Emely seorang gadis yang terpaksa bekerja disebuah bar karena harus menjadi tulang punggung keluarganya. Dia harus menghidupi ibunya yang sudah tidak bekerja karena penyakit leukimia yang menyerangnya beberapa bulan terakhir, dia juga memiliki seorang adik laki - laki yang kuliah disalah satu universitas dengan mendapat beasiswa karena kepintar
annya. Sedangkan sang ayah lebih memilih meninggalkan ibunya, adiknya dan juga Emely. Hidupnya semakin menderita setelah pertemuannya dengan Davino Swam. Pria yang menganggap wanita sebagai mainanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rani Sara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 21
Mulai menyesuaikan matanya dengan cahaya lampu sebuah ruangan. Kepalanya masih terasa sakit, namun Emely berusaha mengumpulkan kesadarannya. Melihat sekeliling ruangan, ruangan yang sepertinya tidak asing baginya. Ruangan ini seperti sebuah kamar, namun kamar siapa? Matanya membelalak, ia ingat sekarang. Diruangan ini, dia kehilangan kehormatannya. Namun bagaimana ia bisa sampai disini, bukannya semalam dia masih berada di Bar milik kak Boy.
Disaat Emely sibuk mencari potongan kejadian semalam, tiba - tiba suara seorang pria semakin membuat tubuhnya gemetar.
" Kau sudah sadar? " Bukannya menjawab, Emely semakin menggerakan tubuhnya kesudut ranjang, menjauhi. Ia takut bukan hanya tentang kamar ini, ia juga takut pada pria yang menatapnya dengan tatapan yang Emely tidak tahu artinya. Semakin Davino mendekatinya, semakin ia memundurkan tubuhnya. Davino bisa melihat semua itu dan dia memilih menjaga jarak dan tidak lagi mendekati gadis yang mungkin trauma melihatnya. Davino mengacak rambutnya frustasi, dia tidak ingin Emely takut padanya. Namun kenapa seorang Davino yang digilai semua gadis, harus merasa gelisah jika gadis yang berusaha menghindarinya itu takut melihat dirinya.
"Aku mau pulang. " Akhirnya Emely berhasil mengeluarkan satu kalimat itu dari bibirnya. Davino akan mengantarnya jika pagi sudah menyingsing. Karena sekarang jam masih menunjukkan pukul 02 dini hari. Namun melihat Emely ketakutan seperti itu, terpaksa membuat Davino harus mengantarnya sekarang juga.
"Baiklah. Aku akan mengantarmu. " Davino meraih jaket miliknya dan meletakkannya diatas ranjang. "pakailah setelah itu aku akan mengantarmu. " Namun Emely hanya menggeleng, menolak tepatnya. " Jika kau tidak memakainya, aku tidak akan mengantarmu. " Sedikit ancaman membuat Emely terpaksa meraih jaket itu dan memakainya.
"Aku ingin pulang. " Ucapnya lagi.
"Ayo, aku antar pulang. " Setelah mengatakan itu, Davino keluar dari ruangan itu, turun menyusuri tangga. Dia tahu gadis itu tidak akan mau berjalan bersamaan dengannya. Jadi dia memilih mendahului gadis itu.
Melihat Davino, Emely hanya bisa mengikutinya dari belakang. Sementara itu Davino sudah menunggu Emely didalam lift dan menekan tombol paling bawah. Emely masih mematung didepan lift namun ia terpaksa masuk kedalam ruangan kecil berbentuk kotak itu, ketika Davino menyuruhnya masuk.
Begitupun didalam mobil, Emely harus semobil dengan pria brengs*k yang pernah menidurinya secara paksa, walaupun sekarang ia duduk dikursi penumpang. Davino lagi - lagi tidak mempermasalahkannya, biarlah kali ini dia berperan seperti seorang supir yang mengantar majikannya.
Andai kedua sahabatnya tahu atau melihat posisinya sekarang mungkin mereka akan tertawa sampai tenggorokan mereka keluar dari pangkalnya.
" Dimana rumahmu? " Tanya Davino yang tengah melajukan mobilnya, karena jalanan didepannya sudah terlihat sepi. Hanya satu dua kendaraan yang melintas dijalan, mengingat waktu sekarang digunakan sebagian orang untuk istrahat.
Emely tidak menyebutkan nama rumahnya, melainkan nama rumah sakit dimana ibunya dirawat.
"Kau sakit? " Satu pertanyaan yang begitu saja Davino lontarkan. Namun yang ditanya enggan menjawab.
Hening kembali tercipta, setelah satu pertanyaan dari Davino tidak dijawab Emely, laki - laki itu sudah tidak bertanya lagi.
***
Emely turun dari dalam mobil, setelah Davino berhenti tepat didepan rumah sakit Medica hospital.
"Dia bahkan tidak mengucapkan terima kasih. " Gerutu Davino melihat kearah gadis yang sudah memasuki pintu rumah sakit.
" Tapi kenapa dia kerumah sakit ini? Siapa yang sakit? Apa dia masih sakit? " Lagi - lagi berperang dengan pertanyaan - pertanyaan yang menganjal di pikirannya.
Davino memutuskan kembali ke apartemen, setelah Emely benar - benar menghilang dari jangkauan matanya.
***
"Kak Boy hari ini, aku tidak masuk yah kak. Mungkin sampai besok juga karena besok ibu harus menjalani radioterapi. " Emely menghubungi Kak Boy untuk meminta ijin. Emely sebenarnya masih takut dengan kejadian semalam. Tapi kenapa laki - laki itu membelanya. Apa tujuannya? Bukankah dia yang selalu mengatakan Emely wanita murahan. Tapi kenapa dia sampai menusuk tangan pria itu dan hendak membunuh pria itu. Emely tidak bisa menjabarkan apa yang terjadi dengan perubahan sikap Davino semalam.
Namun tetap saja, dia harus menghindari pria itu. Dia tidak ingin terlibat lagi dengan laki - laki yang sudah menodainya itu.
" Baiklah sayang, kak Boy mengijinkanmu untuk cuti beberapa hari. " Satu kalimat yang membuyarkan lamunan Emely. Dia bahkan tidak sadar, kalau dia masih berbicara dengan kak Boy diujung telpon.
***
Disinilah Davino sekarang, kantor polisi.
"Davino apa lagi yang telah kau lakukan? " Para petugas polisi dikantor itu, lansung tunduk memberi hormat. Tepatnya kepada seorang pria dengan tanda kepangkatan tiga balok berwarna emas, seorang dengan pangkat Ajun Komisaris Polisi yang baru saja masuk kedalam kantor polisi dimana Davino berada. Pria yang hampir dihabisinya semalam, ternyata melaporkannya.
"Masalah apa yang kau lakukan, sehingga paman harus turun tangan langsung. " Tanya Federick Swam yang tak lain adalah paman Davino. Federick Swam merupakan anak tertua dari keluarga Swam, namun dia menolak untuk menjadi ahli waris perusahaan Swam. Dia lebih memilih menjadi abdi negara. Awalnya Fernando Swam orangtuanya, tak lain kakek Davino sangat menolak keputusan Federick Karena biar bagaimana pun dia adalah anak tertua dalam keluarganya. Namun Federick tetap bersikeras untuk bisa menjadi anggota polisi, dan akhirnya Fernando Swam mengijinkannya dan karena kegigihannya sekarang dia diangkat menjadi AKP. Itulah mengapa perusahaan diberikan sepenuhnya pada orangtua Davino, Fransisco Swam.
"Masalah kecil paman, tolong selesaikan yah paman. Davi pergi dulu... " Setelah mengucapkan itu, Davino langsung berlari keluar kantor polisi. Pamannya hanya menggeleng kepala, melihat keponakannya. Yang bahkan main pergi saja, setelah melakukan kesalahan. Seharusnya pamannya tidak terlalu memanjakannya sejak kecil.
***
Hari ini ditemani Sisilia, Emely hendak menemui Rayhan dirumahnya. Walaupun Rayhan memutuskannya secara sepihak, namun Emely ingin mereka berpisah secara baik - baik. Emely akan menjelaskan kepada Rayhan, bahwa yang didengarnya dirumah sakit waktu itu, tidak seperti itu. Walaupun tidak merubah kenyataan, bahwa dirinya memang pernah tidur dengan seorang pria. Pria yang menidurinya secara paksa. Tapi setidaknya Rayhan harus tahu bahwa dirinya diperkosa bukan sengaja tidur dengan pria lain.
"Permisi, Rayhannya ada Bi. " Bertanya kepada bi Sumi yang Emely tahu adalah asisten rumah tangga dirumah Rayhan. Emely ingat waktu Rayhan mengajaknya kerumah ini, bi Sumi yang menawarkannya minuman. Jadi dia sudah kenal dengan bi Sumi begitupun sebaliknya.
"Eh non Emely, Masuk non. " Ajak bi Sumi. Yang tadinya membukakan pintu pagar rumah Rayhan.
"Tidak apa - apa bi, disini aja. Emely hanya mau ketemu Rayhan sebentar. "
"Loh, emang den Ray nggak pamit sama non Emely? " Emely menatap bi Sumi dengan dahi mengerut.
"Pa.. pamit kemana bi? apa ke kampus? " Emely sesekali menatap Sisilia yang sama - sama tidak mengerti ucapan bi Sumi barusan. Tapi berusaha menjawab kalau memang jam segini biasanya Rayhan pergi ke kampus.
Bi Sumi menggeleng. "Den Ray kan sudah pindah kampus non. " Emely terkejut, dia bahkan tidak tahu jika Rayhan pindah kampus.
"Pindah kemana bi? Biar Emely samperin ke kampusnya. "
"Kalau tidak salah ke london non. " Tubuh Emely seakan lemas, Sisilia berusaha menenangkan sahabatnya itu.
"Sudah berapa lama bi? " Kali ini Sisilia yang bertanya karena Emely sudah menangis dipelukannya.
"Sudah seminggu deh kayaknya non. " Jawab bi Sumi setelah tadi dia sempat mengingat.
"Baiklah bi, kalau begitu kami permisi dulu. Terima kasih atas informasinya bi. " Setelah mengatakan itu, Sisilia pun pamitan pada bi Sumi. Lalu mengajak Emely kedalam mobil dan berusaha menenangkan sahabatnya yang masih menangis itu.
"Sabar Mel. "
"Kenapa Ray tega meninggalkan aku, disaat aku butuh banget dukungannya Sil."
"Sabar Mel. Mungkin Rayhan tidak ingin membuat kamu sedih kalau dia pamitan sama kamu. " Sisilia masih berusaha menenangkan sahabatnya itu.
-------------
Mohon dukungannya yah, jangan lupa di like, koment, rate dan vote yah. Biar bisa up tiap hari...