Aku Laila, santriwati hafizah yang dianggap calon ustadzah. Malam itu, tangan yang biasa memegang tasbih merobek kerudungku di ruang khusus pondok. Aku lapor, aku malah diusir dan dibilang fitnah kyai.
Aku kabur ke Seruyan, melepas hijabku, dan menyamar jadi cewek nakal demi satu tujuan: membongkar topeng Kyai Rahman, sugar daddy berkedok agama yang sudah menghancurkan banyak santriwati.
"Tuhan, izinkan aku berdosa sekali saja, untuk membuka dosa orang suci."
Dengan HP jadul dan nyali yang tersisa, ia masuk ke dalam lingkarannya. Ia merekam, mengumpulkan bukti transfer, chat mesum berkedok dalil, dan daftar korban lain yang jumlahnya belasan.
Tujuannya cuma satu: naik ke panggung pengajian akbar yang dihadiri ribuan orang, dan memutar semua kebusukan itu di depan mata sang kyai.
Mampukah seorang santriwati yang sudah dilepas hijabnya mengalahkan seorang kyai yang dianggap wali?
Atau justru Laila yang akan hancur untuk kedua kalinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ulva k, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
episode 9: FLASHDISK MERAH DI TANGAN LAILA
Jam 14.05. Parkiran belakang Hotel Melati.
Motor Mio merah Mami Asih ngebut keluar dari parkiran. Aku di belakang, meluk pinggang Mami kencang. Seragam putih abu-abu ku masih basah keringat, rok panjang ku berkibar kena angin.
Mami tidak langsung pulang ke kos pink pudar. Mami berhenti di gang kecil belakang warung bakso, 500 meter dari hotel. Sepi.
"Alia, cepat ganti! Di sini!" Mami buka jok motor, keluarin plastik hitam isinya tanktop hitam ku yang tadi pagi.
Aku ganti cepat di gang itu. Seragam putih abu-abu ku lepas, masukin plastik. Sekarang aku balik jadi Alia lagi. Tanktop hitam, rambut cat coklat ujung ku kelihatan.
CCTV kancing kedua masih nempel di seragam putih ku tadi. Mami pindahin cepat ke tali tanktop hitam ku bagian dalam, biar tetap ngerekam kalau ada apa-apa.
Flashdisk merah masih di saku rok ku, sekarang ku pindahin ke saku celana pendek.
Jam 14.10. HP retak Mami getar.
Bukan CCTV. Tapi chat dari resepsionis Hotel Melati:
Mami, barusan Kyai Abdullah datang! Lari-lari ke kamar 303! Terus keluar lagi sama Pak Haji Suryadi! Mukanya merah semua! Mereka berdua kabur naik Avanza hitam! Tidak bayar kamar!
Aku dan Mami saling pandang di gang sempit itu.
Berarti telepon tadi beneran. Kyai Abdullah yang suruh "TAHAN DIA DI KAMAR 303!" itu benar benar datang. 15 menit seperti janjinya.
Dia datang ke kamar 303, tapi kamarnya kosong. Cuma ada H. Suryadi pakai handuk putih.
Mami buka HP nya, buka file video terakhir dari CCTV kancing ku:
VIDEO SERAGAM PUTIH KAMAR 303 - durasi 4 menit 12 detik.
Kami putar di gang itu, pakai suara pelan.
Kelihatan jelas di video: Aku pakai seragam putih, taruh flashdisk merah di meja. H. Suryadi pucat. Terus suara Kyai Abdullah di speaker HP H. Suryadi teriak jelas:
"JANGAN KASIH DIA BICARA! AMBIL FLASHDISK NYA! JANGAN SAMPAI DIA BAWA KELUAR! AKU KESANA SEKARANG! TAHAN DIA DI KAMAR 303! 15 MENIT AKU SAMPAI!"
Itu saja. Satu video itu saja sudah cukup bikin ketar-ketir. Karena itu suara asli Kyai Abdullah, wakil pimpinan pondok, yang nyuruh tahan santriwati di kamar hotel.
Tidak perlu cari bukti tambahan. Satu video itu sudah jadi senjata.
Mami matikan video. Mami peluk aku.
"Alia, kamu berhasil, Nak. Hari ini kamu tidak jual badan. Hari ini kamu jual ketakutan mereka. Lihat, dua munafik itu sekarang pasti lagi rapat di mobil Avanza, bingung Laila yang dibilang gila itu bisa bawa 23 foto."
Aku masih gemetar.
"Mami, terus flashdisk merah ini gimana? Isinya kan memang 23 foto korban Kyai Rahman beneran, plus video Ustadz Mahmud kemarin di kamar 203. Kalau mereka lapor polisi bilang kita pemerasan gimana?"
Mami tersenyum. Senyum pemburu itu lagi.
"Makanya kita tidak peras pakai uang. Kita tidak minta uang sama sekali dari H. Suryadi tadi, kan? Kamu cuma minta dia telepon Kyai Abdullah. Itu bukan pemerasan. Itu jebakan pengakuan. Polisi tidak bisa bilang kita peras kalau kita tidak minta uang."
Mami ambil flashdisk merah itu dari tangan ku. Dia tatap lama.
"Flashdisk ini besok kita pakai buat yang lebih besar. Kita tidak sebar sekarang. Kita simpan dulu di kos. Karena kita harus menunggu waktu yang pas untuk membongkar aib mereka.
Jam 14.30. Azan Ashar mulai dari Masjid Besar Seruyan, kedengaran sampai ke gang ini.
Aku duduk di aspal gang, pakai tanktop hitam, plastik hitam isi seragam putih ku di pangkuan.
Hari ini aku pakai seragam putih SMA ku lagi untuk pertama kali setelah 2 tahun. Bukan buat upacara. Bukan buat ngaji.
Buat bikin Kepala Dinas Pendidikan yang tanda tangan beasiswa ku, pucat lihat flashdisk merah.
Dan suaranya Kyai Abdullah yang dulu bilang aku gila, kerekam jelas di CCTV kancing ku, nyuruh tahan aku di kamar hotel.
Di dinding kos pink pudar, 4 nama pakai lipstik merah masih menunggu.
Hari ini nomor 3 sudah ketar-ketir.
Besok nomor 4.