Selama 15 tahun, Adelia Zuri Latisha mengabdi penuh sebagai istri, melepas karier dan tampil sederhana demi menghemat pengeluaran keluarga. Namun, pengorbanannya dibalas pengkhianatan menyakitkan. Sang suami, Arkananta Ethan Pradana, berselingkuh dengan Clara Selvania, rekan kerjanya yang muda dan menawan. Arkananta menceraikan dan mengusir Adelia tanpa harta sedikit pun, mencapnya "ketinggalan zaman" dan tidak selevel lagi. Dihina oleh mantan mertua, Adelia menolak terpuruk. Mengandalkan keahlian menjahitnya di masa muda, ia bangkit merintis bisnis hingga bertransformasi menjadi pemilik butik ternama yang anggun dan berwibawa. Saat roda berputar, Arkananta bangkrut akibat ulah Clara yang boros. Ketika sang mantan suami datang bersimpuh memohon rujuk, ia harus menelan pil pahit. Adelia telah menemukan kebahagiaan sejati bersama pria mapan lain yang jauh lebih menghargainya, sementara karma instan bersiap meruntuhkan kesombongan mantan mertuanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ragan Fian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Meminta Rujuk
Suasana di dalam butik mewah Zuri Couture di kawasan pusat perbelanjaan elit ibu kota sore itu terasa begitu tenang dan tertata rapi. Aroma wewangian aromaterapi berpadu lembut dengan deretan gaun malam berpotongan presisi yang tergantung di balik etalase kaca transparan. Adelia berdiri di dekat meja kasir sambil memeriksa catatan pesanan bulanan bersama salah seorang staf kepercayaannya.
Pintu kaca utama butik bergeser pelan membuka, memunculkan suara bel kuningan kecil yang berdering nyaring.
Adelia mendongak, mengira pengunjung baru atau klien penting yang datang berkunjung. Namun, langkahnya seketika terhenti dan napasnya tertahan saat melihat sosok wanita paruh baya berdiri ragu di ambang pintu.
Ibu Samilah. Mantan ibu mertuanya.
Penampilan wanita tua itu tampak sangat kontras dengan kemegahan butik di sekitarnya. Ibu mertua mendatangi butik mewah Adelia dengan pakaian lusuh, daster kusam yang sudah pudar warnanya, serta wajah penyesalan yang mendalam.
Rambut berubannya dibiarkan tergerai acak-acakan tanpa diikat rapi, dan matanya tampak sayu menyiratkan keletihan fisik serta mental yang luar biasa.
Beberapa staf butik menoleh curiga, bersiap melangkah maju untuk menegur atau meminta wanita renta itu keluar demi menjaga kenyamanan pelanggan elit.
"Tunggu, jangan diusir," cegah Adelia pelan dengan isyarat tangan kepada para stafnya. Ia menarik napas panjang, merapikan blazer hitam yang ia kenakan, lalu melangkah perlahan mendekati wanita tua tersebut.
Ibu Samilah mendongak, menatap manik mata Adelia yang kini tampak jauh lebih tegar, sukses, dan berwibawa. Tanpa memperdulikan lantai marmer butik yang bersih mengkilap, wanita renta itu langsung menjatuhkan diri. Ibu mertua bersimpuh di kaki Adelia, merendam wajahnya di antara lipatan kain celana Adelia sambil menangis tersedu-sedu.
"Del... Ibu mohon ampun sama kamu, Del..." rintih Ibu Samilah parau, suaranya pecah diiringi isak tangis yang teramat menyayat hati. "Ibu datang ke sini karena sudah tidak punya siapa-siapa lagi..."
Adelia terperanjat kaget melihat wanita yang dulu sering merendahkannya kini bersimpuh di lantai di hadapannya. Ia segera berjongkok, mencoba mengangkat tubuh renta itu. "Ibu... bangun, Bu. Jangan seperti ini, silakan berdiri dulu. Malu dilihat orang."
"Tidak, Del! Biarkan Ibu bersimpuh di sini!" seru Ibu Samilah menolak ditarik berdiri. Wanita tua itu mengeratkan genggamannya di ujung pakaian Adelia, memohon agar Adelia mau menerima Arkananta kembali. "Ibu mohon... kembalilah pada Arkan, Nak. Kasihan suamimu... dia sudah hancur lebur, butik ini, hidupmu sekarang sudah mapan... tolong ampuni dosa Arkan, dan terima dia lagi sebagai suamimu."
Adelia terdiam sesaat. Tatapannya menerawang menatap wajah keriput wanita di hadapannya, namun tidak ada secercah pun rasa benci atau dendam yang terpancar dari manik matanya; yang ada hanyalah ketenangan mutlak dari seseorang yang telah selesai dengan masa lalunya.
"Ibu, tolong berdiri dulu. Jangan duduk di lantai seperti ini," ucap Adelia dengan nada bicara yang tetap santun namun tegas, lalu mengerahkan tenaganya untuk membantu Ibu Samilah bangkit dan menuntunnya duduk di kursi sofa tunggu yang empuk di sudut butik.
Setelah wanita tua itu duduk dengan napas yang masih tersengal-sengal, Adelia meminta stafnya untuk mengambilkan segelas air hangat.
Ibu Samilah meneguk air itu dengan tangan gemetar hebat, lalu kembali menatap menantunya dengan tatapan memohon penuh keputusasaan.
"Minum dulu pelan-pelan, Bu," kata Adelia lembut, lalu duduk di kursi seberangnya.
Ibu Samilah menyeka sisa air di dagunya dengan punggung tangan yang keriput. Dengan suara terbata-bata, ibu mertua menceritakan penderitaan dan kebangkrutan yang dialami oleh keluarga mereka akhir-akhir ini tanpa ada yang ditutup-tutupi.
"Rumah besar kami sudah disita pihak bank, Del... Arkan sekarang tinggal di kamar kos sempit di pinggiran kota, bekerja serabutan jadi kuli angkut demi menyambung hidup dan membayar utang perusahaannya," cerita Ibu Samilah sambil terisak pilu.
"Dan perempuan sialan itu... Clara... dia kabur membawa seluruh sisa uang Arkan dan meninggalkan anakku dalam keadaan gila karena stres. Hidup kami benar-benar sudah hancur berkeping-keping, Del. Tidak ada lagi yang tersisa."
Adelia mendengarkan semua pengakuan itu dengan seksama. Tidak ada senyum kepuasan atau ejekan di wajahnya; Adelia justru menunjukkan empati sebagai sesama manusia yang pernah melihat kejatuhan paling telak.
"Saya turut prihatin mendengar kondisi yang menimpa keluarga Ibu saat ini," ucap Adelia tenang, menatap lurus mata ibu mertuanya. "Tapi untuk kembali pada Arkananta... maaf, Bu. Keputusan saya sudah bulat sejak bertahun-tahun lalu."
Ibu Samilah terperanjat, air matanya makin deras mengalir di pipi keriputnya. "Del... kenapa kamu tega menolak? Arkan itu ayah dari anak-anakmu..."
"Justru karena saya adalah ibu dari anak-anak saya, saya tidak akan pernah kembali ke lubang yang sama," jawab Adelia dengan suara tegas, lugas, dan berwibawa, tanpa ada keraguan sedikit pun.
"Waktu saya dan anak-anak diusir tengah malam dalam keadaan miskin tanpa sepeser pun, tidak ada satu pun dari kalian yang peduli pada nasib kami. Arkananta sendiri yang memilih jalannya, memilih perempuan lain, dan menghancurkan ikatan pernikahan kami."
"Tapi Arkan sekarang sudah menyesal, Del! Dia selalu menyebut-nyebut namamu tiap malam!" bela Ibu Samilah putus asa.
"Penyesalan datang setelah semuanya terlambat, Bu," balas Adelia dingin namun tetap terkontrol. "Saya sudah membangun kembali hidup saya, masa depan anak-anak saya, dan harga diri saya dari reruntuhan yang ditinggalkan anak Ibu. Hubungan kami sudah mati secara hukum dan perasaan. Saya tidak membenci Arkananta, tapi saya tidak mungkin menerimanya kembali."
Mendengar penolakan mutlak tersebut, Ibu Samilah menyadari bahwa tidak ada lagi celah atau harapan bagi putranya untuk memperbaiki masa lalu.
Wanita tua itu menunduk dalam-dalam, meratapi kebodohan keluarga mereka yang telah menyia-nyiakan perempuan sebaik Adelia demi membela kepalsuan.
Adelia berdiri dari duduknya, lalu berjalan sejenak menuju meja kerjanya di balik partisi kaca. Ia mengambil sebuah amplop putih berisi uang tunai dalam jumlah yang cukup besar, lalu kembali menghampiri Ibu Samilah dan meletakkannya di atas meja kecil di hadapan wanita renta itu.
"Ini ada sedikit rezeki dari saya, Bu," ucap Adelia lembut, mendorong amplop tersebut mendekati tangan ibu mertuanya.
"Gunakan uang ini untuk biaya makan sehari-hari dan berobat rematik Ibu selama beberapa minggu ke depan. Tapi maaf, ini adalah bantuan terakhir yang bisa saya berikan sebagai sesama manusia. Setelah ini, jangan pernah datang lagi untuk membahas masa lalu."
Ibu Samilah menatap amplop putih di hadapannya dengan air mata yang makin deras mengalir. Ia tidak menyangka di tengah penolakan yang tegas, Adelia masih memiliki belas kasihan untuk memberinya makan. Wanita tua itu merangkapkan kedua tangannya, hendak bersujud kembali, namun Adelia dengan sigap menahan bahunya.
"Sudahlah, Bu. Pulanglah, istirahat yang tenang," kata Adelia tulus.
Dengan langkah gontai, bahu yang membungkuk, dan hati yang hancur karena penyesalan seumur hidup, Ibu Samilah berdiri perlahan.
Wanita itu berjalan meninggalkan butik mewah Adelia seorang diri, membawa serta sisa umur hidupnya yang dipenuhi rasa bersalah yang tidak akan pernah bisa dihapuskan.
Adelia berdiri di dekat etalase kaca, memerhatikan punggung mantan ibu mertuanya yang perlahan menghilang di balik keramaian pusat perbelanjaan. Ia menarik napas panjang, meresapi kelegaan luar biasa di dalam dadanya. Badai masa lalu benar-benar telah berlalu sepenuhnya.
Semoga usaha butik semakin berkembang dengan dukungan Pak Faris ,Adel