✨ Sinopsis
Aluna adalah gadis cantik dan agak nakal yang tumbuh dalam kemewahan, namun yang paling berharga baginya bukan harta, melainkan dua sahabat yang selalu ada di sisinya sejak kecil: Orion — tampan, tenang, bijaksana, & pintar; serta Rexy — ganteng, tegas, sedikit tengil, namun berhati emas & menjadi pelindung setia keduanya. Ketiganya anak dari keluarga terpandang, tumbuh bersama, berjanji tak akan pernah terpisahkan.
Namun seiring berjalannya waktu, rasa persahabatan itu perlahan tumbuh menjadi sesuatu yang lebih dalam. Baik Orion maupun Rexy sama-sama menyayangi Aluna lebih dari sekadar sahabat. Ketika hati Aluna akhirnya harus membuat pilihan sulit, ia menyadari bahwa memilih satu berarti menyakiti yang lain.
Di antara cinta & persahabatan, di antara kebersamaan & pengorbanan, ketiganya belajar: cinta sejati tidak harus memiliki, & persahabatan tulus adalah harta yang abadi selamanya. Sebuah kisah hangat tentang perjalanan hati, keikhlasan, & kebersamaan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon LailaHaidar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Anehnya Saat Kita Mulai Tumbuh Dewasa
Pagi itu matahari naik agak tinggi, menembus jendela kelas sebelah timur sampai menyinari meja tempat Aluna duduk. Dia baru saja menaruh tasnya, lalu melihat Orion yang sudah ada di sana sejak tadi — duduk tenang sambil membaca buku catatan biologi, kening sedikit berkerut karena fokus.
“Pagi Orion!” sapa Aluna sambil menyambar kursi di sebelahnya.
Orion mendongak, lalu tersenyum lembut. “Pagi Aluna. Hari ini kamu datang agak awal ya?”
“Iya, tadi sopir nyetir cepat banget. Tapi… kenapa rasanya semuanya jadi aneh belakangan ini?” gumam Aluna sambil menatap ke arah koridor.
Belum sempat Orion menjawab, terdengar langkah kaki berisik disusul suara teriakan khas Rexy.
“Woi! Kalian berdua udah ada di sini duluan?” Rexy berlari masuk sambil mengayun‑ayun tas, kerah seragamnya terlepas sedikit. Dia langsung duduk di depan meja mereka, tapi tiba‑tiba berhenti sejenak saat matanya bertemu tatapan Aluna. Pipinya memerah seketika, lalu dia cepat memalingkan wajah ke arah papan tulis.
Orion memperhatikan tingkah Rexy sambil berbicara pelan. “Kamu juga merasakan kan? Sejak beberapa waktu lalu, rasanya kita nggak kayak dulu lagi.”
“Maksudmu apa?” tanya Aluna bingung.
“Dulu kita bisa bercanda apa aja, lari‑lari ke taman, ngobrol sampai lupa waktu tanpa mikir hal lain. Sekarang… kadang ada hal yang ditahan di hati masing‑masing,” jawab Orion sambil menutup bukunya perlahan.
Rexy menggaruk tengkuk belakang lehernya, suaranya agak pelan beda dari biasanya. “Iya juga sih. Kemarin malam aku mikir‑mikir sendiri. Dulu kalau ketemu kamu, Lun, aku langsung pengen ngajak main atau ngeledek Orion. Sekarang… kadang cuma pengen duduk diam lihat kamu ketawa doang.”
Aluna terkejut mendengar itu. Dia juga sering merasakan hal yang sama. Kadang saat Orion menjelaskan tugas susah padanya, hatinya berdebar tanpa alasan. Atau saat Rexy datang melindunginya dari gangguan temen lain, rasanya ada kehangatan aneh yang menjalar ke dada.
“Bener juga ya… kita udah tumbuh besar,” ucap Aluna pelan. “Dulu mikirnya cuma main, sekarang tiba‑tiba banyak hal yang bikin kepala pusing.”
Saat jam istirahat tiba, mereka bertiga pergi ke bawah pohon besar seperti biasa. Udara pagi yang sejuk berubah jadi hangat terkena sinar matahari. Aluna duduk di tengah, Orion di sebelah kiri, Rexy di sebelah kanan.
Rexy melemparkan sebutir biji rumput ke arah daun di atas kepala Aluna, tapi tidak berani bercanda terlalu keras seperti dulu. “Dulu kita bisa lari ke sana‑sini tanpa beban. Sekarang malah kadang sungkan mau ngomong apa.”
Orion menatap ke arah jalan setapak taman. “Karena kita mulai punya perasaan baru yang belum kita kenali. Kadang kita takut salah ngomong, takut merusak apa yang sudah ada selama ini.”
“Tapi kan kita sahabat dari kecil!” seru Aluna sedikit panik. “Aku nggak mau karena ada perasaan baru, kita jadi nggak akrab lagi.”
Orion menggeleng pelan. “Bukan berarti kita harus menjauh. Hanya saja… cara kita melihat satu sama lain mulai berubah.”
Tiba‑tiba terdengar suara bel tanda masuk kelas berbunyi. Sebelum berjalan balik, Rexy sempat melirik Aluna sebentar, lalu berbisik kecil yang hampir tidak terdengar: “Aku nggak mau kita berubah jadi jelek… tapi aku juga nggak bisa bohong sama hatiku sendiri.”
Saat berjalan menuju kelas, Aluna melihat Orion dan Rexy saling melirik sebentar — tatapan yang penuh kegelisahan, seolah mereka berdua sedang menyimpan hal yang belum mau dikatakan padanya.
Sore harinya saat Aluna pulang ke rumah, dia langsung bertemu Mama Amira yang sedang duduk di teras sambil minum teh.
“Luna, wajahmu kelihatan bingung banget. Ada apa?” tanya Mama Amira sambil menepuk kursi di sebelahnya.
Aluna duduk lalu menghela napas panjang. “Ma… kenapa ya kalau kita udah tumbuh besar, semuanya jadi aneh? Teman‑teman yang dulu biasa aja, sekarang rasanya beda dilihatnya.”
Mama Amira tersenyum sambil mengusap rambut Aluna. “Itu namanya tumbuh dewasa sayang. Hatimu mulai belajar merasakan hal‑hal baru. Kadang bikin bingung, kadang bikin senang, kadang juga bikin takut.”
Aluna diam sebentar, memikirkan kata‑kata ibunya. Apakah perasaan aneh yang dia rasakan sama dengan yang dirasakan Orion dan Rexy?
Pertanyaan buat kamu:
Besok paginya, Orion sengaja datang lebih awal untuk menunggu Aluna sendirian di halaman sekolah, tanpa memberitahu Rexy. Apakah Orion akan mulai mengungkapkan perasaannya lebih dulu? Atau dia hanya ingin mengajak Aluna bicara tentang persahabatan mereka saja? Silakan tulis kelanjutannya! 😊