NovelToon NovelToon
Keluarga Ningratku, Menjodohkan Aku

Keluarga Ningratku, Menjodohkan Aku

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Crazy Rich/Konglomerat / Cintapertama
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: NinLugas

​“Antara kewajiban keluarga, perjodohan, dan cinta yang tumbuh tanpa rencana…”

Maizara​ merindukan kebebasan, sementara Dimas hanya peduli pada tahta dan bisnisnya. Ketika perjodohan membawa mereka dalam satu atap, setiap tatapan menjadi perang dingin, dan setiap sentuhan menjadi ancaman bagi hati mereka.

​Saat dua dunia menuntut kepatuhan, akankah rasa di antara mereka menyerah pada gengsi, atau tunduk pada cinta?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NinLugas, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 18: Kepulangan ke Jakarta

Seluruh rangkaian riset lapangan di Seoul akhirnya resmi berakhir. Laporan rekapitulasi data Focus Group Discussion, peta persepsi rasa konsumen lokal, hingga draf kerja sama dengan agensi kreatif di Korea telah rampung tersusun rapi di dalam dokumen kerja Tim Garuda.

Namun, kepulangan kami ke Jakarta sama sekali tidak membawa euforia yang seharusnya kami rasakan.

Dua penerbangan malam di Business Class yang kulewati terasa begitu hening dan berjarak. Tidak ada lagi bisik-bisik hangat, tidak ada lagi jemari yang saling menaut di balik selimut tebal, dan tidak ada lagi kecupan lembut di kening saat aku terlelap. Dimas tetap menjalankan perannya sebagai pimpinan dengan sangat profesional, namun di luar urusan pekerjaan, dinding es yang tebal kembali membentang kokoh di antara kami.

Setibanya di Jakarta, aku masih menumpang beberapa hari di rumah orang tua Dimas. Mbak Dinar dari agensi Jogja sedang membantuku mencarikan unit apartemen sewa yang cocok dan strategis dekat kantor pusat, agar aku bisa pindah begitu masa tugasku resmi berjalan penuh.

Di dalam kamar tidur berdesain krem yang tenang itu, aku sering bergeming di depan jendela, memandangi bayangan diriku sendiri.

Apakah Tuhan suatu saat nanti akan menghadirkan seseorang yang benar-benar mirip denganku? Seseorang yang setulus dan sebaik diriku, yang benar-benar pantas untukku? Seseorang yang memahami jiwaku, sehingga aku tidak perlu lagi menghabiskan sisa hidupku hanya untuk menjelaskan siapa diriku dan apa batasanku?

Renungan sunyi itu menjadi penawar luka di dadaku. Aku berjanji pada diri sendiri untuk terus menjadi baik, karena energi dan ketulusan tidak pernah berbohong. Aku akan tetap tulus, tetap menjadi diriku sendiri, dan membiarkan waktu yang mengantarkan seseorang yang benar-benar satu frekuensi dengan jiwaku—entah itu Dimas yang akhirnya sadar dan meruntuhkan egonya, atau takdir lain yang disiapkan Tuhan.

Selama di rumah dan di kantor, interaksiku dengan Dimas sangat terbatas. Aku hanya bicara seperlunya bila hal itu menyangkut masalah pekerjaan dan laporan proyek K-Sambal Fusion. Selebihnya, aku memilih diam dan menarik diri.

Sore itu, kejutan manis menghampiriku saat aku baru saja melangkah turun ke ruang tengah rumah Mami.

Sesosok pemuda jangkung berpakaian kaos kasual dan jaket denim sedang duduk di sofa ruang tamu sambil menikmati teh hangat. Wajahnya yang familier membuat mataku berbinar seketika.

"Adam?!" pekikku kaget bercampur gembira.

Pemuda itu menoleh cepat, lalu berdiri dengan cengiran lebarnya yang khas. "Mbak Mei!"

Aku langsung berlari kecil dan memeluk adik kandungku itu dengan erat. Rasa rindu pada hangatnya keluarga di Jogja seketika membuncah.

"Kamu kok bisa ada di Jakarta, Dam? Ndak bilang-bilang Mbak dulu!" tanyaku seraya melepaskan pelukan dan menatap wajahnya.

Adam terkekeh pelan, mengusap tengkuknya. "Iya, Mbak. Ini kebetulan libur semester pendek. Aku ke Jakarta sekalian mau ketemu teman seangkatan yang satu tempat kuliah. Dia lagi pulang ke rumah orang tuanya di Jakarta. Yo sekalian aku mampir ke sini, Mami tadi yang nyuruh aku menginap di sini saja."

Mami yang baru keluar dari dapur membawa nampan berisi kudapan hangat tersenyum lebar melihat kami. "Nah, bener kan, Mei. Mami senang sekali Adam datang. Rumah jadi ramai."

"Matur nuwun sanget ya, Mami, sudah memperbolehkan Adam menginap," ucapku penuh rasa terima kasih.

"Yo ndak apa-apa to, Nduk. Adam kan adiknya calon mantu Mami," balas Mami ramah.

Namun, di balik alasan "menjumpai teman kuliah" itu, aku mengenal adikku luar dalam. Binar mata Adam yang sedikit gelisah dan matanya yang terus-menerus melirik layar ponselnya tidak bisa membohongiku.

"Kamu ke Jakarta benar cuma mau ketemu teman kuliah, Dam?" bisikku curiga saat Mami kembali ke area dapur.

Adam menggaruk alisnya, lalu mendekatkan wajahnya ke arahku, berbisik pelan dengan raut cemas. "Jangan bilang-bilang Romo ya, Mbak... Sebenarnya aku mau ketemu Alya."

Aku menaikkan sebelah alisku. "Alya? Teman kampusmu itu?"

"Tepatnya... pacarku, Mbak," aku Adam polos dengan wajah merona merah. "Kami sudah pacaran hampir setahun. Tapi ya gitu, pacaran diam-diam. Mbak tahu sendiri kan Romo gimana? Romo paling ndak suka kalau anaknya masih kuliah tapi sudah pacar-pacaran. Bisa mengamuk beliau kalau tahu."

Aku menghela napas panjang, mengangguk paham. Romo memang sangat keras jika menyangkut aturan dan fokus pendidikan anak-anaknya. Perlakuan kaku Romo pada Adam dalam hal percintaan adalah cerminan dari betapa mengaturnya Romo pada kehidupan kami.

"Ya sudah, yang penting kamu jaga diri baik-baik di Jakarta. Jangan sampai keterlaluan," pesanku bijak pada Adam.

Malam harinya, suasana makan malam di ruang makan keluarga Arjowibowo terasa begitu kontras.

Mami dan Adam mengobrol dengan sangat renyah mengenai tempat-tempat wisata dan kuliner di Jogja. Sementara aku duduk di sebelah Adam, menikmati makan malamku dengan tenang dan lebih banyak diam.

Dimas duduk tepat di seberang mejaku. Pria itu mengenakan kemeja santai berwarna biru tua. Ketampanannya tetap memikat, namun aura dingin dan jarak yang dibentangkannya sangat terasa. Sepanjang makan malam, Dimas hanya fokus pada piringnya, atau sesekali merespon ucapan Adam dengan nada berat yang sopan namun formal.

Tatapan mata hitam Dimas beberapa kali tertuju padaku, menanti respon atau selipan senyuman yang biasanya selalu kuberikan. Namun, aku memilih mengalihkan pandanganku pada cangkir air putih atau pada obrolan Adam.

"Mas Dimas," panggilku pelan dengan nada profesional yang sangat terjaga, memecah hening di antara kami berdua.

Dimas seketika menegakkan posisi duduknya, menatapku lurus dengan pendar mata yang mendadak intens. "Ya, Mei?"

"Laporan rekapitulasi riset Seoul untuk bagian Focus Group Discussion sudah aku kirim ke email Mas Dimas dan Mas Vino tadi sore," tuturnya tenang dan formal. "Mohon dicek kembali kalau ada draf revisi sebelum draf utamanya diserahkan ke tim desain."

Mendengar nadaku yang begitu kaku dan formal sangat berbeda dari panggilan hangat "Mas Dimas" di Seoul dulu raut wajah Dimas seketika berubah agak redup. Ada pendar kekecewaan yang melintas cepat di matanya.

"Terima kasih, Mei. Nanti malam langsung aku periksa," jawab Dimas singkat, suaranya terdengar agak parau.

Adam yang berada di sampingku melirikku dengan kening berkerut. Sebagai adik yang cukup peka, dia bisa merasakan ada ketegangan aneh yang menggantung kaku di antara aku dan calon suamiku.

Usai makan malam dan membantu Mami merapikan meja, Adam mengajakku duduk di kursi kayu teras belakang yang menghadap ke kolam renang. Angin malam Jakarta yang sejuk berhembus pelan, membuai daun-daun pohon mangga di sudut halaman.

Adam menyodorkan segelas teh hangat padaku.

"Mbak Mei..." panggil Adam pelan, menatapku dengan pandangan penuh rasa ingin tahu.

"Kenapa, Dam?"

"Mbak lagi ada masalah ya sama Mas Dimas?" tanya Adam blak-blakan. "Rada aneh rasanya. Mas Dimas biasanya kalau ngeliat Mbak itu tatapannya kayak mau nemenin ke mana aja, tapi tadi kok kaku banget. Mbak Mei juga ngomongnya kayak lagi ngomong sama klien kantor, bukan sama calon suami."

Aku menyesap teh hangatku pelan, menatap riak air kolam renang yang membiaskan cahaya lampu taman.

"Kami cuma lagi menyelesaikan beberapa hal, Dam," jawabku diplomatis, berusaha menjaga nama baik Dimas di depan adikku sendiri. "Urusan pekerjaan di Seoul kemarin cukup menyita pikiran."

Adam menghela napas, menyandarkan punggungnya di kursi. "Mbak... aku ini adikmu. Dari kecil aku tahu betul kebiasaan Mbak Mei. Mbak itu kalau lagi kecewa atau sakit hati ndak pernah mau marah-marah. Mbak pasti cuma diam dan menarik diri kayak gini."

Kata-kata jujur dari Adam membuat dadaku berdesir halus. Ternyata adikku ini sangat memahami tabiatku.

"Mas Dimas itu orangnya memang kelihatan dingin dan berkuasa banget ya, Mbak," lanjut Adam lirih. "Tadi waktu di ruang tamu, aku sempat ngobrol sebentar sama beliau soal kuliahku. Dia tegas banget, mirip-mirip Romo tapi versi lebih modern. Tapi Mbak jangan sampai mengorbankan perasaan Mbak sendiri cuma demi menyenangkan orang lain ya."

Aku tersenyum tipis, meremas cangkir teh di tanganku. "Terima kasih ya, Dam. Mbak tahu apa yang harus Mbak lakukan kok. Kamu sendiri gimana sama Alya? Besok mau ketemu di mana?"

Wajah Adam seketika berubah berbinar gembira, topik tentang Alya berhasil mengalihkan perhatiannya.

"Alya besok mau jemput aku di dekat stasiun dekat sini, Mbak," cerita Adam antusias, suaranya dipelankan. "Kami mau jalan-jalan ke daerah Kota Tua sama makan malam di Senopati. Alya itu beda banget sama cewek-cewek lain, Mbak. Dia mengerti banget posisiku yang harus sembunyi-sembunyi dari Romo. Dia ndak pernah menuntut hal yang aneh-aneh."

"Baguslah kalau begitu," sahutku tulus. "Yang penting kamu tetap ingat kuliahmu. Jangan sampai nilaimu turun, nanti Romo malah makin curiga."

"Siap, Mbak Mei!" janji Adam sambil menyeringai lebar.

Saat jam menunjukkan pukul sepuluh malam, Adam sudah pamit masuk ke kamar tamu di lantai bawah untuk beristirahat. Aku melangkah pelan menaiki anak tangga kayu menuju lantai dua.

Suasana koridor lantai dua begitu hening. Cahaya lampu dinding berwarna kuning redup memberi kesan syahdu sekaligus sepi.

Saat aku melintas di depan pintu kamar Dimas, pintu kayu tebal itu mendadak bergeser terbuka.

Dimas berdiri di ambang pintu. Pria itu sudah melepas kemeja kerjanya, kini hanya mengenakan kaos polos hitam dan celana santai. Rambut gondrongnya sedikit berantakan, dan raut wajahnya tampak sangat lelah bukan hanya lelah fisik, tapi lelah batin yang terpancar jelas dari manik mata hitamnya.

Langkah kakiku terhenti secara refleks. Kami berdiri berhadapan hanya berjarak dua tapak di dalam koridor yang sunyi.

"Mei," panggil Dimas, suaranya begitu rendah dan dalam, sarat akan kerinduan yang tertahan.

"Iya, Mas Dimas? Ada berkas laporan yang kurang?" tanyaku dengan nada datar dan sopan, membentengi diriku rapat-rapat.

Dimas memejamkan matanya sejenak, menghembuskan napas panjang yang berat. Pria jangkung itu melangkah satu tapak mendekatiku. Tangan tegapnya terangkat perlahan di udara, seolah ingin mengelus pipiku atau memegang jemariku seperti yang biasa dilakukannya, namun jemarinya menggantung kaku sebelum akhirnya dia tarik kembali ke dalam saku celananya.

"Sampai kapan kamu mau bersikap formal dan asing seperti ini sama aku?" tanya Dimas parau, matanya menatap tepat ke dalam manik mataku.

Aku menatapnya lurus tanpa rasa gentar, walau di dalam dada hatiku menangis menjerit.

"Aku tidak bersikap asing, Mas," balasku pelan namun mantap. "Aku hanya bersikap profesional sebagaimana mestinya seorang staf ahli kepada pimpinan perusahaannya."

"Aku bukan cuma pimpinan perusahanmu, Maizara!" potong Dimas dengan nada tekan yang tertahan, matanya menatapku dengan luka yang dalam. "Aku calon suamimu!"

"Calon suami yang kemarin tidak mau mendengarkan dan menghargai batasanku?" balasku menohok, suaranya lirih namun sanggup membekukan udara di antara kami.

Dimas bungkam seketika. Rahangnya mengerasa, raut bersalah dan frustrasi terpancar jelas di wajah tampannya.

"Aku butuh waktu, Mas Dimas," lanjutku tenang, merapikan posisi berdiriku. "Mbak Dinar sebentar lagi mendapatkan unit apartemen sewa untukku. Begitu tempatnya siap, aku akan pindah dari rumah ini agar kita berdua bisa sama-sama berpikir jernih."

Tanpa menunggu tanggapan atau bantahan dari mulutnya, aku membungkuk sopan sedikit. "Selamat malam, Mas Dimas."

Aku melangkah melewati tubuh tegapnya, membuka pintu kamarku yang berada tepat di sebelah kamarnya, dan menutupnya dengan rapat.

Di balik pintu kamar yang terkunci, aku menyandarkan punggungku, mengusap air mata tipis yang menetes di pipiku. Di luar sana, Dimas masih berdiri mematung di koridor sunyi, menyadari bahwa benteng diam yang kubangun kini menjadi jarak terjauh yang harus diruntuhkannya jika dia tidak ingin kehilangan diriku selamanya.

1
Mia Camelia
lanjut thor😁
Adira🍓
Sedang menyalakan kembang api Dim 🤪🤪🤪
Adira🍓
Belum apa^ mo jadi benalu si Kar ini 🤮🤮🤮
Adira🍓
Kartika bukan mantannya Dimas kan 🤔
NinLugas: mantan ena2😄
total 1 replies
Adira🍓
Tapi x ini aq tak setuju dengan keputusan kau Dim 🤪🤪🤪🤪
Adira🍓
Pelajaran apa Romo??? menggugurkan janin???🤪🤪 nambah dosa iy 🤣🤣🤣
Adira🍓
Tapi janin itu tak punya dosa apa^ 😔 apa salahnya lahirkan sja nanti biar Mei dan keluarganya yg besarkan... dan Alya bisa fokus dengan masa depannya lagi 🤪🤪🤪
NinLugas: kita lihat aja nnti kk
total 1 replies
falea sezi
🤣🤣 adam lugu dpet alya pemain🤣 s kayaknya sering gugurin bayi si alya ini😒
NinLugas: hmm by pertama kak 😄✌️
total 1 replies
Adira🍓
Bisa y Adam yg diperkosa Alya yg hamil 🤣🤣🤣🤣🤣 cek dulu Dam, x aja itu bukan anakmu,,, Alya kan dah lihai, psti dah sering celap-celup 🤪🤪
NinLugas: 🤭🤭🤭 kasihan Adam
total 1 replies
Adira🍓
Es batunya udah meleleh Mi,,, udah dikasih jatah soalnya 🤣🤣🤣🤣
NinLugas: 😄😄😄😄 hahah ssttt
total 3 replies
Adira🍓
Sekarang kapanpun dimanapun bisa cap cip cup y Dim 🤪🤪🤪
Adira🍓
Tumben bab ini agak rancu Thor tulisannya,,,, bagian atasnya banyak yg disekat^ gtu...
NinLugas: iy eh lupa KLO dari word bnyak Sekat KLO SDH d publish dsni
total 1 replies
Adira🍓
Masih formal aja si Dimas 😜
Adira🍓
Jebollah keperawanan anak orang 🤣🤣 btw sudah berapa wanita yang Dimas jebol perawannya 🤔
NinLugas: 😄😄😄 rahasia
total 1 replies
Adira🍓
Pada akhirnya Dimas yg pegang kendali 🤪🤪
falea sezi
😒kecewa ternyataa dimas cm ngincar perawan🤣🤣🤣 pasti abis ne di tinggalin🤭
NinLugas: hmm...gmn ya 😄✌️✌️
total 1 replies
falea sezi
tunangan uda minta ngeweee... 🤣🤣 yg bner ada dimass elu uda sering nyelup pcr pcr elu jd ketagihan lah si calon istri mu ini perawan darah keraton perawan itu barang di jaga sakral😓
NinLugas: ✌️✌️✌️ sabar2 kak🤭
total 1 replies
falea sezi
curiga pasti alya wanita jalang
NinLugas: bisa jadi kak🤣
total 1 replies
falea sezi
dimas melepas perjaka ma mbk psk apa pacar ya🤭
NinLugas: nnti ketahuan wkwk
total 1 replies
falea sezi
ya gk perjaka denggg🤣 nasib Mei dpet bekas
NinLugas: apes dia wkwk 🤭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!