Lanjutan dari novel Reinkarnasi Pendekar Dewa
Boqin Changing, pendekar terkuat yang pernah menguasai zamannya, memilih kembali ke masa lalu untuk menebus kegagalan dan kehancuran yang ia saksikan di kehidupan pertamanya. Berbekal ingatan masa depan, ia berhasil mengubah takdir, melindungi orang-orang yang ia cintai, dan menghancurkan ancaman besar yang seharusnya merenggut segalanya.
Namun, perubahan itu tidak menghadirkan kedamaian mutlak. Dunia yang kini ia jalani bukan lagi dunia yang ia kenal. Setiap keputusan yang ia buat melahirkan jalur sejarah baru, membuat ingatan masa lalunya tak lagi sepenuhnya dapat dipercaya. Sekutu bisa berubah, rahasia tersembunyi bermunculan, dan ancaman baru yang lebih licik mulai bergerak di balik bayang-bayang.
Kini, di dunia yang telah ia ubah dengan tangannya sendiri, Boqin Changing harus melangkah maju tanpa kepastian. Bukan lagi untuk memperbaiki masa lalu, melainkan untuk menghadapi masa depan yang belum pernah ada.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Boqin Changing, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Aku Sudah Ingin Mengamuk
Ruangan itu seketika menjadi sunyi. Ma Shoude menatap Shang Mu cukup lama. Tatapannya tidak langsung menunjukkan keterkejutan atau penolakan, melainkan kehati-hatian seorang pria tua yang telah lama hidup. Jari-jarinya yang keriput perlahan mengepal di atas meja, lalu mengendur kembali.
Shang Mu sendiri sudah bersiap menerima jawaban yang paling mungkin. Penolakan halus, atau setidaknya sikap menghindar.
Ia tahu betul, dalam situasi Kekaisaran Shang saat ini, tidak banyak orang waras yang berani berdiri di belakang namanya. Istana masih kuat, pasukan kekaisaran tersebar di mana-mana, dan setiap keluarga bangsawan hidup dengan pisau di leher mereka. Jika ia berada di posisi Ma Shoude, mungkin ia juga akan ragu.
Shang Mu menarik napas perlahan. Ia sudah menyiapkan kata-kata lanjutan di benaknya. Cara membujuk, cara menekan tanpa mengancam, cara meyakinkan tanpa memaksa. Ia akan menjelaskan bahwa ini bukan pemberontakan gegabah, melainkan usaha terakhir untuk menyelamatkan kekaisaran dari kehancuran total.
Namun, sebelum satu pun kalimat itu keluar dari mulutnya, Ma Shoude tiba-tiba berdiri. Kursinya bergeser pelan, menimbulkan suara gesekan halus di lantai batu. Semua mata di ruangan itu langsung tertuju padanya. Lalu, dengan gerakan mantap yang sama sekali tidak terduga, Patriark Keluarga Ma membungkuk dalam-dalam ke arah Shang Mu.
“Jika itu perintah dari Yang Mulia,” ucapnya tegas, suaranya tidak bergetar sedikit pun, “maka Keluarga Ma bersedia.”
Kalimat itu jatuh mengejutkan semua orang di rombongan ini. Zhiang Chi terbelalak. Shang Ni sedikit menegakkan punggungnya, mata dinginnya memantulkan keterkejutan. Bahkan Sha Nuo yang biasanya santai pun mengangkat alisnya, jelas tak menyangka. Shang Mu sendiri terpaku sejenak.
“…Kau langsung menerimanya?” tanya Shang Mu akhirnya, suaranya rendah, hampir tak percaya. “Kau bahkan belum mendengar rencanaku secara lengkap.”
Ma Shoude mengangkat kepalanya. Wajahnya tua, penuh kerutan, namun matanya jernih dan tegas. Mata seseorang yang telah lama menahan amarah dan penyesalan.
“Justru karena hamba telah melihat terlalu banyak, Yang Mulia,” jawabnya pelan. “Rakyat hidup menderita di bawah kepemimpinan kaisar yang baru. Pajak dinaikkan tanpa ampun, hukum dipermainkan, dan istana hanya memikirkan kekuasaan.”
Ia mengepalkan tangannya.
“Banyak orang, meski tak berani mengatakannya dengan lantang, masih merindukan masa pemerintahan Yang Mulia. Saat itu, hukum jelas, pejabat takut menyalahgunakan wewenang, dan rakyat… setidaknya bisa bernapas.”
Ma Shoude menarik napas panjang, seolah membuka luka lama.
“Pemerintahan sekarang jauh berbeda. Keluarga Ma sendiri hidup dalam tekanan istana. Kami dipaksa ‘menyumbang’, dipaksa tunduk, dan diawasi tanpa henti. Satu kesalahan kecil saja, kami bisa dilenyapkan kapan pun.”
Boqin Changing mengamati dengan tenang. Tatapannya tajam, namun di dalamnya terselip pemahaman. Ia bisa melihat, bukan sekadar kata-kata, tetapi kejujuran yang terpancar dari mata pria tua itu.
Ma Shoude terdiam sejenak, lalu suaranya menjadi lebih berat.
“Namun ada satu hal… yang paling membuat hamba menyesal hingga hari ini.”
Semua orang menunggu.
“Kehancuran Keluarga Feng,” lanjutnya lirih.
Nama itu membuat udara di ruangan seakan membeku.
“Patriark Keluarga Feng adalah sahabat hamba sejak kecil,” kata Ma Shoude, matanya sedikit memerah. “Kami tumbuh bersama, belajar bersama, bahkan bersumpah suatu hari akan melindungi kota ini bersama-sama.”
Ia menunduk.
“Namun saat tragedi itu terjadi… hamba sedang tidak berada di dalam kota. Ketika kabar itu sampai ke telinga hamba, semuanya sudah terlambat. Istana bergerak terlalu cepat. Keluarga Ma yang tinggal di kota ini… tidak berani mengambil keputusan untuk membantu.”
Tangannya bergetar halus.
“Hari itu, hamba memilih diam. Dan diam itu menghancurkan segalanya.”
Boqin Changing mengangguk pelan.
Ia paham. Di dunia seperti ini, satu keputusan ragu bisa berujung pada kehancuran seumur hidup. Alasan Ma Shoude terdengar wajar,bahkan terlalu manusiawi. Yang lebih penting, Boqin Changing melihat sesuatu yang jarang, rasa bersalah yang tulus.
“Sejak hari itu,” lanjut Ma Shoude, “hamba tahu… suatu hari, jika kesempatan untuk menebus kesalahan itu datang, hamba tidak boleh mundur lagi.”
Shang Mu terdiam lama.
Di sudut ruangan, Boqin Changing sedikit terkejut. Permintaan mereka… terasa terlalu mudah. Hampir tanpa perlawanan. Namun semakin ia memikirkannya, semakin masuk akal. Rupanya, ketidakpuasan terhadap kaisar saat ini telah menumpuk di banyak keluarga bangsawan. Keluarga Ma hanyalah yang pertama berani mengakuinya.
Shang Mu akhirnya berbicara lagi, kali ini dengan suara lebih berat.
“Aku tidak akan bersembunyi di balik kata-kata manis,” katanya. “Aku akan menyerang kota ini. Aku akan membersihkan semua kelompok istana yang berakar di Kota Jiankang.”
Tatapan Ma Shoude mengeras.
“Pejabat korup, mata-mata istana, dan kekuatan gelap yang selama ini menindas rakyat… semuanya akan disingkirkan.”
Shang Mu menatap lurus ke mata Ma Shoude.
“Setelah itu, aku ingin kau memimpin kota ini. Dengan adil. Tanpa tunduk pada istana yang busuk.”
Ma Shoude tampak terdiam beberapa detik, lalu wajahnya justru menunjukkan semangat yang sulit disembunyikan.
“Jika memang demikian,” katanya cepat, “izinkan hamba bertanya, Yang Mulia.”
“Berapa pasukan yang akan Yang Mulia bawa ke kota ini?”
Ia mencondongkan tubuh ke depan.
“Apakah sebagian dari mereka sudah memasuki kota secara diam-diam? Atau masih menunggu di luar tembok kota?”
Pertanyaan itu wajar, bahkan sangat wajar. Shang Mu tidak langsung menjawab. Ia justru melirik ke arah Boqin Changing dan Sha Nuo. Dua pendekar itu duduk tenang, seolah pembicaraan ini tidak menyangkut nyawa ribuan orang.
Lalu Shang Mu kembali menatap Ma Shoude dan berkata dengan nada datar, namun menggetarkan.
“Aku hanya membawa dua orang ini saja.”
Keheningan jatuh seperti palu. Ma Shoude membeku. Matanya membesar, lalu tanpa sadar berpindah ke arah Boqin Changing dan Sha Nuo. Ia menelan ludah. Dua orang? Untuk membersihkan seluruh kekuatan istana di Kota Jiankang?
Jika kata-kata itu datang dari siapa pun selain Shang Mu… Ma Shoude pasti akan menganggapnya kegilaan.
Ma Shoude menarik napas dalam-dalam. Kerutan di wajahnya makin jelas, bukan karena usia, melainkan karena beban perhitungan yang tiba-tiba menindih pikirannya. Dua orang. Bahkan jika ia mengerahkan seluruh pendekar Keluarga Ma, jumlah mereka tetap tidak sebanding dengan pasukan istana yang berakar di Kota Jiankang. Ini bukan sekadar nekat. Ini seperti menantang badai hanya dengan sehelai pedang.
Shang Mu melihat perubahan itu dengan jelas. Ia tidak terburu-buru, tidak mendesak. Justru dengan nada tenang, ia kembali membuka mulutnya.
“Kota Jiankang adalah kota kedua yang kami datangi,” ujar Shang Mu perlahan. “Sebelumnya, kami singgah di Kota Longjing.”
Ia berhenti sejenak.
“Kota itu… sudah menjadi abu.”
Alis Ma Shoude berkerut.
“Yang Mulia sudah melihat keadaan di sana?”
“Hancur,” jawab Shang Mu singkat. “Hanya kehancuran yang tersisa. Kekuasaan istana bergerak lebih cepat dari yang kami perkirakan.”
Ia menegakkan punggungnya.
“Aku dan keluargaku baru saja kembali dari pengasingan. Tidak ada pasukan, tidak ada dukungan resmi. Hanya keyakinan bahwa jika istana dibiarkan, rakyat akan semakin menderita.”
Ruangan kembali sunyi. Kali ini bukan karena keterkejutan, melainkan karena beratnya makna kata-kata itu.
Shang Mu menatap Ma Shoude lurus-lurus.
“Jadi aku bertanya sekali lagi. Dengan kondisi seperti ini… apakah kau masih akan berada di belakangku?”
Ma Shoude tidak langsung menjawab. Ia menunduk, pandangannya jatuh ke lantai batu. Di kepalanya, angka-angka dan kemungkinan berputar cepat. Jumlah pasukan istana. Mata-mata. Pejabat yang setia pada kaisar saat ini. Risiko kehancuran Keluarga Ma jika langkah ini gagal.
Apa yang hendak dilakukan Shang Mu benar-benar gila. Menyerang Kota Jiankang hanya dengan dua pendekar. Bahkan jika ia menambahkan seluruh kekuatan Keluarga Ma, mereka tetap seperti setetes air di hadapan banjir. Rasionalitas berteriak agar ia mundur. Agar ia menolak dengan sopan dan menyelamatkan keluarganya.
Namun di balik semua perhitungan itu, ada satu ingatan yang tak mau diam. Wajah Patriark Feng. Tawa kerasnya di masa muda. Janji yang mereka ucapkan sambil minum arak di bawah lampion kota. Janji untuk saling menjaga, apa pun yang terjadi.
Dada Ma Shoude terasa sesak. Bukan sedih semata, melainkan rasa bersalah yang selama ini ia kubur rapi. Penyesalan yang tak pernah benar-benar padam, hanya menunggu alasan untuk menyala kembali.
Ia mengangkat kepalanya perlahan. Tatapannya kini berbeda. Bukan lagi tatapan seorang patriak yang berhitung untung rugi, melainkan seorang pria tua yang lelah melarikan diri dari masa lalu.
“Aku akan tetap berada di belakang Yang Mulia,” ucapnya akhirnya, tegas.
Satu kalimat itu seperti memotong keraguan di udara.
Shang Mu menatapnya beberapa detik, lalu tiba-tiba tertawa. Bukan tawa mengejek, melainkan tawa ringan yang membuat ketegangan sedikit mengendur.
“Tidak perlu terlihat setegang itu, Patriark Shou,” katanya sambil menggeleng. “Aku tidak meminta kau mengorbankan segalanya hari ini.”
Ia lalu melirik ke samping. Ke arah Boqin Changing yang duduk tenang, wajahnya tanpa ekspresi, seolah pembicaraan tentang kehancuran kota hanyalah urusan kecil. Lalu ke arah Sha Nuo yang sejak tadi menopang dagu dengan tangan, jelas mulai kehilangan kesabaran.
Shang Mu kembali menatap Ma Shoude.
“Sejujurnya,” katanya santai, “bahkan jika hanya ada satu orang saja di antara mereka berdua… menghancurkan kota ini tetaplah perkara mudah.”
Mata Ma Shoude membelalak tanpa sadar. Satu orang? Ia kembali memandang Boqin Changing dan Sha Nuo, kali ini dengan perhatian yang jauh lebih serius. Aura mereka memang tidak meledak-ledak, namun justru itulah yang menakutkan. Seperti danau tenang yang menyembunyikan kedalaman tak terukur.
Belum sempat ia mencerna makna kata-kata Shang Mu, Sha Nuo akhirnya mendengus.
“Cukup,” katanya sambil berdiri. Nada suaranya malas, namun matanya berkilat tajam. “Kalian terlalu banyak bicara.”
Ia meregangkan lehernya, tulang-tulangnya berbunyi pelan.
“Aku sudah ingin mengamuk sejak tadi,” lanjutnya tanpa basa-basi.
Terimakasih thor.