Di depan layar dia adalah milik semua orang, tapi di belakang layar, dia hanya milikku. Kamila.
Seharusnya 3 tahun lalu, Kamila tidak mengambil keputusan ini. Menemui seorang aktor terkenal, memohon agar dia memberinya pekerjaan. Salahnya dia memilih untuk menyetujui perjanjian pada malam itu. Hingga akhirnya dia terjebak dengan Razka Aditama Fernandez, seorang aktor terkenal yang semua orang tahu.
Hanya menjadi seorang simpanan, apa yang bisa dia harapkan? Cinta? Hubungan serius? Apa itu mungkin dalam kehidupannya ini?
"Hubungan ini hanya sebatas saling menguntungkan antara aku dan kamu"
Kalimat itu menjadi pembatas atas perasaannya, seharusnya memang seperti itu. Tapi nyatanya, Kamila telah melewati batas dirinya sendiri. Hidup bersama selama 3 tahun, membuatnya perlahan melihat sisi lain dari Razka.
Tapi, apa mungkin Razka mempunyai perasaan yang sama atau dia tetap menganggapnya sebagai seorang simpanan saja?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nita.P, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sebuah Pengecualian
Kamila bersandar di dinding di lorong Gedung tempat acara hari ini. Memegang dadanya yang masih berdebar dengan tangannya yang juga gemetar.
Kata-kata Arya sama seperti sedang merendahkannya, meski nyatanya Kamila sudah menerima tawaran itu lebih dulu dari Razka. Namun, hanya Razka yang dia jadikan seseorang yang menyentuhnya, meski Kamila penuh dosa dan kotor, tapi dia tidak akan membiarkan orang lain melakukan hal sama pada tubuhnya.
Hiks... Akhirnya tangis tidak bisa di hentikan, rasanya dunia terlalu kejam untuk seorang perempuan sebatang kara seperti Kamila. Tidak ada tempat berlindung, tidak ada tempat pulang untuk bercerita. Dia hanya sedang berusaha bertahan hidup sekarang.
"Ayah, Ibu, aku sendiri sekarang... Hiks... Aku tahu apa yang aku lakukan adalah kesalahan, dosa besar yang pastinya kalian akan membenci aku sebagai putri kalian. Tapi, aku tetap harus bertahan hidup demi Dena"
Seseorang yang tidak pernah dia ungkit pada siapa pun. Bahkan Razka sekalipun, tidak pernah ada yang tahu tentang Dena. Adik perempuannya yang sedang berjuang dengan sakitnya di rumah singgah. Tempat para penderita penyakit kanker berjuang untuk hidup.
"Aku akan tetap kuat, demi Dena" ucapnya pada diri sendiri dengan suara lirih dan gemetar menahan tangis.
Kamila mengingat jelas, bagaimana sebelum Ayah dan Ibunya pergi meninggalkan mereka untuk selamanya. Ketika pesan Ayah dan Ibu hanya satu, tolong jaga Dena, lindungi dia dan tetap sayangi dia sepenuhnya.
Dan Kamila berjanji untuk menjaga adiknya sampai akhir hayat. Dan dia akan berusaha sekuat tenaga untuk bisa mengumpulkan uang dan melakukan operasi untuk Dena.
"Dena, tunggu Kakak ya. Kita akan bisa melewati semua ini"
Dering ponsel menyadarkan Kamila, dia segera menghapus air matanya dengan sedikit kasar. Mengambil ponsel dari dalam saku celana, melihat Razka yang menghubunginya.
"Kau dimana? Aku sudah lama menunggumu di sini. Apa kau ingin aku masuk dan menggendongmu keluar"
Kamila tertegun, dia sudah mengabari Razka jika dirinya sudah selesai dengan pekerjaannya. Dan lupa jika Razka akan menjemputnya.
"Iya, tunggu sebentar. Aku keluar sekarang"
Kamila segera pergi keluar dari Gedung, menemui Razka yang berada di dalam mobil. Kamila memperhatikan sekitar sebelum dia masuk ke dalam mobil.
"Maaf ya menunggu lama, tadi aku ke toilet sebentar"
Razka menghela napas, dia mengelus kepala Kamila dengan lembut. "Aku lapar, kita pesan makanan ya"
"Aku bisa masak untuk kamu"
"Hari ini kita pesan makanan dari luar saja, kau baru selesai bekerja dan pasti lelah"
Kamila tersenyum, sikap yang seperti ini membuatnya terkadang berpikir jika Razka bukan menjadikannya sebagai simpanan. Dan hubungan mereka berdua bukanlah untuk saling menguntungkan secara masing-masing. Namun, Kamila harus kembali menyadarkan diri jika hubungan mereka hanya sebatas simpanan dan seorang aktor.
"Bagaimana dengan si Arya, apa dia mengganggumu?"
Kamila terdiam sebelum menjawab, mengingat kejadian di ruangan tadi membuat kedua tangannya saling meremas di atas pangkuannya.
"Em, tidak ada apa-apa. Aku hanya menjadi penata rias untuknya, setelah selesai langsung pergi"
"Bagus, jangan terlalu banyak berinteraksi dengannya. Dia itu pria berengsek, bahkan lebih berengsek dariku"
Kamila hanya mengangguk pelan, sebenarnya dia sudah terperangkap dengan pria berengsek itu. Namun sekali lagi jika itu Razka, menjadi pengecualian. Karena Kamila sendiri yang menawarkan diri dan akhirnya menyetujui perjanjian tertulis di antara keduanya.
"Oh ya, bagaimana dengan hari ini? Kamu pergi ke Perusahaan?"
Razka menghela napas pelan, mobil terhenti saat di lampu merah. Razka menoleh pada gadis di sampingnya. "Sepertinya aku akan segera berhenti jadi seorang aktor"
"Loh kenapa?"
"Aku harus meneruskan Perusahaan, menggantikan Papa dan Paman Leon"
Kamila terdiam, tidak menjawab apapun lagi. Hanya pikirannya yang mulai berisik, beranggapan jika Razka sudah berhenti menjadi seorang aktor, maka dia akan berhenti juga menjadi penata rias untuknya. Dan mungkin sebagai simpanannya juga akan berakhir.
Ini hal bagus, seharusnya Kamila senang karena dia akan segera terbebas dari status simpanan sang aktor ini. Tapi, kenapa hatinya malah merasa tidak rela. Bukan karena dia ingin terus menjadi seorang simpanan, tapi Kamila seolah tidak rela jika harus berpisah dengan Razka. Dan hubungan mereka berakhir begitu saja, meski hubungan ini hanya sebatas saling menguntungkan.
"Sudah sampai" ucap Razka saat mobilnya sudah terpakir di basement Apartemen. Menoleh pada Kamila yang tidak merespon. "Kau melamun? Ada apa?"
Kamila tertegun saat Razka menyentuh pipinya dengan lembut, dia menoleh dan baru menyadari jika mereka sudah sampai. Segera membuka sabuk pengaman dan membuka pintu mobil.
"Kau kenapa?" tanya Razka yang menahan tangannya saat Kamila sudah ingin keluar dari mobilnya.
Kamila menoleh, dia menggeleng pelan pada Razka. "Tidak papa, aku hanya lelah saja. Setelah sampai, boleh aku tidur sebentar?"
Razka mengangguk, meski dia masih merasa ada yang aneh dengan Kamila hari ini. "Tidurlah, aku tidak akan mengganggu waktu istirahatmu"
*
Razka baru saja selesai mandi, melihat Kamila sudah benar-benar terlelap di sofa ruang tengah. Gadis itu benar-benar terlihat sangat lelah hari ini.
"Biasanya saat dia menjadi penata rias untukku, tidak pernah sampai selelah ini"
Razka berjalan ke arah sofa, berlutut di dekat sofa. Memperhatikan wajah Kamila yang terlelap dengan tenang, wajahnya teduh, dengan bulu mata lentik yang semakin terlihat jelas saat matanya terpejam seperti ini.
"Aku tidak pernah tahu jika aku akan mempunyai seorang simpanan sepertimu. Seseorang yang menyambutku saat aku pulang dalam lelah, membuatkan makanan, menyambut dengan senyuman. Semua itu membuat aku tidak ingin kau pergi meninggalkanku"
Razka mengelus lembut kepala Kamila, lalu mengecup keningnya penuh sayang. Dia menggendong Kamila dan membawanya ke kamar.
Setelah menidurkan Kamila di kamar, makanan pesanan Razka datang. Dia keluar mengambil makanan dan segera menyajikan di atas meja.
"Aku akan menunggunya bangun agar bisa makan bersama"
Razka memilih pergi ke sofa, menyalakan televisi dan melihat acara gala premier film terbaru Arya hari ini. "Lihat saja, film dia tidak akan mengalahkan film aku yang akan segera tayang"
Razka menyandarkan kepalanya di sandaran sofa, menatap langit-langit ruangan dengan tatapan menerawang. Membayangkan jika nanti hidupnya akan fokus pada Perusahaan saja.
"Sepertinya menjadikan alasan saat aku memilih menjadi seorang aktor, tetap tidak akan membuat aku bisa lepas dari tanggung jawab menjadi penerus Perusahaan. Huh..."
Bersambung