Nadia seorang gadis yang diterima kerja sebagai admin di sebuah pabrik sawit di kabupaten Dharmasraya sumatera Barat terlibat cinta terlarang dengan asisten manager di pabrik sawit tersebut yang bernama Arif, mereka sama-sama tidak bisa memendam perasaan karena sering bertemu di tempat pekerjaan, padahal mereka sama-sama punya tunangan di kampung nya masing-masing siapa kah nanti yang akan di pilih Nadia apakah Arif Assisten Manager atau Tunangannya yang bernama Rizki seorang guru sejarah di kampung halamannya di padang panjang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siska Delvi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34 Jarak yang Semakin Tipis
Pagi itu, Nadia datang lebih awal dari biasanya,
Udara Dharmasraya masih terasa sejuk. Kabut tipis menggantung di antara pohon-pohon sawit, sementara suara mesin dari area pabrik mulai terdengar bersahutan. Seperti hari-hari sebelumnya, Nadia langsung menuju kantor administrasi dan meletakkan tasnya di samping meja.
Ada beberapa laporan yang harus diselesaikan sebelum siang. Bu Lastri sudah mengingatkannya kemarin agar tidak menunda pekerjaan, terutama laporan yang berkaitan dengan data produksi.
Nadia baru saja membuka komputer ketika suara seseorang terdengar dari belakang.
“Rajin sekali. Belum jam kerja sudah sibuk.”
Nadia menoleh.
Arif berdiri di ambang pintu, mengenakan seragam biru tua dan helm keselamatan yang masih terpasang di kepalanya. Wajahnya terlihat serius seperti biasa, tetapi sudut bibirnya menyimpan senyum tipis.
Nadia spontan merapikan posisi duduknya.
“Pak Arif sendiri kenapa sudah keliling dari pagi?”
“Memastikan proses produksi berjalan lancar.”
“Berarti saya juga sedang memastikan pekerjaan administrasi berjalan lancar.”
Arif tertawa kecil.
“Sekarang sudah berani membantah, ya?”
“Saya bukan membantah, Pak. Saya cuma menjawab.”
“Begitu, ya?”
“Iya.”
Arif mengangguk seolah menerima jawaban itu. Namun, sebelum pergi, ia sempat melirik tumpukan dokumen di meja Nadia.
“Jangan sampai lupa sarapan.”
Nadia mengernyit.
“Bapak tahu dari mana saya belum sarapan?”
“Karena sejak tadi kamu cuma menatap layar komputer. Bahkan waktu saya masuk, kamu tidak menyadari ada orang berdiri di belakangmu.”
“Bapak memperhatikan saya?”
Pertanyaan itu meluncur begitu saja.
Arif terdiam sesaat.
Tatapan mereka bertemu.
“Sebagai atasan, saya harus memperhatikan pegawai saya.”
Nadia menahan senyum.
“Oh, begitu.”
“Memangnya kamu berharap jawaban lain?”
“Tidak, Pak.”
Nadia kembali menatap layar komputer, berusaha menyembunyikan wajahnya yang mulai terasa hangat.
Arif akhirnya pergi. Namun, langkahnya tidak secepat biasanya.
Entah mengapa, percakapan singkat itu membuat pagi Nadia terasa berbeda.
Menjelang pukul sepuluh, Nadia diminta membantu memeriksa beberapa data administrasi yang berkaitan dengan laporan produksi. Karena posisi administrasi di pabrik dapat saling membantu sesuai kebutuhan, ia harus mencocokkan catatan yang diterima dari bagian terkait sebelum menyerahkannya kepada Bu Lastri.
Saat berjalan menuju ruang pengawasan, Nadia membawa map tebal di kedua tangannya.
Ia hampir sampai ketika seseorang memanggilnya.
“Nadia.”
Ia berhenti dan menoleh.
Arif baru keluar dari area produksi bersama Pak Bambang. Setelah memberikan beberapa instruksi kepada mandor itu, Arif menghampiri Nadia.
“Bawa apa?”
“Laporan yang harus dicocokkan dengan data produksi, Pak.”
“Biar saya bantu.”
“Tidak usah. Saya bisa.”
Arif mengangkat sebelah alis.
“Saya belum mengatakan kamu tidak bisa.”
Nadia terdiam.
“Kalau begitu, kenapa mau membantu?”
“Karena map itu kelihatannya lebih berat daripada yang kamu perkirakan.”
Nadia melirik map di tangannya, kemudian menatap Arif lagi.
“Bapak selalu punya alasan, ya?”
“Untuk apa?”
“Untuk membuat saya tidak bisa membantah.”
Arif tersenyum.
“Kalau begitu, kali ini jangan membantah.”
Tanpa merebut map dari tangan Nadia, ia mengulurkan tangan dan menunggu. Nadia akhirnya menyerahkan sebagian dokumen kepadanya.
Mereka berjalan berdampingan menuju ruang pengawasan.
Jarak di antara keduanya tidak terlalu dekat, tetapi cukup untuk membuat Nadia menyadari aroma samar sabun dan parfum yang melekat pada seragam Arif.
Ia segera mengalihkan pandangan.
“Pak Arif.”
“Hm?”
“Bapak memang selalu seserius ini di tempat kerja?”
“Menurut kamu?”
“Kalau menurut saya, Bapak jarang tersenyum.”
Arif menoleh.
“Padahal tadi pagi kamu sudah melihat saya tersenyum.”
Nadia terdiam, kemudian mengerucutkan bibir.
“Itu cuma senyum sedikit.”
“Jadi, kamu memperhatikan senyum saya?”
Nadia langsung menatap lurus ke depan.
“Bapak ini suka sekali membalikkan pertanyaan.”
“Karena jawabanmu menarik.”
Nadia tidak membalas. Ia hanya mempercepat langkah, membuat Arif tertawa pelan di sampingnya.
Untuk pertama kalinya, Nadia merasa berjalan bersama atasannya tidak selalu membuatnya gugup karena takut melakukan kesalahan.
Kadang-kadang, justru karena Arif terlalu mudah membuatnya salah tingkah.
Siang harinya, pekerjaan Nadia akhirnya selesai. Ia menyimpan berkas terakhir, lalu mengambil ponselnya untuk melihat pesan yang masuk.
Ada pesan dari ibunya yang menanyakan kabar dan mengingatkan agar ia menjaga diri selama bekerja jauh dari keluarga.
Nadia membaca pesan itu beberapa kali.
Ia tahu ibunya hanya ingin memastikan dirinya baik-baik saja. Namun, belakangan ini, setiap kali memikirkan keluarga dan masa lalunya, ada perasaan rumit yang sulit dijelaskan.
Ia ingin menjalani hidupnya sendiri. Ia ingin menentukan pilihan tanpa harus terus-menerus merasa bersalah karena mengecewakan orang lain.
Dan sekarang, tanpa ia rencanakan, muncul seseorang yang membuatnya mulai memikirkan kemungkinan-kemungkinan baru.
“Nadia?”
Suara Arif membuatnya tersadar.
Ia buru-buru meletakkan ponsel.
“Iya, Pak?”
“Sudah makan siang?”
“Belum.”
Arif melihat jam tangannya.
“Sudah lewat tengah hari.”
“Saya masih mau menyelesaikan satu pekerjaan.”
“Pekerjaan itu bisa menunggu sebentar.”
Nadia menatapnya ragu.
“Bapak mau menyuruh saya makan?”
“Saya sedang mengajak kamu makan.”
Nadia membeku.
“Mengajak saya?”
“Iya. Apa kalimat saya kurang jelas?”
“Bukan begitu, Pak. Saya cuma heran.”
“Heran kenapa?”
Nadia menunduk, memainkan ujung kertas di tangannya.
“Biasanya Bapak cuma memberi instruksi.”
Arif tersenyum tipis.
“Kalau saya mengajak, berarti saya sedang mengajak. Bukan memberi instruksi.”
Nadia akhirnya tertawa kecil.
“Baiklah. Tapi saya bayar sendiri.”
“Siapa yang bilang saya mau mentraktir?”
Nadia langsung mendongak.
“Lho?”
Arif tertawa melihat ekspresinya.
“Kamu sendiri yang membuat kesimpulan.”
“Pak Arif!”
Tawa Arif semakin jelas.
Dan Nadia baru menyadari satu hal: ia mulai menyukai sisi Arif yang jarang diperlihatkan kepada orang lain.
Sisi yang tidak selalu serius, tidak selalu memerintah, dan terkadang sengaja menggodanya hanya untuk melihat reaksinya.
Mereka memilih makan di warung sederhana tidak jauh dari gerbang pabrik. Tempat itu cukup ramai oleh karyawan yang sedang beristirahat.
Arif memilih meja di sudut yang tidak terlalu bising. Nadia duduk di hadapannya, masih berusaha bersikap biasa meskipun ada beberapa pasang mata yang mengenali atasannya.
“Bapak sering makan di sini?” tanya Nadia.
“Kadang-kadang. Kalau sedang tidak sempat keluar jauh.”
“Kirain atasan seperti Bapak makannya di tempat yang lebih bagus.”
Arif menatapnya dengan ekspresi pura-pura tersinggung.
“Memangnya saya kelihatan seperti orang yang tidak bisa makan di warung?”
“Bukan begitu.”
“Lalu?”
Nadia tersenyum malu.
“Saya cuma belum terlalu mengenal Bapak.”
“Kalau begitu, kenali pelan-pelan.”
Kalimat itu terdengar sederhana.
Namun, setelah mengucapkannya, Arif sendiri terdiam sejenak.
Nadia juga tidak langsung menjawab.
Ada sesuatu dalam nada suara Arif yang berbeda. Tidak lagi seperti seorang atasan yang sedang berbicara kepada pegawainya.
Lebih seperti seorang laki-laki yang sedang membuka sedikit pintu menuju dirinya sendiri.
Makanan datang, menyelamatkan mereka dari keheningan yang mulai terasa canggung.
Mereka makan sambil berbicara tentang pekerjaan, cuaca, dan kebiasaan Nadia sejak pindah ke Dharmasraya.
Arif mendengarkan ketika Nadia bercerita bahwa ia masih berusaha menyesuaikan diri dengan lingkungan baru.
“Kadang saya masih merasa seperti orang asing di sini,” kata Nadia jujur.
Arif meletakkan sendoknya.
“Semua orang pernah menjadi orang baru di suatu tempat.”
“Tapi tidak semua orang bisa langsung merasa nyaman.”
“Kalau begitu, jangan memaksa diri untuk langsung nyaman. Beri dirimu waktu.”
Nadia menatapnya.
“Bapak juga begitu dulu?”
Arif mengangguk pelan.
“Dulu saya juga harus belajar banyak hal. Saya pernah salah mengambil keputusan, pernah dimarahi, pernah merasa tidak sanggup.”
Nadia tampak terkejut.
“Bapak pernah merasa tidak sanggup?”
“Saya manusia, Nadia.”
Nadia tersenyum.
“Kadang saya lupa.”
“Lupa apa?”
“Kalau Bapak juga manusia biasa.”
Arif tertawa.
“Wah, ternyata selama ini saya dianggap apa?”
“Orang yang selalu tahu segalanya.”
“Kalau begitu, jangan terlalu percaya. Saya juga masih banyak belajar.”
Nadia mengangguk pelan.
Entah mengapa, jawaban itu membuatnya semakin menghormati Arif.
Bukan karena jabatan atau sikap tegasnya, melainkan karena laki-laki itu tidak berusaha terlihat sempurna di hadapannya.
Setelah makan, mereka kembali ke pabrik.
Saat hendak menyeberangi halaman menuju gedung administrasi, Nadia hampir menginjak bagian lantai yang basah akibat air yang terbawa dari area pencucian. Langkahnya tergelincir sedikit.
Arif spontan menahan lengannya.
“Nadia!”
Nadia terkejut dan berpegangan pada lengan Arif untuk menjaga keseimbangan.
Untuk beberapa detik, mereka berdiri sangat dekat.
Tangan Arif masih berada di lengan Nadia. Tatapan mereka bertemu, sementara suara mesin pabrik terdengar samar dari kejauhan.
“Kamu tidak apa-apa?” tanya Arif pelan.
Nadia mengangguk.
“Iya. Terima kasih.”
Arif baru melepaskan tangannya setelah memastikan Nadia benar-benar seimbang.
“Hati-hati. Jangan terburu-buru.”
Nadia mengangguk lagi.
Namun, kali ini ia tidak langsung berjalan.
“Pak Arif.”
“Ya?”
“Terima kasih karena selalu memperhatikan saya.”
Arif terdiam.
Senyum kecil yang biasanya mudah muncul di wajahnya perlahan menghilang, digantikan tatapan yang lebih serius.
“Saya tidak ingin kamu sampai terluka.”
Nadia menelan ludah.
“Karena saya pegawai Bapak?”
Arif tidak segera menjawab.
Ia tahu ada jawaban yang aman. Jawaban yang dapat menjaga jarak di antara mereka, seperti yang seharusnya dilakukan seorang atasan.
Namun, saat melihat Nadia berdiri di hadapannya, ia mendapati dirinya tidak ingin berbohong.
“Awalnya mungkin karena itu,” katanya akhirnya.
Nadia menatapnya, menunggu kelanjutan kalimat tersebut.
Arif menarik napas perlahan.
“Sekarang saya sendiri sedang mencoba memahami alasannya.”
Jantung Nadia berdegup lebih cepat.
Ia tidak tahu harus menjawab apa. Tidak ada pengakuan cinta, tidak ada janji, bahkan tidak ada kata-kata manis yang berlebihan.
Tetapi justru karena itulah kalimat Arif terasa begitu dekat.
Seolah-olah laki-laki itu sedang mengatakan sesuatu yang belum berani ia akui sepenuhnya.
Nadia akhirnya tersenyum kecil.
“Kalau begitu, semoga Bapak segera menemukan jawabannya.”
Arif membalas senyumnya.
“Semoga.”
Mereka kembali berjalan menuju gedung administrasi. Kali ini, jarak di antara mereka terasa berbeda.
Tidak ada yang berubah secara resmi. Arif masih atasannya, Nadia masih pegawai baru yang harus belajar banyak hal.
Namun, ada sesuatu yang mulai tumbuh di antara keduanya.
Sesuatu yang belum memiliki nama.
Dan mungkin, justru karena belum bernama, perasaan itu terasa semakin sulit diabaikan.
Sore harinya, Nadia sedang merapikan meja ketika ponselnya bergetar.
Sebuah pesan masuk dari nomor yang belum lama ia simpan.
Arif: Sudah sampai mess nanti, kabari saya.
Nadia membaca pesan itu dengan mata sedikit membesar.
Ia mengetik balasan, menghapusnya, lalu mengetik lagi.
Nadia: Baik, Pak. Memangnya kenapa?
Balasan Arif datang beberapa saat kemudian.
Arif: Tidak kenapa-kenapa. Saya hanya ingin memastikan kamu sampai dengan selamat.
Nadia menggigit bibir bawahnya, menahan senyum yang muncul tanpa izin.
Nadia: Saya bisa menjaga diri, Pak.
Arif: Saya tahu.
Beberapa detik kemudian, pesan lain masuk.
Arif: Tapi tidak ada salahnya kalau ada yang mengingatkan.
Nadia terdiam lama menatap layar ponselnya.
Di luar jendela, matahari Dharmasraya mulai tenggelam di balik barisan pohon sawit.
Ia tahu seharusnya ia menjaga batas. Arif adalah atasannya, dan kedekatan mereka bisa menimbulkan banyak persoalan jika tidak dipikirkan dengan baik.
Namun, untuk pertama kalinya setelah sekian lama, perhatian sederhana dari seseorang membuatnya merasa dilihat sebagai dirinya sendiri.
Bukan sebagai anak yang harus memenuhi harapan keluarga.
Bukan sebagai perempuan yang harus selalu mengikuti keputusan orang lain.
Melainkan sebagai Nadia.
Seorang perempuan yang diam-diam mulai menginginkan sesuatu untuk dirinya sendiri.
Dan di tempat lain, Arif juga menatap layar ponselnya dengan senyum yang tidak bisa ia jelaskan.
Ia belum tahu ke mana perasaan itu akan membawanya.
Ia hanya tahu, hari ini ia mulai menantikan percakapan-percakapan kecil dengan Nadia.
Sesuatu yang seharusnya sederhana.
Tetapi bagi seorang laki-laki yang selama ini terbiasa mengendalikan banyak hal, perasaan yang tumbuh tanpa rencana justru menjadi hal yang paling sulit dikendalikan.
Bersambung…