NovelToon NovelToon
Pesugihan Ratu Ular

Pesugihan Ratu Ular

Status: sedang berlangsung
Genre:Mata Batin / Penyelamat / Balas Dendam
Popularitas:3.3k
Nilai: 5
Nama Author: Heresnanaa_

-

Di tengah ketenangan Desa Lemah Wungu yang asri dan dikelilingi hamparan sawah hijau, Bagas hidup dalam impian sederhana bersama ibunya. Namun, penyakit parah yang menggerogoti sang ibu memaksa Bagas nekat melanggar pantangan desa: memasuki hutan keramat Sendang Manten untuk mengikat perjanjian gaib dengan Ratu Ular.

Seketika, nasibnya berubah. Kepingan sisik emas melimpah membuat Bagas menjadi pemuda terkaya di desa.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heresnanaa_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 8

****

Langkah kaki Sekar baru saja menghilang di balik pintu gerbang kayu jati rumah joglo. Belum sempat Bagas menarik napas lega untuk menenangkan detak jantungnya, pusaka sisik emas di dada kirinya mendadak menyala silau dengan pendar cahaya hijau keemasan yang teramat membara. Udara siang yang tadinya benderang dan hangat seketika berubah menjadi pekat, dingin membeku, dan pekat oleh wangi Bunga Melati yang teramat tajam.

SZZZZT!

Tanpa ada tanda-tanda sebelumnya, angin pusaran gaib bergulung kencang di tengah selasar, menyedot dan menarik raga Bagas masuk ke dalam dimensi gaib Sendang Manten di siang bolong.

Dalam sekejap mata, panorama perbukitan desa lenyap seutuhnya. Bagas mendapati dirinya tersungkur di atas hamparan rumput hijau yang beralaskan embun di tepi Danau Sendang Manten—sebuah danau gaib yang berair jernih bagai kaca dengan pantulan pendar keemasan yang sakral.

Belum sempat Bagas menegakkan tubuhnya, air danau mendadak bergolak dahsyat. Dari dasar danau yang tenang, muncul sesosok ular kobra raksasa bersisik hijau keemasan dengan mata berkilat merah menyala. Sosok raksasa itu meliuk cepat ke daratan, lalu dalam sekejap bertransformasi menjadi sesosok wanita yang cantiknya luar biasa namun memancarkan aura kemurkaan yang teramat mencekam—Nyai Ratu Ular.

"BAGASSSS!" seru sang Ratu dengan suara menggelegar yang menggetarkan permukaan air danau.

Sang Ratu melayang cepat mendekati Bagas. Tanpa belas kasihan, raga sang Ratu berubah setengah ular, di mana bagian bawah tubuhnya meliuk berupa ekor bersisik tebal yang seketika melilit erat tubuh tegap Bagas dari dada hingga ke pinggang!

"Nggghhh... Nyai...!" ringis Bagas tertahan, napasnya tersengal berat dalam cengkeraman lilitan posesif sang Ratu yang teramat kuat.

Sang Ratu memajukan wajah cantiknya yang berselimut kemurkaan, menatap tajam tepat di manik mata Bagas. Matanya berkilat hijau keemasan yang membara, sementara ronce Bunga Melati di dadanya bergoyang terhempas angin amarah.

"Berani-beraninya kamu bersikap ramah, tersenyum manis, dan membiarkan wanita manusia itu duduk berdua dengamu di selasar rumahmu?!" bentak sang Ratu dengan suara berat dan bergetar penuh rasa cemburu yang membakar. "Apakah kamu sudah lupa pada janjimu, Bagas?! Apakah kamu ingin melihat nyawa ibumu dan gadis itu tercabut seketika?!"

Dalam cengkeraman lilitan tebal yang membakar dadanya, Bagas tetap memantapkan tatapan matanya. Pemuda tegap itu tidak sedikit pun menunjukkan rasa takut, melainkan pendar kesetiaan dan kepasrahan utuh kepada sang Ratu.

"Dengarkan aku, Nyai... Ampuni suamimu ini..." tutur Bagas tegap namun lembut, suaranya parau menahan himpitan. "Aku tidak pernah berniat mengkhianati ikatan kita. Gadis itu datang membawa bingkisan untuk ibuku. Begitu aku merasakan denyutan pusaka sisik emasmu dan mendengar teguranmu... aku langsung mengusirnya secara dingin dan memutusi harapannya!"

Sang Ratu menatap lekat paras tampan Bagas, mencari kepalsuan di balik kata-katanya. "Kamu tidak berbohong padaku, Bagas...?"

"Aku bersumpah demi jiwaku, Nyai..." jawab Bagas tulus, jemari besarnya terulur mengelus pipi dingin sang Ratu. "Di dalam hatiku, di dalam hidupku, hanya ada satu Ratu dan satu wanita... yaitu kamu, Nyai Ratu dari Sendang Manten."

Mendengar pengakuan tulus dan merasakan belaian lembut dari tangan suaminya, amarah yang tadinya membakar dada sang Ratu perlahan-lahan meluntur. Lilitan ekor tebal di tubuh Bagas melonggar halus, lalu bertransformasi kembali seutuhnya menjadi raga wanita manusia yang anggun berbalut kain jarik sutra hijau tipis.

Sang Ratu menyandarkan dadanya yang naik turun di atas dada bidang Bagas, menghembuskan napas dingin beraroma melati di leher suaminya.

"Aku sangat mencintaimu, Bagas... Aku tidak sudi berbagi dirimu dengan wanita manusia mana pun di alam nyata," bisik sang Ratu dengan nada manis yang membuncitkan rasa kepemilikan.

"Aku milikmu seutuhnya, Nyai..." balas Bagas lembut, merangkul pinggul mulus sang Ratu.

Rasa cemburu yang baru saja mereda membakar gelora asmara yang teramat dahsyat di dalam diri sang Ratu. Di tepi Danau Sendang Manten yang sunyi dan dinaungi pendar pohon beringin gaib, sang Ratu menarik raga Bagas untuk berbaring di atas hamparan rumput lembut berembun.

Sang Ratu mengambil kendali penuh penyatuan siang itu dengan dominasi yang teramat posesif dan memabukkan. Wanita jelmaan ular itu merangkak naik, menunggangi pinggul tegap Bagas, membiarkan kain jarik sutra bahagian bawahnya tersingkap anggun hingga ke pinggang.

"Buktikan padaku siang ini... Buktikan bahwa raga dan jiwamu hanya milik Ratumu!" bisik sang Ratu dengan suara merdu yang memburu.

Sang Ratu membungkuk, mendaratkan cumbuan yang teramat dalam, panas, dan sarat gairah di atas bibir Bagas. Seiring dengan cumbuan tersebut, sang Ratu membimbing penyatuan intim mereka dari atas secara penuh, dalam, dan meresap seutuhnya di tepi danau.

Saat penyatuan raga itu terjadi secara meresap dan utuh, sebuah erangan nikmat yang teramat dahsyat dan memabukkan lolos dari tenggorokan mereka berdua.

"NGGGHHHH! Mmmm... Bagas!" jerit sang Ratu menggeram panjang, matanya terpejam rapat, badannya melengkung anggun di atas dada Bagas saat raganya terbenam seutuhnya menyatu dengan ketegasan raga suaminya. "Nikmat sekali, Suamiku... hangat dan luar biasa meresap..."

"AHHH! Nyai... Nggghhh...!" rintih Bagas melengking merdu, matanya terpejam meresapi rasa penuh, hangat, dan aura mistis yang meresap hingga ke pembuluh darahnya. "Enak sekali, Nyai... rahim gaibmu begitu hangat dan menyepit rapat..."

Sang Ratu mulai mengayunkan pinggulnya dari atas dengan ritme yang cepat, intens, dan menuntut—sebuah perpaduan antara sisa rasa cemburu dan dahaga asmara yang membakar. Usaha sang Ratu yang mendominasi penyatuan dari atas membuat Bagas mematung dalam kenikmatan puncak yang tiada tandingannya.

"Ahhh... hhh... Bagas... rasakan betapa besarnya cintaku padamu... nggghhh... enak sekali... ahhh!" desah sang Ratu makin melengking merdu, ronce melati di dadanya bergoyang cepat membiaskan aroma harum yang memenuhi udara danau.

"Nggghhh... Nyai... permaisuriku... indah sekali gerakmu, Sayang... hhh..." erang Bagas parau, kedua tangan besarnya memegang erat pinggul mulus sang Ratu, membantu mengayunkan pinggul tegapnya dari bawah.

Tak puas dengan posisi dari atas, sang Ratu perlahan membimbing Bagas untuk mengubah gaya penyatuan agar memberikan kenikmatan yang lebih mendalam. Sang Ratu membimbing dirinya sendiri untuk bertumpu lembut pada kedua lutut dan tangannya di atas rumput tepi danau dengan posisi menungging halus, membiarkan panggul mulusnya terentang lapang.

Bagas berlutut tegap di belakang pinggul sang Ratu. Tangan besarnya memegang erat pinggul mulus istrinya, membimbing penyatuan raga dari belakang dengan kedalaman yang kian terasa meresap penuh ke dalam rahim gaib sang Ratu.

"Nggghhh... Nyai... dari belakang begini makin meresap dalam dan rapat sekali, Sayang..." erang Bagas parau, dorongan pinggulnya mengayun mantap, teratur, dan sarat pemujaan.

"AHHH! Bagas! Suamiku... Nggghhh! Dalam sekali, Bagas... ahhh... hhh! Nikmat sekali...!" rintih sang Ratu melengking manis, kedua tangannya mencengkeram rumput tepi danau, kepalanya mendongak pasrah meresapi setiap getaran kenikmatan puncak.

Di bawah naungan pendar hijau keemasan Danau Sendang Manten, desahan nikmat keduanya mengalun merdu bersahutan memecah keheningan siang gaib tersebut. Bagas mempercepat tempo dorongan pinggulnya dari belakang dengan penuh gairah dan kepasrahan utuh, memanjakan sang Ratu dalam penyatuan raga yang panjang dan memabukkan.

"Bagas... Bagas! Aku mau sampai... Ahhh... nggghhh... peluk aku dari belakang, Suamiku!" jerit sang Ratu melengking manis, seluruh raganya bergetar hebat di atas hamparan rumput.

"Nggghhh! Bersama, Nyai... Bersama!" jerit Bagas menggeram dahsyat.

Bagas menarik pinggul sang Ratu rapat-rapat ke belakang, memperdalam dorongan pungkasan secara mantap sebelum akhirnya tumpahan energi kehangatan dan benih asmaranya menyatu utuh di bagian terdalam rahim gaib sang Ratu.

"NGGGHHHHHHHH! BAGAS!"

"AHHHHH! NYAI!"

Jeritan nikmat puncak keduanya berpadu sempurna dengan riak air Danau Sendang Manten yang mengalir tenang. Sang Ratu terkulai lemas, merebahkan raga cantiknya di atas rumput. Bagas seketika merengkuh raga sang Ratu dari belakang, merapatkan dadanya pada punggung istrinya seraya bersama-sama menghirup napas tersengal-sengal pendek.

Keheningan yang amat syahdu kembali melingkupi tepi Danau Sendang Manten.

Sang Ratu membalikkan badannya dalam pelukan Bagas, menyandarkan kepalanya di dada bidang suaminya. Tangan besarnya dibebaskan mengelus rambut tebal Bagas dengan rasa syukur dan kebahagiaan murni.

"Terimakasih untuk pengabdian dan kesetiaanmu siang ini, Bagas..." bisik sang Ratu tulus, mendaratkan kecupan di dada suaminya.

"Aku akan selalu setia padamu, Nyai..." balas Bagas lembut, menciumi pelipis sang Ratu.

Di bawah pendar abadi Danau Sendang Manten, dua raga beda alam itu merangkak lelap dalam pelukan hangat cinta sejati—siap menghadapi takdir dan kejayaan yang membentang luas di hadapan mereka selamanya.

Bersambung....

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!