Di balik kesederhanaan hidupnya, Reyna tak pernah menyangka takdirnya berubah hanya karena seikat bunga pengantin. Di pernikahan sahabatnya, Reyna yang merasa minder justru menjadi pusat perhatian saat bunga yang dilempar Agnia mendarat di tangannya, dan kejadian konyol itu berlanjut dengan aksi perjodohan mendadak di atas pelaminan dengan seorang pria yang tidak Reyna kenal.
Bagaimana cerita selanjutnya? Apa yang akan terjadi pada Reyna? Siapa pria yang dijodohkan dengan Reyna?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon elaretaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hari Ini Kita Tutup Awal!
Pukul sepuluh lewat lima belas menit, Reyna tiba di depan bangunan ruko dua lantai berdesain kayu hangat tersebut. Papan pengumuman lowongan kerja yang kemarin menjadi penyelamat hidupnya kini sudah tidak ada, digantikan oleh pot tanaman hias yang mempercantik area pintu masuk.
Saat Reyna mendorong pintu kaca, denting bel manis bertingkat menyambut kedatangannya. Aroma khas wafel hangat, vanila dan gula karamel langsung menyeruak memenuhi indra penciumannya.
"Selamat pagi, Bu Kiki," sapa Reyna sopan ketika mendapati pemilik cafe sedang berada di balik konter kaca berisi jajaran es krim beraneka warna.
Bu Kiki menoleh dan tersenyum hangat, "Eh, selamat pagi, Reyna! Datang lebih cepat, ya. Bagus deh. Mari masuk, biar Saya perkenalkan dengan rekan kerja kamu," ucapnya.
Dari arah dapur belakang, seorang perempuan berseragam cafe, celemek berwarna cokelat kayu dengan logo es krim di bagian dada melangkah keluar membawa nampan berisi lap bersih, perempuan itu memiliki paras yang manis dengan senyum yang sangat ramah.
"Reyna, ini Mia. Mia ini sudah ikut saya sejak cafe ini pertama kali dirintis dua minggu lalu. Dan Mia, ini Reyna yang bakal jadi rekan kerja kamu mulai hari ini," ujar Bu Kiki mengenalkan.
Mia menyunggingkan senyum lebar dan mengulurkan tangannya antusias, "Hai, Reyna! Salam kenal ya. Wah, senangnya akhirnya aku punya temen sejawat di sini, kemarin-kemarin berasa sepi banget kalau lagi ramai pengunjung," ucap Mia.
Reyna membalas uluran tangan itu dengan hangat, "Salam kenal juga, Mia. Mohon bimbingannya, ya. Ini pertama kalinya aku kerja di cafe," ucap Reyna.
"Tenang aja! Gampang kok, yang penting hafal menu dan telaten melayani pembeli," balas Mia ceria.
Bu Kiki kemudian menyerahkan sebuah celemek cokelat yang masih baru dan bersih kepada Reyna, "Ini celemek kamu, Reyna. Hari ini Mia yang bakal ngajarin kamu, jangan ragu buat tanya kalau bingung, ya," ucap Bu Kiki.
"Baik, Bu Kiki. Terima kasih banyak," ucap Reyna penuh rasa syukur seraya mengikatkan tali celemeknya di pinggang.
Dua jam pertama berlalu dengan sesi pelatihan singkat, Mia mengajari Reyna dengan sangat sabar. Reyna yang memang terbiasa dengan kerapian dan ketelitian saat menjadi staf administrasi dapat menyerap sistem kasir dan hafalan menu dengan sangat cepat. Hanya saja, ia masih agak canggung saat mencoba memutar scooper es krim agar membentuk bulatan yang sempurna di atas wadah.
Pukul sebelas tepat, cafe pun akhirnya buka. Awalnya, pengunjung yang datang hanya satu atau dua orang, anak sekolah yang melintas atau pasangan muda yang ingin menikmati camilan sebelum makan siang. Namun, menginjak pukul satu siang, suasana cafe mendadak berubah drastis. Cafe tersebut rupanya sedang viral di media sosial lokal, membuat pengunjung datang berturut-turut.
"Reyna, pesanan nomor 12! Vanilla cone dua sama wafel belgian chocolate satu!" seru Mia dari balik mesin kasir.
"Siap, Mia!" sahut Reyna sigap.
Jemari Reyna bekerja cepat, ia mengambil mangkuk wafel hangat yang baru matang dan menyiramkan saus cokelat, lalu membentuk dua bulatan es krim vanila dengan gerakan tangan yang kian terbiasa. Meski kakinya mulai terasa pegal karena harus berdiri selama berjam-jam tanpa jeda, ada kepuasan tersendiri yang membuncah di dalam dadanya setiap kali melihat senyum puas dari para pelanggan yang menerima pesanannya.
Suasana cafe kian ramai dihampiri pengunjung yang penasaran dengan ulasan di media sosial. Antrean mengular hingga mendekati pintu kaca depan, membuat Reyna dan Mia bekerja ekstra cepat tanpa sempat duduk sekadar meluruskan kaki.
"Aduh, Rey! Ini permintaan wafel belgian chocolate sama es krim matcha makin meledak. Tanganku rasanya mau copot pas scoop es krim yang makin mengeras di bagian bawah pan!" keluh Mia setengah berbisik seraya menyapu keringat tipis di dahi dengan lengan bajunya.
Reyna mengulas senyum memberi semangat, tangannya sibuk mencetak struk kasir dan menata pesanan di atas nampan kayu. "Semangat, Mia! Nanti kalau antrean ini agak terurai, biar aku yang gantian ambil alih bagian scoop es krimnya."
"Wah, beneran? Makasih banyak ya, Rey! Kamu cepat banget adaptasinya, padahal baru hari pertama," puji Mia dengan mata berbinar.
Namun, saat pukul tiga sore, stok adonan wafel hangat di dapur belakang benar-benar tandas. Tidak hanya itu, deretan wadah stainless steel berisi es krim beraneka rasa di balik kaca konter mulai memperlihatkan dasarnya.
Pukul tiga lewat empat puluh lima menit, Bu Kiki melangkah keluar dari ruang simpan bahan baku seraya memegang buku catatan stok, wajah wanita paruh baya itu menyiratkan rasa terkejut bercampur haru yang tak terbendung.
"Mia, Reyna... habis ini kita tutup ya," instruksi Bu Kiki dengan suara penuh kebahagiaan.
Mia yang sedang mengelap konter langsung menghentikan gerakannya, matanya membelalak lebar. "Loh, Bu? Kok tutup sekarang? Ini baru jam empat kurang!" tanya Mia.
Bu Kiki tertawa kecil seraya memperlihatkan lembar catatannya, "Bahan wafel kita habis, stok es krim pilihan favorit juga sudah tidak tersisa satu wadah pun. Untuk pembuatan adonan baru butuh waktu fermentasi dan pendinginan yang tidak sebentar, jadi tidak mungkin kita paksakan buka sampai malam hari ini, besok kita nggak buka. Jadi, hari ini kita tutup awal!" jawabnya.
Mia langsung bersorak kegirangan seraya merangkul bahu Reyna, "Hore! Hari pertama kamu membawa hoki besar nih, Rey!" serunya
Reyna terkekeh pelan, rasa lelah yang sempat menumpuk di persendian kakinya seketika menguap digantikan rasa lega dan bersyukur. Pukul empat sore tepat, setelah membersihkan konter, mencuci peralatan dapur dan merapikan sisa-sisa bahan, mereka bertiga menyelesaikan agenda pembersihan area cafe.
"Terima kasih banyak ya untuk kerja keras kalian hari ini, hari ini kalian berdua luar biasa," ucap Bu Kiki seraya menyerahkan amplop uang transportasi harian dan bonus kecil atas pencapaian penjualan hari ini pada Reyna dan Mia.
"Kalian boleh pulang lebih awal dan istirahat yang cukup," lanjut Bu Kiki.
"Terima kasih banyak, Bu Kiki," sahut Reyna dan Mia serempak seraya membungkuk sopan.
Sesampainya di luar cafe, matahari sore Kota Bandung tampak menggantung hangat di ufuk barat, memancarkan sinar keemasan yang menembus celah-celah dedaunan pohon peneduh jalan. Mia melambaikan tangan pamit di halte bus, meninggalkan Reyna yang memilih melangkah santai menyusuri trotoar.
Pulang di jam empat sore memberikan rasa senggang yang sudah lama tidak dirasakan Reyna, ia sengaja tidak langsung memesan angkutan umum dan membiarkan kakinya melangkah menikmati semilir angin sore Bandung yang sejuk.
Langkah kaki Reyna yang kelelahan akhirnya terhenti di pelataran sebuah minimarket berkanopi lebar. Udara sore Kota Bandung yang sejuk menyapa kulitnya, membelai rasa lelah setelah seharian berdiri mengurus pesanan di cafe es krim. Dengan segelas teh melati dingin di genggaman, Reyna duduk di bangku plastik yang berjejer di depan minimarket, menikmati senggangnya sore seraya memperhatikan lalu lalang kendaraan.
Namun, keheningan itu tak bertahan lama. Sebuah mobil mendadak berhenti tepat di depan pelataran minimarket. Pintu penumpang belakang terbuka, dan seorang wanita paruh baya berpenampilan elegan melangkah keluar dengan senyum yang mendadak terkembang lebar begitu matanya menangkap sosok Reyna.
.
.
.
Bersambung.....
goda² Rey terus
langsung gas aja mas Dikta, gkusah pura² "sayangg banget yaa"🤭🤭🤭
kacau sih dokter ini,banyak tanya
ternyata oh ternyata ketinggalan berita heboh kamu nya Helena 🤣🤣🤣