Setelah mengalami kebutaan selama bertahun-tahun, Samira Hadid justru mendapatkan kembali penglihatannya lewat kecelakaan jatuh yang melukai kepalanya.
Ia kembali melihat dunia yang dulu terasa gelap. Namun, kebahagiaan itu tak berlangsung lama saat ia melihat suaminya memeluk wanita lain di dapur rumah mereka.
Terkepung rasa sakit dan kemarahan, Samira memutuskan untuk tetap berpura-pura buta dan mengamati semua permainan licik sang suami.
Lalu, ia mulai memutuskan pembalasan dendam. Ia bertekad untuk mengambil kembali semua yang telah suaminya rebut dan mencari kebenaran yang selama ini disembunyikan darinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hernn Khrnsa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 02
Aroma lavender menyeruak lebih dulu sebelum Samira membuka mata sepenuhnya. Aroma itu terasa hangat dan menenangkan. Tapi juga asing. Terlebih lagi pria yang berada di sampingnya itu.
Kepalanya terasa berat akibat benturan tadi. Ia bahkan kesulitan untuk bangun.
“Hati-hati, kau terluka, Sayang. Apa yang sebenarnya kau lakukan? Kenapa kau bisa tiba-tiba pingsan di dekat dapur?” tanya Arga begitu Samira duduk bersandar pada dipan.
Tatapannya tertuju ke depan, bersikap seolah-olah masih buta. Ia bisa melihat wajah suaminya sekarang, ia juga bisa melihat kedatangan Larissa yang membawa kotak berisi pertolongan pertama.
Perempuan itu tampak tak suka melihat Arga memberikan perhatian penuh padanya. Melihat ekspresi Larissa, Samira jadi tergerak untuk membuatnya cemburu.
Ia meraba-raba tempat tidur, berpura-pura mencari tangan Arga. “Kau di mana? Mendekatlah, aku sangat takut sekarang. Aku pikir … aku akan langsung mati,” kata Samira berpura-pura ketakutan.
Arga yang terbiasa bersikap manis padanya itu langsung mendekat dan bahkan memeluk Samira, mencoba menenangkan perempuan itu tanpa memedulikan Larissa di belakangnya.
“Kau sebenarnya ada di mana saat aku membutuhkanmu? Kau tidak pergi ke pelukan perempuan lain, bukan? Jangan tinggalkan aku sendirian, Arga. Aku takut kehilanganmu, hanya kau yang aku miliki di dunia ini,” kata Samira dengan wajah memelas. Tangannya memeluk Arga lebih erat hingga pria itu merasa sesak napas.
“I-iya, aku tidak akan pernah meninggalkanmu. Kau tenanglah, ya? Sekarang tolong lepaskan dulu pelukanmu dan biarkan aku mengobati lukamu dulu, oke?” pinta Arga dengan lembut.
Arga menoleh pada Larissa yang menahan kecemburuannya, tangannya terlihat mencengkeram kotak obat itu, seolah ingin menghancurkannya.
Sementara pria itu mengambil kotak obat dari tangan Larissa. Tangannya yang lain bergerak mengelus pipi Larissa sambil membisikkan sesuatu.
“Beraninya kalian mempermainkan aku,” lirih Samira. Di balik selimut, tangannya mengepal kuat, menahan bara dendam yang kian membara.
Setelahnya, Arga benar-benar mengobatinya. Membersihkan darah di pelipisnya, mengoleskan salep serta menempelkan plester di pelipisnya.
“Lukamu sepertinya tidak cukup parah, tetapi jika kau merasa tidak baik, katakan padaku, ya? Kita akan menemui dokter besok,” katanya perhatian.
Jika saja Samira masih buta, ia pasti akan memercayai sikap perhatian Arga adalah bentuk cinta, bukan sandiwara untuk mendapatkan semua harta warisannya.
Samira tersenyum, “Apa kau tidak sibuk besok? Bagaimana dengan urusan perusahaan? Semuanya baik-baik saja, kan?” tanyanya berusaha mencari tahu.
Arga mengusap pucuk kepalanya, “Tentu saja aku sibuk, tapi untukmu, aku bisa meluangkan waktu.” Arga tersenyum.
Biasanya, Samira akan merasa menjadi perempuan yang paling dicintai meski matanya mengalami kebutaan. Sebelum ya ia begitu memuja dan mencintai suaminya, tetapi kali ini ia merasa ingin menghancurkan Arga.
Samira melihat Arga berdiri dan meletakkan kotak obat itu di atas nakas. Ia melirik arlojinya sendiri dan tersenyum simpul.
“Istirahatlah lebih dulu, aku harus mengurus pekerjaan penting,” katana lembut seraya membantu samira untuk merebahkan diri sebelum akhirnya benar-benar pergi dari kamar itu.
Samira tidak benar-benar memejamkan mata, ia kembali bangun setelah Arga mematikan lampu dan mengunci pintu kamarnya.
“Kau bahkan mengunciku di rumahku sendiri. Kenapa? Apakah kau takut waktu istimewamu terganggu olehku?” gumam Samira, tersenyum getir.
Ia tak tinggal diam, mengambil kunci cadangan di dalam lacinya. Ia sengaja menyimpan kunci cadangan itu untuk berjaga-jaga. Siapa sangka, ia justru akan menggunakannya di saat seperti ini.
Rasa penasarannya membawa Samira pergi ke kamar Larissa yang terletak di sebelah ruang kerja Arga. Ia berjalan mengendap-endap layaknya pencuri di rumahnya sendiri.
Beruntungnya, pintu kamar itu tak ditutup sempurna, entah karena ceroboh atau memang sengaja dibiarkan seperti itu. Samira tak tahu, namun yang jelas, ia bisa melihat ke dalam kamar itu.
Dengan matanya sendiri, Samira melihat suaminya tengah bercumbu mesra dengan Larissa. Terlalu jelas hingga membuatnya jijik.
“Kalian … benar-benar menjijikkan, beraninya kalian berbuat dosa di rumahku,” lirih Samira. Tangannya terkepal kuat dan ia tak akan membiarkan mereka merasa senang.
“Larissa!”
Tanpa aba-aba, Samira langsung berteriak dan mendorong pintu kamar itu dengan kuat. Ia melangkah dengan hati-hati seperti ia masih buta.
Kedua orang yang sedang bercumbu itu sontak terkejut dan menghentikan aksi mereka. Keduanya menatap Samira dengan tak percaya dan jantung yang berdebar keras.
“Larissa? Kau di mana? Kau belum tidur, kan? Aku memerlukan bantuanmu,” kata Samira. Tangannya menggapai-gapai udara seolah mencari keberadaan Larissa yang jelas-jelas tengah dipeluk Arga.
“A-apa? Bagaimana wanita buta itu bisa masuk ke sini? Kau sudah mengunci kamarnya, kan?”
“Tentu saja sudah, dia pasti menggunakan kunci cadangan. Entah bagaimana dia bisa bangun. Padahal tadi sudah jelas-jelas tidur.”
Larissa langsung mendorong Arga dengan kesal.
Arga yang panik langsung bangkit dari atas tubuh Larissa dan bergegas memakai pakaiannya kembali.
“Larissa?” panggil Samira lagi hampir mendekati tempat tidur. Ia duduk tepat di samping Arga yang masih mengenakan pakaiannya.
Larissa menyahut, “I-iya, Nyonya. Ada apa kau ke kamarku? A-apakah kau membutuhkan sesuatu?”
“Apa aku mengganggu waktumu? Maafkan aku. Tapi aku tidak bisa tidur sedangkan suamiku sibuk bekerja. Aku kesepian, Larissa.” Tatapan Samira tertuju ke depan, namun ujung matanya menangkap bayangan suaminya yang keluar dengan mengendap-endap.
“T-tapi ini sudah malam, Nyonya. Anda seharusnya tidur,” kata Larissa memberi isyarat agar Arga epat pergi dari sana tanpa bersuara.
“Baiklah,” kata Samira seraya berdiri. “Oh, ya, bisakah kau membantuku untuk mencari paku? Sepertinya aku tadi tidak sengaja menjatuhkan paku di kamarmu.”
Tepat setelah Samira mengatakan itu, kaki Arga secara kebetulan menginjak paku yang saat masuk tadi sengaja Samira tebar, untuk memberi pelajaran pria yang telah berselingkuh darinya.
“Apa?! Untuk apa Anda membawa paku, Nyonya? Astaga! Orang lain bisa saja terluka, kan?!” pekik Larissa panik, ia langsung berlari ke arah Arga untuk menolongnya.
Namun, sebelum berhasil menolong Arga yang kesakitan sambil menutup mulutnya, Larissa justru juga menginjak paku itu. Ia menjerit kesakitan.
“Auw!”
Samira sontak berdiri dan menggapai-gapai udara, berpura-pura panik mencari Larissa padahal ia bisa melihat semuanya dengan begitu jelas.
“Larissa? Apa kau baik-baik saja? Ma-maaf, aku sudah ceroboh. Aku buta jadi tidak bisa berhati-hati,” katanya panik.
Sementara Larissa dan Arga terlihat kesakitan. Pria itu bahkan tengah menatap Samira dengan kesal saat ini dan Larissa sepertinya sangat jengkel.
“Lain kali berhati-hatilah, Nyonya!” kata Larissa kesal seraya berjalan terpincang-pincang kembali ke sisi tempat tidurnya.
Sementara itu, Arga memilih pergi dari sana secepat mungkin dengan kaki yang berdarah dan rasa kesal karena tak berhasil melakukan apa yang diinginkannya.
Samira tersenyum tipis, “Ini baru permulaan dariku. Untuk seterusnya, kau akan lihat pembalasanku,” kata Samira dalam hati.