NovelToon NovelToon
Bangkitlah Jingga: Badai Akan Berlalu

Bangkitlah Jingga: Badai Akan Berlalu

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Penyesalan Keluarga / Ibu Tiri
Popularitas:17.9k
Nilai: 5
Nama Author: Rere ernie

Jingga pernah percaya bahwa pernikahannya dengan Rangga Cendana adalah kisah cinta yang sempurna. Namun, setelah kehilangan putra kecil mereka, Jingga justru kehilangan suami yang dahulu begitu mencintainya. Ia baru menyadari bahwa selama ini dirinya hanyalah alat bagi Rangga untuk membuat Dira, istri mendiang kakak Rangga, merasa cemburu.

Pengkhianatan, penghinaan, dan kehilangan membuat Jingga hancur. Puncaknya, ia dituduh mencelakai Varel, keponakan yang begitu disayangi Rangga, hingga sebuah tamparan menyadarkannya bahwa sudah cukup baginya menjadi wanita yang terus tersakiti.

Jingga pun bangkit dan memilih mengakhiri pernikahan yang hanya menyisakan luka. Ia akan membuktikan bahwa dirinya bukan wanita lemah yang bisa diinjak sesuka hati.

Ketika Jingga mulai menata hidup dan menemukan cinta baru yang tulus, penyesalan Rangga dan keluarganya datang terlambat. Jingga telah memilih jalannya sendiri, sebab tidak semua luka harus disembuhkan dengan memaafkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rere ernie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 28

Pagi itu, Jingga baru saja memasuki ruang perawat ketika Maya menghampirinya dengan sebuah map berwarna biru.

“Selamat, kau terpilih menjadi perwakilan perawat untuk program pemeriksaan kesehatan gratis yang diadakan rumah sakit bersama mitra perusahaan,” ujar Maya.

Jingga mengernyit. “Sejak kapan ada program itu?”

“Pengumumannya baru keluar pagi ini. Kegiatannya diadakan akhir pekan nanti. Kau bertugas mendampingi tim dokter sekaligus memberikan edukasi kesehatan kepada warga.”

Jingga membuka map tersebut dan memeriksa jadwalnya. Kegiatan itu cukup besar, melibatkan beberapa dokter spesialis serta relawan dari perusahaan mitra rumah sakit.

“Aku bersedia. Kebetulan akhir pekan ini jadwalku kosong.”

Maya menyenggol lengannya. “Bagus. Siapa tahu kau bisa bertemu seseorang di sana.”

Jingga meliriknya tajam. “Maya, jangan mulai.”

“Aku bahkan belum menyebut nama.”

“Wajahmu sudah menyebutkannya.”

Maya tertawa puas. “Baiklah, aku diam. Tapi kalau Dokter Samudera datang membawa Arka, jangan salahkan aku kalau kau tersenyum sepanjang acara.”

Jingga pura-pura sibuk membaca jadwal. Sayangnya, senyum tipis yang muncul di bibirnya justru membuat Maya semakin yakin bahwa ada sesuatu yang mulai berubah.

Menjelang siang, Jingga dipanggil ke ruang rapat untuk membahas persiapan kegiatan. Ia mengira hanya akan bertemu kepala keperawatan dan tim medis, tetapi begitu memasuki ruangan, ia mendapati Leo duduk di sisi meja bersama beberapa perwakilan perusahaan.

Lelaki itu segera berdiri ketika melihatnya.

“Jingga, kita bertemu lagi.”

Jingga membalas sapaan itu dengan sopan. “Ternyata Anda juga terlibat dalam program ini.”

“Perusahaan saya menjadi salah satu mitra pendukung. Saya mengurus koordinasi lapangan.” Leo menarik kursi untuk Jingga, berusaha bersikap formal juga. “Silakan duduk.”

“Terima kasih.”

Jingga baru saja duduk ketika Samudera masuk membawa sejumlah dokumen. Tatapannya sempat berhenti pada Leo, kemudian beralih kepada Jingga.

“Maaf membuat kalian menunggu. Ada pasien yang membutuhkan penanganan tambahan.”

“Tidak masalah, Dokter,” jawab Leo ramah. “Kami baru saja mulai.”

Samudera mengambil tempat di seberang Jingga. Rapat pun dimulai.

Selama pembahasan berlangsung, Leo beberapa kali mengajukan pertanyaan kepada Jingga mengenai kebutuhan perawat di lapangan. Ia tidak memperlakukannya sekadar sebagai pelengkap tim, melainkan benar-benar mendengarkan pendapatnya.

Ketika Jingga mengusulkan agar tim menyediakan ruang pemeriksaan khusus bagi lansia, Leo langsung mencatatnya.

“Usulan yang bagus. Saya akan pastikan fasilitasnya tersedia.”

“Terima kasih, tetapi keputusan akhirnya tetap perlu disesuaikan dengan anggaran.”

“Kalau soal anggaran, biar saya yang mengurusnya. Anda cukup memastikan kebutuhan pasien terpenuhi.” Ujar Leo.

Samudera menutup dokumennya setelah mendengar itu. “Jangan menjanjikan fasilitas sebelum tim medis memeriksa lokasi. Kami tidak ingin membuat warga berharap pada sesuatu yang belum tentu bisa digunakan.”

Leo menoleh ke arah Samudera. “Tentu. Karena itu saya akan berkoordinasi dengan tim Anda.”

“Bagus.”

Percakapan mereka tetap terdengar profesional, tetapi Jingga bisa merasakan ketegangan tipis di antara keduanya.

“Kalau sudah selesai mengukur siapa yang paling berwenang, bolehkah kita kembali membahas kebutuhan pasien?” Jingga akhirnya menginterupsi.

Leo tertawa kecil, sementara Samudera mengangkat kedua tangannya seolah menyerah.

“Baik, Suster Jingga. Saya mengikuti arahan Anda,” ujar Samudera.

“Jangan mengejek saya, Dokter.”

“Saya tidak mengejek.”

Namun, senyum yang tertahan di wajahnya membuat Jingga sulit mempercayai jawaban itu.

Setelah rapat selesai, Leo menghampiri Jingga yang sedang berjalan menyusuri lorong rumah sakit.

“Awalnya aku ingin mengajakmu makan siang, tapi sepertinya kau masih sibuk dengan pekerjaan,” ujar Leo.

Jingga melirik jam tangannya. “Aku masih harus memeriksa beberapa pasien.”

“Kalau begitu, kita jadwalkan makan malam saja. Tidak harus hari ini, aku bisa menyesuaikan waktumu.”

Jingga teringat bahwa ia belum memberikan jawaban pasti atas ajakan Leo sebelumnya. Ia menghargai sikap pria itu yang tidak memaksanya, tetapi dirinya belum siap menjanjikan apa pun. Terlebih lagi, setelah Rangga menghubunginya karena kedekatannya dengan Leo.

“Aku belum bisa memastikan. Jadwal kerjaku cukup padat.”

“Tidak masalah. Aku bisa menunggu sampai kau punya waktu.” Leo tersenyum tipis, lalu menatapnya lebih serius. “Tapi, ada satu hal yang ingin kusampaikan. Aku berharap suatu hari nanti kau bersedia mengenalku bukan hanya sebagai sepupu Rangga, melainkan sebagai diriku sendiri.”

Jingga terdiam sejenak sebelum membalas tatapan pria itu. “Aku tidak pernah menilaimu berdasarkan hubungan keluargamu dengan Rangga. Tapi, Leo, aku ingin mengingatkanmu satu hal. Rangga tidak akan tinggal diam jika tahu kau mendekatiku seperti ini.”

Leo terkekeh pelan, seolah peringatan itu sama sekali tidak membuatnya gentar.

“Biarkan dia marah. Aku tidak sedang berusaha merebut sesuatu yang menjadi miliknya, Jingga. Kau bukan milik Rangga, dan perceraian kalian sudah cukup menjelaskan semuanya.”

Senyum pria itu perlahan memudar, berganti tatapan yang lebih serius. “Aku tidak tahu apakah suatu hari nanti kau akan menerimaku atau justru memilih menjauh. Aku juga tidak akan memaksamu membalas perasaanku. Tapi, aku tidak ingin mundur hanya karena Rangga tidak menyukai kenyataan bahwa kau berhak bahagia tanpa dirinya.”

Leo kemudian melangkah pergi, meninggalkan Jingga yang masih berdiri di tempatnya.

Jingga memperhatikan punggung Leo beberapa saat. Lelaki itu terang-terangan menunjukkan ketertarikan, tetapi tidak berusaha memaksakan kedekatan. Ia menyadari bahwa Leo bukan sekadar pria ramah yang kebetulan memiliki hubungan keluarga dengan mantan suaminya. Pria itu benar-benar berniat mendekatinya, bahkan jika keputusannya kelak harus membuat hubungannya dengan Rangga menjadi rumit.

Namun, senyumnya perlahan memudar ketika teringat percakapan dengan Rangga beberapa waktu lalu.

"Jangan mendekati Leo. Dia keluarga kami. Jangan menyeretnya ke dalam masalahmu."

Jingga masih ingat nada mengancam mantan suaminya itu. Rangga seolah-olah masih memiliki hak untuk mengatur siapa yang boleh berada di dekatnya, padahal lelaki itu sendiri yang menghancurkan pernikahan mereka.

Jingga mengembuskan napas panjang.

“Kalau aku terus memikirkan larangan Rangga, kapan aku bisa benar-benar hidup untuk diriku sendiri?”

“Sepertinya ada seseorang yang membuatmu kesal.”

Suara Samudera membuat Jingga menoleh. Dokter itu berdiri beberapa langkah darinya sambil membawa map pemeriksaan.

“Bukan siapa-siapa, Dokter.”

“Kalau begitu, saya tidak akan bertanya.” Samudera melirik ke arah Leo yang baru saja menghilang di ujung lorong. “Tapi sepertinya pria itu cukup pandai membuat orang memikirkannya setelah pergi.”

Jingga mengangkat alis. “Dokter sedang membicarakan Leo?”

“Saya hanya menyampaikan pengamatan.”

“Pengamatan seorang dokter?”

“Anggap saja begitu.”

Jingga hampir tertawa melihat wajah Samudera yang begitu tenang saat mengucapkan kalimat tersebut.

“Leo memang sepupu Rangga. Karena itu, saya harus berhati-hati.” Ujar Jingga.

Samudera meletakkan map di meja terdekat, lalu menatap Jingga. “Berhati-hati karena dia keluarga mantan suamimu, atau karena mantan suamimu tidak mengizinkanmu dekat dengannya?”

Pertanyaan itu membuat Jingga terdiam. Ia tidak menyangka Samudera akan memahami persoalannya secepat itu.

“Rangga sudah tidak berhak menentukan siapa yang boleh saya temui,” jawab Jingga akhirnya. “Tapi saya juga tidak ingin terlibat dalam masalah keluarga mereka lagi.”

Samudera mengangguk. “Itu masuk akal, tapi jangan sampai ketakutan terhadap masalah yang mungkin terjadi... membuatmu kehilangan hak untuk menentukan pilihan sendiri.”

Jingga memandang pria itu sejenak, ada sesuatu dalam ucapan Samudera yang membuat dadanya terasa lebih lapang.

“Dokter selalu bisa memberikan nasihat yang bagus.”

“Sayangnya, pasien saya tidak selalu menganggapnya begitu.”

“Kalau begitu, mungkin Dokter perlu belajar menyampaikan nasihat tanpa membuat orang merasa sedang diperiksa.”

Samudera tersenyum tipis. “Baik, saya akan mempertimbangkannya.”

Pria itu kemudian mengulurkan sebuah kotak makanan kecil kepada Jingga.

“Apa ini?” tanya Jingga.

“Makanan. Saya melihatmu belum makan sejak rapat dimulai.”

Jingga membuka tutupnya sedikit. Di dalamnya terdapat roti isi dan potongan buah.

“Dokter selalu membawa makanan cadangan?”

“Sejak punya Arka, saya belajar bahwa rencana bisa berubah kapan saja. Kadang bekal anak berakhir menjadi makan siang ayahnya.”

Jingga tertawa kecil. “Lalu kali ini bekal Arka menjadi milik saya?”

“Bukan. Saya membeli yang baru untukmu.”

Senyum Jingga perlahan menghilang, digantikan ekspresi terkejut. “Dokter tidak perlu melakukan ini.”

“Saya tahu.”

“Lalu kenapa?”

Samudera menatap wanita itu dengan tenang. “Karena saya ingin.”

Dua kata itu membuat Jingga kehilangan jawaban. Ia buru-buru menerima kotak makanan tersebut, berusaha menyembunyikan pipinya yang mulai menghangat.

“Terima kasih. Saya kembali bekerja dulu.”

“Silakan.”

Jingga berjalan pergi dengan langkah sedikit lebih cepat dari biasanya. Samudera memperhatikannya sebentar, kemudian mengalihkan pandangan ketika seorang perawat memanggilnya.

Ia tidak menyukai kenyataan bahwa perhatian Leo terhadap Jingga mengusik pikirannya. Namun, ia lebih tidak menyukai dirinya sendiri jika sampai menggunakan perasaan itu untuk membatasi pilihan perempuan tersebut.

Jingga bukan miliknya.

Dan selama perempuan itu belum memilih siapa pun, ia tidak memiliki alasan untuk bersikap seolah-olah dirinya berhak menuntut sesuatu.

Sore harinya, Jingga menerima pesan dari Leo berisi rancangan kegiatan akhir pekan.

Leo: [Aku sudah memasukkan usulanmu. Semoga kegiatan nanti bisa membuat lebih banyak orang mendapatkan pelayanan yang layak.]

Jingga membalas dengan ucapan terima kasih dan beberapa catatan teknis.

Tak lama kemudian, Leo mengirimkan pesan berikutnya.

Leo: [Ada satu hal yang belum sempat aku jelaskan saat rapat. Keterlibatan perusahaanku bukan hanya untuk mendanai kegiatan kesehatan. Kami juga sedang menilai kemungkinan kerja sama jangka panjang dengan rumah sakit, termasuk membuka pusat pelayanan kesehatan bagi masyarakat berpenghasilan rendah.]

Jingga membaca pesan itu dengan saksama. Ia baru memahami bahwa tanggung jawab Leo dalam program tersebut lebih besar daripada yang ia kira.

Jingga: [Semoga rencana itu berjalan lancar. Banyak pasien yang membutuhkan pelayanan seperti itu.]

Balasan Leo datang beberapa saat kemudian.

Leo: [Itulah sebabnya aku ingin mendengar pendapatmu secara langsung. Aku membutuhkan orang yang memahami kebutuhan pasien, bukan sekadar laporan di atas meja.]

Jingga tersenyum tipis. Kali ini, ia merasa Leo benar-benar menghargai kemampuannya sebagai perawat. Namun, sebelum percakapan berakhir, Leo mengirim satu pesan lagi.

Leo: [Dan kalau kamu bersedia makan malam bersamaku, ada satu hal tentang keluarga Cendana yang ingin aku bicarakan. Sesuatu yang mungkin menjelaskan mengapa Rangga begitu tidak ingin kita dekat.]

Senyum Jingga lenyap.

Ia mengetik balasan, lalu berhenti sebelum mengirimkannya.

Apa yang sebenarnya diketahui Leo?

Apakah lelaki itu hanya ingin mendekatinya, atau ada persoalan keluarga yang sengaja disembunyikan darinya?

1
𝐵💞𝓇𝒶𝒽𝒶𝑒🎀
si serangga ini mmg ringan tangan yh serem deh😒
Mundri Astuti
ya ngga akan bahagia lah endingnya...kalian mulainya salah
Mundri Astuti
nah kan was" suamimu di deketin perempuan lain, mikir ngga jingga kamu gituin juga...
bahagia ngga kamu skrg ..
Mundri Astuti
mudah"an ga ada yg rusuh lagi ... akhirnya jingga menemukan bahagianya
Mundri Astuti
kirim org ke buat ngawasin keluarga mendiang istrimu sam...
Mundri Astuti
oiiiii Dira ....ga usah pake nyalahin org ..dah tau lagi berkendara suamimu ...malah ngajak ribut lagi...

denger ya Rangga dan Dira ...itu sebanding dengan apa yg dirasakan jingga saat kehilangan anaknya ...jadi ga usah so paling menderita
Agunk Setyawan
karma
Sarmini Isang
rasain rangga,dl km mensia siakan anak dan istrimu,sekarangpun Allah ambil anakmu dan bahkan tidak diberikan kesempatan memiliki anak lg selama ber istrikan dira,nikmat kan hasilnya kerena dl menyakiti anak dan istri
Mundri Astuti
nah nikmatin dah hasil mengkhianati dan menyakiti istri sah mu...walau kalian akhirnya bersatu ..kebahagian tdk serta merta mengikuti kalian
Mundri Astuti
ayo samudra ....segera selidiki...keluarga mantanmu ga beres euyyy
Heni Setiyaningsih
preet telat 😂
𝓡𝓡: 🤣🤣🤣🤣🤣
total 1 replies
Sri Widiyarti
ampun deh keluarga benalu ga tau diri jangan sampe jingga terjebak Thor...
Sarmini Isang
hadeeeh,banyak bngt sampah dan benalu ya di kehidupan jingga,mereka pikir sdh pintar dan nenganggap jingga dan samudera bodoh,sampah rangga dan dira saja tinggal metik karma mereka yg sedang berjalan,tunggu giliran kamu kevin laki2 pecundang yg mau numpang hidup enak,orang tuanya jg sama benalunya
Sarmini Isang
good Leo buktikan km mampu dan lebih baik dr rangga,rangga hanya modal dukungan dr papanya tp kemampuan minus,cuma mampu mengumbar nafsu dan arogan,sekarang tinggal menikmati hasilnya rangga,dl km selalu menyakiti jingga dan mengabaikan anakmu demi anak orang lain,nikmati hidup seperti di neraka dengan dira yg tidak becus ngurus anak,semoga keguguran dan rahimnya diangkat,walaupun anaknya lahir akan cacat dan dira tidak bisa punya anak lg,sedangkan jingga sedang menyambut kebahagiaan dimasa depan bersama samudra
Mundri Astuti
Dira anak have juga ternyata...tapi kelakuannya minus yak
Mundri Astuti
tanggung jawab lah kau Rangga, kamu yg memulai
Sarmini Isang
setelah skandal rangga dan dira pasangan sampah menjijikan itu diketahui oleh keluarga besar cendana,rangga bakal hancur karirnya didepak dr perusahaan dan digantikan Leo,hudup miskin dan br sadar dia sangat mencintai jingga,apa jin dasim dira masih mau sama rangga,setelah diusur keluarganya
Sarmini Isang
mampus km rangga,balan hancur hidupmu,karirmu dan masa depanmu hancurrrr
Mundri Astuti
biar rasa ...cihhh sok lemah si Dira itu...di depan jingga keluar aslinya
Mundri Astuti
diiihhhh dari awal kamu nikahin jingga aja niatnya dah jelek Rangga ...skrg kamu dah dpt apa yg kamu inginkan malah masih ngerecokkin jingga
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!