraga demi membentuk masa ototnya,
Lalu, kini dengan seenak jidatnya Leandra mengatakan jika tubuhnya jelek,l. Leonel terlihat kesal dan langsung menunduk, dia menarik tangan Leandra dan mengusapkan tangan mungil itu di dada bidangnya.
"Apakah ini terlihat jelek?" tanya Leonel seraya mengusap-usapkan tangan Leandra pada dada bidangnya. "Apakah ini tidak seksi?" tanya Leonel lagi seraya mengusapkan telapak tangan Leandra pada perut sixpacknya sampai sebatas handuk yang dia pakai.