"Anak ku hilaaaaang, kemana anak ku pergi?"
Beberapa waktu terakhir ini banyak anak anak dan juga orang tua mati tenggelam, mereka di temukan bila sudah empat atau tiga hari di dalam air sehingga keadaan tubuh sudah mengembung.
Sebelum tenggelam ada yang bilang bahwa mereka berjalan dengan pandangan kosong, mereka tidak di makan buaya karena tidak ada gigitan di tubuh mereka.
Apa yang membawa mereka kedalam air?
mungkin kah ada sebuah misteri sehingga mereka semua meninggal di dalam air?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon novita jungkook, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22. Bertemu hantu air
"Gimana, apa sudah ketemu Pak Rono?!" Bambang selaku RT segera datang walau saat ini sudah sangat malam.
"Pak Roni nama nya bukan Rono, Pak." ralat Yoto agak menahan tawa.
"Ah iya Roni, ini karena panik jadi lidah saya agak typo." Bambang tersenyum malu karena dia memang sangat panik dan juga masih dalam keadaan mengantuk.
"Dasar calon besan nya Arya!" sinis Arini melirik Bambang.
"Purnama dan Arya masih masuk ke dalam air untuk mencari keberadaan Pak Roni, tapi sudah sejak tadi dia belum juga keluar." Gito berusaha menjelaskan kepada Pak RT.
"Ya Allah nanti kalau terlalu lama malah Pak Roni tidak bisa selamat." cemas Bambang.
"Mungkin Mbak Pur juga harus berjuang mencari karena dalam sungai itu kan air juga gelap ya, mana tadi dia tidak bawa senter." ujar Yoto.
"Kau pikir dia itu apa, mana mungkin Purnama sempat mau membawa senter segala saat masuk ke dalam air." Pak RT tidak terima dengan ucapan Yoto.
Yoto menggaruk kepala yang tidak gatal karena mungkin saja memang Purnama tidak butuh membawa senter, sebab wanita itu sudah memiliki kemampuan sendiri sehingga tidak perlu membutuhkan senter segala dan tadi keadaan juga begitu genting sekali sehingga Purnama tidak berpikir untuk dua kali saat masuk ke dalam sungai.
Arya juga sudah menyusul namun belum ada berita dari mereka berdua bahwa akan segera naik sambil membawa Pak Roni, yang ada di daratan sudah sangat cemas karena mereka yakin bahwa Pak Roni tidak bisa bertahan lama di dalam air dan bila Arya dan Purnama tidak segera menemukan orang tua itu maka nanti Pak Roni pasti tidak bisa selamat.
Mana sudah sejak tadi juga mereka terus mendayung perahu untuk meminta pertolongan dan sampai sekarang juga Purnama belum membawa kembali Pak Roni ke daratan, tentu saja rasa cemas di dalam hati mereka semakin menjadi karena takut bila Pak Roni sampai meninggal dunia seperti yang lain.
Hingga akhirnya Rehan memutuskan untuk naik kembali ke atas perahu karena dia juga ingin mencari keberadaan Reza sang adik dan sekalian ingin menemukan keberadaan Pak Roni, sebab siapa tahu saja hantu air itu melepaskan sehingga Pak Roni bisa muncul ke permukaan sehingga mereka nanti bisa menolong juga.
"Sama aku lah, Rehan." Yoto bergegas naik ke atas perahu karena tidak mungkin membiarkan pemuda itu sendirian.
Mereka berdua segera mengarungi sungai tersebut untuk mencari keberadaan Pak Roni dan juga Reza walau dalam keadaan hati juga begitu cemas namun mereka tetap memberanikan diri memasuki sungai ini lagi, kesan sungai ini sekarang begitu terasa angker dan tidak seperti dulu ketika terasa sangat dingin serta nyaman ketika duduk di pinggiran sungai.
"Pakai ini senter yang ada di kepala jadi kau bisa melihat keadaan." Yoto memberikan senter kepala kepada Rehan.
"Aku ada kok, Kang!" tolak Rehan karena tadi dia memang juga membawa senter kepala.
"Oh kau memang membawa senter to? Ya sudah kalau begitu kita ayo kita cari keberadaan orang yang hilang lagi." Yoto juga semangat untuk mencari para korban.
"Kenapa sungai ini semakin membutuhkan banyak nyawa? ini Reza saja belum ketemu malah tambah lagi dengan Pak Roni." Rehan mengeluh sambil mendayung perahu.
Yoto tidak menjawab ucapan Rehan Karena sekarang mata dia menatap sesuatu yang ada di bawah pohon dekat pinggiran sungai yang hampir pembelokan Tanjung sembilan, sesuatu yang bergerak-gerak dan Yoto ingin memastikan terlebih dahulu apakah itu Pak Roni atau orang lain karena terlihat air terus bergelombang membuat keadaan jadi agak seram juga.
"Kau lihat itu, Han?" Yoto berbisik dan menunjuk tepat di bawah pohon rimbun dengan akar menjalar juga.
"Loh apa itu, Kang!" Rehan lebih panik Karena dia sudah melihat sesuatu.
"Tidak! cepat menjauh karena itu bukan manusia." Yoto tersadar karena wujud dari iblis itu mulai terlihat dengan rambut yang begitu panjang.
"Astaga, jadi apa selama ini dia yang memakan banyak manusia?!" Rehan masih tertegun memperhatikan wujud iblis itu.
"Han ayo bantu dayung, biarkan saja dia!" teriak Yoto karena Rehan masih memperhatikan iblis tersebut.
"Kang kenapa dia menari seperti itu?" Rehan tetap dalam pandangan dan sama sekali tidak berkedip.
"Cepat lah dayung, dia mau mendatangi kita!" bentak Yoto memukul kepala Rehan.
Buuuuuk.
"Aduh!"
"Ambil dayung mu!" bentak Yoto karena mereka harus segera pergi.
Hantu Air ini begitu licik karena dia tidak mau menampakan diri di hadapan Purnama atau Arya tapi dia justru menampakkan diri di hadapan manusia yang sama sekali tidak memiliki kekuatan, segala sesuatu sudah di pertimbangkan oleh iblis tersebut dan bila dia menampakkan diri di hadapan Purnama maka pasti terjadi pertempuran.
Yoto dan Rehan menjadi begitu panik karena memang iblis air itu ingin mengejar mereka untuk di jadikan makanan kembali, keberadaan Pak Roni masih entah di mana dan malah sekarang mereka yang sedang dikejar oleh hantu air itu sehingga membuat keadaan menjadi semakin tidak karuan saja.
Swooooosssh.
Buaaaaaaaak.
"Bajingan, aku mencari kau sejak tadi tapi ternyata malah mengintai orang lain." Purnama sangat emosi dan langsung melepaskan serangan kepada hantu air itu.
Hantu air sama sekali tidak menyangka bahwa Purnama akan datang saat ini juga dan menyerang dia secara langsung seperti ini, padahal tadi dia sudah berusaha keras untuk menghindari pertemuan dengan Ratu ular itu tapi ternyata malah sekarang bertemu di sini.
"Datangi pohon itu, ada Pak Roni di sana." Purnama memberi perintah kepada Yoto Dan Rehan.
"Ba...baik." Yoto sangat gugup Karena sekarang Purnama sudah menjadi siluman ular.
"Kang....ini aku tidak mimpi kan?!" Rehan lemah sendiri karena tidak sanggup melihat wujud dari Purnama.
Purnama memberikan lirikan maut karena mereka masih tetap di sana tanpa ada pergerakan untuk menolong Pak Roni yang sedang sekarat, melihat mata Purnama yang di selimuti api itu maka Yoto segera mendayung perahu untuk mendekati Pak Roni yang sedang berjuang.
"Lailahaillallah ayo cepat naik perahu, Pak." Yoto menceburkan diri ke dalam air untuk membantu Pak Roni.
"Cepat, Kang!" Rehan juga sigap membantu karena mereka harus bergerak cepat meninggalkan tempat ini.
"Ini masih bernafas kan? Aduh semoga masih bisa di selamatkan lah." Yoto berusaha terus membawa tubuh Pak Roni.
Keadaan Pak Roni memang sudah sama sekali tidak ada pergerakan sehingga membuat Yoto dan Rehan agak takut, tempat mereka mendayung perahu untuk mencapai daratan agar bisa meminta pertolongan dari orang banyak dan membawa Pak Roni segera ke rumah sakit bila memang tertolong.
Selamat siang besti, jangan lupa like dan komen nya ya.
Hendra hatinya lembut JD ga tegaan walopun sama musuh😌