"Kamu sudah menganggap anak kita adalah sebuah kutukan, maka suatu hari nanti dia akan benar benar menjadi sebuah kutukan untuk keluarga kamu mas!"
Itu adalah kata kata terkahir Riyanti yang bisa di dengar oleh suaminya Raditya ketika di tepi jurang.
Apa yang terjadi sebenarnya? kenapa bisa seseorang bisa menjadi terkutuk?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ridwan01, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Gita
Setelah mereka tahu rumah Raditya terbakar, Raditya akhirnya mengijinkan Kanaya untuk menginap di pesantren sementara Raditya akan menjaga Hilda dan Eva di rumah sakit dan tidak pulang sampai rumah mereka di perbaiki.
Jam pulang kantor, Sultan, Gerhana dan Irsyad sudah menjemput Kanaya dan Shaquilla, mereka sudah menunggu di area parkir, Gerhana sengaja memakai Hoodie karena dia tidak mau di kenali para karyawan pabrik.
"Kenapa tidak langsung ke pesantren saja kak? Pasti masih sakit itu punggungnya" keluh Kanaya khawatir karena Gerhana juga menjemputnya.
"Kan pakai supir, jadi nggak apa apa, mumpung Abah yai kasih libur dua hari sampai punggung ku sembuh" jawab Gerhana membukakan pintu mobilnya untuk Kanaya dan Shaquilla.
Di pesantren, Sulthan merasa kebingungan karena Shaquilla bilang dia ingin menginap di rumah Adrian juga, jagi Sultan mengalah dan pergi ke sana untuk meminta ijin pada Adrian dan Abidzar bahkan menelepon orang tua Shaquilla untuk ijin satu rumah dengan Shaquilla.
"Assalamu'alaikum" sapa Sultan dan Shaquilla karena Kanaya tetap akan di rumah Aryasatya.
"Wa'alaikumussalam.. Alhamdulillah kalian sudah sampai, lihat Zia buat kue keju dan kue brownies, para asisten rumah tangga sedang masak untuk makan malam, ayo ikut Abah ke ruang keluarga, kalian pasti cape" ajak Adrian menuntun Sultan dan Irsyad.
"Qilla mandi dulu, habis itu baru makan kuenya, nanti aku pergi ke pasar dulu untuk beli perlengkapan pakaian kamu ya, baju kamu dan Kanaya pada basah kan karena kena air tim damkar" ucap Sultan dan Shaquilla langsung berlari ke kamarnya yang sudah di tunjukkan oleh Adrian.
"Terima kasih, sekarang Shaquilla jadi lebih mandiri, dulu mandi saja harus di temani ibunya Lela" ungkap Adrian yang cukup dekat dengan kakak paling tua Shaquilla yang punya jarak usia cukup jauh dengan Shaquilla yaitu dua puluh delapan tahun.
"Masih harus di temani ko Abah, sekarang juga paling Shaquilla cuma cuci muka dan ganti baju" jawab Sultan terkekeh karena Kanaya biasanya yang selalu menemani Shaquilla.
"Lo pergi deh, Shaquille aman di sini" ucap Irsyad dan Sultan pamit untuk membeli perlengkapan Shaquilla dan Kanaya
Adrian mengobrol dengan Gerhana dan Irsyad tentang Raditya yang tadi pagi sempat kembali berubah dan tentang kenyataan kalau ternyata Raditya yang tidak melempar Kanaya juga Riyanti yang meninggal karena di dorong dari tebing oleh jin sesembahan Eva.
Adrian cukup terkejut karena ternyata kejadian sebenarnya justru tidak seperti yang di lihat oleh Sanca, dan sekarang Adrian mulai mengetahui, Raditya sudah di incar sejak lama oleh Eva, bukan hanya di incar sejak lama tapi juga di incar oleh manusia dan jin.
"Raditya pasti punya sesuatu yang di inginkan jin itu atau sesuatu yang membuat jin itu yakin Raditya bisa jadi wadahnya" ungkap Adrian
"Gerhana pikir mungkin karena darah Om Raditya tapi ketika di cek, darah Om Raditya masih merah, tidak hitam Abah yai" ucap Gerhana
Shaquilla sudah turun dan dia memang tidak mandi dengan alasan nanti saja mandi bersama dengan Kanaya agar malam tidak usah mandi lagi
"Shaquilla kenapa tidak mau di rumah Om Aryasatya?" tanya Abidzar
"Di sana kamarnya jauh ke dapur Om yai, kalau di sini dapurnya dekat" jawab Shaquilla cekikikan.
Mereka mengobrol cukup lama hingga hampir Maghrib, Adrian pamit untuk bersiap shalat Maghrib ke masjid sementara Gerhana dan Irsyad tetap di sana menemani Shaquilla yang khawatir pada Sultan yang belum kembali.
"Assalamu'alaikum" sapa Sultan yang ternyata sudah kembali, tapi ada satu yang membuat mereka mengernyitkan alisnya, karena Sultan pulang tidak sendirian, dia membawa seorang gadis muda bersamanya yang terlihat terluka dan juga kepalanya di perban.
"Wa'alaikumussalam.. sayang kenapa? Ini siapa?" Tanya Shaquilla khawatir dan menghampiri Sultan, bahkan Kanaya juga ke sana untuk mengajak Shaquilla shalat di masjid pesantren.
"Ini kenalkan namanya Gita, dia tidak sengaja aku tabrak tadi saat mobilku kehilangan kendali, aku sampai harus banting setir ke arah pohon" jawab Sultan
"Tapi kamu tidak apa apa kan?" Tanya Gerhana
"Alhamdulillah tidak apa apa, tapi gadis ini terserempet mobil Sultan kak, dia bilang di usir keluarganya dan tidak punya tempat tinggal jadi aku bawa ke sini untuk mondok di sini" jawab Sultan
"Gita, kenalkan ini adalah teman dan keluarga saya, yang paling cantik ini adalah pacar saya, kamu bisa panggil dia kak Shaquilla, ini temanya Kanaya dan yang tampan dan gagah ini adalah kak Gerhana juga Irsyad" ucap Sultan
"Halo Gita, kamu kenapa di usir keluarga Kamu?" Tanya Shaquilla
"Halo juga, aku...."
Gita tidak melanjutkan ceritanya dan hanya menunduk dengan mata berkaca-kaca, Sultan yang merasa iba hanya bisa mengusap punggung Gita agar bisa lebih tenang.
"Sudah, kamu tidak perlu cerita kalau belum siap"
"Langsung bawa dia ke pondok santriwati saja, pakaiannya biar nanti di antar Tante Zia" ucap Abidzar yang harus mengecek terlebih dahulu siapa Gita sebenarnya.
Shaquilla memang tidak akan mudah percaya pada orang asing, begitupun Sultan, dan sikap ramah Sultan pada Gita cukup mengganggu mood Shaquilla hingga harus di tenangkan Kanaya.
"Ayo kamu istirahat saja" ajak Sultan
"Biar Kanaya yang antar kak, kak Sultan mandi saja dan ganti baju" ucap Kanaya tegas saat Sultan akan mengantarkan Gita ke pondok santriwati.
"Iya deh, tolong di pastikan Gita nyaman ya, dia tidak punya siapa siapa soalnya" jawab Sultan mengecup kening Shaquilla, membuat telinganya langsung di jewer Abidzar.
"Qilla nggak suka kak Sultan perhatian pada perempuan lain selain Shaquilla dan keluarga kami saja" gerutu Shaquilla merasa cemburu dengan perhatian Sultan pada Gita.
"Tidak akan aku biarkan ada yang mengambil perhatian kak Sultan dari kami Shaquilla, Kanaya juga tidak akan membiarkan itu" bujuk Irsyad
"Hanya Kanaya dan kamu yang mengerti Qilla, Qilla sayang kalian" ungkap Shaquilla terisak.
"Iya aku tahu, kamu sekarang jangan nangis lagi" bujuk Irsyad tapi Gerhana merasa ada yang lain dengan Gita.
Malam tiba, Gita terlihat gesit membantu asisten rumah tangga menyiapkan makan malam di atas meja makan rumah Adrian karena Gita terus menangis di pondok santriwati hingga Zia memindahkan Gita ke rumah Adrian atas permintaan Adrian langsung. Sementara yang melihat itu meminta Gita untuk tidak melakukan apapun karena khawatir dengan kondisinya, apalagi Shaquilla yang terus menatap ketus Gita di sadari oleh Kanaya.