NovelToon NovelToon
Cegil Berhenti Terobsesi

Cegil Berhenti Terobsesi

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen / Ketos / Balas Dendam
Popularitas:3.5k
Nilai: 5
Nama Author: Rofiwan

"Gue capek jadi badut. Mulai hari ini, lo bebas dari gue."

Selama tiga tahun di SMA Nusantara, semua orang tahu kalau Elsa Nur Cahyani adalah cegil (cewek gila) garis keras yang bucin mati-matian ke Muhammad Firdaus, Ketua OSIS sempurna yang sedingin es. Elsa rela dipermalukan, jadi seksi sibuk OSIS tanpa dibayar, sampai dihukum lari keliling lapangan demi cari perhatian Firdaus. Hasilnya? Nol besar. Firdaus tetap menganggap Elsa gangguan yang tidak punya harga diri.

Titik balik itu datang di hari ulang tahun Firdaus. Setelah kuenya dihancurkan dan cintanya ditolak mentah-mentah di depan satu sekolah, Elsa sadar: dia sudah selesai. Elsa memutuskan pensiun jadi budak cinta. Dia berubah total—menjadi cuek, fokus pada ujian, dan benar-benar menganggap Firdaus tidak ada.

Tapi anehnya, saat Elsa melangkah pergi, justru Firdaus yang mulai kehilangan arah. Cowok yang tadinya antipati itu mendadak sadar kalau dunia tanpa gangguan Elsa ternyata terasa sangat sepi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rofiwan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ditolak Pembina OSIS 27.

Malam menjemput dengan atmosfer yang lebih pekat dari biasanya.

Di salah satu sudut kedai kopi tua dekat stasiun, sebuah laptop usang menyala di antara dua cangkir cokelat panas yang mulai mendingin.

"Jarak margin kiri empat, atas tiga. Font-nya pakai yang formal, jangan yang aneh-aneh. Dan di bagian anggaran, tolong bulatkan angkanya biar gak membingungkan vendor." Suara Elsa mengalir lembut namun penuh instruksi. Jemarinya yang lentik bergerak lincah di atas keyboard.

Sementara Aris duduk di sampingnya, menopang dagu dengan satu tangan. Tatapan Aris tidak tertuju pada barisan angka di layar, melainkan pada lekatnya fokus di wajah Elsa.

Cahaya lampu kedai yang memantul di manik mata gadis itu, telah menciptakan binar yang sudah lama tidak Aris lihat: binar gairah hidup yang mandiri.

"Gue baru tahu, lo kalau lagi serius serem juga ya," bisik Aris, sudut bibirnya terangkat membentuk senyum tipis.

Elsa menghentikan ketukannya. Dia menoleh, mendapati wajah Aris yang hanya berjarak beberapa jengkal darinya. "Gue cuma gak mau kasih celah sedikit pun buat OSIS nolak proposal ini. Gue tahu Firdaus. Dia bakal nyari kesalahan sekecil apa pun, bahkan sampai ke titik koma."

Aris mengubah posisinya menjadi lebih tegak. Tangan kanannya bergerak, perlahan menyelipkan sehelai rambut Elsa yang jatuh menutupi pipi ke balik daun telinganya.

Sentuhan itu singkat, namun kehangatan dari jemari Aris yang kapalan akibat stang motor seperti menyetrum sesuatu di balik dada Elsa.

"Lo gak usah takut," ujar Aris, suaranya berat dan menenangkan. "Dia punya jabatan, tapi gue punya punggung yang siap nahan apa pun yang dia lempar ke kita. Fokus aja sama apa yang mau lo buktiin, Sa. Sisanya, biar gue yang urus."

Elsa tertegun. Kalimat Aris tidak muluk-muluk, tidak ada janji manis yang puitis.

Namun, rasa aman yang ditawarkannya jauh lebih nyata daripada ratusan kalimat penenang.

Bersama Aris, Elsa merasa dihargai sebagai manusia, bukan sekadar pelengkap bayangan.

**

Selasa pagi tiba dengan ketegangan yang merayap di bawah kulit.

Pukul tujuh kurang sepuluh menit, ruang Kepala Urusan Kesiswaan sudah riuh sebelum waktunya. Pak Satrio duduk di balik meja kerjanya yang dipenuhi tumpukan map.

Di depannya, Firdaus berdiri tegak dengan seragam OSIS yang super rapi, namun wajahnya keruh. Sementara di sisi lain sofa ruangan, Aris dan Elsa duduk tenang dengan sebuah map jilid tebal berwarna biru di atas meja.

"Bapak sudah membaca nota keberatan yang kamu ajukan secara resmi tadi malam melalui email, Firdaus," Pak Satrio membuka suara sambil melepas kacamata bacanya. Tatapannya beralih pada Ketua OSIS-nya. "Kamu meminta pembatalan pencalonan Aris dan Elsa dengan alasan hak veto OSIS terkait stabilitas nama baik sekolah?"

"Betul, Pak," jawab Firdaus tegas, suaranya bergema penuh otoritas tiruan. "Kita semua tahu rekam jejak Aris. Kasus perkelahian di luar sekolah, keterlambatan yang menumpuk. Mempercayakan anggaran puluhan juta dan negosiasi dengan sponsor besar kepada seseorang yang belum selesai dengan masalah kedisiplinannya adalah risiko besar bagi instansi sekolah. Saya hanya menjalankan fungsi pengawasan OSIS."

Firdaus berbicara tanpa menoleh sedikit pun pada Elsa. Egonya melarangnya untuk terlihat lemah. Namun, cengkeraman tangannya pada tali tasnya yang begitu erat mengkhianati ketenangannya.

Pak Satrio menghela napas panjang. Beliau mengambil map biru milik Aris dan Elsa, lalu mengetuk-ngetuk permukaannya ke meja. "Lalu, bagaimana kamu menjelaskan isi proposal ini, Firdaus?"

Firdaus mengernyitkan dahi. "Maksud Bapak?"

"Proposal yang diajukan Aris dan Elsa baru saja Bapak periksa sepuluh menit lalu. Struktur anggarannya jauh lebih efisien lima belas persen dibanding draf awal yang diajukan OSIS minggu lalu. Rencana mitigasi risikonya matang, dan mereka bahkan sudah melampirkan surat pernyataan minat (Letter of Intent) dari tiga alumni sukses yang siap menjadi sponsor utama," ujar Pak Satrio panjang lebar. Beliau menatap Firdaus dengan pandangan menembus. "Ini bukan kerjaan impulsif, Firdaus. Ini kerjaan tim yang tahu persis apa yang mereka lakukan."

Wajah Firdaus mendadak pias. Dia melirik sekilas ke arah Elsa. Elsa hanya menatapnya balik dengan pandangan kosong—tatapan yang sama seperti kemarin di koridor.

Tidak ada kemarahan, tidak ada binar obsesi, hanya ada jarak tak kasat mata yang kini membentang jutaan kilometer di antara mereka.

"Tapi, Pak..."

"Cukup, Firdaus," potong Pak Satrio, nadanya berubah tegas dan dingin. "Bapak melihat ada sesuatu yang tidak sehat di sini. Sebagai Ketua OSIS, kamu dinilai tidak profesional dan terkesan membawa masalah pribadi ke dalam ranah organisasi. Hak veto itu ada untuk melindungi sekolah dari kehancuran, bukan untuk memuaskan ego atau persaingan personal yang kekanak-kanakan."

Kata-kata Pak Satrio bagai tamparan keras yang mendarat tepat di wajah Firdaus di depan orang yang paling ingin dia intimidasi. Seluruh ruang sekretariat yang biasanya menjadi daerah kekuasaannya kini terasa mencekik.

"Keputusan Bapak sudah bulat," lanjut Pak Satrio sambil menandatangani lembar pengesahan di map biru. "Kepanitiaan umum resmi terbentuk di bawah pimpinan Aris dan Elsa. OSIS bertindak sebagai pendukung teknis, bukan pengawas yang mencari-cari kesalahan. Kalian boleh keluar."

Aris berdiri lebih dulu, mengambil map yang sudah ditandatangani dengan senyum tipis yang penuh kemenangan. Dia mengangguk hormat pada Pak Satrio, lalu menoleh pada Elsa. "Yuk, Wakil Cantik"

Elsa bangkit dari duduknya. Saat melangkah melewati Firdaus, langkahnya sempat tertahan karena Firdaus tiba-tiba menahan pergelangan tangannya. Sentuhan Firdaus gemetar, berbanding terbalik dengan sorot matanya yang kini dipenuhi rasa frustrasi yang mendalam.

"Sa... lo beneran mau hancurin semuanya?" bisik Firdaus, suaranya serak, hanya bisa didengar oleh mereka berdua. Ada nada memohon yang amat sangat di sana. Kehilangan Elsa ternyata lebih meremukkan dadanya daripada kehilangan jabatan ketua panitia.

Elsa melepaskan tangan Firdaus dengan perlahan namun pasti. Sentuhan yang dulu selalu ia rindukan, kini rasanya tak lebih dari sekadar hembusan angin dingin yang asing.

"Gak ada yang hancur, Daus," ucap Elsa pelan, menatap lurus ke dalam manik mata cowok yang pernah menguasai hatinya itu. "Semuanya cuma kembali ke tempat yang seharusnya. Gue dengan hidup gue, dan lo dengan ambisi lo."

Elsa melangkah pergi tanpa menoleh lagi, menyusul Aris yang sudah menunggunya di depan pintu dengan tangan terbuka.

Meninggalkan Firdaus yang berdiri mematung di tengah ruangan, merasakan perih yang teramat sangat ketika menyadari bahwa cangkang kosong bernama ego yang selama ini dia agungkan, akhirnya benar-benar pecah berantakan.

......................

...****************...

Tbc,

1
falea sezi
🤣🤣 lagii kurang q kirim sebanyak-banyaknya bunga🤭 buat Elsa gk menye
falea sezi
kurang kejam thor buat donk cegil di sukai cogan lain🤣
Queen Aisyah
/Drool//Drool/
falea sezi
🤣🤣 kasian di cuekin
Rofiwan: cegil ini lebih kejam dari pada Livy
total 1 replies
falea sezi
lanjut q krim hadiah
falea sezi
lanjut q kirim hadiah
falea sezi
btw author nya cwek apa cowok🤭
falea sezi
🤣 suka deh jangan jd cegil ngenes ya move on🤣
falea sezi
jangan ngemis ke cowok ya girl jd cwek mahal👍
Luna
US,,,US sadar woy , jangan dipaksa nanti malah kabur 🤣🤣🤣🤣🤣
Luna
jujur penasaran dengan author nya umur berapa yh? tema cerita novel nya semua kebanyakan sekolah,,,GK apa apa sih malah lebih enak gitu GK terlalu berbobot lebih ceritanya ( mafia, pelakor,drama warisan,) ,jadi bisa mengenang masa putih abu-abu dulu,🤭🤭🤭🤭
Luna: jujur yh semua novel mu yg aku baca keren keren,GK terlalu ribet dan drama anak sekolah itu keren,,,sudah sering baca novel sejenis ini tapi yg bener bener sesuai dengan kehidupan anak sekolah yh novel mu ini,,, semangat Thor ,,,saya tunggu kelanjutannya💪
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!