Greta Oto Wright terlahir sebagai putri dengan mata yang berbeda warna (Heterochromia) sama seperti ayahnya, sebuah tanda yang diyakini membawa nasib buruk. Sejak dalam kandungan, seekor kupu-kupu kaca tembus pandang telah berterbangan di sekitar istana, seolah-olah menjaga dan mengawasinya.
Ketika tragedi menimpa kerajaan, Greta menjadi terisolasi, terperangkap oleh mitos, ketakutan, dan rahasia orang-orang terdekatnya. Dalam keheningan dan keterasingan, ia perlahan menyadari bahwa apa yang disebut kutukan itu mungkin adalah kekuatan yang tersembunyi dari dunia.
Note: Non Romance
Follow ig: gretaela82
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Greta Ela, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4. Pertumbuhan
Hari berlalu dengan cepat, seperti sesuatu yang tidak terasa namun nyata. Matahari terbit seperti biasa, menyinari Castle Castavia, lalu tenggelam perlahan di balik perbukitan.
Hari berganti menjadi minggu dan minggu berganti bulan. Hingga seterusnya bulan berganti bulan.
Tak sedikitpun Arion meninggalkan putrinya, Ia merawatnya dengan sepenuh hati. Tak ingin putrinya tidak merasakan sosok seorang ayah.
Greta Oto Wright kini berusia enam bulan.
Ia tumbuh sehat. Tubuhnya mungil, tetapi kuat.
Tangisnya jarang dan tidurnya teratur. Saat terbangun, ia lebih sering menatap sekeliling dengan mata terbuka lebar, seolah mencoba memahami dunia yang baru ia masuki. Rambut cokelatnya mulai terlihat jelas, lembut dan halus, mirip seperti ayahnya.
Raja Arion tidak melewatkan satu pun perkembangannya.
"Dia sudah merangkak," ujar Arion suatu pagi sambil melihat pertumbuhan Greta.
Thaddeus yang duduk di kursi dekat jendela langsung menoleh.
"Benarkah? Aku mau lihat, ayah."
Greta merangkak pelan ke arah Thaddeus, lalu mengeluarkan suara kecil yang membuat Thaddeus tertawa.
"Dia pintar," kata Thaddeus bangga.
"Jauh lebih pintar dari aku waktu bayi."
Arion tersenyum tipis.
"Itu tidak sulit."
Chelyne yang duduk di tepi ranjang hanya menggeleng pelan, menikmati pemandangan kecil itu.
Sementara di sudut ruangan, Grace berdiri dengan sikap tenang, memperhatikan tanpa ikut campur. Wajahnya datar seperti biasa, tangannya terlipat rapi di depan tubuh.
"Permisi, Yang Mulia. Apakah ada yang perlu dibantu?" tawar Grace
"Tidak ada, bibi. Aku, ayah, dan ibu lagi main sama Greta." ujar Thaddeus.
Grace lalu mengangguk dan pergi keluar. Tak ingin ikut campur pada keluarga itu. Memang ada sesuatu kejadian tepat saat Chelyne mengandung enam bulan yang menimpa nasib Grace.
"Jadi nama putri mereka adalah Greta. Bukannya itu nama ilmiah kupu-kupu yang selalu hinggap di castle ini." Batinnya
Tidak ada yang aneh dari Grace. Setidaknya, belum.
...****************...
Di luar Castle Castavia, di pasar kota, bisik-bisik terdengar semakin jelas.
"Putri kerajaan itu namanya siapa?"
"Kenapa tidak pernah ditunjukkan?"
"Putri raja, tapi seperti disembunyikan."
"Aku dengar-dengar ada serangga yang selalu datang ke Castle Castavia setiap hari, bahkan saat Ratu Chelyne mengandung."
"Kalau tidak salah, itu kupu-kupu kaca yang sudah jarang terlihat"
Beberapa rakyat mulai memberanikan diri mendekati gerbang istana. Mereka tidak membawa senjata, hanya rasa ingin tahu. Para penjaga berdiri tegak, menahan mereka dengan sopan namun tegas.
"Kami ingin menyampaikan permohonan," kata seorang pria paruh baya, membungkuk hormat.
"Kami hanya ingin melihat putri kerajaan. Sekilas saja."
Permintaan itu akhirnya sampai ke telinga Raja Arion.
"Ditolak," jawabnya singkat.
Seorang penasihat memberanikan diri berbicara.
"Yang Mulia, rakyat hanya penasaran. Mereka tidak berniat buruk. Saat Thaddeus masih bayi, anda membiarkan kami melihatnya, bahkan anda menyukai saat Thaddeus berjalan-jalan ke rumah rakyat. Tapi kenapa ketika putri anda lahir, anda tidak mau putri anda dikunjungi oleh rakyat, Yang Mulia? Sewaktu anda bayi pun, anda selalu dikunjungi oleh rakyat kita. Itu sudah seperti tradisi yang turun-temurun, Yang Mulia. Sekarang, putri anda sudah berusia enam bulan–"
"Dan aku tidak berniat mempertontonkan putriku," balas Arion dingin.
"Tapi ini tidak lazim," lanjut penasihat itu hati-hati.
"Biasanya-"
"Biasanya bukan sekarang,” potong Arion. "Belum saatnya."
Kabar penolakan itu menyebar dengan cepat.
Hari berikutnya, jumlah rakyat yang datang justru bertambah. Mereka berdiri di luar gerbang, beberapa membawa bunga, beberapa hanya ingin melihat dari jauh.
"Kami ingin memberi doa!" seru seorang perempuan.
"Nama putrinya saja tidak kami tahu!" teriak yang lain.
Arion akhirnya turun sendiri ke aula depan, ditemani beberapa penjaga.
"Pulanglah," katanya lantang.
"Kerajaan ini tidak kekurangan doa. Putriku aman di dalam istana."
"Kenapa disembunyikan, Yang Mulia?" tanya seseorang dengan suara gemetar.
Arion menatap mereka satu per satu.
"Karena aku ayahnya. Itu cukup."
Tidak ada yang berani membalas. Rakyat itu akhirnya bubar, meski dengan wajah penuh tanda tanya.
...****************...
Malamnya, Arion duduk sendiri di ruang kerja. Pikirannya berputar, bukan tentang urusan kerajaan, melainkan tentang satu hal yang terus mengganggunya.
Ia mengingat jelas malam ketika Chelyne menyebutkannya. Arion terdiam, karena nama yang sama sudah ada di pikirannya sejak pagi.
Mereka tidak pernah membahasnya sebelumnya.
Jika memang kupu-kupu kaca itu penyebabnya, berarti mitos lama kerajaan itu tidak sepenuhnya omong kosong. Namun Arion menolak mempercayainya mentah-mentah.
"Kebetulan," gumamnya sekarang.
"Hanya kebetulan."
Namun pikirannya membantah sendiri.
Saat kecil, Arion memang pernah melihat kupu-kupu kaca itu. Ayahnya juga dan keknya pun demikian. Tetapi kemunculannya jarang, bahkan bisa dihitung dengan jari.
Bukan seperti sekarang.
Selama Chelyne mengandung Greta, kupu-kupu itu hadir hampir setiap hari. Menempel di jendela, beterbangan di taman, bahkan menyusup ke lorong istana.
Tapi anehnya, saat Thaddeus dikandung dan dilahirkan, kupu-kupu kaca itu tidak muncul satu pun.
"Apakah benar kupu-kupu itu ditakdirkan untuk kelahiran putriku?" batin Arion
Dan mereka tetap ada hingga hari persalinan.
"Apa apaan ini" pikir Arion.
Ia mengusap wajahnya kasar, lalu berdiri dan menuju kamar. Saat membuka pintu, ia melihat Chelyne sedang menggendong putri mereka.
"Dia tenang sekali hari ini," kata Chelyne pelan.
Arion mendekat. Greta menatapnya, lalu tersenyum kecil.
"Dia tidak terlihat seperti pembawa sial," ujar Arion lirih, seolah membaca pikirannya.
"Tidak," ulang Arion tegas.
"Dia tidak membawa apa-apa selain dirinya sendiri."
"Arion, kenapa kau tiba-tiba berbicara seperti itu?"
Tanya Chelyne sambil menidurkan putri mereka diranjang bayi.
"Maaf Chelyne, aku hanya berpikir berlebihan. Aku takut rakyat akan curiga." Ujar Arian jujur
"Harusnya kita tidak memberi nama itu pada putri kita." Lanjut Arion
Chelyne mengelus punggung suaminya lalu menenangkannya
"Arion, nama itu datang dengan sendirinya. Bahkan kita tak merencanakan nama apapun pada Greta tapi mungkin itu memang jalannya." Ujar Chelyne.
"Tapi apakah kau tidak menyadari? Saat Thaddeus kau kandung bahkan sampai lahiran, satu pun tak ada kupu-kupu kaca itu yang datang."
Chelyne mulai merasakan juga ada kejanggalan
Waktu terus bergerak.
...****************...
Enam bulan berganti menjadi satu tahun.
Suatu pagi, Arion duduk di lantai kamar, Ia menarik Greta ke pangkuannya.
Thaddeus mengawasi dari dekat, wajahnya penuh harap. Ia sesekali menyentuh rambut halus adiknya itu.
Greta menggerakkan bibirnya, mengeluarkan suara tidak jelas.
"A... yah..."
Arion terkejut.
"Ayah," ulang Greta, lebih jelas kali ini.
Thaddeus terbelalak.
"Ayah, dia menyebut ayah!"
Chelyne menutup mulutnya, antara terkejut dan terharu.
"Dia bilang ayah duluan," kata Thaddeus, bangga setengah mati.
"Ibu" lanjut Greta.
Hanya nama kakak laki-lakinya yang belum disebutkan.
"Mungkin namaku agak susah." Thaddeus cemberut
Arion menunduk, menatap putrinya. Dadanya terasa hangat, sekaligus berat oleh sesuatu yang tidak bisa ia jelaskan.
Mata Greta menatapnya polos. Heterochromia itu kini terlihat jelas. Biru langit dan hazel yang terlihat jernih dan hidup.