Marsya Arcelia Dealova, gadis cantik mahasiswi tingkat akhir yang dijodohkan dengan laki-laki pilihan dua keluarga.
Yang mana, calon suaminya itu adalah sahabat dari pacarnya.
Bagaimana Marsya akan menjani pernikahan itu? Mampukah dia berdiri diantara dua laki-laki, suami dan pacarnya?
Selamat datang di cerita ketiga ku, doain ya semoga cerita ini nggak gantung seperti yang udah udah😄
Dukung aku yaa
Selamat membaca~~~
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kholifah NH2, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dia Dan Dia
"Gimana, kamu suka nggak kejutannya?"
Dengan mata berbinar penuh harapan, gadis cantik bernama Marsya bertanya pada sang kekasih, Erik, tentang kejutan ulang tahun yang dia berikan pada malam itu. Bukan kejutan yang besar dan mewah, hanya makan malam yang Marsya siapkan sendiri dihalaman belakang rumah Erik tanpa sepengetahuan si 'pemilik rumah' yang sedang sibuk diluar mengurus pekerjaannya.
Dikelilingi cahaya lilin yang bertengger diatas meja, Erik menerima dua hadiah yang diberikan Marsya dengan haru dan bahagia. Dan sesaat kemudian, dia menarik perempuan kesayangannya itu kedalam pelukannya. Pelukan yang terasa dalam dan hangat, juga usapan lembut dipuncak kepala Marsya yang dia tutup dengan kecupan hangat di dahinya.
Keduanya saling bertatapan, senyum manis Marsya tidak luntur sejak tadi. Sinar bulan malam itu membuat wajah Marsya seribu kali lebih cantik dari biasanya, membuat Erik tersenyum tulus sambil mengusap lembut pipi Marsya "Makasih kejutannya ya, aku suka. Ini bahkan lebih spesial dari sebelumnya karena kamu sendiri yang siapin ini semua buat aku"
"I love you, Sya"
Sekali lagi, Erik bubuhkan kecupan di dahi Marsya sebelum mendengar balasan lembut disertai pelukan hangat dari Marsya.
Satu jam berlalu, keduanya baru menyelesaikan makan malam setelah sebelumnya memotong kue yang juga Marsya buat sendiri khusus untuk kekasihnya itu. Erik merasa beruntung memiliki Marsya, hampir tiga tahun menjalin hubungan asmara, Marsya tidak pernah sekalipun melewatkan bahkan melupakan hari ulang tahunnya. Marsya selalu mempersiapkannya dengan baik, selalu. Bahkan saat memperingati hari jadi mereka sekalipun.
"Sya, kita kan udah mau tiga tahun, gimana kalo aku ngelamar kamu di anniversary kita bulan depan? Ya, kita tunangan dulu. Kamu mau kan?" Tanya Erik sambil memegang tangan Marsya diatas meja. Dalam genggamannya, Erik dapat merasa bahwa Marsya seperti menarik diri, gadis itu cukup terkejut dengan pertanyaannya.
"Hey, kenapa?" Tanya Erik memastikan, Marsya pun tersenyum tipis sambil menggelengkan kepalanya, "Eum, nggak apa-apa. Kamu serius mau ngelamar aku?"
"Lho, emangnya kenapa? Kamu nggak mau hubungan yang lebih serius?"
"Mau...iya...aku...mau" Jawab Marsya pelan, kedua alis Erik turut bertaut mendengar jawaban Marsya yang terdengar ragu ditelinganya.
Diperjalanan pulang, pikiran Marsya mendadak kacau. Kedua tangannya tidak berhenti saling meremas satu sama lain. Keringat yang perlahan turun dari pelipisnya dapat menunjukkan bahwa gadis itu sedang panik dan bingung. Ya, bingung dengan dua kenyataan yang kini ada dihadapannya.
Satu, kenyataan bahwa sang kekasih mengajaknya untuk melangkah ke jenjang yang lebih serius. Dan kenyataan kedua adalah dia yang sebenarnya sudah dijodohkan oleh seorang laki-laki pilihan sang nenek yang mana adalah cucu dari sahabat lamanya.
"Mbak, anu, dirumah ada keluarga Bu Sekar, mereka menunggu mbak Marsya pulang" Ucap seorang supir yang ditugaskan untuk menjemput Marsya pulang saat itu.
"Ya" Jawaban singkat Marsya terdengar pasrah. Sejak tadi Marsya sudah tahu bahwa sang supir menjemputnya pulang karena ada pertemuan dua keluarga sebelum pernikahan.
Marsya menarik nafas panjang seakan mempersiapkan diri sebelum bertemu lagi dengan keluarga dari calon suaminya itu. Keluarga Sekar, yang menjodohkan putera pertama mereka atas dasar persahabatan para tetua yang sudah terjalin cukup lama. Akan tetapi jika boleh dikatakan, sejujurnya Marsya merasa tertekan dengan adanya perjodohan itu.
Marsya sudah lelah menyembunyikannya dari Erik sejak lima bulan terakhir saat perjodohan itu mulai terdengar ditelinganya. Tentu hubungannya akan hancur jika kekasihnya itu sampai tahu. Dan jika Marsya bisa, dia sangat ingin menghentikan perjodohan itu. Namun apa daya, sang nenek, Rianti, tetap bersikeras menjodohkannya dengan cucu dari sahabatnya, Sekar.
Kepulangan Marsya malam itu, berdampingan dengan motor sport berwarna hitam yang masuk ke pekarangan rumahnya. Dan tidak lama setelah turun dari mobil, Marsya menghampiri seorang laki-laki bertubuh tinggi, dengan pakaian serba hitam sedang melepas helmnya. Laki-laki itu adalah Kyle, calon suaminya.
"Kyle, tolong kamu bujuk Oma Sekar buat batalin perjodohan kita, dicoba lagi" Permintaan Marsya pada Kyle dibalas senyum tipis disudut bibirnya,
"Gue harus coba berapa kali lagi? Hm? Lo aja gak bisa bujuk Oma lo sendiri kan?"
"Ck!" Marsya berdecak kesal, "Usaha lagi, Kyle. Aku bener-bener nggak bisa" Ucapan Marsya berakhir saat dia melangkah masuk meninggalkan Kyle
"Argh!" Teriak Kyle sambil mengacak-acak rambutnya, "Ya, lo nggak bisa karena Erik kan?"
...••••••••...
to be continued~~~
HAI HAIIII
SELAMAT DATANG DI CERITA KETIGA AKU
SEMOGA KALIAN SUKA YA...BUAT YANG PENASARAN SAMA LANJUTANNYA, JANGAN LUPA KLIK FAVORITE BIAR GAK KETINGGALAN❤️❤️❤️
DUKUNG AKU TERUS YAAA, THANK YOUUUU❤️❤️❤️😘