"Kamu akan Ayah jodohkan dengan Bian menggantikan Salsa. Daripada kamu di rumah cuma coret-coret kertas nggak jelas, mending ngurusin anaknya tukang kebun itu." ucap Ayah dari seorang gadis yang tengah melukis di sebuah art paper.
"Baik," jawab gadis bernama Aluna Savira Velove itu tanpa perlawanan.
Aluna harus menikah dengan kekasih dari anak tiri Ayah kandungnya. Status calon suami Salsa yang hanya bekerja di kebun buah dan sayuran terbesar di desa itu, membuat perempuan itu menolak saat diajak menikah. Apalagi laki-laki itu juga seorang duda dengan dua anak yang sangat nakal.
Bisa kah Aluna menaklukkan dua anak dari sang duda? Mampu kah dia menjalani pernikahan tanpa cinta dengan sang duda?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon eli_wi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tidak Peka
"Reyhan, kamu sedang tidak merencanakan sesuatu untuk Tante Aluna kan? Papa nggak mau ya kamu punya rencana jahat. Jika memang kamu belum bisa menerima Tante Aluna, Papa tidak masalah. Asalkan jangan sampai melukai fisik dan mentalnya," ucap Bian saat masuk ke dalam kamar Reyhan. Dia tak mau anaknya berbuat jahil pada Aluna yang sedang menyembuhkan mentalnya karena ulah keluarganya sendiri.
"Aku tidak sejahat itu, Papa. Reyhan cuma bantu Tante makan aja karena dia sibuk suapi Lova," ucap Reyhan dengan cepat.
Reyhan sedang memainkan ponselnya saat Bian masuk ke dalam kamarnya. Dia sampai terkejut melihat kehadiran Bian. Jarang sekali Bian masuk ke dalam kamarnya, kecuali ada hal penting. Sekarang juga sama, masuk kamarnya karena ada hal penting. Reyhan meletakkan ponselnya di atas kasur sambil menatap ke arah Bian.
"Papa beneran cinta nggak sama Tante Aluna? Apa alasan Papa mau menikah dengan Tante Aluna? Bukannya pacar Papa itu Tante Salsa?" tanya Reyhan yang sudah mengetahui tentang Bian berpacaran dengan Salsa sejak lama.
"Papa juga kemarin bilangnya baru mau lamaran atau tunangan dulu sama Tante Salsa kan? Kok tiba-tiba kasih tahu Mbak Ambar bahwa Papa sudah menikah dengan Tante Aluna. Ini sangat aneh, Pa." lanjutnya dengan analisanya. Bian pun duduk di kasur milik Reyhan kemudian bersandar sambil menatap anaknya yang kebingungan.
"Papa baru mengenal Tante Aluna tuh kemarin. Sebenarnya Papa ingin melamar Tante Salsa, tapi dia menolak. Alasannya... Papa hanya bawa oleh-oleh sayuran dan buah. Bukan perhiasan atau barang mewah," ucap Bian sambil terkekeh pelan.
"Berarti Tante Salsa matre dong," seru Reyhan dengan raut wajah penuh amarah.
"Nggak sih. Menurut Papa, dia realistis. Dia dan keluarganya hanya tahu kalau Papa itu seorang petani yang kebetulan punya toko kecil. Padahal kan kamu tahu sendiri kalau..."
Hahahaha...
Mendengar pernyataan Bian mengenai Salsa yang hanya tahu Papanya itu seorang petani dan punya toko kecil, Reyhan langsung tertawa. Padahal ada sesuatu yang mungkin bisa jadi kejutan untuk Salsa jika mengetahui siapa Bian sebenarnya. Namun Reyhan bersyukur karena Papanya tidak jadi menikah dengan Salsa. Sehingga orang yang menilai Papanya dari harta, hilang dari kehidupannya.
"Lalu Tante Aluna gimana? Apa Tante..."
"Tidak, Tante Aluna tahunya ya Papa ini seorang petani dan punya toko kecil. Dia menerima karena menurutnya dengan menikah sama Papa itu, Tante Aluna bisa pergi dari rumahnya. Tante Aluna ingin menyelamatkan nyawanya dan Bibi Tari yang selama ini membantunya," sela Bian memberikan penjelasan.
"Bahkan Tante Aluna sempat berpikir untuk pisah sama Papa setelah bisa keluar dari rumah orangtuanya. Tapi Papa yang ingin Tante Aluna tetap berada di sini. Papa merasa dia adalah perempuan yang baik. Jadi Papa minta sama kamu, jangan sakiti Tante Aluna. Dia sudah banyak menanggung sakit dari keluarganya. Papa minta tolong jangan sakiti fisik dan hatinya. Jika tidak suka, diam saja daripada mengeluarkan kata-kata yang menyakitkan. Kecuali jika Tante Aluna berbuat jahat sama kalian," lanjutnya memberi pengertian pada Reyhan.
"Iya, Pa." Reyhan sampai tak bisa berkata-kata lagi.
"Satu hal lagi, dia malah mau ikut bekerja dengan menjual lukisannya itu agar bisa membantu kebutuhan Papa dan kalian. Dia menerima Papa yang dilihat orang hanya laki-laki sederhana. Bahkan dia mau mengurus kalian dengan menghafal letak ruangan di rumah ini. Walaupun matanya tidak bisa melihat, tapi hatinya dapat merasakan. Dia mau belajar mandiri dan tak mau merepotkan oranglain," ucap Bian lagi.
Reyhan hanya menganggukkan kepalanya mengerti. Dia bisa melihat bagaimana Aluna bersusah payah menghafal area rumah ini. Bahkan beberapa kali sampai diperingatkan oleh Elova karena akan menabrak sesuatu. Namun hatinya masih berat jika harus menerima Aluna sebagai Ibunya. Dia tak mau Ibu kandungnya tergantikan oleh kehadiran Aluna.
"Ini baru anak baiknya Papa," ucap Bian sambil menepuk kepala Reyhan dengan pelan.
"Nggak usah tepuk-tepuk begini. Reyhan bukan anak kecil lagi," ucap Reyhan sambil menepis tangan Bian dengan pelan.
"Bagi Papa, kamu itu tetap masih anak kecil. Apalagi si Lova, Papa anggapnya masih bayi." ucap Bian sambil terkekeh pelan.
Semoga Papa tidak berubah sayangnya sama Reyhan dan Lova. Jika kehadiran Tante Aluna bisa membuat suasana rumah ini jadi hangat, Reyhan akan berusaha menerimanya.
***
Sedangkan di kamar, Aluna ditemani oleh Elova. Gadis cilik itu malah bergulingan di atas kasur king size milik orangtuanya. Padahal hari sudah malam, tapi Elova tidak berniat untuk pergi ke kamarnya sendiri. Aluna juga sudah memintanya kembali ke kamar dan akan dibacakan cerita lagi. Namun Elova sama sekali tak peduli.
"Tante, Lopa belum mengantuk. Lopa mau guling-guling telus di sini sampai kasulnya jadi bubul," ucap Elova berceloteh sendiri. Sedangkan Aluna tengah berbaring di sampingnya dengan mata sedikit tertutup. Dia sudah mengantuk.
"Ya terserah lobak saja. Tante mau tidur dulu kalau begitu. Tante udah ngantuk berat," ucap Aluna yang langsung memejamkan matanya rapat.
"Lho... Jangan dulu. Temani Lopa dulu. Masa Lopa ngomong sendili, nanti kaya olang stless." ucap Elova sambil menggoyangkan lengan tangan Aluna.
"Ini kalau Papa tahu kamu belum tidur, dimarahi lho. Udah sini tidur berbaring sama Tante," ajak Aluna sambil menepuk posisi sebelahnya.
"Lopa boleh tidul di kamal sama Tante dan Papa?" tanya Elova meminta jawaban. Elova memang sengaja mencari gara-gara dengan bergulingan di kasur milik Papanya agar diajak tidur bersama dengan Aluna dan Bian.
"Ya boleh dong. Masa nggak boleh," ucap Aluna sambil terkekeh pelan.
"Tante kenapa ndak bilang dali tadi sih? Tahu gitu kan Lopa ndak pelu guling-guling di atas kasul,"
Eh...
Aluna yang tadinya mengantuk langsung merasa hilang kantuknya. Padahal jika Elova ingin tidur bersama mereka, Aluna juga tidak masalah. Lagi pula dia dan Bian juga belum ingin melakukan aktifitas pengantin pada umumnya. Aluna malah senang kalau ada Elova. Dia tidak terlalu canggung bersama Bian. Namun yang membuat Aluna tak habis pikir adalah Elova ingin tidur bersama mereka tapi hanya memberi kode dengan bergulingan di atas kasur.
"Oh... Ternyata kodenya lobak gitu ya. Guling-guling di atas kasur, nyatanya mau tidur di sini. Padahal lobak tinggal bilang lho kalau mau tidur di sini," ucap Aluna sambil memeluk Elova dari samping.
"Tante ndak peka. Halusnya kan tahu maksud Lopa," ucap Elova yang menyalahkan Aluna.
"Astaga... Apa aku harus menerka setiap gerak-gerik dari Lova?" gumam Aluna sambil menggelengkan kepalanya.
"Ayo tidur," ajaknya sambil menepuk punggung Elova. Bahkan tanpa sadar, Aluna pun langsung ikut tertidur.
Deg...
Mereka sudah sedekat ini? Apa gara-gara lukisan itu terus mereka jadi dekat?
lanjutttt😄💪