Namanya Bunga, gadis remaja yang hidup bergelimang harta dengan apa yang dia dapatkan. Jika kalian mengira Bunga salah satu anak dari orang kaya raya atau pesohor di tanah air, maka itu salah besar. Bunga gadis cantik yang masih duduk di bangku SMA dengan segudang cerita malamnya.
Cantik dan sexy itu yang tersemat jika kalian melihat seorang Bunga. Gadis yang selalu menjadi incaran teman-teman sekolahnya. Namun tidak satupun yang bisa dekat dengannya, Bunga teralalu cuek dan penutup. Sampai pada akhirnya Bian datang dan membawa sejuta cerita untuknya, merubah Bunga secara perlahan, namun ditengah-tengah hubungan mereka masalah cukup serius datang dan membuat keduanya sama-sama saling membenci namun masih menyimpan rasa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Riria Raffasya Alfharizqi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mabuk
Mobil Bunga terus melaju membelah jalanan kota. Niatnya jelas saja untuk pulang, sebelumnya dia sudah ada janji dengan Om Praja tadi, tetapi karena adanya Bian membuatnya membatalkan janji yang sudah ditetapkan.
Salah satu tangan dari gadis itu memegang ponsel seraya mengirim pesan, sedang yang satunya masih setia pada setir mobil. Bian melirik sekilas Bunga yang dengan santainya bertindak demikian. Cowok itu tampak tidak suka melihat Bunga yang sesekali masih fokus dengan ponsel digenggamannya.
"Stop!" suruh Bian dengan nada tegas. Reflek Bunga menghentikan kendaraannya, gadis itu menoleh ke ara Bian yang sudah bersiap keluar.
"Bagus deh," gumam Bunga mengira jika Bian akan turun dan pergi dari mobilnya. Tetapi perkiraannya itu salah besar, terbukti dari saat ini Bian yang sudah membuka pintu mobil.
Gadis itu menatap Bian heran, dia bingung dengan apa yang akan dilakukan oleh cowok yang akhir-akhir ibi bertindak aneh dengannya.
"Geser!" suruh Bian membuat Bunga mengernyit.
"Apaan sih? ogah!" jawab Bunga tidak menurut.
Melihat Bunga yang sudah pasti berontak dengan keinginannya, membuat Bian berniat untuk membopong gadis itu untuk bergeser dari kursinya. Sontak saja Bunga reflek memukul Bian saat tangan itu mulai terasa disekitar bawah paha mulus itu. Apa lagi seragam yang Bunga kenakan memang terbilang pendek.
"Gue bisa sendiri," final Bunga pasrah. Dan dijawab Bian dengan senyum penuh kemenangan.
Setelah Bunga berhasil berpindah tempat duduk. Bian segera masuk dan menjalankan mobil milik gadis itu lagi. Kali ini sudah bisa Bunga tebak, cowok itu tidak akan langsung membawa mereka menuju ke apartemen untuk lulang, tetapi mungkin ke suatu tempat yang tidak bisa Bunga tebak. Bian selalu berhasil membuat kejutan kecil dari tindakannya yang sebenarnya tidak Bunga inginkan.
Mata Bunga mengernyit ketika sadar mereka telah sampai di parkiran apartemen. Gadis itu menoleh ke arah Bian seakan tidak percaya.
"Kenapa?" tanya Bian menatap wajah Bunga yang terheran-heran. Kemudian cowok itu tertawa hambar tahu akan pemikiran tabu dari seorang Bunga.
"Oke gue tahu." Bian mengangguk kan kepalanya.
Dia kembali menatap Bunga. "Lo pengen gue bawa ke-"
"Turun!" sela Bunga sebelum Bian berhasil melanjutkan ucapannya.
Bunga menoleh ke arah Bian. "Udah sampai kan? turun lo dari mobil gue!" perintah Bunga lagi.
Bian mengangguk. Lalu bersiap untuk turun, tetapi sebelum benar-benar turun Bian menoleh ke arah Bunga kembali.
"Jangan berniat untuk mamakai baju kurang bahan nanti malam, kalau nggak pengen gue nakat!" ucap Bian yang lebih terdengar seperti ancaman.
Bunga tersenyum seraya menggeleng, gadis itu tidak mengidahkan apa yang Bian katakan tadi. Meski terdengar serius dan bahkan seperti ancaman, tetapi Bunga sama sekali tidak takut, memangnya siapa Bian? cowok yang selalu bertindak aneh terhadapnya.
"Jangan berlagak seakan lo cowok gue!" teriak Bunga yang masih dapat didengar oleh Bian. Tetapi tidak cowok itu tanggapi lagi.
Bian tersenyum dengan langkahnya yang pasti. "Lihat saja nanti, ucapan lo bumerang untuk lo sendiri!" gumam Bian penuh dengan keinginan yang kuat.
Sampai di apartemen mewah miliknya. Bunga langsung merebahkan tubuhnya di atas ranjang, gadis itu menatap langit-langit seraya mengingat apa saja yang sudah pernah ia lakukan bersama dengan Om Praja. Dari awal mereka bertemu, Bunga yang masih hidup disebuah kontrakan. Lalu kembali bertemu dengan menjadikan Bunga sebagai suggar baby dari Om Praja sendiri, sampai Bunga dititik ini sekarang, hidup bergelimang harta untuk membuat lelaki paruh itu senang karenanya.
Tetapi seketika senyum itu hilang saat tiba-tiba Bian datang ditengah lamunannya. Sekelabat tentang tindakan aneh dari cowok itu datang, dan terakhir ialah dimana Bian dan dirinya bericiuman mesra di danau buatan vila dan juga lift tadi pagi.
"Apaan sih!" Bunga menggelengkan kepalanya. Menolak pikirannya yang tiba-tiba aneh seperti sikap Bian. Gadis itu bangkit berniat untuk ke kamar mandi. Munculnya Bian tadi di dalam lamunannya membuat mood nya tidak baik. Apa lagi yang muncul tadi adegan dirinya dan Bian ketika berciuman. Enak saja Bunga tidak suka, itu sama saja dia menikmati apa yang dilakukan oleh cowok itu.
Sementara di apartemen lain. Bian sedang membanting gitar yang pernah diberikan oleh Bundanya. Kado beberapa tahun lalu sebelum keluarga itu hancur karena orang ketiga. Sampai saat ini ia tidak percaya jika yang menghianati keluarga kecilnya itu ialah Ibundanya sendiri. Bian masih menyalahkan Ayahnya yang pada saat itu tidak pernah ada untuk keluarganya. Ayahnya selalu sibuk dengan kerjaannya sampai membuat keluarga yang Bian inginkan utuh itu hancur, sepertu hati Bian, hancur berkerping dan tidak tersisa, yang ada hanya kebencian, kebencian terhadap Ayahnya yang ia salahkan.
Cowok itu tiba-tiba meradang saat Ayahnya mengirim pesan dan memberitahu jika Ibundanya sedang berkunjung dengan suami barunya di hotel milik mereka. Bian tetap menolak. Menolak dengan kebenaran yang sebenarnya.
Di matanya, Ayahnya lah tetap yang salah, sampai Ibundanya pergi dan lebih memilih untuk hidup bersama laki-laki lain.
"Arrghhh!!!" tangannya meraih vas Bunga kecil lalu dibantingnya dengan cukup keras.
"Ini salah lo!" teriaknya seakan Ayahnya berada di depannya.
Bayangan dimana keluarganya dulu hidup rukun dan harmonis telrintas dipikirannya. Dimana mereka bisa menghabiskan waktu bersama.
"Miris!" Bian kembali melampiaskan kemarahannya dengan cara menendang meja. Lalu ambruk di sofa dengan perasaan yang masih berkecamuk. Ekor matanya melirik ke arah lemari sedang di dekat tangga.
Pukul 9 malam. Bunga sudah bersiap dengan gaun sexy nya, seperti biasa ia akan bekerja untuk mengumpulkan pundi pundi uang untuk hidupnya di masa mendatanga, masa dimana mungkin Bunga akan benar-benar pergi dari dunia malamnya.
Meski ia tidak memiliki cita-cita setinggi langit, tapi hidup dengan layak nantinya masih menjadi keinginannya, selagi masih muda dan bisa mendatangkan uang banyak, akan gadis itu lakukan dengan sepenuh hati.
Bunga memandangi pantulan dirinya di depan cermin. Memang benar apa yang orang-orang diluar sana katakan tentangnya, selain wajahnya yang cantik tubuhnya juga sangat indah, Bunga sendiri mengakui itu.
"Ck, pantes sih tuh cowok caper," gumam Bunga ditujukan untuk Bian.
Detik berikutnya Bunga teringat dengan ancaman Bian tadi. Jika dia masih berani memakai gaun sexy nya maka akan ada tindakan dari cowok itu.
"Siapa lo?" gumam Bunga menentang kata-kata Bian.Tetapi tangannya meraih jubah untuk menutupi tubuhnya yang terbalut gaun sexy nya.
Bunga tidak menuruti apa yang Bian katakan. Tetapi juga tidak sepenuhnya mengiyakan. Masih terlalu abu-abu untuk diperjelas.
Jemari lentiknya meraih ponsel dan memasukannya ke dalam tas. Tas yang jika dilihat kisaran harganya mencapai puluhan juta. Memang tidak wajar untuk ukuran anak SMA seperti dirinya memakai barang-barang bermerk terkenal dengan harga fantastis. Terlebih asal-usul gadis itu juga tidak terlalu jelas.
Ceklek
Mata Bunga meleber melihat Bian yang sudah berada tepat di depan pintu apartemennya. Pandangan mata Bian yang terlihat tidak seperti biasanya.
Pandangan mata Bian menusuri tubuh Bunga dari atas sampai bawah, dan dari keterkjutan Bunga saat ini dimanfaatkan oleh Bian untuk mendorong kembali tubuh Bunga untuk masuk ke dalam.
"Temani gue malam ini, gue mohon," pinta Bian membuat Bunga semakin melebarkan matanya. Bau alkohol tercium jelas dari mulut cowok itu.
Dia mabuk
___
Gaes beri dukungannya, sorry beberapa hari ini aku lagi nggak enak badan jadi nggak up karena emang sepusing itu lihat tulisan 🙏