NovelToon NovelToon
Aku Menyerah!

Aku Menyerah!

Status: sedang berlangsung
Genre:Wanita Karir / Pelakor jahat / Penyesalan Suami / CEO / Selingkuh / Dijodohkan Orang Tua
Popularitas:48.9k
Nilai: 5
Nama Author: Brilliante Brillia

Ayra menjalani pernikahan yang tidak pernah benar-benar ia inginkan. Menikah karena perjodohan, ia berusaha menjalani perannya sebagai istri dengan sebaik mungkin. Dan kehamilan yang datang kemudian, justru membuatnya berusaha lebih kuat, meski pernikahan itu perlahan menunjukkan sisi gelapnya.

Saat mengetahui Rayyan mendua, Ayra tidak mendapat pembelaan apa pun. Suaminya justru lebih memilih wanita itu dibandingkan dirinya yang sedang mengandung. Tekanan batin yang berat membuat Ayra mengalami keguguran. Kehilangan anaknya menjadi pukulan terbesar dalam hidupnya.

Dikhianati, disudutkan, dan tidak lagi dihargai, Ayra akhirnya sampai pada titik lelah. Ia menyerah, bukan karena kalah, tetapi karena tak ingin menyia-nyiakan hidupnya untuk bertahan dalam hubungan toxic.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Brilliante Brillia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Melepas Rayyan

"Ada apa, Nak? Apa yang ingin kamu bicarakan?" tanya Herman setelah mereka berdua selesai makan siang.

Ayra menghela napas panjang. Sejenak ia mengumpulkan udara sebanyak-banyaknya karena tiba-tiba merasakan oksigen di sekitarnya menipis. Napasnya terasa sesak.

"Bapak pasti mengenal wanita yang tadi ada di sini, kan?" tanyanya pelan. Kedua bening matanya menatap wajah Herman tak berkedip. Menunggu laki-laki yang jadi mertuanya itu menjawab. Tapi setelah beberapa saat, hanya keheningan yang menyelimuti mereka.

"Bapak juga tahu, kan, kalau sebelum Mas Rayyan menikahi Ayra, dia sudah memiliki hubungan dengan wanita itu?"

Herman semakin gundah. Alih-alih menjawab, ia malah meraih ponselnya yang ada di meja dan pura-pura memeriksanya.

"Kenapa, Pak? Kenapa Bapak lakukan ini? Bapak tidak tahu bagaimana Ayra menjalani rumah tangga ini." Suara Ayra bergetar. Samar Herman mendengar suara isakan halus yang ditahan.

Akhirnya ia mengangkat kepala dan menatap memantunya penuh dengan perasaan bersalah.

"Maafkan Bapak, Nak." Hanya itu yang keluar dari mulut Herman.

"Disaat Ayra berusaha mati-matian untuk mencintai Mas Rayyan, apa yang Ayra dapatkan? Pengkhianatan! Penghinaan yang hampir merusak mental Ayra. Dan yang terparah... Ayra harus kehilangan janin, Pak."

Tangis Ayra akhirnya pecah. Bak air bah yang tak bisa dibendung lagi. Bahunya bergetar hebat. Ia menunduk, jemarinya saling mencengkeram seolah sedang menahan tubuhnya supaya tidak sampai rubuh.

“Janin itu… satu-satunya yang Ayra yakini bisa menumbuhkan perasaan cinta di antara kami,” suaranya serak, nyaris tak terdengar. “Dan Ayra pikir, jika Ayra cukup sabar, cukup mengerti, cukup mengalah… semuanya akan berubah. Tapi ternyata tidak.”

Herman tercekat. Dadanya terasa sesak. Ia melihat menantunya begitu tersiksa sudah memendam luka batin yang ditorehkan putranya.

"Ayra pikir, Mas Rayyan bersikap dingin karena ia masih beradaptasi dengan pernikahan tanpa cinta. Tapi ternyata diam-diam ia masih menjalin cinta dengan kekasihnya yang tak pernah benar-benar ia putuskan."

Ayra mengusap air mata kasar, tapi isak itu tak juga berhenti.

“Bahkan disaat calon ikatan batin kami harus gugur, Mas Rayyan lebih memilih menutup hati nuraninya. Terang-terangan ia mengatakan kalau ia lebih memilih kembali pada wanita itu."

Ayra mendongak. Matanya merah, sembab, dan menatap mertuanya penuh luka.

Herman menunduk. Rahangnya mengeras, matanya berkaca-kaca. Rasa bersalah itu menekan dadanya begitu kuat.

“Setiap hari Ayra bertanya ke diri sendiri,” Ayra tersenyum pahit. “Apa Ayra istri yang buruk? Apa Ayra pantas diperlakukan seperti ini?”

Ia menarik napas dalam-dalam, seolah kalimat berikutnya membutuhkan seluruh keberaniannya.

“Ayra lelah, Pak…” suaranya bergetar hebat. “Ayra sudah terlalu lelah untuk berjuang sendirian.”

Herman mengangkat kepala cepat.

“Nak...”

“Bapak,” Ayra memotong dengan suara sangat pelan, tapi tegas. Ia menatap Herman lurus. Kali ini tanpa air mata. Hanya keputusasaan yang menyiksa batinnya.

“Ayra bukan ingin menyalahkan Bapak. Ayra juga tidak meminta pembelaan dari Bapak.”

Ia berhenti sejenak, menelan ludah dengan susah payah.

“Ayra hanya ingin meminta izin…”

Jantung Herman seakan berhenti berdetak.

“Izin untuk melepaskan Mas Rayyan. Ayra menyerah! Tapi bukan karena kalah, tapi Ayra ingin melanjutkan hidup yang normal, tanpa tekanan batin.”

Seluruh aliran darah Herman terasa membeku. Detak jantungnya terdengar lebih keras, bersahutan dengan detak jam dinding yang terdengar nyaring di antara keheningan yang menyesakkan.

“Ayra takut, Pak,” lanjutnya jujur. “Kalau Ayra bertahan lebih lama, yang hancur bukan cuma pernikahan ini… tapi batin Ayra juga.”

Herman memejamkan mata. Napasnya berat. Perlahan, ia bangkit dari kursinya dan mendekat. Tangannya gemetar saat diletakkan di pundak Ayra.

“Bapak gagal,” suaranya parau. “Bapak sudah gagal mendidik Rayyan menjadi lelaki terhormat yang memiliki rasa tanggung jawab. Dan Ayra… yang harus menanggung akibatnya.”

Air mata Herman akhirnya jatuh.

“Kalau melepaskan Rayyan adalah satu-satunya cara supaya Ayra bisa bernapas lagi,” ia terdiam sejenak, menahan sesak di dadanya. “Maka Bapak… mengizinkan.”

Ayra terisak. Bukan karena memendam kesedihan lagi. Tapi kini ia merasa lega karena akhirnya ada seseorang yang mengakui bahwa lukanya nyata.

Ia menunduk, mencium tangan mertuanya dengan tubuh gemetar.

“Terima kasih, Pak… karena akhirnya ada yang melihat Ayra.”

"Bapak yang harus minta maaf. Bagaimana kecewanya orang tuamu di sana. Bagaimana juga Bapak mempertanggungjawabkan amanat yang diberikan ibumu untuk terakhir kalinya."

Ayra menggeleng kuat. "Ayra sudah tidak mempermasalahkan itu lagi. Ayra sudah ikhlas dengan apa yang terjadi. Ayra hanya mohon doanya dari Bapak supaya kelak bisa menjalani hidup ini lebih baik lagi."

Secara refleks Herman memeluk menantunya, seakan Ayra adalah putri kandungnya. Tapi mereka tak menyadari, ada hati jahat yang memanfaatkan keadaan mereka. Yang kelak akan menjadi fitnah keji dari orang yang tidak bertanggung jawab.

***

Zavian berdiri di depan sebuah cermin besar, yang memantulkan sosok dirinya. Tubuh tinggi menjulang dengan rahang tegas, hidung mancung sempurna dan sorot mata tajam. Memancarkan karisma alami. Wajah tampannya memiliki pahatan yang nyaris sempurna, dipadu garis-garis maskulin yang membuatnya tampak dewasa dan berwibawa. Setiap gerakan sekecil apapun yang ia lakukan, mulai dari membetulkan kerah kemeja hingga mengangkat pandangan ke cermin, terkesan tenang namun penuh daya tarik. Aura percaya diri yang melekat padanya seolah berbicara tanpa kata, mampu membuat siapa pun, terutama para wanita, tanpa sadar menahan napas dan merasa meleleh hanya dengan satu lirikan darinya.

Tapi sudah lebih dari dua tahun, hati laki-laki itu merasa hampa, semenjak kepergian sang istri ke haribaan Yang Maha Kuasa.

Biasanya setiap pagi, Meutia lah yang selalu mempersiapkan segalanya. Sarapan hingga pakaian yang akan dipakainya ke kantor. Tapi kini...

Zavian menghela napas, mengusir rasa sesak yang memenuhi dadanya.

"Semoga kamu dan anak kita dalam kandunganmu, tenang di sisiNya." Bisiknya lirih.

Bayangan mendiang sang istri yang tengah hamil empat bulan saat itu, ketika Tuhan memanggilnya dalam kecelakaan tragis, terasa masih menggetarkan jiwanya.

"Wow... Papa kelen banget..."Tiba-tiba suara cadel dari bocah empat tahun membuyarkan lamunannya. Anak itu sudah berdiri di sampingnya dengan kepala mendongak ke atas.

"Papa mau jemput Tante cantik kan?" Tanya Kenzie sambil menatap sang ayah dengan mata polosnya.

"Papa mau ke kantor, sayang. Kenzie di sini sama suster dan Oma, ya..."

Bibir mungil itu sedikit melengkung ke bawah.

"Telus kapan kita ketemu Tante cantik lagi, Pa? Aku mau lihat dede bayinya, udah kelual belum dali pelut Tante cantik." Ujarnya mulai merengek.

"Oke, nanti kalau sudah ada waktu senggang, Papa janji kita ketemu sama Tante Ayra, ya..."

Kenzie tersenyum, lalu mengangguk antusias.

"Sekarang kamu sarapan dulu. Makan yang banyak biar cepat besar." Kata Zavian sambil mengangkat anak itu, lalu memanggulnya seperti karung beras. Sementara anak itu tergelak sambil menggoyangkan kan kakinya.

"Opa... tolongin aku Opa... aku mau ditulik..." Teriak Kenzie saat mereka masuk ke ruang makan dan melihat Willy, sang Opa, tengah menikmati sarapannya.

Lelaki karismatik itu terkekeh melihat tingkah lucu sang cucu. Dia dan Euginia istrinya, merasa bahagia semenjak Zavian dan Kenzie kembali ke Indonesia dan memilih tinggal bersama mereka.

Suasana di meja makan yang biasanya sunyi, kini selalu penuh dengan celoteh Kenzie yang tak ada habisnya. Sejak kepulangan mereka ke Indonesia, rumah ini kembali memiliki "nyawa".

"Opa! Tadi Papa janji mau ajak aku ketemu lagi sama Tante cantik!" seru Kenzie begitu bokongnya mendarat di kursi makan. Ia langsung menyambar sendoknya dengan semangat.

Willy yang hendak menyuap omelet ke mulutnya, menghentikan gerakan tangannya, lalu melirik ke arah Zavian dengan kening berkerut.

"Tante cantik? Siapa itu, Zavian?"

Zavian yang baru saja menarik kursi di sebelah anaknya tampak sedikit salah tingkah. Ia tidak menyangka Kenzie akan langsung "melapor" pada Opanya.

"Hanya teman, Pa. Namanya Ayra. Waktu di supermarket Kenzie tanpa sengaja hampir menabraknya, padahal dia sedang hamil." jawab Zavian, mencoba terdengar sedatar mungkin.

Willy tidak membalas lagi, namun ia bertukar tatap dengan istrinya yang baru datang membawa teko kopi. Ada senyum penuh arti yang tersirat di wajah Willy.

"Mommy dan Papi rencananya juga mau kenalin kamu sama anak temen Papi. Orangnya cantik dan baik. Dia juga keibuan, pasti cocok sama Kenzie." Kata Euginia hati-hati. Setiap mereka membicarakan seorang gadis, Zavian tak pernah sekalipun antusias. Bahkan cenderung menolak. Tapi Willy merasa, Kenzie butuh sosok ibu.

"Sudahlah Mom, Pih, aku sekarang sedang fokus dulu untuk membangun karier di sini. Semoga perusahaan Papi yang nanti akan aku pegang bisa lebih maju dari sebelumnya." Ucap Zavian, seperti biasa berkata seperti itu untuk menolak permintaan kedua orangtuanya secara halus.

Lelaki tampan itu lebih tertarik pada kopinya, daripada membicarakan seorang perempuan. Tapi pikiran Zavian malah melayang pada sosok Ayra. Mungkinkah janji pada anaknya akan terkabul, sementara Ayra sudah bersuami.

1
Ma Em
Thor jgn sampai Marissa mengganggu ketentraman rumah tangga Zavian dgn Ayra yg baru saja dimulai , jauhkan godaan atau kejahatan orang2 yg iri pada kebahagiaan Ayra .
Dini Yulianti
ooo ternyata hanya anak pungut to
Yul Kin
lanjut kak
Anonymous
ENTAH KENAPA SAYA INGIN MEMBUNUH ORANG INI SI LITZHA
Ummi Rafie
jangan² Monalisa yg maksa masuk di pernikahan ayra
Dini Yulianti
akhirnya sah jg
Cookies
lanjut thor
Dini Yulianti
musuh terberat ayra hanya si sasa marisa, psyco dia, kalo semacam elly sama lizta mah hanya kelas teri
Ramlah Ibrahim
kna sambungan nya kenpa tiba2 kerlur cerita lain
Ma Em
Bu Elly sok soan mau manas2 in Zavian agar TDK jadi menikah dgn Ayra kalau Zavian tdk dengar Rayyan ngancam mau keluar dari perusahaan Zavian lah emang kalian siapa samapi Zavian mau mendengar omongan Rayyan dasar orang tdk tau malu , semoga Ayra bahagia bersama Zavian .
Yul Kin
pecat Rayyan dan lita kak, gedeg aku sama mereka, klg mak Lampir jg
Ma Em
Elly ,Anika dan Serly sombong didepan nyonya Euginia , Elly kamu itu tdk ada apapa nya kalau dibandingkan dgn nyonya Euginia dasar norak pake perhiasan kayak toko emas berjalan , Elly ,Ayra itu bkn jadi pengasuh tapi calon istri orang kaya .
Dini Yulianti
nah gitu ay jangan egois, zavian jadi leluasa lindungin kamu, kuliah masih bisa jalan meski udh nikah, zavian beda sama rayyan
Anonymous
Pantau terus si marissa van.. Gunakan semua aksea yg dikau punya
Anonymous
Please zavian.. Jgn butek2 banget... Gunakan kekuasaan keluarga loe..
Ma Em
Demi keamanan dan perlindungan penuh dari Zavian Ayra tentu hrs mau cepat menikah dgn Zavian jgn ditunda lagi karena Marissa sangat berbahaya .
Ma Em
Zavian seorang pengusaha yg berkuasa masa kalah oleh kelicikan Marissa .
Anonymous
AWOKAWOK dibutuhkan Spy seperti Loid
Ma Em
Rayyan sekarang Ayra berada diatas mu dan sebentar lagi akan menjadi istri bosmu , jgn sampai kamu cari masalah dgn Ayra kalau Elzian tau kamu pasti dipecat Rayyan .
Retno Harningsih
lanjut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!