Reza telah memiliki Zahra, model ternama dengan karier cemerlang dan ambisi besar. Namun, demi keluarga, ia dipaksa menikahi Ayza, perempuan sederhana yang hidupnya penuh keterbatasan dan luka masa lalu.
Reza menolak pernikahan itu sejak awal. Baginya Ayza hanyalah beban yang tak pernah ia pilih. Pernikahan mereka disembunyikan, Ayza dikurung dalam peran istri tanpa cinta, tanpa ruang, dan tanpa kesempatan mengembangkan diri.
Meski memiliki bakat menjahit dan ketekunan luar biasa, Ayza dipatahkan perlahan oleh sikap dingin Reza. Hingga suatu hari, talak tiga dijatuhkan, mengakhiri segalanya tanpa penyesalan.
Reza akhirnya menikahi Zahra, perempuan yg selalu ia inginkan. Namun pernikahan itu justru terasa kosong. Saat Reza menyadari nilai Ayza yg sesungguhnya, semuanya telah terlambat. Ayza bukan hanya telah pergi, tetapi juga telah memilih hidup yg tak lagi menunggunya.
Waalaikumsalam, Mantan Imam adalah kisah tentang cinta yg terlambat disadari dan kehilangan yg tak bisa ditebus.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nana 17 Oktober, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
26. Di Ujung Kesendirian
Bengkel itu mulai sepi pelanggan ketika seorang pria berjaket hitam masuk. Rambutnya rapi, sepatunya bersih, jelas bukan anak bengkel. Tatapannya langsung tertuju pada Fahri, lalu mendekat
“Fahri?” tanyanya singkat.
Fahri menoleh. “Iya.”
Pria itu mengulurkan kartu nama. “Amir. Tim balap regional.”
Bagus melongo. Fikri refleks berdiri, nyaris tanpa sadar.
“Kami dengar nama kamu,” lanjut Amir tenang, “dari seseorang yang paham dunia ini.”
Fahri mengernyit. Jemarinya belum juga menyentuh kartu nama itu. “Siapa orangnya?”
Amir tersenyum tipis. “Belum penting.”
Alis Fahri naik perlahan. “Buat gue, penting.”
Amir tetap tenang. “Yang penting sekarang, kamu mau ikut seleksi atau tidak. Kesempatan ini nggak datang dua kali.”
Bengkel itu mendadak sunyi. Hanya suara kipas tua yang berputar pelan.
Fahri berdiri perlahan, menatap Amir lurus. “Gue gak suka kejutan.”
Amir sedikit terkejut. "Maksudmu?"
“Gue juga gak suka main sembunyi-sembunyi,” lanjut Fahri. “Kalau ada yang ngasih nama gue, gue mau tahu siapa. Kenapa. Dan apa maunya.”
Bagus hendak bicara, tapi Fahri mengangkat tangan, menahannya.
“Balapan itu soal nyali dan kepercayaan,” kata Fahri pelan tapi tegas. “Kalau dari awal aja udah ada yang ditutup-tutupi, gue gak tertarik.”
Amir menimbang Fahri beberapa detik. “Kamu yakin mau nolak?”
Fahri mengangguk. “Yakin.”
Ia mendorong kartu nama itu kembali. “Kalau orang itu berani pasang nama, gue siap dengar. Kalau enggak… anggap aja gue gak pernah ada di radar kalian.”
Amir menarik tangannya. Senyumnya kali ini tipis dan sulit dibaca. “Sayang,” katanya singkat. “Orang sepertimu jarang.”
“Justru karena itu,” balas Fahri, “gue gak mau dibeli murah.”
Amir berbalik pergi tanpa menambah kata.
Begitu mobilnya meninggalkan area bengkel, Bagus menghembuskan napas panjang.
“Ri… itu kesempatan.”
Fahri menatap motor di depannya. “Kesempatan yang datang dengan rahasia,” katanya tenang, “biasanya bawa masalah.”
Fikri menatapnya lama, lalu mengangguk pelan. “Gue ngerti sekarang kenapa dia nyari lo.”
Fahri tidak langsung menjawab. "Gue tahu, gue baru nolak sesuatu yang bisa ngubah hidup gue. Dan gue siap nanggung konsekuensinya."
Bagus maju selangkah. "Kenapa Lo begitu yakin kalau nerima tawaran tadi bakal ada masalah di kemudian hari?"
Fahri belum sempat menjawab saat ia melanjutkan. "Siapa tahu ada orang yang pengen bantu tanpa pengen lo merasa berhutang budi."
Fahri tertawa pendek. "Bro, gue gak merasa dekat sama siapapun, atau pernah berjasa pada seseorang."
Ia menatap Fikri dan Bagus bergantian. "Lo pada tahu sendiri gue orangnya blak-blakan. Hitam gue bilang hitam, putih gue bilang putih."
Ia terdiam sejenak. "Gue gak pernah bilang gue anak baik-baik, karena kenyataannya emang bukan. Jadi kalau ada yang mau bantu diam-diam... itu mencurigakan."
Bagus dan Fikri saling pandang.
"Bener juga," gumam Fikri akhirnya.
"Ya udah lah," sahut Bagus. "Takdir punya jalannya. Gak bakal bisa diputar balik apalagi dihentikan."
***
Malam sudah larut ketika Reza keluar dari area apartemen Zahra. Lampu-lampu kota memantul di kaca mobilnya, tapi kepalanya justru kosong. Terlalu kosong.
Ia menekan setir lebih kuat dari perlu.
Pertemuan terakhir dengan Zahra menyusup tanpa izin. Tawa yang terlalu dekat. Jari yang terlalu lama tertinggal di lengannya.
“Aku tahu aku salah,” gumamnya, hampir tak terdengar.
Tapi setiap kali Zahra mendekat, pikirannya selalu terlambat. Tubuhnya lebih dulu bereaksi, seolah sudah hafal kehangatan itu. Logika berteriak, namun jaraknya selalu kalah cepat dari sentuhan yang tak seharusnya ia izinkan.
Mobil melaju lebih cepat dari biasanya.
“Brengsek…” gumamnya, menekan pelipis.
Lampu merah di depan terlambat ia sadari. Klakson panjang meraung.
BRAK!
Benturan keras membuat dunia berputar. Tubuh Reza terlempar ke samping. Setir menghantam lengannya dengan sudut yang salah. Nyeri menjalar tajam, seakan menghantam sarafnya tanpa ampun.
“Aaakh—!”
Mobil berhenti dalam posisi miring. Asap tipis mengepul dari kap mesin. Reza terengah, napasnya pendek-pendek.
"Tangan kiriku… aku tak bisa menggerakkannya."
Rasa sakit itu bukan sekadar nyeri. Tapi sesuatu yang salah. Retak. Patah.
Beberapa orang berteriak. Ada yang mengetuk kaca. Suara sirene terdengar samar, lalu semakin dekat.
DI RUMAH SAKIT
Reza terbaring di ranjang IGD. Lengan kirinya dibalut perban tebal, ditopang bidai dari siku hingga pergelangan. Bahu itu terasa kaku, dan nyeri menjalar tajam setiap kali ia sedikit bergeser.
Seorang dokter pria berdiri di sisi ranjang, menatap hasil rontgen di papan klip.
“Patah tulang radius,” ujarnya datar. “Retakannya cukup jelas.”
Reza menoleh pelan. Rahangnya mengeras.
“Parah?”
“Tidak sampai operasi,” jawab dokter jujur. “Tapi lengan ini harus digips minimal enam minggu. Selama itu, jangan dipaksa. Jangan angkat beban.”
Rahang Reza mengeras. “Tangan kiri?” tanyanya, meski sudah tahu jawabannya.
Dokter mengangguk. “Iya.”
Reza menghembuskan napas berat. “Saya bisa… ke toilet sendiri?”
Dokter menatapnya sebentar, lalu menggeleng tipis.
“Untuk beberapa hari pertama, sebaiknya dibantu. Gerakan bahu Anda juga ikut terdampak.”
Kalimat itu diucapkan pelan, tapi terasa berat.
Reza memejamkan mata sesaat. Wajahnya tegang, bukan karena nyeri semata.
“Kalau dipaksakan?” tanyanya lagi.
“Risiko pergeseran tulang,” jawab dokter singkat. “Kalau itu terjadi, baru kita bicara soal operasi.”
Tak ada ancaman dalam nada suara itu. Hanya fakta.
Reza mengangguk pelan.
“Ada keluarga yang bisa dihubungi?” tanya dokter sambil menulis sesuatu.
Reza terdiam lebih lama dari sebelumnya. Nama Zahra terlintas pertama.
"Ada,” ucapnya akhirnya, suaranya lebih rendah dari biasa.
Dokter mengangguk. “Baik. Panggil keluarga Anda. Anda tidak disarankan sendirian malam ini.”
Beberapa menit kemudian, dua perawat masuk membawa baki alat.
“Pak Reza, kami akan pasang gips sekarang,” ujar salah satunya.
Reza menatap lengannya sendiri. Dingin.
“Lakukan saja.”
Setelah tangan Reza selesai digips, dokter melangkah pergi. Perawat terakhir masuk, merapikan infus, lalu menutup tirai pembatas.
Ruangan itu kembali sunyi.
Reza memejamkan mata sejenak. "Malam ini aku tak hanya kehilangan kendali atas mobilku. Aku juga kehilangan kendali atas tubuhku sendiri."
Reza meraih ponsel dengan tangan kanan. Jarinya gemetar saat menekan satu nama.
Zahra.
Nada sambung. Sekali. Dua kali. Tak diangkat. Ia mencoba lagi. Tak ada jawaban. Reza menatap layar. Terakhir online satu jam lalu.
“Tidur…” gumamnya lirih, mencoba membenarkan.
Ia mengirim pesan singkat:
Reza 💬
Aku kecelakaan.
Pesan terkirim. Centang satu berubah jadi centang dua dalam satu detik. Tapi centang dua tak kunjung berubah warna menjadi biru.
Reza menelan ludah. "Aku sendirian," gumamnya lirih menatap tangan kirinya yang digips.
Ia mencoba menggerakkan tubuhnya. Ingin ke toilet. Rasa ingin buang air menekan, tapi ia tak bisa bangun sendiri. Begitu ia memaksakan, nyeri membuatnya meringis keras.
“Tidak bisa…” desisnya.
Tangannya gemetar saat kembali mengambil ponsel. Layar menyala. Daftar nama muncul.
Jarinya berhenti di satu nama.
Fahri.
Jemarinya menegang. Bayangan beberapa hari terakhir berkelebat. Tatapan dingin itu. Nada bicara tanpa hormat. Kata-kata tajam yang tak ia sangkal kebenarannya.
"Lo udah jauh ngelanggar batas."
Reza menghela napas kasar. “Dia membenciku,” gumamnya lirih. “Dan aku pantas.”
Ia tahu, menelepon Fahri sekarang hanya akan membuka luka lain. Tidak ada simpati di sana. Hanya kemarahan yang belum selesai.
Perlahan, jarinya menggeser layar. Nama itu muncul.
Ayza. Istrinya.
Yang selalu ia tinggalkan. Yang selalu ia hindari setiap kali percakapan mulai menyinggung nurani. Yang selalu ada… bahkan saat ia tak pernah benar-benar memintanya.
Reza menatap nama itu lama.
“Haruskah?” bisiknya.
...🔸🔸🔸...
...“Allah tak pernah kejam. Dia hanya mengembalikan manusia ke tempat seharusnya.”...
..."Nana 17 Oktober"...
...🌸❤️🌸...
.
To be continued
Fahri selalu ngingetin Ayza jangan sampai jatuh Cinta sama Pria Bestard kaya si Reza🤣,tenang saja Fahri...Ayza tidak akan pernah jatuh cinta sama kakakmu,Ayza mh sudah ada yang nungguin Cinta sejatinya Ayza...Kaisyaf😍