NovelToon NovelToon
Apa Yang Terjadi Padaku, Kim?

Apa Yang Terjadi Padaku, Kim?

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintamanis / Mantan / Romansa / Cinta Murni
Popularitas:41
Nilai: 5
Nama Author: Chndrlv

Mereka bersama hanya sebentar, namun ingatan tentang sang mantan selalu memenuhi pikirannya, bahkan sosok mantan mampu menembus alam mimpi dengan membawa kenangan-kenangan manis ketika masa-masa sekolah dan saat mereka menjalin kasih.
Pie meneruskan hidupnya dengan teror mimpi dari sang kekasih. Apakah Pie masih mencintai sang mantan? Atau hati Pie memang hanya terpaku pada Kim?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chndrlv, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Positive vibes

"Kau sudah ke kantin?"

Pie menggeleng pelan, ia kembali menyimpan ponsel usai memberikan nama di kontak.

"Belum."

"Ayo kita ke kantin."

"Huh? Ya, ya. Ayo." Pie mengikuti Kim yang berdiri dan menuju kantin.

Tanpa Pie sadari Kim memelankan langkahnya untuk menyamakan langkah Pie, kini mereka berjalan berdampingan.

"Kau suka makanan apa, Pie?"

"Huh? Aku suka... Emm.. Kurasa semua aku suka." Pie mendongak menatap Kim yang tinggi lalu kembali menunduk. Sungguh, dirinya sangat gugup dengan Kim yang hari ini tampak keren mengenakan seragam sekolah. Benar-benar seperti orang yang berbeda!

"Bagus. Ayo pesan makanan. Kau ingin apa?"

"Emm, soto."

Kim mengangguk memesan sesuai keinginan Pie dan miliknya. Mereka duduk bersama di meja yang masih kosong.

Beberapa teman mereka menanyakan hubungan keduanya, Pie menjawab sekenanya karena Kim yang lantang menjawab mengonfirmasi hubungan mereka yang dimulai hari ini.

Sontak berita itu cepat menyebar dari mulut ke mulut. Hingga seluruh kelas tiga hampir mengetahui hal itu.

"Pie? Kau serius berpacaran dengan Kim?"

Mel yang tiba-tiba menghampiri saat jam pelajaran usai.

"Why? Apa salah?"

"Uhm, sangat cepat kau berganti." Mel terkekeh pelan.

"Kau yang membuatnya." Pie berlalu meninggalkan Mel yang berkerut dalam.

"Apa maksudnya?" Mel berpikir keras, ia tak menyadari dirinya penyebab Pie begitu.

"Pie? Kau langsung pulang?"

Kim menghampiri Pie yang baru akan keluar gerbang.

"Ya, kau?" Pie mencari tempat aman daripada ditabrak oleh para siswa yang akan keluar dari sekolah.

"Ya. Kau sendirian?"

"Bersama teman."

"Oh, kalau begitu, kita berpisah di sini?" Kim menatap Pie yang enggan menatapnya.

"Ya." Pie mengangguk pelan.

"Baiklah, sampai jumpa. Hati-hati di jalan, Pie."

"Kau juga, Kim."

Mereka berpisah di depan sekolah dengan arah yang berlawanan.

Pie bahagia, dia tak berhenti tersenyum hingga membuat teman-temannya menggoda Pie.

Hari-hari berlalu,

Pie merasa sangat bahagia bersama Kim. Aura positif Kim seakan menular pada Pie.

Walaupun mereka jarang berkomunikasi via telepon, namun ketika bertemu Kim akan memberikan perhatian penuh pada Pie, Kim sangat gentleman. Dia benar-benar seperti pacar idaman.

"Pie, kau harus makan."

Pie duduk bersama Kim yang duduk menghadap kepadanya. Benar-benar membuat Pie merasa dicintai.

"Sudah kukatakan, aku masih kenyang."

"Aku belum melihatmu makan. Ayolah."

"Aku akan makan sedikit."

"Kalau begitu, kita makan sepiring berdua. Bagaimana?"

"Huh? Tidak. Aku akan pesan sendiri."

"No. Kita makan ini dulu, jika kau merasa kurang baru pesan lagi."

"Tapi ini makananmu, Kim."

"Apa kau tak suka ini?"

"Aku belum pernah mencobanya."

"Cobalah. Kurasa kau akan menyukainya."

Pie mencoba memakan makanan milik Kim. Benar, Pie menyukainya, ternyata rasanya enak. Dirinya belum mencoba karena takut tidak sesuai ekspetasinya.

"Kau suka?"

Pie mengangguk.

"Habiskan ini."

"Huh? Lalu kau?"

"Aku akan memesan lagi." Kim tersenyum menatap Pie yang menatapnya

"Makanlah."

"Maaf, kau akan menunggu lagi."

"Tak apa. Asal kau makan, Pie." Kim mengusap pelan kepala Pie.

Dengan Kim, ada saja makanan yang Pie makan tiap hari.

Pacar kerennya itu sangat suka memberikan snack untuk Pie makan. Kim suka makan dan akan membuat Pie juga sepertinya.

"Pie, kau benar-benar bersama Kim?"

"Ya. Kenapa?"

"Dia selama ini seperti bayangan yang tak mencolok, kita tidak tau sifatnya seperti apa."

"Aku satu kelas bersamanya selama dua tahun, Fang. Aku lebih tahu dari dirimu."

"Satu kelas bertahun-tahun bukan berarti kau mengenalnya."

"Itu benar." Pie tak menyangkal dengan ucapan Fang.

Dirinya pun menganggap sama seperti Fang. Namun, hatinya tak memiliki firasat apapun terhadap Kim.

"Pie, kau pikirkan hal ini baik-baik."

"Untuk apa?"

"Aku masih ingin kembali."

"Apa maksudmu, Fang? Kau ingin kembali membuatku seperti keledai bodoh?" Pie mengerutkan keningnya.

Kini mereka sedang perjalanan pulang bersama teman-teman yang lain dari ekstrakurikuler karate.

"Aku menyesal, Pie."

"Menyesal kau bilang?"

Pie berhenti dan mendongak menatap tajam Fang yang memandangnya sendu.

"Harusnya kau berpikir sebelum menyia-nyiakan aku, Fang. Kau menggantung hubungan kita berbulan-bulan tanpa kepastian. Kau juga menyetujui jika hubungan kita berakhir. Lalu apa sekarang?"

"Pie, aku sangat menyesal."

Pie berbalik dan pergi meninggalkan Fang yang terdiam menatap punggung Pie.

"Kenapa tak membalas pesanku?" Pie menghampiri Kim yang sedang beristirahat setelah bermain.

"Hm? Kau mengirimiku pesan?"

"Ya. Kau tak membalasnya, Kim." Gumam Pie menatap sepasang sepatu yang mengusik rumput liar.

"Ponselku dipinjam oleh adikku, Setta."

Kim menatap Pie yang diam menunduk.

"Maaf, Pie. Aku tak tahu." Beginilah Kim yang jarang sekali mau membalas pesan atau menjawab telepon. Laki-laki itu lebih suka bertemu, sedangkan Pie menyukai keduanya.

"Oke. Jangan ulangi lagi."

"Aku akan meminta Setta memberitahu jika kau mengirim pesan."

"Ya, apapun lakukan demi aku, Kim."

"Iya, Sayang." Kim tersenyum gemas menatap kekasihnya yang cemberut. Kim sadar dan sangat mengetahui bahwa Pie sangat suka diperhatikan.

Pie mengangkat wajah dan mengedarkan pandangan ke lapangan yang sangat panas.

"Setelah ini kau akan bermain lagi?"

"Tidak. Ini istirahat terakhir, yang lain sudah lelah."

Pie mengangguk.

"Kau sudah ke kantin?"

"Untuk?" Pie menatap Kim

"Makan." Kim memperlihatkan gigi putihnya.

"Astaga, aku akan gendut jika terus makan, Kim."

"Memang kau tak ingin gendut?"

Pie menggeleng.

"Gendut itu jelek."

"Kau tidak jelek."

"Aku tidak mengatakannya. Tapi kau harus percaya, jika aku gendut akan jelek. Aku suka tubuhku yang seperti ini."

"Kurus?" Kim meneliti fisik Pie yang dirasa kurus dan pendek. Kim menggeleng pelan.

"Kau sangat kurus, Pie."

"Benarkah?"

"Ya."

"Kau juga." Pie melirik Kim sekilas.

"Aku tak bisa gendut." Kim mengelap keringatnya menggunakan kaos.

"Kenapa?"

"Entahlah. Aku banyak makan tapi tetap kurus."

"Ayo ke kelas." Ajak Kim seraya berdiri.

Pie mengikuti Kim dan berjalan bersama.

"Kapan ulang tahunmu?"

Kim bersandar di tiang koridor menatap Pie yang asyik main game di ponselnya.

"Pie."

Gadis itu menoleh menatap Kim yang sedang memandangnya.

"Umm.. 13 oktober. Kau?"

"Sudah lewat ya."

"Kenapa?"

"Hanya ingin melakukan seperti pasangan kekasih lain."

"Seperti apa?" Pie sudah menyimpan ponselnya, ia berdiri di depan Kim yang masih bersandar.

"Mengucapkan selamat ulang tahun tepat jam 12 malam, memberi kado."

Pie bingung ingin menjawab apa, dia memilih diam.

"Kau hari ini ekskul?"

"Ya."

"Fang masih ikut karate?"

"Ya, dia lebih dulu dariku." Awalnya Pie mengikuti ekstrakurikuler karate karena ingin dekat dengan Fang saat mereka menjalin hubungan saat kelas dua, namun hubungan mereka tak lama berakhir.

Hingga saat ini Pie masih mengikuti ekskul ini untuk menambah nilainya.

"Kalian dekat?"

"Kenapa? Kau cemburu padanya?"

"Waktunya bersamamu lebih banyak."

"Tidak. Kami hanya teman sekarang dan aku juga menjaga jarak."

Pie menenangkan Kim yang terkadang spontan mengeluarkan isi hatinya.

"Mungkin kelasku akan keluar lebih dulu. Kau ingin kutunggu?"

"Jika kau ingin pulang cepat, lakukanlah. Tapi aku lebih suka kau menungguku." Pie tersenyum menatap Kim yang juga tersenyum padanya.

"Baiklah, aku akan menunggumu, Pie." Kim menepuk-nepuk pucuk kepala Pie.

"Thank you, Kim. Aku senang."

"Apapun untukmu, Pie."

"Ayo belajar, jangan sibuk pacaran. Sudah mau ujian." Tegur pak guru yang baru keluar mengajar di kelas dua.

"Iya, Pak." Sahut Pie dan Kim malu.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!