Lo tahu kenapa lampu lalu lintas warna merah itu artinya berhenti?"
Ifa menatap cowok di depannya dengan benci. "Karena merah itu tanda bahaya."
Nicholas menyeringai, mendekat hingga napasnya terasa di kening Ifa. "Sayangnya, makin bahaya, orang malah makin penasaran, Fa. Termasuk lo."
Lathifa (IPA, kelas 12) dan Nicholas (Teknik, tingkat 3). Dua kutub yang tidak seharusnya bertemu, dipaksa bersinggungan karena sebuah ketidaksengajaan di depan pintu rumah. Bagi Ifa, Nick adalah red flag yang harus dihindari. Bagi Nick, Ifa adalah gangguan kecil yang sangat menarik untuk dipermainkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 13
Pelukan Nicholas sore itu terasa sangat berbeda. Tidak ada lagi rasa risih atau pemberontakan dari pihak Amara. Tubuh gadis itu masih bergetar hebat, sisa-sisa trauma dari sentuhan menjijikkan preman tadi masih membekas di kulitnya. Untuk pertama kalinya, Amara menyembunyikan wajahnya di dada bidang Nicholas, mencari perlindungan di balik aroma tembakau dan parfum maskulin yang kini terasa seperti aroma keamanan.
Nicholas tidak banyak bicara. Ia hanya mendekap Amara, tangan besarnya mengusap punggung gadis itu dengan kaku namun penuh perlindungan. Ia baru melepaskan pelukannya saat dirasa napas Amara mulai stabil, meski isak tangisnya belum sepenuhnya hilang.
"Naik ke motor. Gue bawa lo pulang sekarang," perintah Nick. Kali ini suaranya tidak dingin, melainkan berat karena menahan emosi yang masih mendidih di dalam dadanya.
Sepanjang perjalanan menuju rumah, Amara memeluk pinggang Nicholas dengan sangat erat. Kepalanya ia sandarkan di punggung jaket kulit pria itu. Tidak ada lagi jarak yang sengaja ia buat. Nicholas pun berkendara dengan kecepatan rendah, seolah ingin memberikan waktu bagi Amara untuk menenangkan diri sebelum sampai di rumah.
Begitu motor berhenti di depan pagar, Amara langsung turun bahkan sebelum Nick sempat mematikan mesin. Gadis itu berlari masuk ke dalam rumah dengan langkah limbung.
"Ifa? Lho, Dek, kok lari?" seru Ryan yang sedang duduk di teras sambil mengelap sepatunya.
Amara tidak menjawab. Ia melewati kakaknya begitu saja, menerobos pintu depan dan langsung menuju dapur di mana Bunda sedang memotong sayuran.
"Bunda!" tangis Amara pecah saat melihat sosok sang ibu.
Bunda tersentak kaget, menjatuhkan pisaunya begitu melihat keadaan putri bungsunya yang berantakan. Seragamnya sedikit kotor, wajahnya sembap, dan rambutnya acak-acakan. "Ifa? Astaga, Nak! Kenapa? Ada masalah di sekolah? Kamu kenapa menangis begini?"
Bunda segera membawa Amara ke dalam pelukannya. Di sana, di pelukan yang paling hangat itu, Amara menceritakan semuanya. Tentang perasaannya yang tidak fokus, tentang niatnya pulang naik bus, dan tentang gerombolan cowok yang mengganggunya hingga ia harus meniup peluit pemberian Nicholas.
"Untung ada Kak Nick, Bun... hiks... kalau nggak ada dia, Ifa nggak tahu harus gimana," isak Amara di bahu Bunda.
Bunda mengusap rambut Amara, matanya berkaca-kaca karena ngeri membayangkan apa yang hampir terjadi pada anaknya. "Sshh, syukurlah kamu nggak apa-apa. Ada Nicholas? Dia yang tolong kamu?"
Amara hanya mengangguk pelan, masih sesenggukan.
Sementara itu, di luar rumah, suasana tidak kalah tegang. Begitu Amara masuk, Nicholas baru saja melepaskan helmnya. Wajahnya terlihat sangat kacau. Napasnya masih menderu, dan yang paling mencolok adalah buku-buku jarinya yang robek dan berdarah karena hantaman keras ke aspal dan wajah preman tadi.
Ryan berdiri dari kursinya, wajah santainya menghilang, berganti dengan tatapan tajam seorang kakak yang protektif. Ia melangkah mendekati Nicholas.
"Nick, apa yang terjadi sama adek gue?" tanya Ryan dengan nada rendah namun penuh penekanan.
Nicholas terdiam sebentar, ia menatap tangannya yang berdarah lalu beralih menatap Ryan. "Adek lo hampir dipalak sama gerombolan sampah di dekat halte lama. Ada yang berani nyentuh dia."
Rahang Ryan mengeras. "Siapa? Lo kenal mereka?"
"Cuma preman pasar. Udah gue kasih pelajaran yang nggak bakal mereka lupain seumur hidup," jawab Nick dingin. Ia menyandarkan tubuhnya ke motor, merasa sedikit lemas setelah adrenalinnya mulai turun.
Ryan melihat luka di tangan Nicholas. Ia tahu sahabatnya ini bukan tipe orang yang akan mencari masalah tanpa sebab, apalagi jika itu menyangkut Amara. "Terus kenapa dia sampai ketakutan gitu? Mereka ngapain dia, Nick?"
Nicholas menatap lurus ke mata Ryan. "Mereka nyentuh dagunya, Yan. Mereka bikin dia nangis ketakutan."
Ryan menghela napas panjang, emosinya yang tadi memuncak perlahan mereda saat melihat bagaimana Nicholas seolah memikul beban rasa bersalah yang sama besarnya. "Makasih, Nick. Makasih udah ada di sana tepat waktu."
"Gue emang bakal selalu ada di sana, Yan," sahut Nick tegas. "Tapi tadi... gue hampir telat. Kalau dia nggak tiup peluit itu, gue mungkin nggak bakal denger."
"Peluit?" Ryan mengernyit.
"Gantungan kunci yang gue kasih semalam," Nick menunduk, menatap sepatu boots-nya. "Gue tahu dia nggak bakal mau dengerin peringatan gue secara lisan. Jadi gue kasih itu sebagai jaminan."
Ryan menepuk bahu Nicholas dengan keras. "Gue tahu lo peduli sama dia. Tapi Nick, lo liat sendiri kan? Sikap lo yang terlalu maksa selama ini bikin dia tertekan. Tadi itu dia meluk lo karena butuh perlindungan, bukan karena dia udah nerima lo."
Nick terdiam. Kata-kata Ryan seperti menyiram air es ke kepalanya.
Beberapa menit kemudian, Bunda keluar dari rumah. Ia melihat kedua pemuda itu masih berada di depan pagar.
"Nicholas," panggil Bunda lembut.
Nick langsung menegakkan tubuhnya. "Iya, Tante?"
"Terima kasih banyak ya, Nak. Tante nggak tahu harus bilang apa kalau kamu nggak datang tadi. Amara sudah cerita semuanya," ucap Bunda dengan tulus. "Tapi itu... tangan kamu berdarah, Nak. Sini masuk, biar Tante obati dulu lukanya."
Nick sempat ragu. Ia melirik ke arah pintu, berharap bisa melihat Amara. "Nggak apa-apa, Tante. Biar saya obati sendiri aja di rumah."
"Jangan membantah. Nicholas sudah menolong Ifa, jadi sekarang biarkan Tante balas budi sedikit. Ayo masuk," ajak Bunda tak terbantah.
Nicholas akhirnya melangkah masuk ke dalam rumah. Ini adalah kali pertama ia masuk bukan sebagai tamu Ryan, tapi sebagai orang yang dianggap berjasa oleh Bunda. Di ruang tamu, ia melihat Amara baru saja keluar dari kamar setelah mencuci muka. Matanya masih merah dan sembap.
Begitu melihat Nicholas, langkah Amara terhenti. Matanya tertuju pada tangan Nicholas yang berdarah. Rasa bersalah yang besar langsung menyergap hatinya.
"Kak Nick..." bisik Amara pelan.
Nick hanya menatapnya sekilas, lalu duduk di sofa. Bunda datang membawa kotak P3K. "Ifa, kamu yang obati Kak Nick ya? Bunda mau lanjutin masak buat makan malam kalian. Ryan, bantu Bunda di dapur."
Ryan mengerti kode dari ibunya. Ia menarik tangan Bunda menjauh, membiarkan Amara dan Nicholas hanya berdua di ruang tamu.
Suasana menjadi sangat sunyi. Amara duduk di samping Nicholas dengan jarak yang cukup dekat. Ia mengambil kapas dan alkohol dengan tangan yang masih sedikit gemetar.
"Maaf..." ucap Amara sangat pelan.
Nick menoleh. "Buat apa?"
"Gara-gara aku, tangan Kakak luka begini," Amara mulai membersihkan luka di tangan Nick dengan sangat hati-hati.
"Luka begini nggak ada apa-apanya dibanding apa yang gue rasain pas liat lo nangis tadi, Fa," jawab Nick jujur. Matanya tidak lepas dari wajah Amara yang tertunduk.
Amara tertegun. Ia teringat kembali kata-kata Bang Ryan tentang kejadian dua tahun lalu. Keberaniannya terkumpul. Saat ia membalut tangan Nick dengan perban, ia memberanikan diri untuk bertanya.
"Kak... dua tahun lalu... di halte dekat komplek lama... itu beneran Kakak?"
Tangan Nicholas yang sedang diobati mendadak kaku. Ia tidak menyangka Amara akan menanyakannya secepat ini. Pria itu menghela napas, lalu menyandarkan punggungnya ke sofa.
"Ryan udah cerita ya?" tanya Nick tanpa menoleh.
Amara mengangguk. "Kenapa Kakak nggak bilang dari awal? Kenapa harus pakai cara yang kasar buat deketin aku?"
Nick memutar tubuhnya menghadap Amara. Ia meraih dagu Amara dengan tangan yang tidak terluka, mengangkatnya pelan agar mata mereka bertemu.
"Karena gue takut, Ifa," ucap Nick dengan suara yang sangat rendah. "Gue takut kalau gue bilang gue cowok lemah yang lo tolong dua tahun lalu, lo cuma bakal kasihan sama gue. Gue mau lo liat gue sebagai pria yang bisa jagain lo, bukan pria yang perlu lo selamatkan."
Amara terdiam. Di balik mata Nicholas yang biasanya penuh intimidasi, ia melihat kejujuran yang telanjang. Nicholas yang "red flag" ternyata hanyalah seorang pria yang tidak tahu bagaimana cara mencintai dengan benar setelah pernah merasa sangat hancur.
"Peluit itu..." Amara memegang gantungan kunci kucing yang masih ia genggam. "Makasih ya, Kak."
Nick tersenyum tipis—kali ini sebuah senyum tulus tanpa seringai nakal. "Gue harap lo nggak perlu tiup peluit itu lagi. Tapi kalaupun harus, gue bakal selalu jadi orang pertama yang dateng buat lo."
Malam itu, di ruang tamu yang tenang, dinding pertahanan Amara terhadap Nicholas runtuh sepenuhnya. Bukan karena paksaan, tapi karena ia akhirnya mengerti bahwa di balik sikap "bahaya" Nicholas, ada hati yang sudah menjaganya dalam diam selama dua tahun terakhir.