NovelToon NovelToon
GALAREA

GALAREA

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Perjodohan / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:468
Nilai: 5
Nama Author: Melasepti__

Terkadang, bukti kasih sayang tidak hanya sebuah kebahagiaan, bukan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Melasepti__, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pergantian Status

Gala mematut dirinya di depan cermin. Menyisir rambut ke belakang, sambil memasang peci hitamnya.

Gala menghela nafas, menatap matanya dari cermin. Tatapan dalam seolah ia tengah menatap mata seseorang.

"Hari ini, lo akan mengambil alih sebuah tanggung jawab besar, Gal. Apa lo bisa? Apa lo sanggup?"

Lagi, Gala membuang nafas beratnya, memejamkan mata beberapa saat, sebelum kembali membukanya.

"Bisa, lo harus bisa! Apapun yang terjadi nanti, dia adalah istri lo, tanggung jawab lo."

Gala terus berbicara sendiri, meyakinkan dirinya sebelum pergantian status yang akan terjadi dalam waktu kurang dari 24 jam.

"Sudah siap, Bang?"

Gala menoleh dan mendapati Saka yang sudah mengenakan batik coklat, yang merupakan seragam keluarga.

Gala sendiri mengenakan kemeja putih berlapis jas hitam, dipadu celana bahan hitam dan peci.

Gala mengangguk pelan, seraya menghampiri Saka dan memeluk pria itu.

"Doain Gala ya, Pa?"

Saka tersenyum dan menepuk punggung Gala, mencium puncak kepala anak itu.

"Pasti. Nanti kalau sudah nikah, entah Papa punya anak lagi atau punya cucu dari kamu. Kamu gak boleh cemburu, ya?"

Gala memutar bola matanya jengah dan melepas pelukannya.

"Terserah Papa aja, lah. Mau bikin anak lagi kek, nyari istri lagi kek, Gala bodoamat."

Saka membulatkan matanya, lalu berjalan mengikuti Gala keluar kamar. "Eh, ya jangan dong."

Saka merangkul anak itu, kemudian mencium pelipisnya. "Papa setia kok sama Ibu. Papa juga sayang banget sama kamu, Bang."

Dengan gemas, Saka mengecup pipi Gala berulang kali, hingga cowok itu merasa risi dan mendorongnya.

Gala mengusap pipinya yang terasa basah, dan menatap Saka sengit.

"Awas aja kalau Gala nikah, Papa malah nambah anak. Gala gak akan pulang ke sini lagi."

Saka meringis, tidak mengerti kenapa putranya itu sangat terobsesi menjadi anak tunggal.

"Iya, Bang. Yang penting kamu cepat kasih Papa cucu."

Gala memilih abai dan beralih menghampiri keluarganya yang sudah berkumpul di ruang keluarga.

Ia menyalami mereka untuk meminta restu pada para orang tua. Tak terkecuali dengan Revin, sang Ibu.

"Bu, doain Gala, ya?"

Revin mengangguk dan memeluk putranya, dengan air mata yang mulai menetes.

"Jadi suami yang baik, bertanggung jawab, selalu bisa menjadi sandaran untuk istri kamu dalam keadaan apapun. Dan yang paling penting, menjadi partner yang baik dalam segala hal, terutama dalam belajar agama."

Gala menangguk dan memejamkan mata, menikmati setiap usapan dan kecupan lembut dari Ibunya.

Setelah selesai drama melow Gala meminta restu, kini mereka sudah dalam perjalanan ke rumah Rea, dimana ijab kabul akan dilaksanakan.

"Sudah hapal, Bang?" tanya Saka yang duduk di kursi belakang bersama Revin.

Gala duduk di samping Biru yang menjalankan kemudi mobilnya.

"Gak tau," jawab Gala dengan pandangan keluar jendela.

Jujur, sejak tadi ia merasa sedikit berdebar. Walau bagaimana, pun ijab kabul adalah janji sehidup-semati di hadapan Sang Ilahi.

Biru sebagai sepupu yang baik, berusaha menyemangatinya.

"Tenang aja, Bang. Kalau dia gigit, lo cubit aja."

Gala sontak menoleh dengan kening berkerut. "Maksud lo?" Bukan apa-apa, Gala merasa ambigu dengan ucapan Biru.

Biru terkekeh pelan. "Enggak. Maksudnya kalau dia gigit pipi, lo balik cubit pipinya."

Gala berdecak, lalu menatap lurus ke arah depan. "Pipi itu dikiss, bukan dicubit."

Bersamaan dengan itu, mobil terhenti di pekarangan rumah Rea yang tidak begitu ramai, karena hanya ada beberapa tetangga yang hadir.

"Iya dah, yang bentar lagi halal."

"Bismillah jangan lupa, Bang."

Gala mengangguki ucapan Revin, sebelum keluar dari mobilnya bersamaan dengan yang lain.

Gala menarik dan menghembuskan nafasnya perlahan, untuk menetralkan rasa gugupnya.

"Bismillah," gumam Gala seraya mengusap wajahnya sedikit kasar.

Saka tersenyum dan merangkul putranya untuk masuk lebih dulu, diikuti yang lain.

Gala dituntun oleh kedua orang tuanya untuk duduk di depan meja kecil berhadapan dengan Althan dan penghulu.

Gala membasahi bibirnya, sebelum tersenyum tipis. Tatapan tajam dan raut yang biasanya selalu tenang, kini hilang terganti oleh raut gugup berhadapan dengan calon mertua.

"Siap, Gala?"

Gala tersenyum canggung. "Insya Allah, Om."

Tak lama, seluruh tatapan tertuju ke arah belakang Gala, yang membuat cowok itu ikut menoleh.

Gala terpaku melihat betapa cantik Rea dalam balutan gaun sederhana berwarna putih, dengan jilbab senada yang menutupi kepalanya.

"Masya Allah," gumam Gala tanpa sadar, membuat Saka yang ada di sebelahnya segera mengusap wajah cowok itu sedikit kasar.

"Halalin dulu," kata Saka seraya menuntun Gala agar kembali menghadap Althan.

Gala ikut mengusap wajahnya, menetralkan jantungnya yang terasa semakin berdebar kencang saat Rea didudukkan di sampingnya.

Setelah itu, penghulu memberikan beberapa nasihat dan petuah-petuah sebelum ijab kabul untuk kedua calon mempelai.

Sebelum akhirnya, acara inti akan segera dimulai. Althan mengulurkan tangannya, yang dibalas oleh Gala dengan tangan yang bergetar lemas.

Althan tersenyum, lalu mengeratkan genggamannya, seolah memberi semangat untuk calon menantunya.

"Galaska Arsean Ibra bin Arsaka Rayyan Ibra, saya nikahkan dan saya kawinkan engkau, dengan putri saya Reana Berlin Arrafka binti Althan Arrafka, dengan mas kawin uang sebesar 24.434.114, dibayar tunai!"

"Saya terima nikah dan kawinnya, Reana Berlin Arrafka binti Althan Arrafka, dengan mas kawin tersebut, tunai!"

Kata Sah menggema, membuat semua bernafas lega dan berucap hamdalah. Dilanjutkan dengan doa yang dipimpin oleh penghulu untuk kesejahteraan kedua mempelai dan keluarga.

Gala dan Rea, pun diminta untuk menandatangani berkas-berkas pernikahan, sebelum melakukan pemasangan cincin.

Rea dan Gala diminta untuk berhadapan. Awalnya Rea menunduk, namun salah satu keluarga memintanya untuk mendongak, hingga membuat tatapan pengantin baru itu bertubrukan.

Gala menggulirkan bola matanya ke arah lain, lalu mengambil cincin untuk ia pasangkan di jari manis Rea.

Rea, pun melakukan hal yang sama, memasangkan cincin di jari manis Gala dengan sedikit kasar.

"Cium tangan suaminya, Re."

Rea menurutinya, menarik tangan Gala untuk ditempelkan di keningnya.

Gala mendengus, kemudian bergerak maju untuk mengecup kening Rea singkat.

"Gak tau cara cium tangan, ya?" bisiknya sebelum kembali mundur, untuk menatap mata Rea yang kini menatapnya tajam.

Gala menarik tangan gadis itu yang masih digenggamnya, kemudian menempelkan punggung tangan Rea di hidungnya.

Gala melepas ciumannya, lalu memberi kode gadis itu untuk melakukan hal yang sama.

Dengan terpaksa, Rea melakukan apa yang Gala contohkan tadi, dengan gerakan singkat. Setelahnya, Rea melepas kasar tangan suaminya.

Acara, pun berlanjut dengan mereka yang diminta untuk sungkeman dengan orang tua, lalu juga menyalami para tamu undangan.

Setelah selesai, mereka duduk di tempat yang disediakan khusus untuk mempelai.

Bukan pelaminan, mereka hanya duduk lesehan di karpet permadani, bersama dengan keluarga yang lain.

Rea berulang kali berdecak, sambil mengibaskan kerudung yang dipakainya. Ia menoleh kesana-kemari untuk mencari seseorang yang dapat membantunya.

"Kenapa?" tanya Gala yang sejak tadi bercengkerama dengan beberapa sepupunya.

"Panas," kata Rea seraya berusaha mengipasi wajahnya yang sudah basah oleh keringat.

Ia tidak biasa menggunakan jilbab, terlebih dengan make up yang melapisi wajahnya, membuat ia sangat risi.

"Panasnya berjilbab enggak sebanding dengan panasnya api neraka," kata Gala seraya mengambil selembar kardus yang tak jauh dari posisinya.

Bukan, bukan untuk mengipasi Rea, ia hanya mengambilkan saja, dan membiarkan gadis itu mengipasinya sendiri.

Rea mendengus dan menerimanya. Ia tidak berharap banyak pada Gala, karena dia juga sudah menduga hal ini.

"Dikipasin kek, Bang. Gak peka banget sih jadi cowok," kata Cia yang sejak tadi bersandar nyaman di bahu Biru.

Gala mengangkat sebelah alisnya. "Dia punya tangan, kenapa harus gue kipasin?"

Mereka mendengus. "Jadi suami itu harus lebih peka, Bang. Iya, kan, sayang?"

Biru menoleh dan mencium puncak kepala Cia, membuat yang lain memutar bola matanya jengah.

"Perasaan dulu kayak macan sama singa, sekarang sudah kayak mendoan sama kupat."

Biru dan Cia terkekeh mendengar gerutuan Abang mereka.

Rea tiba-tiba bangkit dari duduknya, membuat semua menatapnya.

"Mau kemana?" tanya Gala.

"Kamar, mau ganti baju, panas."

Gala hanya menatapnya dalam diam, ia juga sudah melepas jas dan pecinya, sehingga menyisakan celana hitam dan kemeja putih yang sudah ia keluarkan.

"Susulin, Bang. Siapa tau butuh bantuan," kata Biru yang membuat Gala menoleh padanya.

"Harus banget gitu?"

Mereka berdecak mendengar pertanyaan yang kaluar dari mulut Gala.

"Bang, jangan terlalu cuek sama istri. Peka dikit kek, kasihan. Dia tanggung jawab lo, sudah menjadi kewajiban lo untuk membantu dia dalam keadaan apapun."

Gala menghembuskan nafasnya, kemudian bangkit untuk menyusul Rea di kamar.

Saat membuka pintu, ia melihat Rea yang duduk di tepi ranjang, membelakanginya.

"Bunda bahagia?" tanya Rea pada sebuah pigura yang berisi foto seorang wanita cantik dengan kerudungnya yang lebar.

Terdengar isakan pelan, membuat Gala berjalan perlahan mendekatinya.

"Kenapa harus Rea, Bunda? Kenapa harus Rea yang kayak gini? Rea butuh Bunda, kenapa Bunda ninggalin Rea?"

Isak tangis Rea semakin terdengar jelas, bahkan kini punggungnya sudah terlihat bergetar.

"Rea sayang Bunda. Semoga Bunda bahagia di sana," katanya seraya memeluk pigura itu dan memejamkan mata, membuat air mata semakin deras mengalir.

"Kata Bunda, Allah memberikan ujian kepada seorang hamba karena dia kuat. Apa Rea sekuat itu, sampai Allah menguji Rea seberat ini?"

Gala masih diam, mendengar apapun yang Rea utarakan dalam kesendiriannya.

"Rea belum siap, Bunda. Rea takut gak bisa jadi istri yang baik untuk suami Rea. Rea takut, kalau dia gak bisa bersikap baik sama Rea. Rea juga belum siap untuk pergi dari rumah ini, Bunda. Rea masih pengin tinggal di sini. Terlalu banyak kenangan Rea sama Bunda yang gak akan pernah bisa Rea lupakan. Rea harus gimana?"

"Rea kangen Bunda," lirihnya mengakhiri obrolan dengan pigura itu, sebelum menciumnya lama dan meletakkannya kembali di atas nakas.

"Katanya mau ganti baju?" tanya Gala tiba-tiba yang membuat Rea bergegas menghapus air matanya.

Gala berjalan mendekat, ia bersikap biasa seolah tidak mengetahui apapun.

"Masuk kamar orang ketuk pintu dulu, bisa?" tanya Rea dengan sinis, namun tidak bisa menyembunyikan suara seraknya.

Gala menatap gadis itu dalam dan lama, sebelum berucap, "Lo tinggal di sini dulu sementara waktu, gak apa-apa?" tanyanya dengan nada datar.

Rea sontak membalas tatapan Gala tak kalah dalam. "Kenapa?"

Gala terdiam sejenak, mencari kata yang pas untuk ia ucapkan. "Gue mau cari rumah yang lebih nyaman buat kita tinggal berdua, bukan di apartemen."

Mendengarnya, tanpa diduga Rea bangkit dan memeluk Gala erat. "Makasih," katanya.

Gala hanya tersenyum tipis, dan membalasnya dengan tepukan di puncak kepala Rea.

"Modus lo peluk-peluk."

.

.

.

To be continue ...

1
Ossa Mulya
suka banget ceritanya... dan bikin penasaran
Ossa Mulya
lanjuuuutt Thor...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!