Dulu Queen cuma anak manja yang hidupnya aman di bawah sayap orangtuanya. Sampai malam itu, kedua orangtuanya dibunuh berdarah dingin oleh rival keluarga, Don King. Queen selamat, tapi dunianya hancur. 15 tahun kemudian dia kembali, bukan sebagai korban. Dengan taktik licik, pasukan setia, dan dendam yang membara, Queen merebut satu demi satu apa yang menjadi haknya dari musuhnya sampai seluruh dunia bawah berlutut di kakinya. Tapi dendam yang dia jalankan harus dia korban juga dengan darah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nina1708, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bukan Perang Tapi Damai
Happy Reading
❤❤❤❤❤❤❤
Hotel Excelsior Genoa. Jam 14.59.
Hotel ini bukan hotel biasa. Ini hotel bintang 5 tertua di Genoa, tempat semua keluarga mafia besar bikin perjanjian damai sejak tahun 1950-an. Dinding nya dari marmer putih, lantai nya karpet merah tebal, di lobi ada piano besar yang di mainkan wanita tua dengan gaun hitam. Di hotel ini, tidak boleh ada senjata. Itu aturan. Aturan yang bahkan tuan Herman pun patuhi dulu. Karena pemilik Hotel Excelsior adalah Dewan Tertua, Paman Cito sendiri.
Queen masuk tepat jam 15.00. Tidak terlambat satu detik. Dia tidak pakai blazer hitam sederhana seperti pagi tadi di sekolah. Dia pakai gaun hitam panjang, gaun yang dulu di pakai Nyonya Amanda di setiap pertemuan Dewan. Gaun yang menyapu lantai, sederhana tapi membuat semua orang di lobi hotel menatap. Rambut nya di ikat sanggul rendah, kalung Bulan sabit ibu nya berkilau di leher nya. Di samping kanan nya ada King, pakai jas hitam, bekas luka bakar di leher nya tidak di tutupi, justru terlihat jelas, sebagai pengingat bahwa dia pernah mati dan kembali. Di tangan King, dia tidak gendong Stella. Dia gendong sebuah koper besi hitam. Di dalam koper itu ada Miliar.
Di belakang Queen dan King ada Lucas, pakai jas abu-abu, membawa map berisi surat adopsi dan akta pendirian yayasan baru.
Dan di belakang Lucas, ada... Stella. Tapi Stella tidak di gendong. Stella berjalan sendiri, pakai gaun putih kecil yang baru di belikan Queen pagi tadi, sepatu merah kecil, rambut keriting nya di ikat dua. Dia menggandeng tangan Carla, yang juga pakai gaun hitam.
Stella tidak terlihat takut. Karena Queen sudah bilang pada nya pagi tadi, "Hari ini kakak akan ajak Stella ketemu Ayah. Tapi Stella tidak perlu takut. Karena kakak Queen adalah Ratu, dan Ratu tidak akan biarkan siapa pun ambil Stella kalau Stella tidak mau." Ucap Queen.
Di ujung lobi, di meja bundar besar yang biasanya di pakai untuk 12 orang Dewan, sudah duduk Daniel Russo. Daniel tidak sendirian.
Di samping kanan nya ada seorang pria tua berambut putih, memakai tongkat dengan kepala jangkar emas. Itu adalah Tuan Russo yang lama? Bukan. Itu adalah Paman Enzo, penasehat keluarga Russo, orang yang membesarkan Daniel dan Herman bersama. Di samping kiri nya ada... Bruno.
Ya. Bruno. Supir Tuan Herman yang dulu babak belur di hajar King di gudang pelabuhan nomor 7 dan seharusnya dipenjara. Tapi Bruno sekarang bebas. Kepala nya masih di perban, tangan nya masih di gips, tapi dia duduk di samping Daniel. Kenapa Bruno ada di pihak Daniel?
Queen langsung paham. Bruno adalah jembatan. Bruno adalah sisa anak buah tuan Herman yang paling setia pada Tuan Herman, tapi juga pernah jadi supir keluarga Russo waktu tuan Herman masih tinggal di Palermo. Jadi Bruno kenal dua keluarga.
Dan di belakang Daniel dan Bruno, berdiri 10 orang pria berjaket hitam. 5 orang dari mereka adalah sisa anak buah tuan Herman yang tidak tertangkap polisi malam itu di gudang. 5 orang lagi adalah anak buah keluarga Russo dari Palermo, dengan tato jangkar ular di leher. 15 orang. Semua menatap Queen.
Piano di lobi berhenti di mainkan. Wanita tua yang main piano itu tahu, akan ada perang mulut.
Queen berjalan pelan ke meja bundar itu. King membuka koper besi hitam. 2 juta euro terpampang. Uang masih baru, bau kertas baru.
Daniel tersenyum. " Nona Queen. Tepat waktu. Dan kau bawa uang nya. Pintar." Ucap Daniel.
Queen tidak duduk. Dia berdiri, menatap Daniel. "Daniel, sebelum kita bicara uang dan anak, aku mau perkenalkan seseorang," kata Queen, lalu dia menarik Stella pelan ke depan.
Stella menatap Daniel. Mata besar coklat nya menatap pria tinggi dengan jam Richard Mille itu.
Daniel yang tadi tersenyum dingin, saat melihat Stella langsung... Diam. Senyum nya hilang. Mata nya yang dingin seperti laut dalam, tiba-tiba berkaca-kaca.
Karena Stella... Sangat mirip Nyonya Amanda waktu kecil. Foto Nyonya Amanda umur 5 tahun yang ada di rumah Paman Cito, mirip sekali dengan Stella sekarang.
"Stella..." bisik Daniel, suara nya bukan lagi suara tuan Russo yang dingin. Tapi suara seorang ayah yang baru pertama kali lihat anak nya.
Stella bersembunyi di balik kaki Queen. "Mommy bilang, jangan dekat-dekat orang asing." Ucap Stella.
Queen berjongkok, sejajar dengan Stella. "Stella, ini Ayah Daniel. Ayah kandung Stella. Ayah yang ada di foto Mommy." Ucap Queen.
Stella mengintip. "Ayah?" Ucap nya.
Daniel mencoba berdiri, mau mendekati Stella, tapi King langsung maju setengah langkah, menghalangi.
"Jangan sentuh dia dulu," kata King dingin. "Kau belum berhak." Lanjut nya.
Daniel mengerti. Dia duduk lagi, menahan air mata nya. Untuk seorang ketua mafia laut yang biasa bunuh orang tanpa berkedip, melihat anak kandung nya sendiri membuat nya lemah.
Queen berdiri lagi, menatap semua orang di meja itu, termasuk Bruno dan sisa anak buah tuan Herman.
"Bruno," kata Queen, memanggil nama supir yang dulu mau bakar Marco.
Bruno menunduk. " Nona Queen..." Sapa Bruno.
"Kau bebas karena siapa?" tanya Queen. Bruno diam.
"Karena aku," kata Queen. "Aku yang bilang ke Carabinieri untuk bebaskan kau 2 bulan lalu, dengan syarat kau jaga anak-anak di sekolah pelabuhan dari jauh. Aku tahu kau butuh uang untuk anak mu sekolah. Aku bayar sekolah anak mu di sekolah Kasih Amanda gratis. Tapi kau malah bawa sisa anak buah Tuan Herman mau bakar sekolah ku?" Lanjut Queen.
Bruno langsung berlutut di lantai marmer Hotel Excelsior. Lantai yang tidak pernah ada orang berlutut kecuali untuk minta ampun pada Dewan.
"Maafkan saya, Ratu... Mereka... Mereka ancam anak saya... Mereka bilang kalau saya tidak ikut mereka bakar sekolah, mereka bunuh anak saya..." tangis Bruno.
Queen menatap 5 sisa anak buah tuan Herman yang berdiri di belakang Daniel. Mereka semua menunduk, tidak berani menatap Queen. Karena Queen adalah Ratu yang mengampuni supir yang mau membunuh nya.
"Berdiri, Bruno," kata Queen. "Aku tidak akan hukum kau. Karena kau lakukan itu untuk anak mu. Seorang ayah harus lindungi anak nya. Seperti yang Daniel mau lakukan untuk Stella." Lanjut Queen.
Queen lalu menatap Daniel. "Daniel, kau mau Stella karena dia darah mu. Kau mau 200 miliar karena itu hak anak mu. Aku mengerti. Tapi kalau kau ambil Stella sekarang, paksa, Stella akan benci kau seumur hidup. Seperti aku benci Herman. Kau mau anak mu benci kau?" Ucap Queen lagi.
Daniel menggeleng. "Tidak." Jawab Daniel.
"Kalau kau ambil 200 Miliar itu sekarang, kau akan kaya. Tapi kau akan tetap jadi Tuan Russo yang di takuti, yang musuh nya banyak, yang setiap hari takut di bunuh sisa anak buah tuan Herman. Kau mau hidup seperti itu selama nya?" Tanya Queen lagi. Daniel terdiam.
Queen membuka map yang di bawa Lucas. Di dalam nya ada akta baru.
"Ini akta pendirian baru. Aku sudah siapkan pagi tadi dengan pengacara keluarga dan notaris Vatikan." Ucap Queen.
Queen membacakan akta itu keras-keras, agar semua orang di lobi hotel dengar, termasuk 10 pria berjaket hitam itu.
"Akta Pendirian Yayasan Baru: NONA KECIL STELLA - JANGKAR DAN MAWAR."
***********
Happy Reading Guys. 🥰🤗