Setiap pernikahan mengharapkan kebahagiaan. Namun, tidak dengan pernikahanku.
Siapa sangka. Pernikahan yang kuanggap pemujaan ternyata semu belaka. Ucapan talak di depan rumah pojok dari bibir mas Akbar menyadarkanku arti diriku selama setahun ini.
Hujan belati menusuk hatiku, dengan penghianatan suami beserta sahabat baikku.
"Kamu hanyalah penebus hutang judi ku. Tidak lebih!"
Sesak, hingga gelap menyapa. Ketika kesadaran ku kembali, kertas putih menyambut dunia malang ku.
"Pilihanmu hanya dua, menjadi istri siri atau menjadi wanita malam!"
Hitam di atas putih. Kini hidupku hanya untuk menjadi penebus hutang mantan suamiku.
Sanggupkah Ara menjalani hidup sebagai istri siri pria asing? Apakah hidup Ara akan selalu dibawah kekuasaan orang lain?
Ikuti kisah perjuangan Ara mencari kebahagiaan sederhana dalam sebuah ikatan suci pernikahan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Asma Khan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21: DEAL! - SKETSA
Hazel menarik lengan sang kekasih, "Sebaiknya kita bahas itu nanti saja, sayang. Sekarang fokus dulu apa yang ada, okay."
Dari keremangan terdengar suara langkah kaki kembali mendekat, tapi kali ini bukan hanya satu. Semakin dekat suaranya, membuat Hazel dan sang kekasih tidak sabar melihat siapa yang dibawa Anggun. Hingga satu lampu di tengah ruangan menyala bersamaan suara langkah kaki berhenti.
"Jadi, berapa bayaran yang akan kudapatkan per kepala?"
Seorang pria dengan tubuh penuh tatto ular. Meskipun tubuhnya tidak sekekar tubuh kekasih Hazel. Tetap saja ada tonjolan kecil di lengan pria itu, Anggun bahkan nampak santai berdiri di sebelahnya.
"Aku tidak mau membunuh. Cukup lakukan pencurian bukti di kantor suamiku!" jawab Hazel tanpa ragu, membuat pria bertato melirik Anggun dengan tatapan tak suka.
"Tenang saja, bayaran mu jauh lebih besar dari per kepala." sambung Hazel seraya mengeluarkan selembar cek dari saku celananya, lalu mengulurkan ke pria tatto yang berjarak tiga meter dari tempatnya berdiri.
Selembar cek masih menggantung di udara, membuat Hazel berpikir pria bertato tidak mau melakukan pekerjaan yang ditawarkan
Baru saja cek akan ditarik, tapi Anggun langsung menyambarnya tanpa permisi.
"Hey, itu untuknya!" seru Hazel.
Pria bertato menatap Anggun yang tersenyum manis. Ikut tersenyum, lalu berbalik menatap Hazel seraya mengulurkan tangannya. "Deal!"
Sebelum Hazel menyambut uluran tangan pria bertato. Justru kekasihnya sudah mewakili dirinya. "Deal!"
Kesepakatan di antara ke empat orang di dalam ruangan engap dan kotor itu berlanjut membahas rencana selanjutnya.
Tiga jam kemudian.
Para karyawan hilir mudik melakukan pekerjaan masing-masing seperti biasanya. Hingga satpam membukakan pintu kaca utama untuk wakil pemimpin perusahaan. Langkah pria dengan setelan kantor hitam tanpa dasi berjalan tegas menapaki setiap jengkal lantai. Wajah dewasa tanpa garis kerutan, selalu membius para karyawati. Bahkan para karyawan pria pun harus ikut melihat pesona yang memang tak bisa ditolak oleh mata mereka.
"Tampannya Pak Alkan, mau banget deh jadi istrinya." bisik salah satu karyawati pada rekan kerja lainnya.
Rekannya menyenggol si penghalu, "Ngarep trus? Mana mau Pak Alkan ama kamu yang suka ngupil."
"Eh apaan, sih? Jangan ngada-ngada ya." protes si penghalu seraya mencebikkan bibir orange nya.
Alkan berhenti di depan resepsionis seraya menyerahkan selembar kertas ke atas meja setinggi perutnya. "Pastikan orang di dalam kertas ini jangan masuk kantor! Apapun alasannya, TAHAN DIA! Jika perlu USIR saja! Paham?"
"Pak, ini istri Tuan Muda....,"
Prook!
Prook!
Prook!
Alkan bertepuk tangan, membuat semua karyawan berlari untuk berkumpul. Hanya hitungan detik, seluruh karyawan lantai dasar berbaris rapi di depan Alkan. Tak ingin membuat kesalahan apapun. Alkan mengambil selembar kertas yang tertera skarang wajah Hazel.
"Lihat kertas ini! Hafal diluar kepala kalian! Pastikan wanita ini tidak GENTAYANGAN di perusahaan." Alkan menunjukkan sketsa wajah Hazel, tidak hanya membuat para karyawan saling pandang. "Siapapun yang ketahuan membantu Hazel. Saat itu juga diPECAT! Paham?"
"Baik, Tuan." seru serempak para karyawan, membuat Alkan melambaikan tangan membubarkan semua karyawan, lalu berbalik menatap si mba resepsionis. "Apa masih ada pertanyaan?"
"Maaf, Tuan." Si mba resepsionis menunduk bersalah.
Alkan meletakkan kertas sketsa kembali ke atas meja, lalu berjalan meninggalkan mba resepsionis yang setia dengan melihat ke bawah.
Kita lihat, permainan siapa yang terbaik. Aku atau tipuan licik mu wanita murahan. ~batin Alkan seraya menekan tombol lift lantai teratas.
Setelah mendapatkan bukti yang konkrit. Akhirnya Alkan sebagai seorang paman sudah siap melepaskan jerat hubungan tak sehat keponakannya. Di saat Bryant tengah sibuk membuat dunia kecil demi masa depan. Maka sebagai keluarga, sudah tugasnya menyempurnakan kehidupan dengan cara apapun. Termasuk menjebak lawan.
Gedung pencakar langit yang megah dengan kilauan dinding kaca. Siapapun yang melihat bangunan itu, pasti ingin tahu rasanya bekerja di sana. Namun berbeda dengan keempat orang yang duduk di dalam sebuah mobil. Satu teropong di tangan sang sopir.
"Lantai berapa yang harus aku geledah?" tanya sang sopir tanpa mengalihkan perhatiannya dari mengawasi keadaan sekitar gedung di depan sana.
"Lantai sepuluh, kantor atas nama Alkan Putra wakil direktur utama." jawab seorang wanita di kursi penumpang, tentu saja ia adalah Hazel Laurent.
Teropong diletakkan, lalu gulungan kemeja diturunkan. Sang sopir yang tak lain adalah pria si tato ular memeriksa penampilan rapinya menggunakan kaca spion tengah. "Pergilah! Aku kabari kalian setelah tugasku selesai."
"Take care, Beem." ucap Anggun, membuat pria itu mengusap wajah wanitanya dengan anggukan kecil, lalu turun dari mobil.
Kepergian si pria tato ular yang menyebrang jalan raya. Di barengi Hazel yang ikut turun dari mobil, dan berpindah ke depan untuk menjadi sopir dadakan. Tanpa menunggu, mobil yang terparkir selama satu jam di tepi jalan itu akhirnya berpindah.
Tugas baru yang diemban pria tato ular, membuat pria itu harus berpura-pura menjadi seorang pelamar. Pakaian rapi dengan sebuah map coklat di tenteng. Tidak ada yang mencegahnya karena memang hari ini ada jadwal pencarian lowongan pekerjaan bagian staff gudang. Tentu saja informasi itu didapatkan dari Hazel. Termasuk surat lamaran palsu yang kini di bawa Beem.
Aura ketegangan di tempat lain. Menyebabkan mata sendu bercampur lelehan air mata. Berita mengejutkan baru saja terkuak, membuat dua insan saling berpelukan memberikan kekuatan. Isakan tangis kesedihan terdengar menyayat hati.
"Tenanglah, Pak, Bu. Masalah yang kalian hadapi masih ada solusinya."
Sukses bwt karyanya