NovelToon NovelToon
Ternyata Jodohku Ketua Mafia:Suamiku Pria Paling Berbahaya

Ternyata Jodohku Ketua Mafia:Suamiku Pria Paling Berbahaya

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Perjodohan / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Rey Nanda

Di dunia luar, Gabriel Alexius adalah ketua mafia paling ditakuti—dingin, kejam, dan tanpa ampun. Namun, takdir mempertemukannya dalam pernikahan rahasia dengan Aira, gadis biasa yang awalnya mengira suaminya hanyalah pria kaya yang polos dan sedikit konyol.

​Di rumah, Gabriel berubah drastis menjadi suami yang manja dan bucin setengah mati, bahkan rela bertingkah konyol demi membuat istrinya tersenyum.

​Semua kebohongan manis itu terbongkar saat Aira tak sengaja memergoki Gabriel dalam "mode monster" saat menghadapi musuhnya. Panik karena takut ditinggal, sang ketua mafia yang garang itu mendadak jadi panutannya yang paling penakut di hadapan sang istri.

​“Aira, aku bisa menghancurkan kota ini, tapi jangan minta aku hidup tanpamu!”

​Bagaimanakah kisah rumah tangga gadis biasa dengan pria paling berbahaya di dunia bawah ini?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rey Nanda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 4: Proposal Maaf Dan Bebek Karet

Penthouse mewah lantai paling atas itu mendadak hening bak kuburan. Suasana tegang menggebu di lorong depan kamar utama.

​Aira langsung mengunci pintu kamar rapat-rapat dari dalam begitu mereka tiba di rumah. Gadis itu terduduk di balik pintu dengan jantung masih berdegup kencang, teringat bagaimana Gabriel dengan santainya mematahkan pergelangan tangan pria berbadan besar tadi malam tanpa mengedipkan mata.

​Sementara di luar pintu kamar, sang Ketua Mafia yang ditakuti seluruh jaringan underworld—Gabriel Alexius—sedang berlutut di atas karpet bulu. Wajahnya pucat pasi, matanya berkaca-kaca penuh kepanikan.

​"Aira... Sayang... Buka pintunya, dong..." rengek Gabriel dengan suara melas yang sangat menyedihkan. Ia mengetuk pintu kayu jati itu menggunakan ujung jarinya, sangat pelan, seolah takut ketukan yang keras akan membuat Aira makin marah. "Aku janji tidak akan memukul orang lagi! Kalau ada orang jahat, aku akan diam saja biar dipukuli! Buka pintunya, ya?"

​Di ujung lorong, Felix dan tiga pengawal berjas hitam bertato hanya bisa berdiri kaku. Mereka menatap bos besar mereka yang biasanya mengeksekusi musuh dengan tatapan dingin, kini sedang menggapai-gapai gagang pintu sambil memeluk sebuah bantal sofa ber-pattern kucing.

​"Tuan Besar..." panggil Felix pelan dengan raut wajah serba salah. "Dokumen transaksi pelabuhan dari kelompok cabang selatan butuh tanda tangan—"

​"DIAM, FELIX!" desis Gabriel tajam tanpa menoleh, aura mematikannya mendadak terpancar sekilas hingga membuat Felix refleks mundur dua langkah. "Gara-gara kamu dan anak buahmu terlambat datang tadi malam, Aira melihat semuanya! Kalau Aira minta cerai dan kabur, aku akan gantung kamu di atas menara air!"

​"M-maafkan saya, Tuan..." cicit Felix dengan peluh dingin menetes di pelipisnya. Siapa yang sangka ketua mafia paling kejam di kota ini bisa runtuh total hanya karena pintunya dikunci oleh seorang gadis mungil?

​Gabriel kembali berbalik menempelkan telinganya ke pintu. "Aira? Kamu lapar tidak? Aku sudah menyuruh koki memasakkan sup ayam favoritmu... Atau kamu mau aku buatkan sandwic roti peyot lagi? Aku janji kali ini potongannya simetris!"

​Di dalam kamar, Aira yang sedang duduk memeluk lututnya di atas tempat tidur akhirnya tak tahan untuk tidak menghela napas. Rasa takut yang sempat melingkupinya tadi malam perlahan terkikis oleh tingkah ajaib suaminya.

​Bagaimana mungkin ia bisa menganggap pria di luar sana sebagai monster, jika Gabriel malah terdengar seperti anak kecil yang kehilangan mainan kesayangannya?

​"Gabriel," panggil Aira dari balik pintu.

​Mendengar suara Aira, mata Gabriel langsung berbinar tebal. Ia mendekatkan bibirnya ke celah pintu. "Iya, Sayang! Aku di sini! Aku tidak kemana-mana!"

​"Aku... aku butuh waktu untuk berpikir," ucap Aira pelan. "Kejadian semalam terlalu mengejutkan untukku."

​Raut wajah Gabriel seketika berubah lesu. Bibirnya memanyun kencang. "Tapi jangan berpikir untuk pergi, ya? Kalau kamu pergi, aku bisa gila. Aku bisa membakar seluruh kota ini kalau kamu tidak ada..."

​"Gabriel!" gertak Aira.

​"Eh, m-maksudku... kalau kamu pergi, aku akan menangis tujuh hari tujuh malam tanpa makan!" buru-buru Gabriel mengoreksi kalimatnya dengan nada panik. "Jangan pergi ya, Aira? Please..."

​Aira di dalam kamar menutupi wajahnya dengan kedua tangan, menahan tawa yang hampir meledak. Pria ini benar-benar tidak jelas. Katanya ingin membakar kota, tapi ujung-ujungnya malah mengancam akan menangis.

​"Aku tidak akan pergi," kata Aira akhirnya. "Tapi aku mau mandi dan istirahat dulu. Jangan ganggu aku sampai jam makan siang!"

​"Siap, Istriku Sayang! Perintah diterima dengan sempurna!" seru Gabriel riang.

​Gabriel berdiri dari karpet, menepuk-nepuk celananya yang sedikit berdebu. Raut cemas di wajahnya mendadak berganti menjadi cengiran puas. Ia menoleh ke arah Felix yang masih berdiri kaku di lorong.

​"Felix," panggil Gabriel dengan suara tegas.

​"Siap, Tuan Besar!"

​"Cari buku atau artikel cara membujuk istri yang sedang ngambek karena suaminya seorang ketua mafia," perintah Gabriel dengan wajah sangat serius, seolah-olah sedang memberikan instruksi perang. "Beli semua perlengkapan yang dibutuhkan. Sekarang!"

​Felix melongo. "M-maksud Tuan... buku panduan?"

​"Kenapa? Kamu punya masalah dengan itu?" mata Gabriel menyipit berbahaya. "Kalau dalam satu jam kamu tidak membawa solusinya, gaji bulananmu aku potong lima puluh persen!"

​"Siap, Tuan! Laksanakan!" seru Felix panik, langsung berbalik dan berlari cepat menyusuri lorong penthouse demi menyelamatkan gajinya.

​Dua jam kemudian, Aira selesai mandi dan mengganti pakaiannya dengan gaun rumah santai berukuran agak longgar. Setelah mengumpulkan keberanian, ia memutar kunci pintu dan membukanya perlahan.

​Begitu pintu terbuka, pandangan Aira langsung tertuju pada lantai di depan kamarnya.

​Ada sebuah karpet merah kecil yang terbentang dari pintu kamar hingga ke ujung meja makan. Dan di atas karpet merah itu, tersusun rapi deretan... bebek karet berwarna kuning terang.

​Di ujung barisan bebek karet itu, Gabriel sedang duduk bersila di atas lantai dengan memakai celemek masak berwarna merah muda bergambar kelinci. Di tangannya, ia memegang selembar kertas karton besar bertuliskan: "MAAFKAN SUAMIKU YANG AGAK BRUTAL INI, YA AIRA?" dengan tulisan tangan yang agak canggung dan dihiasi gambar hati yang miring di mana-mana.

​Aira terpaku di tempat. Matanya berkedip-kedip menatap pemandangan absurd di depannya.

​Gabriel tersenyum manis dengan mata berbinar-binar, menatap Aira dengan penuh harapan. "Gimana? Lucu, kan? Katanya wanita suka hal-hal yang imut kalau sedang marah!"

​Aira menahan napasnya, dadanya naik turun menahan tawa yang sudah berada di ujung tenggorokan. Tuhan... tolong beri aku kesabaran menghadapi ketua mafia yang satu ini!

1
Chenyu Wang
mantap awal cerita sudah seru..
Chenyu Wang: sama2
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!