Dewi Anjani yang baru saja dipecat dan nyaris bangkrut, tiba-tiba dipeluk erat oleh bocah tiga tahun bernama Elvan yang menangis dan memanggilnya "Mama" di pinggir jalan. Belum hilang rasa kagetnya, ayah anak itu—Raka Mahardika, sang CEO Grup Lentera yang terkenal sedingin es—muncul dan menyodorinya sebuah kontrak gila untuk menjadi ibu bayaran. Keadaan menjadi semakin tak masuk akal ketika sebuah suara mekanis mendadak berbunyi di kepala Dewi: "Ding! Sistem Ibu Super Hebat diaktifkan!" Kini, berbekal misi-misi ajaib dari sistem dan tingkah menggemaskan Elvan, Dewi tidak hanya perlahan mencairkan hati beku sang CEO, tapi juga bersiap memberikan tamparan paling telak pada mantan istri Raka yang gila harta saat wanita itu berani kembali untuk mengacaukan keluarga barunya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kiyoe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32
Suasana di dalam kamar utama itu terasa seratus kali lipat lebih canggung dari sebelumnya.
Raka sedang duduk di tepi ranjang dengan piyama sutra hitamnya, sibuk membaca dokumen dari tablet.
Dewi berdiri mematung di dekat pintu, bingung harus melakukan apa.
"Bos, jadi malam ini formasi tidurnya bagaimana?" tanya Dewi memecah keheningan.
Raka meletakkan tabletnya di meja nakas dan menatap Dewi.
"Kau tidur di kasur. Aku akan tidur di sofa panjang itu," putus Raka dengan nada bosy andalannya.
Dewi melotot tidak percaya mendengar keputusan itu.
"Yang benar saja Bos! Badanmu itu tinggi besar seperti tiang listrik, kalau tidur di sofa kakimu pasti menggantung!" tolak Dewi cepat.
"Aku ini biasa tidur beralaskan kardus, jadi biar aku saja yang tidur di sofa."
Raka mengerutkan keningnya tidak suka bantahannya ditolak.
"Aku ini laki-laki. Tidak mungkin aku membiarkan wanita tidur di sofa sementara aku tidur nyenyak di kasur."
"Apalagi kalau besok paginya ibuku tiba-tiba masuk dan melihatmu meringkuk di sofa, penyamaran kita langsung gagal," jelas Raka.
Alasan itu masuk akal, tapi Dewi tetap merasa tidak enak hati merebut tempat tidur bos yang menggajinya mahal.
Ding!
Suara sistem mendadak berbunyi nyaring di tengah perdebatan sengit itu.
Layar biru transparan muncul tepat di tengah ruangan.
[Misi Sampingan: Malam Pertama yang Mendebarkan!]
[Kondisi: Ego dua manusia gengsian sedang berbenturan memperebutkan tempat tidur.]
[Misi: Berbagi ranjang super king size itu bersama malam ini tanpa saling menyentuh!]
[Hadiah Penyelesaian: Poin Kasih Sayang +15 dan Item Parfum Bunga Tidur!]
[Hukuman Kegagalan: Anda akan tertidur sambil mengigau meneriakkan nama Raka Mahardika sepanjang malam!]
Wajah Dewi langsung berubah semerah kepiting rebus membaca hukuman gila dari sistem itu.
"Sistem mesum! Mengigau meneriakkan nama bos gila ini? Bisa-bisa aku langsung dipecat besok pagi!" rutuk Dewi dalam hati.
Dewi menarik nafas panjang dan menatap Raka dengan tatapan pasrah tingkat dewa.
"Begini saja Bos. Kasurmu ini kan besarnya minta ampun, bisa muat untuk lima orang."
"Kita tidur di kasur yang sama saja, tapi kau di ujung kanan dan aku di ujung kiri. Bagaimana?" tawar Dewi sambil membuang muka menahan malu.
Raka langsung tersedak ludahnya sendiri mendengar tawaran berani dari wanita di depannya ini.
Tidur satu ranjang dengan wanita bar-bar ini?
Jantung Raka mendadak berdetak sangat cepat, sebuah reaksi aneh yang belum pernah dia rasakan sejak bertahun-tahun lalu.
"Kau gila? Nanti kalau kau tidur sambil memelukku bagaimana?" tuduh Raka untuk menutupi rasa gugupnya.
"Idih, percaya diri sekali Anda Bapak Raka! Aku ini kalau tidur posisinya diam seperti patung batu tahu!" bantah Dewi sewot.
"Lagipula ini kan demi keamanan sandiwara kita. Kalau kau tidak mau ya sudah, aku mau tidur di sofa saja!" ancam Dewi.
Melihat Dewi yang bersiap mengambil bantal untuk pindah ke sofa, Raka akhirnya menghela napas mengalah.
"Baiklah. Kita buat garis batas menggunakan guling di tengah-tengah."
"Kalau kau melewati batas guling ini, aku akan memotong gajimu sepuluh juta rupiah," ancam Raka dengan syarat konyolnya.
Dewi memutar bola matanya malas, ancaman pria ini selalu saja tidak jauh-jauh dari uang.
"Setuju! Awas saja kalau malah kau yang melewati batas guling ini Bos," balas Dewi tidak mau kalah.
Mereka berdua lalu meletakkan dua buah guling tebal berjajar di tengah kasur sebagai tembok pemisah.
Klik.
Raka mematikan lampu utama dan hanya menyisakan lampu tidur remang-remang di sudut kamar.
Suasana kamar yang luas itu mendadak menjadi sangat sepi dan hening.
Hanya terdengar suara detak jam dinding dan embusan nafas mereka berdua.
Dewi berbaring miring membelakangi Raka, tubuhnya sangat kaku seperti kayu papan.
Di seberang guling, Raka juga berbaring telentang menatap langit-langit kamar dengan mata terbuka lebar.
"Kau belum tidur Bos?" bisik Dewi tiba-tiba memecah keheningan yang mencekik itu.
"Belum. Suara nafasmu terlalu keras, mengganggu konsentrasiku," bohong Raka, padahal jantungnya sendiri yang berisik sedari tadi.
"Alasan saja terus. Kau pasti sedang memikirkan wanita ular yang mau merebut hartamu itu kan?" tebak Dewi asal.
Raka terdiam sejenak. Tebakan Dewi memang tidak sepenuhnya salah.
"Marissa pasti akan menggunakan segala cara untuk bertemu Elvan dan mengambil keuntungannya."
"Aku hanya sedang berpikir bagaimana cara memblokir semua aksesnya," jawab Raka dengan suara rendah di kegelapan.
Dewi membalikkan badannya menghadap ke tembok guling, menatap siluet wajah Raka di bawah cahaya remang.
"Kenapa kau harus pusing memikirkannya Bos? Kan ada aku di sini."
"Selama aku menjadi ibunya Elvan, tidak ada satu pun orang jahat yang bisa mendekatinya. Itu adalah garansi penuh dariku," ucap Dewi mantap.
Raka menolehkan kepalanya, menatap mata Dewi yang bersinar terang memantulkan cahaya lampu tidur.
Kata-kata sederhana wanita itu memiliki kekuatan magis yang sanggup meruntuhkan sisa-sisa tembok keraguan di hati Raka.
"Garansi penuh ya? Lalu bagaimana kalau kontrak kerjamu sudah habis suatu hari nanti?" tanya Raka tanpa sadar.
Dewi sedikit tersentak mendengar pertanyaan itu.
Pertanyaan yang sama juga sering menghantui pikiran Dewi belakangan ini.
"Ya... kalau kontrakku habis, kau pasti sudah menemukan wanita baik yang sungguhan pantas menjadi ibu Elvan Bos."
"Lagipula aku kan harus kembali berjualan kue untuk menyambung hidup," jawab Dewi dengan tawa yang terdengar sangat dipaksakan.
Hening kembali menyelimuti mereka berdua.
Raka tidak menyukai jawaban Dewi barusan.
Entah kenapa, membayangkan Dewi pergi dari rumah ini dan digantikan oleh wanita lain membuat dadanya terasa sangat sesak.
"Aku tidak akan membiarkanmu kembali berjualan kue di jalanan."
Suara Raka memecah keheningan, nadanya sangat serius dan absolut, seolah itu adalah sebuah sumpah.
Deg.
Jantung Dewi berdetak gila-gilaan mendengar kalimat yang diucapkan Raka barusan.
"Maksud Bos apa? Mau mengangkatku jadi manajer pabrik sepatumu ya?" canda Dewi mencoba mengusir rasa canggung yang semakin menebal.
Raka tidak menjawab candaan itu.
Dia menutup matanya dan menarik selimutnya sebatas dada.
"Tidurlah Dewi. Jangan banyak bicara, aku sudah mengantuk," potong Raka mengakhiri obrolan mereka.
Dewi hanya bisa menggigit bibir bawahnya menahan senyum yang mendadak ingin mekar.
"Selamat malam Bos Raka," bisik Dewi pelan.
Malam itu, di atas ranjang yang sama dengan batas guling di tengahnya, dua manusia gengsian itu tertidur dengan senyum tipis di wajah masing-masing.
Ding!
[Misi Sampingan Selesai!]
[Anda berhasil melewati malam pertama yang penuh debaran tanpa melewati batas guling!]
[Tingkat Afeksi Tuan Raka meningkat pesat! Poin Kasih Sayang +15 ditambahkan!]
Dewi yang sudah mulai terlelap hanya mengabaikan notifikasi itu dan tenggelam ke alam mimpi yang indah.
Namun di pagi harinya, kekacauan baru sudah menanti mereka berdua saat Widyawati bersiap mengadakan acara minum teh bersama teman-teman sosialitanya.
Ujian sebagai nyonya rumah yang sesungguhnya baru saja akan dimulai hari ini.
cuma sekedar tandatangan kayak nya
mampir thor, saking asik nya baca lupa interaksi🤭