Di usianya yang baru menginjak 25 tahun, Rania mengambil keputusan besar dalam hidupnya. Ia menerima pinangan Arkan, seorang duda kaya raya berparas rupawan yang berusia 38 tahun. Kehidupan barunya tidak hanya membawanya pada gelimang kemewahan, tetapi juga menuntut Rania untuk beradaptasi dengan peran barunya sebagai ibu sambung bagi dua putra Arkan yang memiliki kepribadian sangat bertolak belakang.
Zidan, putra sulung Arkan ternyata bersahabat baik dengan keponakannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Noona Rara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mencari Tahu Tentang Rania
"Nggak punya pacar dia?" tanya Arkan pada putranya.
Zidan menggeleng. "Nggak. Nggak laku, katanya Galang."
"Masa?" Arkan tiba-tiba penasaran.
Zidan mengangguk. "Mau Zidan tanyain?" tawarnya.
Tanpa ragu, Arkan mengangguk.
"Zidan telepon dulu." ujarnya, lalu segera menelepon Rania.
"Halo."
Bukan suara Rania yang terdengar, melainkan suara anak kecil. Jelas ini suara Kenzie.
"Kenzie?" Zidan melirik ke arah Arkan.
"Abang?" sahut Kenzie dengan suara mengantuk.
"Kok HP Tante Rania ada di kamu?" Zidan heran.
"Tante tidur. Kenzie bangun, HP-nya berisik." jawab bocah itu polos.
Arkan menepuk bahu Zidan, membuat putranya menoleh. Ia menggeleng pelan, sebuah isyarat.
Zidan mengerti. "Ya udah, sana balik tidur."
"Oke." jawab Kenzie singkat sebelum menutup telepon.
Arkan duduk di kursinya, netranya tak lepas memandangi tumpukan berkas di atas meja yang tampak seperti gunung. Namun, pikirannya melayang jauh terjerumus ke dalam kata-kata terakhir yang diucapkan oleh putranya yang terekam berulang di benaknya.
Menghela napas panjang, tangannya terulur pada interkom. "Ke ruangan gue, Nat!" suaranya memberikan perintah.
Pintu ruang kerja yang tertutup itu terbuka pelan, dan Nathan melangkah masuk dengan langkah tegap. "Lu butuh sesuatu, Ar?" suaranya tenang, memecah keheningan.
Ketika hanya berdua, mereka tidak perlu bersikap terlalu formal. Arkan mengarahkan matanya pada Nathan. "Cari tahu semua tentang Rania, tantenya Galang. Gue butuh informasi yang detail, secepatnya." kataya, nada suaranya mencerminkan urgensi.
Nathan mengangguk, mengerti. "Oke, gue mulai sekarang." jawabnya sebelum menghilang di balik pintu yang tertutup kembali.
Butuh waktu satu jam bagi Nathan untuk mengumpulkan informasi mengenai Rania.
"Udah dapet?" tanya Arkan tanpa basa-basi ketika Nathan datang.
Nathan mengangguk dan menyerahkan sebuah map berisi dokumen yang baru saja ia kumpulkan. "Ini informasi tentang Rania."
Arkan mengambilnya, membuka halaman pertama, dan mulai membaca. Rania Arabella Pradipta. Lajang. Pengangguran banyak acara.
Matanya menyapu baris demi baris dengan cepat. Ia terus membaca hingga menemukan bagian yang menarik perhatiannya. Rania pernah bekerja di sebuah kafe selama masa kuliah lalu resign. Sejak itu, ia tak pernah bekerja lagi.
Arkan mengangkat wajahnya, menatap Nathan. "Kenapa dia nggak kerja lagi?"
"Nggak ada informasi resmi. Tapi katanya, dia berhenti dari kafe karena masalah keluarga." jawab Nathan.
Arkan menyipitkan mata, lalu kembali membaca. Ada beberapa detail yang membuatnya semakin tertarik. Tidak ada catatan skandal. Tidak ada hubungan asmara yang diketahui publik. Kehidupan cenderung tertutup.
"Nggak ada riwayat pacaran?" tanyanya, sedikit heran.
Nathan mengangkat bahu. "Nggak ada yang bisa gue temuin. Entah dia memang nggak punya atau pinter nutupin."
Arkan mengetuk permukaan meja dengan jarinya, berpikir. Rania bukan orang biasa. Kalau dia hanya perempuan biasa, Zidan dan Galang nggak mungkin membicarakannya.
Apa dia tertarik?
"Lu bisa dapetin lebih banyak dari ini?" tanyanya akhirnya.
Nathan tersenyum tipis. "Tentu aja. Mau sedalam apa?"
"Sedalam yang lu bisa." jawab Arkan santai, tapi sorot matanya tajam.
Nathan mengangguk. "Gue urus."
Setelah Nathan keluar, Arkan menyandarkan punggungnya ke kursi. Pandangannya kembali ke dokumen di tangannya. Rania Arabella Pradipta... Apa yang sebenarnya menarik dari perempuan ini sampai Kenzie langsung menempel padanya?
Terlintas di benaknya untuk mencari tahu langsung.
...****************...
"Cil, besok sekolah, ya!" bujuk Rania. Siang itu, ia sedang nongkrong bareng Karina. Kebetulan, hari ini Karina libur.
Kenzie langsung diam.
"Kenapa, Cil?" sahut Karina, menyadari raut wajah Kenzie yang berubah murung.
"Kalau sekolah, Kenzie nggak bisa main sama Tante." cicit anak itu pelan.
"Ya bisa aja. Tapi kalau kamu nggak sekolah, nanti jadi bodoh. Tante mah nggak mau, ya, satu sirkel sama anak bodoh. BIG NO !." kata Rania asal nyablak.
Ini nih yang bikin Rania sering dijuluki Mak Lampir sama Galang dan Zidan.
"Aku pintar, Tante!" Kenzie buru-buru membela diri.
"Pintar dari mananya?" Karina menimpali, tak tahan untuk ikut menggoda.
"Dari gen! Daddy-ku pintar. Udah pasti nurun ke aku." jawab bocah itu dengan bangga.
"Lah, belum tentu. Gen kecerdasan itu nurun dari emak, tahu." balas Rania santai.
Kenzie langsung terdiam. Ada perubahan di wajahnya sebelum akhirnya ia berucap pelan, "Emakku udah nggak ada. Oma bilang aku yang bunuh Mommy."
Kalau saja mereka tidak sedang di tempat umum, Rania mungkin sudah mengumpat. Mana ada seorang nenek bicara sejahat itu ke cucunya sendiri?
Ya, memang agak lain sih Oma-nya Zidan dan Kenzie.
"Terus kamu percaya gitu aja?" tanya Rania, suaranya lebih lembut sekarang.
Kenzie terdiam.
Rania menggeleng kecil. "Nggak ah, itu bohong. Fitnah."
Karina mengangguk setuju. "Hoaks itu." Bu dokter juga ikut nggak terima.
"Faktanya apa, Tante?" tanya Kenzie penasaran.
Rania tersenyum dan mencubit pipi bocah itu pelan. "Faktanya, kamu ganteng banget, Cil. Emakmu pasti bangga punya anak kayak kamu."
Kenzie menunduk. "Tapi Mommy udah di surga..."
Karina menepuk kepalanya pelan. "Nggak apa-apa. Mommy-mu pasti lihat kamu dari surga."
"Beneran?" tanya Kenzie dengan mataberbinar.
Rania dan Karina kompak mengangguk.
"Tanya aja ke Daddy-mu nanti kalau nggak percaya." suruh Rania santai.
Kenzie mengangguk-anggukkan kepalanya dengan ekspresi lucu.
Tiba-tiba, seseorang memanggil namanya. "Kenzie!"
Kenzie, Rania, dan Karina serempak menoleh ke arah suara itu.
Begitu melihat siapa yang datang, wajah Kenzie langsung berubah pucat. Tanpa pikir panjang, ia turun dari kursinya dan naik ke pangkuan Rania. Gadis itu sigap menahannya.
Seorang perempuan mendekati meja mereka dengan langkah percaya diri. "Ayo pulang, Tante anterin kamu. Oma sudah kangen sama kamu."
"Nggak mau." tolak Kenzie lirih, tangannya mencengkeram baju Rania erat.
Perempuan itu berjongkok agar sejajar dengan Kenzie. Suaranya terdengar lembut, tapi sorot matanya dingin. "Kenzie nggak boleh gitu. Kamu lupa pesan Oma?"
Rania bisa merasakan tubuh bocah itu bergetar di pelukannya.
Dengan tenang, ia bertanya, "Mbak ini siapa, ya?"
"Saya calon mommynya Azka." jawab perempuan itu tanpa ragu.
Karina langsung mendelik kecil. "Beneran calon mommy?" tanyanya refleks.
"Kamu nggak percaya sama saya? Tanya aja Luna bersikap ketus.
Namun, bukannya mengiyakan, Kenzie malah semakin menyembunyikan wajahnya di dada Rania.
"Tapi kayaknya Kenzie takut sama Mbak, deh. Mbak yakin calon mommynya?" selidik Rania, nadanya terdengar santai, tapi matanya tajam.
Luna mendengus. "Banyak tanya, ya, kalian."
Tiba-tiba, suara kecil Kenzie terdengar tegas. "Tante Luna bukan Mommyku."
"Kenzie!" tegur Luna, nada suaranya meninggi.
Karina langsung menyipitkan mata. "Eh, lha kok nyolot?" ujarnya, jelas tak terima dengan cara bicara perempuan itu.
Luna mengabaikan Karina dan kembali menatap Kenzie. "Kenzie, Daddy-mu sudah janji mau nikah sama Tante. Tante itu cinta pertama Daddy-mu."
Namun, Kenzie langsung membantah, suaranya lebih keras kali ini. "ENGGAK! Kenzie maunya Tante Rania aja, bukan Tante Luna!"