"Dari kepahitan menjadi kebahagiaan. Hidup memang begitu, kalau bahagia terus bukan kehidupan namanya."
.
.
Anastasya di diagnosis sebagai pasien dengan gangguan mental . Dia dirawat di salah satu Rumah Sakit Jiwa yang ada di kota celebes saat ini, dan beberapa bulan kemudian saat Anastasya di nyatakan sembuh oleh dokter, tiba-tiba semuanya berubah saat dia melihat seorang pasien baru masuk ke rumah sakit jiwa tersebut yang merupakan seorang Perwira berpangkat Letda yang bernama Alex.
Seorang pria berbadan tegap dan sangat tampan, sayangnya dia memiliki gangguan mental yang hampir sama dengan yang di alami Anastasya.
Setelah dinyatakan sembuh, Anastasya memutuskan untuk tetap tinggal dan ingin membantu Alex agar dia kembali normal dan selama dirawat mereka menjalin persahabatan yang begitu baik. Namun, diam-diam Anastasya menaruh perasaan lebih dari sekedar persahabatan itu.
Saat Alex dinyatakan sembuh karena drama perang yang terjadi di rumah sakit, akankah Alex mengingat Anastasya? Akankah Alex membalas perasaan Anastasya saat ia tahu kalau Anastasya menyukainya?
Ikuti kisahnya..
Note : Semua cerita, karakter dan pemeran dalam novel ini hanya berupa fiktif. Maaf jika ada kesan dalam cerita ini nampak memasukkan sesuatu yang menghina dan menyinggung 🙏
Saya menceritakan cerita ini dengan menggunakan sudut pandang orang ketiga.
Selamat membaca
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ig : nurulnull14, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ep. 21
Alex menyetir mobilnya dan berbelok di jalanan sempit. Saat dia mengemudi, dia bisa melihat beberapa orang membuka jendela mereka dan keluar rumah mereka dengan wajah mengantuk sementara beberapa lainnya berlari-lari kecil.
Sangat pagi srkali dan Alex pergi sebelum sarapan. Tidak ada yang tahu kalau dia pergi dan dia percaya kalau itu yang terbaik. Dia akan segera kembali.
Alex tidak bisa tidur dengan nyenyak dari semalam. Dia terus bermimpi kalau Clara menertawakannya karena begitu bodoh mempercayainya bahwa dia mencintainya. Tapi, tidak ada waktu untuk memikirkan itu semua, dia harus memenuhi janji yang dia buat untuk seseorang.
"Hidupku tidak lagi memiliki perasaan," gumamnya pada dirinya sendiri," setidaknya aku bisa membuatnya bahagia dan menjadi lebih baik."
Setengah jam kemudian, dia tiba di depan rumah sakit dan bergegas keluar dari mobilnya. Saat itu, pagi yang sangat dingin.
Saat dia berjalan melewati gerbang rumah sakit, dia menoleh ke beberapa orang tapi dia tidak menemukannya dan tiap kali melihat dokter serta perawat, dia tahu harus mengucapkan salam pada mereka. Orang-orang itu sangat membantunya.
Dia mengetuk pintu kantor dokter Jason dua kali dan di beri izin untuk masuk.
"Selamat pagi.", Alex pun tersenyum ketika dia hendak masuk.
"Hei Pak Alex?" dokter berkata dengan nada kebingungan, "kejutan yang hebat! Apa yang anda lakukan kemari? Apa semuanya baik-baik saja?"
"Yah, tentu." Alex mengangguk sambil tersenyum, "Aku baik-baik saja, tapi aku kesini bukan untuk diriku, Aku...."
Alex menarik nafas dalam-dalam, "Aku datang kesini untuk melihat Anastasya, dimana dia?"
Dokter Jason menatapnya, "Kau tidak tahu?" dokter berkata.
"Tahu apa?" Alex bertanya.
"Dia sudah lama sembuh, dia tinggal di rumah sakit hanya untuk menemanimu." Jawabnya.
Alex merasa seperti di lempari ribuan batu bata. Tidak! Sepertinya ditabrak mobil truk yang membawa ribuan batu bata.
"Apa? Apa yang kau katakan dokter?" Alex terkesiap.
"Duduklah, Pak!" Dokter Jason menyarankan dengan nada tenang.
"Aku tidak bisa duduk!" Alex berteriak, "Apa yang terjadi disini? Anastasya adalah pasien jiwa, kan?"
"Anastasya memang pasien jiwa, tapi dia sudah lama sembuh setelah beberapa hari saat anda masuk ke rumah sakit ini dan sudah waktunya dia pergi." Dokter menjelaskan.
Apa yang alex dengar, bahwa Anastasya bukanlah pasien jiwa lagi selama ini dan dia sudah sembuh itu membuatnya terkaget.
"Kenapa? Kenapa dia tetap tinggal jika dia sudah sembuh?"
"Kenapa dia tinggal," dokter melanjutkan, "alasannya sangat jelas, dia yang sedang berdiri di hadapanku."
Mata Alex melebar dan dia menjatuhkan dirinya di kursi. Dia tinggal hanya untukku! Dia hanya tinggal untukku. Itu adalah kata-kata yang bergema di benaknya. Selama ini, dia menghabiskan waktu bersamanya hanya untuk dirinya.
"Dia ingin melihatmu sembuh," lanjut dokter.
"Tapi kenapa?" Alex bertanya kepada dirinya sendiri.
Mendengar hal itu, dokter tersenyum pada dirinya sendiri, "Aku rasa, pasti kau tahu kenapa."
"Dia tampak sangat sedih kemarin, sangat sedih karena aku akan pergi dan dengan kejamnya aku mengatakan padanya kalau aku memang harus pergi. Padahal dia sudah melakukan banyak hal untukku dan aku bahkan tidak bisa membalasnya." Alex berkata dengan air matanya berlinang.
"Anastasya.." bisik Alex sambil menutup matanya. Alex mengambil nafas dalam-dalam kemudian membuka matanya lagi, "Jadi, dimana dia sekarang?"
"Aku tidak tahu," jawab dokter," kuharap, aku bisa memberitahumu."
"Tapi, bukankah dia memiliki kerabat, nomor telepon atau alamat rumahnya," kata Alex cepat.
"Alex," dokter itu memulai dengan suara keras, "Anastasya tidak miliki siapa-siapa di dunia ini. Dia tidak punya keluarga, Dia di besarkan di panti Asuhan."
"Apa?" Alex tersentak kaget, hatinya hancur mendengar itu. Bagaimana bisa orang yang begitu baik dan lembut tidak memiliki keluarga.
"Rupanya, setelah ia meninggalkan panti asuhan, dia tinggal sendirian di sebuah apartemen kecil yang dia sewa. Aku tahu, dia juga bekerja di toko bunga. Para karyawan disana memperhatikan perilakunya dan mereka membawanya kesini. Dia tidak berdebat saat dia di bawa kesini, mereka hanya ingin dia disembuhkan dan dia tinggal disini selama tiga bulan dan kemudian kemarin...." Dokter menjelaskan.
"Kemarin?" Alex bertanya, merasakan jantungnya berdetak kencang.
"Kemarin dia banyak menangis, Dia sangat sedih dan dia mengataka kepadaku kalau dia ingin pulang, dia tidak ingin menunggu sampai pagi. Dia memberitahuku kemana harus pergi dan mengantarnya ke apartemennya." kata Dokter Jason.
"Dimana apartemen itu berada?" Alex bertanya dengan tiba-tiba.
"Aku tidak bisa memberitahumu." ucap dokter.
"Kenapa anda tidak bisa memberitahuku." balas Alex dengan kesal.
"Itu informasi pribadi," dokter Jason menjawab.
"Aku perlu mengetahuinya," ucap Alex dengan bersikeras.
"Kenapa?" dokter bertanya, "jika dia pergi, ini berarti dia tidak ingin bertemu denganmu.
"Aku tidak tahu kenapa dia pergi seperti ini, tap yang ku tahu adalah aku harus bertemu dengannya!" Alex menjawab dengan nada memutuskan, "sekarang maukah anda membantuku atau tidak?"
Dokter memandangnya beberapa saat, lalu menghela nafas, "Baiklah, tapi jika dia bertanya padamu jangan katakan padanya bahwa aku yang memberitahumu alamatnya."
"Okeh," Alex menyeringai, "kau selalu membantuku, kau dokter yang baik."
"Yah apapun itu," kata dokter dan keduanya mulai tertawa, "kau selalu berhasil membuat beberapa masalah, bukan?
"Yah itu normal bagiku," Alex bercanda.
Mobil pajero hitam milik Alex terhenti secara brutal di depan apartemen Anastasya. Alex pun bergegas keluar dari mobilnya dan menaikki tangga secepat mungkin dan butuh waktu lama untuk bisa sampai disini, gedung apartemen ini sangat jauh dari rumah sakit.
"Permisi," Alex tiba-tiba memanggil saat dia melihat penjaga, "Selamat pagi, bisakah anda memberitahuku dimana Anastasya tinggal?"
"Anastasya?" Pria itu menjawab, "Aku tidak tahu Anastasya."
"Anastasya, seorang gadis berambut cokelat," kata Alex dengan nada putus asa, "dia datang kesini dari semalam."
"Oh.. gadis itu," penjaga itu berkata, "tapi dia baru saja pergi beberapa menit yang lalu."
"Apa?" Alex menangis, "tapi kemana?"
"Aku tidak tahu pak," kata penjaga itu.
"Apa kau tahu, kapan dia akan kembali?" Alex bertanya dengan banyak harapan.
"Dia tidak mengatakan apapun," jawab pria itu, tampak berpikir, "tapi.. aku rasa dia akan kembali. Dia hanya membawa kopernya lalu pergi."
Seketika Alex merasa frustasi dan dia tidak tahu lagi kemana dia harus pergi mencarinya.
aku vote y Thor
semangat Thor...