NovelToon NovelToon
Darah Naga Dan Cahaya Bulan

Darah Naga Dan Cahaya Bulan

Status: sedang berlangsung
Genre:Perperangan / Kutukan / Fantasi Timur / Fantasi Wanita / Demon Slayer / Cinta Istana/Kuno
Popularitas:54
Nilai: 5
Nama Author: tanty rahayu bahari

Novel ini menceritakan kisah Putri Mahkota Lyra ael Alar dari Kerajaan Elara, seorang penyihir Moon Magic (Sihir Bulan) yang kuat namun terikat oleh sebuah misteri kuno. Di tengah ancaman perang dari Kerajaan Utara Drakonia, Lyra dipaksa menjadi alat politik melalui pernikahan damai. Ironisnya, ia menemukan bahwa kutukan keluarga kuno menyatakan ia ditakdirkan untuk menghancurkan kerajaannya sendiri pada ulang tahun ke-25, kecuali ia menikah dengan "Darah Naga" yang murni.
​Calon suaminya adalah Pangeran Kaelen Varrus, Pangeran Perang Drakonia, seorang Shadow Wyrm (Naga Bayangan) yang dingin, sinis, dan tertutup, yang percaya bahwa emosi adalah kelemahan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon tanty rahayu bahari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 11: Sarana Naga

​Jika Solaria adalah sebuah simfoni cahaya dan marmer putih, maka Benteng Obsidian adalah sebuah geraman kuno yang terbuat dari batu dan api. Kereta kuda mereka akhirnya melewati gerbang raksasa yang dipahat langsung dari kaki gunung. Benteng itu tidak dibangun di atas tanah; ia adalah bagian dari gunung itu sendiri, sebuah labirin arsitektur gotik yang menjulang tinggi ke langit yang selalu mendung, dengan menara-menara yang meruncing seperti taring naga yang menantang surga.

​Ia merasa kerdil dan terintimidasi. Saat ia melangkah keluar dari kereta, udara dingin Obsidiana yang murni langsung menyerang paru-parunya. Namun, bukan hanya suhu yang membuatnya menggigil, melainkan tatapan ribuan mata yang mengawasinya dari balik celah-celah jendela sempit dan balkon tinggi. Penduduk Obsidiana—ras naga dalam wujud manusia—berdiri dengan diam, kulit mereka yang pucat dan mata mereka yang berkilat aneh menciptakan suasana yang mencekam. Ia merasa seperti seekor domba yang baru saja memasuki sarang serigala, namun ia memaksakan dagunya untuk tetap terangkat.

​"Selamat datang di Sarana Naga, Aethela," suara Valerius terdengar di belakangnya. Pria itu kini telah kembali ke wujud manusianya sepenuhnya, mengenakan zirah hitam yang mencerminkan statusnya sebagai Pangeran Perang.

​Aethela menoleh, menatap jajaran anak tangga batu hitam yang tak terhitung jumlahnya menuju pintu masuk utama. "Tempat ini... tidak terlihat seperti tempat tinggal. Ini adalah sebuah benteng pertahanan."

​"Bagi kami, keduanya adalah hal yang sama," jawab Valerius datar. "Di Utara, keamanan adalah kemewahan tertinggi."

​Saat mereka mulai menaiki anak tangga, Aethela merasakan beban berat dari pengucilan. Para pelayan yang mereka lewati tidak membungkuk dengan hormat seperti di Solaria; mereka hanya berdiri kaku, bibir mereka terkatup rapat, dan tangan mereka tersembunyi di balik jubah abu-abu mereka. Tidak ada bunga, tidak ada musik penyambutan. Hanya suara angin yang melolong di antara celah-celah batu.

​​Valerius berjalan di samping Aethela, menjaga jarak yang cukup dekat agar ia bisa menangkap wanita itu jika ia goyah karena kelelahan pasca-longsor, namun cukup jauh agar tidak terlihat terlalu "lunak" di depan rakyatnya.

​Ia merasakan ketegangan politik yang mendidih. Ia tahu bahwa kedatangan Aethela tidak diterima dengan tangan terbuka oleh Dewan Penasihat atau faksi naga tradisional. Baginya, Aethela adalah kunci keselamatan, namun bagi mereka, Aethela adalah "darah lemah" yang akan mencemari garis keturunan murni mereka.

​Ia melirik ke arah Aethela. Wanita itu tampak sangat kecil di tengah arsitektur Obsidiana yang masif, namun cara ia melangkah—mantap dan tanpa keraguan—membuat Valerius merasa bangga secara rahasia.

​"Dengarkan aku," bisik Valerius saat mereka mencapai pintu masuk aula besar. "Di dalam sana, kau akan bertemu dengan Ayahku, Sang Raja Abadi, dan Dewan Penasihat. Mereka akan mencoba membedahmu dengan kata-kata. Jangan tunjukkan ketakutanmu. Di sini, rasa takut dianggap sebagai undangan untuk memangsa."

​Aethela meliriknya, matanya yang ungu berkilat dengan sedikit rasa terima kasih yang tersembunyi. "Aku sudah menghadapi ksatria yang ingin membunuhku tadi pagi, Valerius. Menurutmu, apakah beberapa tetua yang pemarah bisa membuatku gemetar?"

​Valerius tidak bisa menahan senyum tipis di sudut bibirnya. "Bagus. Simpan api itu."

​Pintu aula besar yang terbuat dari kayu ek kuno dan besi hitam terbuka dengan dentuman berat. Di ujung aula yang remang-remang, di atas takhta yang terbuat dari tulang naga purba, duduk Raja Obsidiana.

​Aula itu sangat luas, dengan langit-langit yang begitu tinggi hingga tertutup oleh asap dari perapian raksasa yang menyala dengan api berwarna biru gelap. Bau belerang, logam, dan aroma kuno yang sulit dijelaskan memenuhi indra penciumannya.

​Raja Malakor—ayah Valerius—tampak seperti gunung yang tertutup salju. Rambutnya putih panjang, dan matanya adalah emas yang begitu redup hingga terlihat seperti tembaga tua. Kehadirannya memancarkan kekuatan yang begitu besar hingga Aethela merasa sihir bulannya bergetar secara naluriah, mencoba membentuk perisai di sekeliling tubuhnya.

​"Jadi," suara Raja Malakor menggelegar, bergema di seluruh ruangan. "Inilah Putri Bulan yang dijanjikan. Gadis yang dikirim Solaria untuk memadamkan api kita yang sekarat."

​Ia merasakan hinaan dalam suara Raja. Ia merasa seperti objek percobaan, bukan seorang manusia yang baru saja mempertaruhkan nyawa di pegunungan untuk menyelamatkan rombongan Pangeran mereka.

​"Namaku adalah Aethela Vespera, Yang Mulia," sahut Aethela, suaranya jernih dan berwibawa, memecah keheningan aula. "Dan aku tidak datang untuk memadamkan apa pun. Aku datang untuk memastikan bahwa perjanjian yang ditandatangani dengan darah kedua kerajaan kita tidak berakhir dengan sia-sia."

​Beberapa anggota Dewan di sisi takhta berbisik-bisik. Seorang pria tua dengan mata satu yang menakutkan melangkah maju. "Bicara yang sangat berani untuk seorang manusia yang bahkan tidak bisa bertahan hidup satu malam di puncak gunung tanpa bantuan Pangeran kami."

​"Manusia ini baru saja membelah longsoran salju yang seharusnya mengubur Pangeranmu, Tetua Krow," sela Valerius, suaranya tajam dan penuh peringatan.

​Keheningan dingin kembali jatuh. Valerius berdiri di depan Aethela, secara fisik menghalangi tatapan tajam para tetua.

​Ia merasa terbagi. Di satu sisi, ia benci karena harus dilindungi. Di sisi lain, ia melihat bagaimana Valerius mempertaruhkan kedudukannya di depan ayahnya sendiri demi dirinya. Ini adalah bentuk perlindungan yang berbeda dari yang ia dapatkan di Solaria. Di sini, perlindungan berarti pengakuan atas kekuatannya.

​"Berikan dia kamar di Menara Barat," perintah Raja Malakor akhirnya. "Dan pastikan dia tidak berkeliaran tanpa pengawasan. Kita akan melihat dalam satu minggu, apakah sihir bulannya benar-benar mampu beresonansi dengan jantung gunung kita, atau apakah dia hanyalah beban lain yang dikirim musuh untuk kita beri makan."

​Aethela dibawa menuju kamarnya oleh seorang pelayan yang bisu. Menara Barat adalah bagian tertinggi dari benteng, tempat angin menderu paling keras. Kamarnya luas, namun dingin dan kosong. Tidak ada tirai sutra, tidak ada kasur bulu angsa. Hanya ada tempat tidur batu yang dilapisi kulit binatang tebal dan sebuah meja kayu kasar.

​Saat pelayan itu pergi dan mengunci pintu dari luar—sebuah tindakan yang membuat Aethela menyadari bahwa ia benar-benar seorang tawanan berkedok pengantin—ia berjalan menuju jendela yang sempit.

​Dari sini, ia bisa melihat seluruh lembah Obsidiana yang gelap. Di kejauhan, gunung-gunung berapi mengeluarkan asap tipis, menciptakan cahaya kemerahan di cakrawala malam. Ia sendirian di sarang naga. Tidak ada teman, tidak ada pelayan setia, dan suaminya adalah seorang pria yang mencintainya hanya sebagai sebuah solusi sihir.

​Ia duduk di tepi tempat tidur batu, memeluk dirinya sendiri. Untuk pertama kalinya, ia membiarkan satu tetes air mata jatuh. Bukan karena rasa takut, tapi karena rasa kesepian yang begitu pekat. Ia mengeluarkan jimat bulan kecil dari balik bajunya dan menggenggamnya erat.

​"Aku akan bertahan," bisiknya pada kegelapan. "Aku akan membuat gunung ini tunduk pada bulanku, atau aku akan meruntuhkannya bersama keberadaanku."

​Di luar pintu, ia bisa merasakan kehadiran seseorang yang berdiri diam—sebuah bayangan yang akrab. Valerius tidak pergi. Pria itu berjaga di sana, sebuah fakta yang secara aneh memberikan sedikit kehangatan di tengah malam yang paling beku dalam hidup Aethela.

...****************...

Bersambung....

Terima kasih telah membaca📖

Jangan lupa bantu like komen dan share❣️

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!