NovelToon NovelToon
LULA, SI PUTRI KECIL KESAYANGAN EMPAT CEO

LULA, SI PUTRI KECIL KESAYANGAN EMPAT CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:Anak Genius / CEO / Mengubah Takdir
Popularitas:9k
Nilai: 5
Nama Author: kiyoe

Lula, bocah 5 tahun yang hidup luntang-lantung di kerasnya jalanan Jakarta, mendadak jadi putri bungsu kesayangan keluarga konglomerat Ayodhya setelah kekuatan supernya menyelamatkan nyawa sang istri CEO. Kini, dengan kemampuannya berbicara dengan hewan dan melihat kabut nasib buruk, Lula bukan cuma jadi jimat penyelamat Grup Lentera, tapi juga pusat dunia bagi empat kakak laki-lakinya yang kelewat protektif.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kiyoe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 17

Pagi yang cerah menyambut kediaman keluarga Ayodhya.

Baskoro sedang duduk santai di ruang makan sambil menyeruput kopi hitamnya.

Layar televisi di depannya menyiarkan berita ekonomi pagi.

"Saham Perusahaan Matahari anjlok drastis setelah kehilangan proyek logistik terbesarnya," suara presenter berita terdengar jelas.

Baskoro tersenyum tipis mendengar berita kemenangan kecil itu.

Itu baru permulaan dari hancurnya kerajaan bisnis milik Surya.

Tap tap tap.

Suara langkah kaki kecil terdengar berlari menuruni tangga rumah.

Lula muncul dengan memakai gaun bunga-bunga berwarna biru muda.

Jepit rambut kelinci pemberian Adrian bertengger manis di rambutnya.

"Pagi Papa! Lula sudah siap pergi jalan-jalan!" seru Lula dengan semangat.

Baskoro meletakkan cangkir kopinya dan merentangkan tangannya.

Lula berlari masuk ke pelukan ayah angkatnya itu sambil tertawa girang.

"Wah putri Papa cantik sekali hari ini, mau beli mainan apa di mall nanti?" tanya Baskoro lembut.

"Lula mau beli buku gambar sama pensil warna Pa," jawab Lula polos.

"Hanya itu? Kamu boleh beli satu toko mainan kalau kamu mau," sahut sebuah suara berat dari arah tangga.

Adrian berjalan turun dengan memakai kemeja kasual berwarna putih bersih.

Pria dingin itu terlihat jauh lebih santai dari biasanya.

Di belakang Adrian, ada Cakra dan Dewa yang juga sudah berpakaian rapi.

Hari ini adalah hari Minggu, jadi mereka semua libur sekolah dan bekerja.

"Lula harus beli boneka beruang yang besarnya seukuran rumah!" usul Cakra heboh.

Dewa menendang pelan betis kakaknya itu dari belakang.

"Jangan ajari anak kecil jadi rakus sepertimu," omel Dewa ketus. "Nanti kalau beli boneka sebesar itu, kamarnya jadi sempit bodoh."

Arini menyusul dari belakang sambil membawa tas tangan mewahnya.

"Sudah siap semua? Ayo kita berangkat sekarang sebelum mallnya terlalu ramai," ajak Arini.

Bastian terpaksa tidak ikut karena ada jadwal piket di rumah sakit.

Baskoro juga harus pergi ke kantor untuk memantau pergerakan saham musuh.

Jadi hari ini pasukan yang pergi ke mall adalah Arini, Adrian, Cakra, Dewa, dan tentu saja Lula.

Mereka menaiki mobil van mewah berwarna hitam yang dikemudikan oleh sopir baru yang sangat terpercaya.

Perjalanan menuju mall terbesar di pusat kota Jakarta memakan waktu sekitar empat puluh menit.

Sesampainya di sana, mulut Lula terbuka lebar melihat gedung raksasa yang menjulang tinggi itu.

"Gedungnya tinggi sekali Kak Cakra, tidak akan roboh kan?" tanya Lula takjub.

Cakra tertawa terbahak-bahak mendengar pertanyaan polos adiknya.

"Tentu saja tidak akan roboh, pondasinya sekuat baja," jawab Cakra sambil menggandeng tangan kanan Lula.

Dewa yang berjalan di sebelah kiri Lula tiba-tiba menyodorkan tangannya.

"Pegang tanganku erat-erat, di dalam sana banyak orang jahat yang suka menculik anak kecil," ancam Dewa dengan wajah garang.

Padahal sebenarnya Dewa hanya gengsi mau menggandeng tangan adiknya.

Lula tersenyum lebar dan langsung menggenggam tangan Dewa dengan erat.

"Siap Kak Dewa galak! Lula pegang kuat-kuat," jawab Lula patuh.

Adrian dan Arini berjalan di belakang mereka sambil tersenyum melihat kekompakan tiga saudara itu.

Mereka mulai menyusuri lorong-lorong mall yang luas dan terang benderang.

Arini langsung memimpin jalan menuju toko pakaian anak bermerek mahal.

Lula dipakaikan berbagai macam baju, gaun, dan sepatu yang cantik-cantik.

Setiap kali Lula keluar dari ruang ganti, Cakra dan Dewa langsung bertepuk tangan heboh.

"Wah adikku seperti putri raja!" puji Cakra berlebihan.

"Lumayan, tidak sejelek tadi pagi," komentar Dewa yang aslinya juga sangat kagum.

Adrian hanya diam berdiri di dekat kasir sambil mengeluarkan kartu hitam tanpa batasnya.

"Bungkus semua baju yang tadi dicoba, jangan sampai ada yang terlewat," perintah Adrian kepada pelayan toko.

Pelayan toko itu sampai gemetar saking senangnya mendapat pelanggan sultan.

Tanpa mereka sadari, ada sepasang mata yang terus mengawasi mereka dari luar toko pakaian itu.

Seorang pria berjaket kulit hitam dan bertopi merendahkan pandangannya sambil memegang ponsel.

Itu adalah mata-mata suruhan Surya.

Pria itu memotret Adrian dari kejauhan lalu mengirimkannya ke bosnya.

"Bos, target sehat walafiat, tidak ada tanda-tanda patah tulang sedikitpun," lapor pria itu melalui pesan singkat.

Pria berjaket hitam itu terus mengikuti rombongan keluarga Ayodhya dari jarak aman.

Setelah berbelanja baju, mereka pindah ke area restoran mewah untuk makan siang.

Lula makan dengan sangat lahap karena dia memesan pasta keju yang rasanya sangat gurih.

Tring tring.

Ponsel Adrian tiba-tiba berbunyi memanggil.

Adrian melihat nama ayahnya di layar dan segera mengangkatnya.

"Halo Pa, ada apa?" sapa Adrian.

"Adrian, ada dokumen penting yang salah urut di email, Papa butuh password komputermu sekarang," kata Baskoro dari seberang telepon.

Adrian bangkit berdiri dari kursi restorannya.

"Aku akan kirim lewat pesan Pa, tapi sinyal di sini sedikit susah," jelas Adrian.

"Ma, aku keluar restoran sebentar ya cari sinyal," pamit Adrian kepada ibunya.

Arini mengangguk sambil mengusap mulut Lula menggunakan tisu.

"Iya hati-hati Adrian, jangan lama-lama."

Lula yang sudah selesai makan tiba-tiba merasa ingin pergi ke toilet.

"Mama, perut Lula geli, Lula mau ke toilet," kata Lula sambil memegangi perutnya.

Cakra langsung berdiri dengan semangat.

"Biar aku yang antar Ma, sekalian aku mau cuci tangan karena kena saus pasta," tawar Cakra.

Dewa mendecih pelan.

"Hati-hati bawa anak orang, jangan sampai kau tinggalkan di toilet," pesan Dewa ketus.

Cakra menjulurkan lidahnya ke arah Dewa lalu menggandeng tangan Lula keluar dari restoran.

1
Heni Setiyaningsih
terus sehat dan semangat Thor
Heni Setiyaningsih
terus sehat dan semangat Thor 😍💪
kiyoe: terimakasih kak Heni support nya🙏
total 1 replies
kiyoe
terimakasih kak heni🙏
Heni Setiyaningsih
terus sehat dan semangat Thor 😍💪
Heni Setiyaningsih
/Heart//Heart//Heart//Heart//Heart/
Heni Setiyaningsih
terus sehat dan semangat Thor 😍💪
kiyoe: kemana aja kak Heni
total 1 replies
kiyoe
terimakasih kak kemna aja kak kok baru kelihatan 🤭
Astiana 💕
mampir Thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!