NovelToon NovelToon
PERJALANAN MENUJU DENDAM LAMA

PERJALANAN MENUJU DENDAM LAMA

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Balas Dendam / Fantasi
Popularitas:44
Nilai: 5
Nama Author: CICAK rawa

DENDAM BERSELIMUT TAWA

Bagaimana jika pemuda paling santai di desa ternyata adalah pewaris takhta yang seharusnya sudah mati?

Namanya Raka. Hidupnya sederhana, hobinya bercanda, dan ia paling tidak suka berurusan dengan masalah orang lain. Baginya, hidup terlalu singkat untuk dihabiskan dengan memikirkan hal-hal yang merepotkan.

Namun, kematian seseorang yang telah membesarkannya mengubah segalanya.

Perjalanan untuk mengungkap kebenaran justru menyeret Raka ke dalam rahasia kelam kerajaan Sangkara—sebuah kerajaan yang kini dipimpin oleh raja yang dicintai rakyatnya, tetapi menyimpan dosa berdarah di balik mahkotanya.

Raka tidak tahu bahwa masa lalu yang selama ini tersembunyi perlahan sedang mengejarnya.

Terlebih lagi, di balik senyumnya yang jahil, tersimpan kekuatan misterius dalam kedua matanya: merah seperti kegelapan yang menuntut balas, dan biru seperti cahaya yang melindungi.

Bersama Kirana, sahabat masa kecilnya yang memiliki sihir bayangan langka, Raka harus menghadapi

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon CICAK rawa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 9-MEMBAGI RAHASIA

Kirana akhirnya membopong tubuh Raka karena Raka sendiri tak mampu untuk berdiri.

"emang buat apa cari sungai"tanya Kirana akhirnya.

Ia sudah lelah mencari sungai sambil menggendong raka, apa lagi energinya belum terisi sempurna sesuai pertarungan tadi.

"udah ini keadaan darurat, jika memang tidak ada sungai cepat kembali ke tenda aja" seru Raka.

Kirana hanya menurut, ia berbalik berlari ke arah tenda.

"ka, sebenarnya apa tadi"

sedari awal ia sangat ingin menanyakan hal ini, tapi karena melihat Raka yang lemas dengan keringat membasahi tubuh, membuatnya tak sampai hati untuk langsung bertanya.

"untuk yang tadi nanti aku cerita, tapi inget jangan sampai ada yang tau. termasuk para pengawal"

walau Raka tak bisa memastikan para pengawal belum tau. pasalnya, tadi dia sempat menggunakan kekuatan ini saat membuka gerbang menuju dunia khusus muluk para babi tadi.

tapi dia akan mencoba tetap merahasiakannya, lagi pula dia menggunakan kekuatan itu sambil memunggungi para pengawal.

Kirana hanya mengangguk, sesampainya di tenda.

Para pengawal juga sudah ada di sana, Tito yang melihat Raka dalam gendongan Kirana langsung mendekat.

"ada apa dengan Raka, apa dia terluka dalam pertarungan" tanyanya.

Kirana hanya diam, karena ingat perkataan Raka tadi untuk tak memberi tahu tentang kekuatannya.

"bang tolong bantu ke kamar mandi, aku kebelet buang air besar" Raka yang menjawab.

Mendengar ini Kirana langsung melepaskan tubuh Raka.

Sontak pria itu langsung terjatuh.

"jadi dari tadi kamu sibuk cari sungai cuma mau berak" ucap Kirana.

Sedangkan Raka langsung meringis setelah tubuhnya terjatuh.

"na... Apa apaan si. Lagi pula ini bukan keadaan sepele, kalok bukan gara gara kebelet aku gak akan ngeluarin seluruh kekuatanku sampai seluruh tulangku kerasa remuk. Lah kau malah anggep ini sepele."

Kirana langsung menarik kerah baju Raka.

"kau tau, gara gara dramamu aku sampai panik setengah mati."

Raka langsung menepis tangan Kirana.

"udah, nanti kita bahas lagi."

Raka menoleh ke arah Tito.

"bang ayo bantu, aku udah gak tahan lagi"

tito tak mengikuti perdebatan kedua orang itu, ia bergegas menggendong raka ke kamar mandi.

Setelah setengah jam, keduanya baru kembali.

Raka masih di gendongan Tito, tapi terlihat kelegaan di wajah Raka.

Raka di bawa ke tenda media yang memegang sudah di siapkan.

"sebenarnya pertarungan seperti apa yang terjadi di hutan" ungkap suster yang menangani Raka.

"memang ada apa Bu." tanya Kirana.

suster itu menggeleng...

"tulang tulang tuan muda Raka hampir seluruhnya remuk, beruntung dia bukan manusia fana. Jika manusia fana mungkin dia akan lumpuh seumur hidup atau bahkan mati. Tapi walau begitu, tuan muda Raka masih harus berdiam beberapa hari, kita hanya bisa menunggu regenerasinya bekerja. Hanya itu yang bisa di lakukan, kami tak bisa membantu banyak tentang kerusaan separah ini di bagian dalam."

Kirana mengangguk...

"terimakasih Bu, kalau begitu anda bisa kembali beristirahat. Biar saya yang mengurusnya."

suster itu mengangguk, lalu pergi.

"sekarang sudah tak ada orang, cepat cerita semuanya."

Raka menatap ke arah bayangan orang yang berlalu lalang di balik tenda.

Kirana mengerti, ia pun membentuk segel tangan dan bayangan halus menyelimuti tenda.

"sekarang tak ada yang bisa mendengar kita lagi."

Raka mengangguk.

"sebelum aku memberi tahumu, tolong berjanjilah dulu."

Kirana mengerutkan keningnya.

."berjanji...? Berjanji apa..?"

"berjanjilah tak akan pernah membocorkan informasi ini kepada siapapun, apa lagi pihak luar desa"

Kirana mengangguk....

"tenang, kau bisa memegang janjiku."

Raka terdiam sesaat, ada rasa berat untuk mengatakannya. Tapi dia tak bisa terus berdiam diri, sedangkan Kirana sendiri sudah melihat semuanya.

"Rana kalau aku bilang kerajaan sekarang di pimpin oleh orang baik apa kau percaya...?"

"bukan orang baik...? Maksudmu..?"

Raka sedikit menghirup udara lebih dalam dari biasanya.

"di desa, aku selalu mengatakan kalau aku lupa segalanya bahkan tak ingat siapa diriku dan orang tuaku. Tapi sebenarnya aku tak lupa seratus persen dengan kedua orang tuaku, aku melakukan itu hanya untuk melindungi identitas ku selama ini..?"

"melindungi identitas...? Apa orang tuamu masih hidup..."

Raka menggeleng.

"lalu, apa kau sedang di incar seseorang..?"

Raka menunduk, lalu ia menatap ke arah luar tenda.

"tak bisa di bilang begitu, karena mereka semua mengira aku telah mati di malam itu. Malam yang penuh darah, di mana mereka membantai keluargaku, membunuh ibu dan ayah di depan mataku sendiri"

menceritakan ini, membuat mata Raka mulai mengembun, bahkan kini suaranya sudah sedikit serak.

Kirana mengelus pundak Raka.

"maaf, aku tak bermaksud ke sana..." ungkap Kirana tak enak.

Karena dia sendiri juga tau rasanya, melihat kedua orang yang di sayang mati di depan matanya sendiri.

"tak masalah, karena kekuatanku tadi juga memiliki hubungan dengan ini dan aku memang sudah ingin menumpahkan hal ini sejak lama".

Kirana mengangguk...

"jadi, sebenarnya siapa yang Setega itu dengan keluargamu. Bahkan sampai Setega itu."

Raka mengalihkan pandangannya ke arah Kirana.

"apa kau ingat kalau aku mengatakan kerajaan tak sebaik itu"

mendengar ini Karina lagi lagi mengangguk.

Namun beberapa detik kemudian dia menatap ke arah Raka sepontan.

"jadi..."

Raka mengangguk..

"bagaimana bisa, bukankah kerajaan terkenal akan kebaikannya. Bahkan kerajaan kan memiliki garis darah suci"

tiba tiba Kirana mengingat kekuatan Raka sebelumnya, lalu ia menutup mulutnya sendiri.

"Raka, bukankah kamu punya garis darah itu juga di bagian tubuh kananmu."

"apa karena itu keluargamu di buru"

kini Raka menatap tubuhnya yang telah di lilit perban..

"bisa di bilang begitu, tapi tak hanya itu. Aku sendiri tak bisa menceritakan detailnya, bukan karena tak mempercayaimu. Tapi memang tak bisa sekarang."

"intinya, jika pihak kerajaan mengetahui kekuatan ini. Mereka akan langsung tau kalau aku masih hidup, dengan kekuatanku sekarang aku hanya akan menjadi mangsa empuk untuk mereka."

"apa lagi sekarang aku belum bisa mengendalikan kekuatan ini, kamu bisa lihat sendiri kalau setelah aku menggunakannya tulangku remuk"

"tenang saja, rahasia ini aman di tanganku" ungkap Kirana.

Namun setelah itu.

plak.....

"aw...."

dengan mudahnya tangan Kirana menepuk tangan Raka yang di lilit perban.

"apa apaan si na... Sakit tau gak..."

"maaf maaf... Aku reflek tadi."

"tapi, ingat jangan bertindak seperti tadi lagi. Jangan ngeluarin kekuatan rahasia cuma gara gara pengen berak, untung yang di sana aku. Kalok orang lain gimana, bisa bisa informasi ini Sampek ke kerajaan."

mendengar kekonyolannya tadi, Raka tersenyum.

"ya maaf, itukan keadaan darurat. Kalok gak pakek kekuatan itu, bisa bisa aku keberak di celana"

"terserah mu...." Kirana berdiri.

"ingat, jangan ada hal ini lain kali. Sebisa jangan pernah keluarin lagi kekuatan itu, kalok perlu sampai kapanpun jangan pernah pakek"

"ia ia tenang aja, doa aja kalok aku gak kebelet lagi di pertarungan"

saat itu Kirana langsung menunjukkan tinju ke arah Raka.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!