NovelToon NovelToon
Mantu Koplak Menjadi Penguasa

Mantu Koplak Menjadi Penguasa

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Mafia
Popularitas:1k
Nilai: 5
Nama Author: richard ariadi

Tanda tangani ini, dan semua hutangmu dianggap lunas," ucap Minghua Zhang sambil melemparkan kontrak pernikahan ke atas meja yang penuh puntung rokok. Chen Song menatap angka di kertas itu, lalu menatap wajah dingin Luna di pojok ruangan. Baginya, ini bukan pernikahan, ini adalah tiket keluar dari neraka—yang tanpa ia sadari, justru akan membawanya ke neraka jenis baru.

Chen Song adalah seorang pria dari kelas menengah ke bawah yang memiliki kecanduan judi yang parah. Dalam sebuah permainan berisiko tinggi di kasino bawah tanah, ia kehilangan segalanya. Ternyata, lawan mainnya adalah seorang kolektor hutang kejam yang bekerja untuk relasi bisnis keluarga Zhang. Chen Song berhutang dalam jumlah yang mustahil ia bayar miliaran yuan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon richard ariadi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

senyap

Di tengah puing-puing kehancuran klan Zhang dan gemuruh persiapan perang, sebuah keheningan yang suci tercipta di antara Chen Song dan Luna. Di atas balkon Song-Zhang Pavilion, di bawah siraman cahaya bulan yang perak, dinding es yang selama ini memisahkan mereka akibat penderitaan dan dendam perlahan-lahan mencair.

Chen Song berdiri menatap kota, namun tangannya yang biasanya dingin dan kaku kini bergetar saat Luna mendekat. Luna tidak lagi melihat Chen Song sebagai "suami sampah" atau "iblis pembalas", melainkan sebagai pria yang rela menelan kegelapan dunia demi menjaganya tetap terang.

Luna (Berbisik lembut) "Dulu aku menikahimu karena kewajiban... tapi malam ini, aku berdiri di sini karena hatiku memilihmu, Song. Terima kasih telah kembali dari kematian untukku."

Benih-benih cinta itu mekar secara fisik melalui kekuatan kultivasi mereka. Saat Luna menggenggam tangan Chen Song, energi Teratai Suci miliknya yang berwarna ungu bertemu dengan energi Cawan Penelan Langit milik Chen Song yang hitam pekat.

Bukannya saling menghancurkan, kedua energi itu justru berputar membentuk harmoni Yin dan Yang. Kelopak teratai cahaya muncul di sekitar mereka, memberikan kehangatan yang belum pernah mereka rasakan selama bertahun-tahun hidup dalam kepahitan.

Chen Song menarik Luna ke dalam dekapannya. Untuk pertama kalinya, Mata Iblis-nya meredup, digantikan oleh tatapan manusiawi yang penuh kasih. Ia mengecup kening Luna, sebuah tindakan yang menyegel janji lebih kuat daripada kontrak darah mana pun.

Chen Song "Luna, aku telah melewati neraka untuk sampai ke titik ini. Jika dunia ini ingin memisahkan kita lagi, maka aku akan menghancurkan dunia itu dan membangun yang baru hanya untuk kita berdua. Kau adalah pusat dari jiwaku."

Cinta mereka bukan sekadar emosi; dalam dunia kultivasi, penyatuan hati mereka memicu fenomena Resonansi Jiwa.

Kekuatan Chen Song menjadi lebih stabil ia tidak lagi mudah kehilangan kendali oleh hawa iblis karena cinta Luna menjadi jangkarnya.

Kekuatan Luna menjadi lebih tajam; ia memiliki keinginan kuat untuk melindungi, yang membuat kultivasi Teratainya naik ke tingkat yang lebih tinggi.

Mereka menghabiskan malam itu dalam ketenangan, saling berbagi cerita tentang masa-masa sulit yang mereka lalui sendirian. Namun, di kejauhan, ufuk timur mulai memerah—tanda bahwa pasukan Grandmaster Mo dan utusan Ibu Kota sudah sangat dekat.

Matahari terbit kali ini tidak hanya membawa cahaya, tapi juga genderang perang. Namun kali ini, mereka menghadapinya bukan sebagai dua individu yang terluka, melainkan sebagai satu kesatuan yang tak terkalahkan.

Chen Song dan Luna menyadari bahwa jika mereka bertarung secara terbuka dengan ledakan energi yang masif, mereka akan menarik perhatian Asosiasi Seni Bela Diri Dunia—lembaga pengawas yang sangat ketat dalam menjaga pemisahan antara dunia sekuler (manusia biasa) dan dunia kultivator. Jika asosiasi itu turun tangan, rencana pembalasan mereka akan terhambat oleh birokrasi dan intervensi para tetua kuno.

Oleh karena itu, Chen Song memutuskan untuk menggunakan "Operasi Senyap Bayangan Teratai".

Chen Song menggunakan teknik dari buku kulit manusianya untuk menciptakan Kubah Isolasi Ruang. Di mata manusia biasa, area Lembah Kematian hanya tampak seperti kabut malam yang tebal. Namun di dalamnya, terjadi pembantaian yang sangat tenang.

Luna Zhang berperan sebagai "Penenang": Ia menyebarkan serbuk sari dari energi Teratai Ungu miliknya ke udara. Siapa pun musuh yang menghirupnya akan mengalami kelumpuhan saraf seketika dan kehilangan kemampuan untuk berteriak.

Chen Song berperan sebagai "Penuai": Ia bergerak di dalam bayangan menggunakan teknik Shadow Walk. Ia tidak lagi menggunakan ledakan energi, melainkan jarum-jarum hitam yang mengincar titik nadi musuh, membuat mereka mati dalam tidur tanpa sempat mengeluarkan senjata.

Saat pasukan Grandmaster Mo memasuki lembah, mereka merasa ada yang aneh. Satu per satu prajurit di barisan belakang menghilang tanpa suara jatuh ke tanah. Tidak ada dentuman, tidak ada cahaya yang mencolok.

Ketika Grandmaster Mo menyadari ada yang salah, separuh pasukannya sudah menjadi mayat yang berdiri tegak namun jiwanya telah dicabut oleh Chen Song.

Chen Song: (Muncul di belakang telinga Grandmaster Mo) "Seni bela diri adalah tentang keheningan, bukan kebisingan. Kau terlalu berisik untuk dunia yang tenang ini."

Untuk memastikan dunia luar tidak curiga:

Elara membajak satelit pemantau dan kamera pengawas di sekitar wilayah tersebut, menggantinya dengan rekaman looping pemandangan malam yang damai.

Setiap getaran energi yang muncul segera diserap oleh Cawan Penelan Langit milik Chen Song, sehingga sensor energi milik Asosiasi Seni Bela Diri tetap menunjukkan angka nol (netral).

Dalam waktu kurang dari satu jam, ribuan pasukan elit dari Sekte Bayangan Darah dan utusan Ibu Kota lenyap. Tidak ada puing-puing bangunan yang hancur, tidak ada kawah besar. Lembah itu tetap tampak seperti lembah biasa, hanya saja kini tanahnya menjadi jauh lebih subur karena menyerap nutrisi dari energi para kultivator yang tewas.

Meskipun mereka bergerak senyap, Chen Song meninggalkan satu tanda kecil yang hanya bisa dipahami oleh para petinggi Asosiasi Seni Bela Diri: sebuah bunga teratai ungu yang terbuat dari kristal hitam di atas batu besar.

Pesan itu jelas: "Kami ada, kami berkuasa, namun kami tidak akan mengganggu ketertiban selama kalian tidak mengganggu kami."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!