Seratus ribu tahun setelah Perang Senja yang memusnahkan para Dewa Asli dan Iblis Primordial, para "Penguasa Abadi" di Sembilan Langit menjadikan dunia fana sebagai ladang ternak spiritual yang dipanen setiap sepuluh ribu tahun. Lin Xuan, seorang murid yatim piatu dari Sekte Pedang Awan Biru yang dikhianati dan diambil Akar Spiritualnya demi menghidupkan putra mahkota sekte, dibuang ke dasar Jurang Tulang Iblis. Di ambang kematian, darahnya menyalakan Lentera Abu Senja—pusaka terlarang peninggalan Dewa Senja terakhir—yang membentuk kembali tubuhnya dengan Meridian Kembar Dewa-Iblis. Dengan menggenggam pedang di satu tangan dan api senja di tangan lain, Lin Xuan merangkak naik dari dasar jurang untuk menumbangkan sekte-sekte munafik, menyatukan ras Iblis dan Manusia, serta meruntuhkan takhta palsu di Sembilan Langit.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bodattt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 28: Menembus Penjara Air Hitam & Pertemuan Haru Guru dan Murid
Penjara Air Hitam terletak di dasar celah lembah sempit di bawah Puncak Penegak Dharma. Tempat itu dialiri oleh mata air dingin bawah tanah yang mengandung bijih besi berat beracun, sehingga siapa pun yang dirantai di dalam kolam penjaranya akan terus-menerus mengalami pembekuan darah dan pengikisan tulang.
Di depan pintu gerbang batu Penjara Air Hitam, Tetua Pertama Han (kultivator Setengah Langkah Inti Emas) berdiri dengan tangan di belakang punggung, ditemani oleh Tetua Ketiga dan Tetua Keempat (masing-masing berada di Ranah Pembangunan Fondasi Lapisan Kedelapan / Tingkat Akhir).
"Tetua Pertama, apakah menurut Anda kebakaran di Paviliun Harta tadi benar-benar ulah Lin Xuan untuk memancing Ketua Sekte pergi?" tanya Tetua Ketiga sambil menatap langit timur yang memerah oleh kobaran api.
Tetua Pertama Han menyeringai dingin, matanya yang tua memancarkan kelicikan yang kejam. "Tentu saja itu ulah bocah itu! Dia pikir dengan membakar Paviliun Harta, kita semua akan berlari ke sana dan membiarkan Penjara Air Hitam kosong. Dia tidak tahu bahwa aku, yang telah berada di tingkat Setengah Langkah Inti Emas, tetap tinggal di sini menjaga Formasi Seribu Rantai Es! Bahkan tanpa Ketua Sekte sekalipun, begitu Lin Xuan berani muncul di lembah ini, aku bersama kalian berdua sudah lebih dari cukup untuk mengubahnya menjadi mayat!"
"Tapi siapa yang tahu kalau orang yang kalian tunggu... sebenarnya sudah berdiri di belakang kalian?"
Suara tenang itu tiba-tiba terdengar tepat di belakang punggung Tetua Ketiga dan Tetua Keempat!
Karena Lin Xuan masuk ke lembah dengan membungkus tubuhnya menggunakan kabut Lentera Abu Senja, Formasi Seribu Rantai Es yang dipasang di pintu depan lembah sama sekali tidak bereaksi sebelum Lin Xuan sendiri yang melepaskan niat membunuhnya!
"APA?!"
Tetua Pertama Han, Tetua Ketiga, dan Tetua Keempat berbalik serempak dengan wajah pucat terkejut!
Namun bagi Tetua Ketiga dan Tetua Keempat yang berdiri paling dekat dengan pintu batu penjara, semuanya sudah terlambat satu detik!
Di tangan kanan Lin Xuan, Pedang Pemutus Takdir telah menyala dengan kekuatan penuh Meridian Kembar Dewa-Iblis, Niat Pedang Senja, dan jurus ketiga terkuat dari kitab warisan Mo Chen:
"Seni Pedang Sembilan Kehancuran — Satu Pedang Menuju Kematian!"
SWOOOOOOOOSH—BOOOOOOM!
Garis cahaya pedang senja sepanjang tiga puluh tombak meledak dari jarak dekat!
Tetua Ketiga dan Tetua Keempat bahkan belum sempat mengaktifkan artefak pelindung mereka secara sempurna ketika gelombang pedang yang mengandung Api Abu Senja itu langsung menghantam dada mereka sekaligus menghancurkan pintu gerbang batu Penjara Air Hitam setebal tiga kaki di belakang mereka!
CRAAAAASH!
Pintu batu raksasa Penjara Air Hitam hancur berkeping-keping! Tubuh Tetua Ketiga langsung terbelah dua dan tewas di tempat, sementara Tetua Keempat terhempas menabrak dinding tebing dengan satu lengan putus dan pingsan bersimbah darah!
"Kau berani membunuh dua tetuaku tepat di depan mataku?! Formasi Seribu Rantai Es, Kunci!"
Tetua Pertama Han meraung murka hingga rambut putihnya berkibar! Ia mengaktifkan piringan formasi di tangannya, membuat ratusan rantai es raksasa mencuat dari tanah lembah untuk menutup jalan keluar dari lorong Penjara Air Hitam, sementara ia sendiri melompat mengejar Lin Xuan yang telah melesat masuk ke ruang terdalam penjara!
Di ruang terdalam bawah tanah Penjara Air Hitam yang gelap, bau amis darah dan air beracun begitu menyengat.
Di tengah kolam air hitam sedalam dada, seorang pria tua bungkuk berambut putih yang kedua matanya tertutup kain hitam tampak tergantung dengan kedua tulang belikatnya ditembus oleh dua kail besi pengunci tulang! Jubah abu-abunya telah penuh oleh darah yang membeku, dan napasnya terdengar sangat lemah akibat siksaan dua minggu terakhir.
Sosok tua itu adalah Tetua Mo Chen!
"Guru!"
Mata Lin Xuan langsung memerah saat melihat kondisi pria tua yang telah menyelamatkannya sejak bayi dan rela kehilangan nyawa di tepi tebing demi memberinya waktu hidup itu!
SRAAANG! SRAAANG!
Dua ayunan Pedang Pemutus Takdir langsung menebas putus kedua kail besi pengunci tulang yang terbuat dari baja roh itu bagaikan memotong tahu!
Lin Xuan melompat turun ke dalam kolam air hitam, mengangkat tubuh tua Tetua Mo Chen yang dingin ke atas bahunya, lalu dengan cepat memasukkan sebutir Pil Pemurnian Esensi Pola Awan (kemurnian 100%) dan setetes cairan esensi murni dari Lentera Abu Senja ke dalam mulut gurunya!
Begitu pil pola awan dan esensi Lentera Abu Senja itu mengalir masuk ke tenggorokan Tetua Mo Chen, warna hitam beracun di wajah tua itu perlahan memudar dan detak jantungnya kembali menguat!
Tetua Mo Chen terbatuk pelan dan membuka mulutnya dengan suara serak yang bergetar:
"Aroma pil dan suara pedang ini... Xuan... Xuan'er?! Apakah itu kau, Nak?!"
Tangan tua Mo Chen yang berlumuran darah meraba wajah Lin Xuan yang telah membuka topeng perunggunya. Ketika merasakan wajah muridnya yang sehat dan fluktuasi Qi Ranah Pembangunan Fondasi yang begitu megah di tubuh pemuda itu, air mata langsung mengalir dari balik kain hitam penutup mata Mo Chen!
"Kau hidup... Xuan'er benar-benar masih hidup! Hahaha, Langit ternyata masih punya mata!" Mo Chen tertawa haru sekaligus cemas luar biasa. "Tapi mengapa kau bodoh sekali masuk ke tempat ini, Nak?! Gu Tianheng dan Han Tua itu memasang perangkap untukmu di luar!"
"Guru tenang saja," kata Lin Xuan dengan suara hangat namun tegas sambil mengikatkan tubuh Tetua Mo Chen dengan kain sutra kuat di punggungnya agar kedua tangannya bebas memegang pedang. "Dulu Guru menggendongku melewati Sungai Kabut saat aku masih bayi, dan Guru melindungiku di tepi Jurang Tulang Iblis. Malam ini, giliran muridmu yang menggendong Guru keluar dari tempat terkutuk ini!"
kalo bisa alur ceritax dibuat liku2 jgn baru 100 chapter sudah sampai di alam atas...buat panjang ceritax....