NovelToon NovelToon
RAHASIA SURAT WASIAT

RAHASIA SURAT WASIAT

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam
Popularitas:704
Nilai: 5
Nama Author: E'Ngador Together

Dewi Wijaya meninggalkan keluarganya yang kaya raya untuk menikahi pria yang dicintainya, Budi Santoso, dan mendirikan perusahaan bersama di Bandung. Namun, kebahagiaan mereka tidak bertahan lama—Budi berselingkuh dengan sekretarisnya, Ratna, dan setelah Dewi wafat dalam keadaan mencurigakan, mereka segera menikah dan mengambil alih kendali perusahaan. Mereka bahkan membuang Ridwan, anak satu-satunya Dewi dan Budi, ke hutan saat dia berusia 14 tahun, berharap dia tidak akan pernah kembali.

Delapan tahun kemudian, Ridwan yang telah diajarkan ilmu pengobatan tradisional dan beladiri oleh seorang kakek yang menyelamatkannya, muncul di Bandung dengan satu tujuan: mengambil haknya yang dirampas. Dia membawa satu-satunya bukti yang tersisa dari ibunya—suatu bungkusan yang berisi foto lama dan petunjuk tentang sebuah surat wasiat yang disembunyikan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon E'Ngador Together, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

28. WARISAN YANG MEMBUKA KEJARINGAN

Setelah berbincang di kantin, Ridwan dan Siti berjalan bersama ke arah lift untuk kembali ke area kerja masing-masing. Saat mereka melewati lorong yang ramai dengan karyawan yang sedang kembali bekerja, seorang karyawan yang sedang berlari tergesa-gesa menabrak Ridwan dengan tidak sengaja. Dia terpental sedikit ke samping dan saat mencoba menyeimbangkan diri, tangannya menyentuh tas Siti yang terbuka—cincin warisan keluarga Wijaya yang biasanya dia sembunyikan tiba-tiba terlepas dari jari kirinya dan jatuh ke dalam tas Siti.

“Maaf, Pak! Saya sungguh tidak sengaja!” ujar karyawan tersebut dengan panik sebelum berlari pergi lagi.

Ridwan hanya mengangguk dengan senyum sopan, tidak menyadari bahwa cincinnya telah terlepas. Siti segera menutup tasnya dan berbalik ke arah Ridwan. “Anda baik-baik saja kan, mas?” tanya dia dengan suara yang penuh dengan perhatian.

“Ya, tidak apa-apa, Bu Siti,” jawab Ridwan dengan senyum lembut. “Kita semua terkadang tergesa-gesa. Mari kita lanjutkan saja.”

Setelah sampai di lantai departemen keuangan, Siti masuk ke ruangannya dan mulai membersihkan mejanya. Ketika dia membuka tasnya untuk mengambil buku catatannya, sebuah benda kecil berkilauan jatuh ke atas meja—cincin perak dengan ukiran naga dan bunga melati yang khas dari keluarga Wijaya.

Siti melihat cincin tersebut dengan mata yang melebar tidak percaya. Dia mengambilnya dengan hati-hati dan memutarnya di antara jari-jarinya, melihat setiap detail ukiran yang sudah dia kenal sejak kecil. Ukiran naga yang melambangkan kekuatan keluarga dan bunga melati yang melambangkan kebaikan hati—ini adalah cincin warisan yang hanya diberikan kepada anak-anak laki-laki dari garis utama keluarga Wijaya.

“Tidak mungkin…” bisiknya dengan suara yang penuh dengan emosi. Dia langsung mengingat momen ketika Dewi masih muda dan menunjukkan cincin tersebut kepadanya, mengatakan bahwa cincin itu akan diberikan kepada anak laki-lakinya kelak sebagai tanda bahwa dia adalah ahli waris sah keluarga dan perusahaan.

Tanpa berlama-lama, Siti mengambil tasnya dan berlari ke arah departemen keamanan untuk mencari Ridwan. Saat dia menemukan dia sedang memeriksa akses pintu di koridor utama, dia langsung mendekatinya dengan langkah yang cepat.

“Mas Ridwan!” panggilnya dengan suara yang penuh dengan kegembiraan. “Apakah Anda sedang mencari sesuatu?”

Ridwan mengangkat kepalanya dan melihat Siti dengan ekspresi yang sedikit bingung. “Ya, Bu Siti,” jawabnya dengan suara yang penuh dengan kekhawatiran. “Cincin warisan keluarga saya yang selalu saya kenakan tiba-tiba hilang. Saya tidak tahu di mana saya menyimpannya atau apakah saya telah kehilangannya.”

Siti mengeluarkan cincin tersebut dari saku jasnya dan memegangnya dengan hati-hati di hadapan Ridwan. “Apakah ini cincin yang Anda cari?” tanya dia dengan suara yang penuh dengan emosi.

Ridwan melihat cincin tersebut dengan mata yang melebar, kemudian mengambilnya dengan hati-hati dan memeriksa setiap detailnya. “Ya! Ini benar-benar cincin saya!” ujarnya dengan suara yang penuh dengan kegembiraan. “Bagaimana Anda bisa menemukannya, Bu Siti?”

“Kamu tidak sengaja memasukkannya ke dalam tas saya ketika kamu terpental tadi,” jawab Siti dengan senyum ramah. “Tapi yang lebih penting adalah—saya mengenal cincin ini dengan sangat baik. Ini adalah cincin warisan keluarga Wijaya yang hanya diberikan kepada ahli waris utama keluarga.”

Dia kemudian mengambil tangannya dan melihat cincin tersebut dengan penuh penghargaan. “Saat Kakak Dewi masih muda, dia sering menunjukkan cincin ini kepadaku,” katanya dengan suara yang penuh dengan kenangan. “Dia bilang bahwa cincin itu adalah hadiah dari kakek kita untuk ayahnya, dan akan diberikan kepada anak laki-lakinya kelak sebagai tanda bahwa dia adalah orang yang akan melanjutkan warisan keluarga dan perusahaan.”

Ridwan merasa hati-nya terasa hangat mendengar kata-kata tersebut. Dia mengenakan cincin kembali ke jari kirinya dengan hati-hati, merasakan beratnya yang akrab dan penuh dengan makna. “Ibu selalu mengatakan bahwa cincin ini akan melindungi saya dan membawa saya kembali ke keluarga yang benar,” ujarnya dengan suara yang penuh dengan rasa syukur. “Kini saya tahu bahwa kata-katanya benar.”

Pada saat itu, Pak Sudarto datang mendekat dengan wajah yang serius. “Maaf mengganggu, tapi ada kabar penting untuk Anda, mas Ridwan,” ujarnya dengan suara yang jelas. “Polisi telah melakukan penyelidikan awal dan menemukan bahwa dokumen-dokumen yang Anda berikan kepada mereka adalah asli dan sah. Mereka akan segera mengeluarkan surat perintah penangkapan untuk Budi, Ratna, dan Rio, serta untuk Dr. Herman yang terlibat dalam pembunuhan Bu Dewi.”

Ridwan dan Siti saling melihat dengan ekspresi yang penuh dengan harapan dan lega. Setelah bertahun-tahun menunggu, akhirnya keadilan akan segera datang untuk ibunya dan keluarga mereka.

“Selain itu,” lanjut Pak Sudarto dengan suara yang lebih lembut, “banyak karyawan lama yang telah mendengar berita tentang siapa Anda sebenarnya. Mereka ingin bertemu dengan Anda dan menyatakan dukungan mereka. Mereka mengatakan bahwa mereka telah menunggu lama untuk hari di mana perusahaan akan kembali ke tangan keluarga yang benar.”

Ridwan merasa mata-nya mulai berkaca-kaca dengan air mata kegembiraan. Dia tahu bahwa perjuangan belum selesai sepenuhnya—masih ada proses hukum yang panjang dan pekerjaan besar untuk mengembalikan perusahaan ke kejayaan semula. Tapi dengan dukungan dari keluarga, teman-teman baru, dan karyawan yang setia, dia merasa bahwa semuanya akan berhasil.

Siti menepuk bahu Ridwan dengan lembut. “Kita akan melakukan semua ini bersama-sama, mas,” ujarnya dengan suara yang penuh dengan tekad. “Kita akan mengembalikan perusahaan menjadi seperti yang diinginkan oleh Kakak Dewi—perusahaan yang peduli dengan masyarakat dan menggunakan ilmu pengobatan tradisional untuk membantu orang banyak.”

Ridwan mengangguk dengan tegas, melihat ke arah gedung perusahaan dengan pandangan yang penuh dengan keyakinan. Cincin di jari kirinya berkilau di bawah sinar matahari, seolah menjadi tanda bahwa warisan keluarga Wijaya akan terus hidup dan berkembang melalui dirinya. Di hatinya, dia berjanji kepada ibunya dan seluruh keluarga bahwa dia akan menjalankan tanggung jawabnya dengan sebaik-baiknya dan memastikan bahwa nama Dewi Wijaya akan selalu dikenang sebagai orang yang membawa kebaikan dan harapan bagi banyak orang.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!