NovelToon NovelToon
Benalu Di Dalam Rumah Tanggaku

Benalu Di Dalam Rumah Tanggaku

Status: tamat
Genre:Penyesalan Suami / Single Mom / Crazy Rich/Konglomerat / Tamat
Popularitas:28.1k
Nilai: 5
Nama Author: kikoaiko

Maya menikah dengan Ryan yang berasal dari desa. Setelah menikah mereka tinggal di rumah Maya yang di beli sebelum dia menikah.

Awalnya adik Ryan dan istrinya datang, mereka bilang hanya menumpang sebentar sampai mendapatkan kontrakan baru di Jakarta. Namun sudah sampai sebulan mereka menginap, bukannya pergi malah ibunya Ryan yang dari kampung datang dan ikut tinggal di rumahnya.

Mereka tidak mau bekerja, mereka justru menjadikan Maya sebagai pembantu.

Puncaknya, adik Ryan menampar Maya, sementara Ryan hanya diam saja tanpa membelanya. Saat itu Maya sadar, ia bukan lagi seorang istri di rumah tangganya sendiri.

Maya yang marah akhirnya memilih menjual rumah itu, dan menggugat cerai suaminya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kikoaiko, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 3

Ruang makan rumah itu terasa lebih sempit dari biasanya pagi itu. Aroma sisa nasi goreng yang ada di atas piring masih menyengat di udara, bercampur dengan bau kopi hitam yang menguap dari cangkir Rian.

Kayla duduk di kursi tingginya, sibuk memasukkan potongan pisang ke mulutnya dengan tangan kecil yang masih kotor.

“Kenapa tidak pulang kampung? Kalau di sini juga gimana nanti dengan makannya?” tanya Mia. Suaranya pelan, tapi jelas. Jujur saja, dia sedikit keberatan adik suaminya akan menumpang di rumahnya.

Rian yang sedang mengaduk kopinya berhenti sejenak. Ia mengangkat kepala, menatap Mia dengan alis yang sedikit berkerut.

“Kamu kenapa? Kamu tidak setuju adikku menumpang di sini? Selama ini kan aku yang kerja, tidak masalah jika harus ngasih makan mereka,” ucap Rian. Nada suaranya tegas, hampir seperti sedang memberi perintah.

Mia mengepalkan tangannya kuat di bawah meja. Jari-jarinya pucat karena ditekan terlalu keras. Ia menunduk sebentar, menatap piring yang berisi sisa nasi yang belum habis. Di kepalanya, berbagai kenangan berputar cepat.

Dulu, sebelum menikah, Mia adalah perempuan yang mandiri. Ia bekerja di sebuah perusahaan swasta dengan posisi yang cukup bagus. Gajinya besar, cukup untuk mencicil rumah kecil di pinggiran kota dan membeli mobil baru dari toko. Ia bangga dengan pencapaiannya. Setiap bulannya dia tidak perlu memberi uang untuk orang tuanya, karena mereka masih mampu. Sehingga semua gaji yang dia miliki dia pegang sendiri.

Tapi semuanya berubah setelah menikah.

Rian yang saat itu masih bekerja sebagai staf administrasi di kantor kecil merasa minder. Suatu malam, beberapa bulan setelah pernikahan, ia duduk di tepi ranjang dengan wajah serius.

“Mia… aku minta kamu resign saja,” katanya pelan waktu itu. “Aku merasa tidak nyaman. Gajimu lebih besar dariku. Aku mau jadi kepala keluarga yang sesungguhnya. Biar aku saja yang bekerja. Kamu di rumah saja, urus anak kita nanti.”

Mia sempat menolak. Ia menangis malam itu. Tapi Rian terus membujuk, mengatakan bahwa itu demi keharmonisan rumah tangga. Demi ego laki-laki yang merasa harus lebih unggul. Akhirnya, Mia mengalah. Ia mengundurkan diri. Rumah dan mobil yang dulu dibeli dengan keringatnya sendiri kini masih atas namanya, tapi suaminya yang selalu memakai mobil itu.

Sekarang, tiga tahun kemudian, mereka punya Kayla. Kehidupan tampak harmonis dari luar. Tapi jika berurusan dengan keluarganya, Rian akan membelanya mati-matian.

Dan sekarang, adiknya tiba-tiba ingin menumpang. Lukman baru saja kehilangan pekerjaan di kota ini. Mereka tidak punya tempat tinggal sementara. Rian tanpa berpikir panjang langsung menawarkan rumah mereka.

“Mereka cuma butuh beberapa bulan,” kata Rian tadi malam. “Nanti setelah Lukman dapat pekerjaan baru, mereka akan pindah.”

Mia menarik napas dalam-dalam. Ia ingin bilang banyak hal. Ingin bilang bahwa rumah ini dulu dibeli dengan uangnya. Ingin bilang bahwa ia sudah mengorbankan kariernya. Ingin bilang bahwa menambah dua orang dewasa, dan satu anak kecil akan membuat pengeluaran membengkak, sementara gaji Rian saja sudah pas-pasan untuk kebutuhan mereka.

Tapi baru sempat Mia ingin membuka mulut, suaminya sudah pergi begitu saja meninggalkan ruang makan.

Kursi Rian berdecit keras ketika didorong ke belakang. Ia berdiri, mengambil jaket yang tergantung di dekat pintu dapur, lalu berjalan keluar tanpa menoleh.

“Aku pergi sebentar,” katanya datar, tanpa menjelaskan ke mana.

Brak.....

Pintu rumah tertutup dengan suara yang agak keras.

Mia terdiam. Tangannya masih mengepal di pangkuan. Di kursi tinggi, Kayla menatap ibunya dengan mata bulat.

"Papa malah?” tanya anak itu dengan suara kecil.

Mia segera menghapus ekspresi tegangnya. Ia tersenyum dipaksakan, lalu mengusap rambut putrinya.

“Tidak, sayang. Papa cuma… ada urusan. Ayo, makan dulu pisangnya sampai habis.”

Tapi di dalam hati, Mia merasa dada sesak. Ia memandang sekeliling ruang makan yang dulu ia desain sendiri. Meja kayu yang ia pilih, gorden yang ia jahit, foto keluarga yang digantung di dinding. Semua itu terasa seperti milik orang lain sekarang.

Ia berdiri, mengumpulkan piring-piring kotor, dan membawanya ke wastafel. Air mengalir deras, tapi pikirannya lebih deras lagi.

Apakah salah jika ia merasa keberatan? Apakah salah jika ia ingin menjaga ruang privat keluarga kecilnya? Ataukah ia memang harus terus mengalah, seperti dulu ketika diminta resign?

Di luar, suara mesin mobil Rian menyala. Kendaraan itu menjauh, meninggalkan Mia dan Kayla di rumah yang tiba-tiba terasa terlalu sunyi.

Mia menatap bayangannya sendiri di kaca jendela. Wanita yang dulu mandiri, yang dulu bisa membeli rumah dan mobil dengan tangannya sendiri, kini hanya bisa berdiri di dapur, menerima semuanya.

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

Ting tong...

Ting tong...

Ting tong...

Pagi-pagi sekali, bel rumah Mia sudah berbunyi berkali-kali. Suaranya bahkan membuat suasana rumah yang masih tenang menjadi sedikit terganggu.

Rian yang baru saja selesai mandi langsung berjalan menuju pintu. Ia sudah tahu siapa yang datang. Sejak beberapa hari lalu, adiknya, Lukman, memang sudah memberi tahu bahwa dirinya dan sang istri akan datang pagi ini.

Ceklek...

Pintu terbuka.

“Lho, kalian sudah datang?” Rian tersenyum melihat adiknya berdiri di depan pintu bersama Sonya. “Ayo, masuk.”

“Terima kasih, Kak,” jawab Lukman.

Sonya yang membawa sebuah tas langsung melangkah masuk terlebih dahulu. Tak lama kemudian, Lukman menyusul sambil mengangkat beberapa koper dan kardus yang tampaknya berisi hampir seluruh barang mereka.

Rian membantu mengambil sebagian barang bawaan adiknya.“Biar aku bantu.”

“Tidak usah, Kak. Aku masih kuat,” jawab Lukman sambil tertawa kecil.

Sementara itu, Sonya melihat sekeliling rumah dengan tatapan penuh perhatian. Ia kemudian menoleh ke arah Rian.

“Kak, kamu sudah bilang sama Kak Mia, kan?” tanyanya.

“Sudah.” jawab Rian sambil tersenyum.

“Kak Mia beneran mengizinkan kami tinggal di sini? Aku sebenarnya takut merepotkan kalian.” ucap Lukman.

Rian langsung mengibaskan tangannya. “Tenang saja. Kak Mia sudah mengizinkan, kok. Anggap saja rumah sendiri.”

Mendengar ucapan itu, Sonya tersenyum lega.

“Wah, kalau begitu aku tenang.”

Namun, di balik senyum Sonya, ada seseorang yang justru sedang menahan kesal.

Dari arah dapur, Mia yang sejak tadi mendengar percakapan mereka hanya bisa menghela napas panjang.

“Anggap saja rumah sendiri? Dia bicara seperti itu seolah-olah rumahnya sendiri" Mia berdecak pelan. Ia menatap suaminya dari kejauhan dengan wajah tidak percaya.

Bukan kedatangan Lukman yang sebenarnya membuat Mia keberatan. Ia masih bisa menerima jika adik suaminya membutuhkan tempat tinggal sementara.

Yang membuat hatinya tidak nyaman adalah sikap Rian yang terlalu mudah memberikan izin tanpa benar-benar memikirkan perasaannya.

Apalagi Mia tahu, sekali seseorang sudah merasa nyaman tinggal di rumahnya, mengusir mereka bukanlah perkara mudah. Dan entah mengapa, pagi itu Mia memiliki firasat buruk.

Ia tidak tahu bahwa keputusan kecil yang dibuat suaminya hari ini akan menjadi awal dari perubahan besar dalam rumah tangga mereka.

1
sunaryati jarum
Kirain Lukman , Rukmini ,dan Sonya, sadar ,taubat dan bekerja ternyata lebih parah.Untuk Mia akhirnya mendapat kebahagiaan
Oma Gavin
akhirnya happy ending untuk rian dan mia dan keluarga neraka' buat lukman dan sonya orang malas kerja pengen hidup enak dunia mimpi pun ngga ada 🤣
Putri Wulandari
lakol cuman gitu ceritanya
sunaryati jarum
Semoga mertua sadar jadi endingnya bahagia
Agus Tina
Bagus ceritanya
gesya garneta
othor jgn bikin rian berubah lah, jgn bikin cerita kyk di novel2 lain, endingnya pisah gara2 keluarga suami, justru bikin keluarga suami jadi baik sama mia
Agus Tina: Iya, betul ... bikin yg agak beda
total 1 replies
sunaryati jarum
Semoga Rian tidak goyah, apapun yang terjadi pada ibunya dan keluarganya.Kamu walau dihujat tetap berbakti dan mengirimkan uang.Seharusnya Bu Rukmini sadar,selama ini yang menopang hidupnya Rian padahal sudah punya keluarga,dan Mia istrinya tidak melarang ,ee malah dibenci.Sedangkan Lukman dan Sonya juga memiliki keluarga tapi hidupnya bergantung pada dirinya,malah disayang dan dimanjakan, renungkan Bu Rukmini apa perilaku pada kedua putra dan menantumu sudah benar dan adil
🎃
kok dera?
sunaryati jarum
Nah setelah kalian merasakan pahitnya hidup tanpa banyak uang dari Rian dan Mikha,jadi kebingungan sendiri.Itulah akibat memanjakan anak tapi membebani anak yang lain.Sonya terbiasa bergantung ini diminta cari nafkah.Semoga kalian sadar jika Mia dan Rian sangat berjasa pada hidup kalian.Sekarang Sonya harus belajar bisa menghidupi diri dan Janu.
dyah EkaPratiwi
enak dikota tapi numpang heyyy usaha makanya jangan suka ongkang2
Agus Tina
Apa Sonya tidak punya orang tua? Kan bisa sementara dia tinggal sama orang tuanya. Dan untuk Mia dan Rian memang lebih baik tinggal bersama orang tua dari Mia, agar para benalu itu tidak kembali lagi merongrong kehidupan mereka.
Jade Meamoure
bagus lah yg penting jangan ada drama kluarga lagi
Jade Meamoure
tk apa sih kalo rujuk hanya saja jauhkan dari keluarga toxic n harus bisa bertindak tegas sebagai kepala keluarga
gesya garneta
thor, jangan bikin rian berubah ya, biarkan mereka hidup bahagia🙏
Agus Tina
Sekoga Rian tidak berubah ...
sunaryati jarum
Semoga sumpah kamu kamu jalankan dan tidak goyah serta Bu Rukmini sadar akan semua kesalahannya pada Mia.Dan Sonya mau bekerja
falea sezi
🤣 Mia oon bego
falea sezi
perempuan oon 🤣 gbs nyari batangan kayak. punya Riyan kayaknya makanya batal cerai🤣🤣 bloooooooon
falea sezi
banyak omong visum lapor kekerasan bego🤣🤣 MC nya oon sih thor menye menye
falea sezi
istri goblok cerai lah
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!