Adegan 21+ bertebaran!
Karya ini dibuat semata-mata untuk sekedar hiburan. Terinspirasi dari komik cina dengan pergaulan bebasnya. Jadi Author mohon jangan menyamakannya dengan adat kesopanan orang Indonesia!
Kalau tidak sesuai dengan keinginan dipersilahkan mundur teratur tanpa banyak drama😉
Sandra kehilangan keperawanan karena kesalahpahaman. Seorang pengusaha tampan mengira dia adalah penghibur yang dipanggilnya. Satu bulan kemudian ia diketahui hamil dan diusir keluarganya.
Beruntung ia bertemu dengan seorang ketua geng mafia dan diangkat menjadi anak. Identitasnya juga dirubah dan dibawa ke luar negeri.
Enam tahun kemudian, dia kembali dengan identitas barunya dan dua anaknya.
Bagaimana jika laki-laki itu masih mengenalinya dan mengetahui jika ia memiliki anak darinya?
"Karena kau telah mengizinkan dua anakku memanggil orang lain ayah. Maka aku akan mengizinkanmu menggantinya dengan sepuluh anak yang lain." ucap Sean pada Evelyn yang berada di bawahnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Queen_OK, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab_21. Butuh Waktu
Mobil yang membawa Evelyn dan kedua anaknya memasuki halaman mansion. Dari jauh kondisi mansion tidak terlihat banyak perubahan. Halaman mansion yang luas masih terdapat banyak pepohonan dan juga bunga-bunga yang terlihat semakin tertata rapi. Ini karena Laura kini lebih banyak menghabiskan waktunya untuk berkebun dan menata taman.
Semakin masuk ke dalam, Bangunan mansion pun juga tidak ada yang berubah. Tetap sama seperti yang ada di dalam ingatan Evelyn meskipun di masa lalu Evelyn hanya sebentar tinggal di mansion mewah itu.
“Wah mommy! Rumah nenek lebih bagus.” Komentar Bryan setelah melihat kondisi mansion dimana mereka akan tinggal. Berlian tidak berkomentar, tetapi ia mengangguk menyetujui ucapan saudaranya.
“Yah memang. Kalau kalian masuk ke dalam, kalian akan lebih menyukainya.” Evelyn berkata dengan bangga.
“Hum.” Bryan mengangguk dengan puas.
Benar yang dikatakan mommy mereka, setelah masuk mereka lebih menyukai tempat itu. Apalagi mansion itu terdapat lebih banyak orang yang tinggal di dalamnya. Tidak seperti mansion mereka yang ada di Texas. Meskipun kebanyakan mereka adalah pelayan dan karyawan yang bekerja di mansion itu.
Maxim dan Laura menyambut ketiganya. Kedua orang tua itu memeluk cucu mereka satu-satu. Rasa rindu mereka kini terobati. Sudah lama mereka tidak bertemu dengan cucu-cucu kesayangan mereka.
Evelyn tidak pernah mau mengunjungi mereka di Indonesia. Mereka pun paham apa yang dirasakan Evelyn. Masa lalu suram yang dimiliki putri angkat mereka itu pasti akan meninggalkan trauma yang sulit dilupakan.
Sebagai orang tua, Maxim dan Laura tentu saja menginginkan kebahagiaan bagi putri mereka. Mereka berharap Evelyn dapat membuka hatinya dan membuka lembaran baru hidupnya agar lebih berwarna.
Melihat cara Evelyn hidup selama ini mereka merasa iba. Di usianya yang masih muda, Evelyn terlalu dalam tenggelam dalam masa lalunya. Hingga ia takut untuk keluar dari kubangan rasa takut.
Kedua orang tua itu selalu memperhatikan Evelyn selama mereka tinggal bersama. Banyak pria yang mendekati Evelyn. Tetapi menurut Maxim juga Laura, Evelyn tidak cocok dengan satupun pria yang mendekati putri mereka di Texas.
Sikap Evelyn yang cenderung dingin namun sebenarnya ingin dimanja sedikit sulit ditaklukkan. Sifat arogan putri mereka memang dihasilkan oleh kejadian masa lalu kelam yang membuat Evelyn takut untuk memulai suatu hubungan.
Ketika terjadi masalah di markas, mereka akhirnya memiliki alasan untuk membawa Evelyn kembali. Lari dari masalah tidak akan menyelesaikan apapun. Jika mereka ingin Evelyn memulai kembali kehidupannya, itu baru bisa dimulai setelah menyelesaikan masalah yang ada terlebih dahulu.
“Mami.” Evelyn segera memeluk Laura dengan erat.
“Selamat datang kembali putriku.” Laura mengelus punggung Evelyn.
“Papi maafkan Evy.” Evelyn memeluk Maxim.
“Kamu tahu sifat Justin. Bagaimana kamu bisa mempercayakan cucu-cucu kami padanya.” Maxim berlagak galak di depan Evelyn.
“Kenapa kamu begitu galak? Anak baru pulang sudah dimarahi. Siapa yang dari tadi bolak balik seperti setrika menunggu kedatangan nya. Kamu mau putriku kembali lagi hah?” Laura berkacak pinggang. Mendominasi Maxim yang kini menciut di bawah Omelan Laura.
“Uh.. kalian ini selalu saja menindasku.” Maxim memasang wajah memelasnya.
“Kakek jangan memarahi mommy kami lagi. Kalau tidak kami akan marah dan tidak mau bicara lagi dengan kakek.” Bryan mengerucutkan bibirnya. Ia sudah berniat untuk melindungi mommynya.
“Sudah jangan dengarkan kakek kalian yang sudah tua itu. Ayo makan dulu. Setelah itu kalian harus istirahat. Kalian pasti lelah.” Laura menggiring putri dan cucunya masuk ke dalam ruang makan. Meninggalkan suaminya yang dengan lesu juga mengikuti langkah mereka.
Setelah makan malam, Evelyn membawa anak-anak nya masuk ke dalam kamar. Kamar yang sudah disiapkan oleh Laura sejak malam kemarin setelah mereka memutuskan untuk membawa Evelyn dan anak-anaknya kembali.
Bryan dan Berlian mendapatkan satu kamar berdua. Satu kamar besar dengan dua buah ranjang berbeda warna. Namun satu kamar itu seperti berada di tempat yang berbeda. Kamar itu didekorasi menjadi dua bagian. Satu sisi diatur sesuai dengan kesukaan Bryan dan di sisi lain diatur sesuai kegemaran Berlian.
Kedua anak itu juga puas dengan pengaturan kamar mereka.
Setelah kedua anaknya tidur, Evelyn keluar kamar meninggalkan keduanya untuk istirahat. Siapa yang sangka jika kedua anaknya itu hanya berpura-pura tertidur agar mereka mempunyai waktu sendiri.
“Brily mommy sudah keluar. Cepat pasang penyadapnya.” Bryan membuka matanya dan dengan segera mengunci pintu kamar. Sedangkan Berlian menempelkan alat penyadap di dinding seperti kata Bryan.
“Waktunya mengeluarkan barang-barang kita.” Bryan berkata dengan semangat.
Dari lipatan celananya, ia mengeluarkan pistol yang sempat ia ambil dari markas dan ia sembunyikan saat kekacauan besar itu terjadi. Pistol dengan ukuran super mini itu ia sembunyikan dengan sangat baik tanpa diketahui siapapun. Bahkan ia lolos dari pemeriksaan di bandara.
“Aku sudah mengira kamu akan mengambil mainan kecil itu.” Berlian berkata dengan tenang.
“Tentu saja. Aku jatuh cinta pada pandangan pertama.” Kekeh Bryan menirukan salah satu dialog dari serial drama yang pernah ia lihat sekilas di ruang istirahat pelayan di mansion lama mereka.
“Aku juga punya. Lihat ini.” Berlian tidak ingin kalah dari saudaranya. Ia mengeluarkan barang yang juga ia ambil dari markas dari balik bandana yang ia pakai.
“Wow Brily! Ini hebat! Dengan semua ini kita akan dengan cepat menemukan Daddy.” Berlian mengangguk.
“Benar. Ayo kita buat rencana.”
Dan dua bocah cilik itu mengatur rencana untuk menemukan keberadaan Daddy mereka yang mereka perkirakan juga tinggal di Indonesia. Mereka tidak memiliki petunjuk lain selain itu. Jadi mereka harus membuat rencana yang hebat untuk menyelesaikan misi mereka.
Di tempat lain, setelah Evelyn meninggalkan kamar anak-anaknya, ia pergi menemui Maxim dan Laura yang menunggu dirinya di ruang keluarga. Ia merasa jika kedua orang tua angkatnya itu memiliki sesuatu yang perlu dibicarakan.
“Duduk di sini sayang.” Laura menunjuk sofa yang ada tak jauh darinya dan Maxim duduk setelah melihat kedatangan putrinya. Evelyn duduk dengan tenang di sofa yang ditunjuk Laura.
“Kami sangat merindukanmu.” Laura memulai percakapan.
“Aku juga mi.”
“Evy, kami tahu kamu pasti sulit untuk kembali ke sini. Tapi kamu harus melakukannya cepat atau lambat.”
“Aku tahu mi. Mami dan papi pasti sudah lama kan menunggu kesempatan seperti ini.”
“Hahaha. Memang putriku cerdas. Kamu langsung mengerti apa yang kami maksud.” Maxim tertawa puas. Ia tahu putrinya tidak akan membantahnya. “Lalu bagaimana?”
“Tenang saja. Mulai besok aku akan segera pergi ke perusahaan.”
Mendengar perkataan Evelyn, Laura dan Maxim saling memandang. Bukan itu yang mereka maksud. Mereka ingin Evelyn bisa memulai kembali hidupnya yang normal seperti wanita pada umumnya. Berbelanja dan bersosialisasi. Bukan untuk pergi bekerja.
“Tidak sayang. Tidak perlu secepat itu juga. Di perusahaan sudah ada Roberto yang dapat dipercaya. Kamu bisa santai dan berbelanja beberapa hari. Kalau tidak beberapa Minggu juga bisa. Bahkan jika kamu ingin menghabiskan waktu beberapa bulan lagi untuk jalan-jalan juga tidak masalah.” Maxim berkata dengan panik.
“Aku tidak butuh semu itu Pi. Aku akan pergi ke kantor besok. Beritahu saja pada paman Roberto jika aku akan datang.” Ucap Evelyn tanpa bisa dibantah. “Aku lelah. Aku mau istirahat dulu.” Evelyn bangun dan segera meninggalkan Maxim dan Laura
Maxim hendak mengajukan protesnya lagi. Tapi Laura menahannya. Laura tahu jika Evelyn sebenarnya mengerti apa yang mereka inginkan, namun putrinya itu hanya berpura-pura tidak mengerti yang mengalihkan pembicaraan.
“Biarkan saja Pi. Evy butuh waktu.” Laura mengelus lengan Maxim.
“Tapi sampai kapan ia akan begini? Sudah terlalu lama ia sendiri.”
“Papi tenang saja. Mami yakin Evi adalah gadis yang cerdas. Ia seharusnya tahu apa yang baik untuknya. Hanya saja ia masih butuh waktu untuk menyesuaikan diri.” Maxim mendesah pasrah. Melihat putrinya seperti itu membuatnya bersedih.
Di matanya, meskipun yang terlihat Evelyn bahagia di dalam hidupnya saat ini, tapi ia tahu di dalam hatinya ada kesepian yang sering ia tutupi dengan senyumnya.
*
*
*
Terima kasih sudah mampir 🤩
Panggilannya akoh ganti kakek dan nenek saja ya 🤪
Mohon jadilah pembaca bijak yang akan meninggalkan jejaknya sebagai bentuk apresiasi 🙏
Karya masih berkembang dan dalam proses. Butuh dukungan dan semangat dari para pembaca 🥰
Vote, Komentar yang membangun, bunga, kopi atau paling tidak sempatkan menyentuh tanda like 👍.
Terima kasih sekali lagi 😚